Wednesday, December 7, 2022

Istiqamah dalam Kebaikan dan Menjauhi Maksiat adalah Hal Paling Berat

 via Jun Khaer

Ada orang beribadah sepanjang hidupnya. Setiap hari orang ini rajin ke mesjid. Tak lupa selalu sedekah. Intinya semua kebaikan dalam hidupnya selalu terdepan. Dan yang paling penting lagi yaitu menjauhi segala bentuk maksiat dan pelanggaran. Ini poin berikutnya yang paling sulit.

Betapa banyak orang yang tidak kenal atau bahkan mungkin tidak mau kenal agama ini. Ada juga yang sudah kenal agama, namun sebatas kenal saja, tidak ingin menelusuri labirin yang teramat banyak dari sisi agama ini. Artinya agama ini tidak kecil selebar daun kelor, dia teramat luas seperti angkasa. Semakin dijelajahi semakin sadarlah manusia soal kebodohannya.

Itulah pentingnya doa meminta hidayah. Betapa banyak manusia yang sudah beragama Islam namun tidak mengenal agama itu sendiri. Bayangkan saja ada orang yang melakukan amalan kecil, anggaplah baca surat tertentu dalam Al Quran yang mungkin isinya hanya seperti surat juz 30 yang pendek bacaannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah amalan mudah, namun permasalahannya bagaimana kalau amalan itu dikerjakan sepanjang hari secara konsisten alias istiqamah. Inilah letak yang menjadikan sebuah amalan kecil secara kuantitas namun menjadi besar secara kualitas. Amalnya biasa saja, namun kualitasnya yang luar biasa karena konsisten dan tidak terputus.

Sejatinya malas merupakan musuh terbesar manusia setelah setan Iblis laknatullah dan bala tentaranya. Malas merupakan sosok gaib yang melekat pada diri setiap manusia yang merupakan fitrah bawaan dalam penciptaan manusia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya agar berlindung diri dari sifat malas dalam doa pagi dan petang. Artinya sifat malas ini menjadi salah satu godaan di antara sekian banyak godaan dalam hidup manusia di dunia.

Alih-alih.
Alkisah, di dekat rumah saya ada sebuah masjid bernama Masjid Al Istiqamah. Saya perhatikan jamaah di sana sungguh mencerminkan nama masjidnya yaitu selalu istiqamah di dalam iman dan islam di atas sunnah nabi yang mulia ﷺ. Saya jadi ambil kesimpulan betapa pentingnya memberikan nama kepada sesuatu benda. Istiqamah dapat dimaknai sebagai suatu hal yang dikerjakan secara konsisten dan terus menerus tanpa adanya jeda rehat panjang, artinya seseorang melakukan pekerjaan secara kontinyu tanpa adanya rasa bosan yang merupakan bawaan sifat fitrah manusia.

Bayangkan hal semacam di atas pastinya sulit, karena istiqamah itu pasti membosankan. Dalam hidup ini algoritma manusia selalu menghindari kejenuhan dan kebosanan yang itu-itu saja, adapun hal ini sejatinya benar. Namun belajar untuk konsisten dalam suatu hal terutama kebaikan ini akan menjadikan seorang manusia lebih memiliki makna dalam hidup. Manusia akan lebih mampu memaknai hakikat untuk apa dia hidup di alam semesta ini. Jawabannya hanya satu, yaitu ibadah. Artinya kesimpulan sederhana dari tulisan ini bahwa ibadah itu membutuhkan konsistensi dan perjuangan untuk dimulai dari garis awal hingga diakhiri di garis akhir.

Mari lanjut kepada pembahasan istiqamah dalam hal kebaikan. Ini yang menjadi pokok pertama dalam tulisan ini. Saya ingin mengajak para pembaca yang budiman agar sekedar, atau bahkan mungkin mendalami, makna konsisten dalam kebaikan. Dengan kata lain kebaikan itu membutuhkan konsistensi. Karena kalau kebaikan tidak disertai dengan konsistensi maka dapat dimaknai sebagai aji mumpung, atau tumben atau dan lain sebagainya yang dapat mendistorsi makna kebaikan itu sendiri.

Sejatinya sadar atau tidak sadar, bahwa hidup di muka bumi ini hanya mengulang secara terus menerus apa yang kita lakukan sejak lahir hingga tua dan mati, lebih spesifik lagi yaitu mengulangi apa saja yang kita lakukan sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Hidup adalah pengulangan, oleh karena itu kita tinggal memilih secara sederhana apakah mau mengulang suatu hal yang baik atau hal yang buruk. Percayalah, untuk memulai suatu hal yang baik itu lebih sulit ketimbang memulai suatu hal yang buruk padahal sejatinya manusia pertama Nabi Adam waktu masih hidup di surga dikelilingi dengan hal-hal yang baik dengan jumlah yang banyak. Dan hal-hal yang buruk hanya sedikit. Namun lagi-lagi begitulah fitrah manusia, ada hal yang baik dalam jumlah banyak malahan memilih hal yang buruk dalam jumlah sedikit.

Kemudian hal kedua yang teramat sulit dilakukan dalam hidup ini adalah menjauhi maksiat. Saya tidak menggunakan kata bermaksiat, namun saya gunakan kata menjauhi maksiat. Sama halnya ketika larangan zina dalam Alquran yang tidak menggunakan kata berzina, melainkan menggunakan kata jangan dekati zina. Bayangkan saja, untuk perihal zina saja manusia dilarang untuk mendekati, apalagi untuk melakukan dan seterusnya hal yang lebih rusak dari paket perihal zina. Artinya dapat dipahami dengan pemahaman bahasa yang mudah bahwa zina itu merusak dan ada tingkatan-tingkatan kerusakannya masing-masing sampai titik paling puncaknya.

Menjauhi maksiat merupakan frase yang hanya terdiri dari dua kata, yaitu jauh dan maksiat. Kelihatannya sepele namun mari perhatikan lebih jauh mengenai kata jauh dan maksiat. Kata jauh memiliki lawan kata yaitu dekat, ini merupakan hal yang menarik ditinjau dari segi bahasa. Mari kita jauhi narkoba, misalnya. Artinya mengandung konsekuensi bahwa kita jangan berinteraksi dengan segala perangkat dan rupa yang berhubungan dengan narkoba. Cukup kita mengetahui narkoba sebagai ranah pengetahuan dan bukan sebagai ranah amalan atau bahkan lebih parah yaitu menjadi pelaku professional dalam bidang narkoba. Nauzubillah.

No comments:

Post a Comment