via Jun Khaer
Ada orang beribadah sepanjang hidupnya. Setiap hari
orang ini rajin ke mesjid. Tak lupa selalu sedekah. Intinya semua kebaikan
dalam hidupnya selalu terdepan. Dan yang paling penting lagi yaitu menjauhi
segala bentuk maksiat dan pelanggaran. Ini poin berikutnya yang paling sulit.
Betapa banyak orang yang tidak kenal atau bahkan
mungkin tidak mau kenal agama ini. Ada juga yang sudah kenal agama, namun
sebatas kenal saja, tidak ingin menelusuri labirin yang teramat banyak dari
sisi agama ini. Artinya agama ini tidak kecil selebar daun kelor, dia teramat
luas seperti angkasa. Semakin dijelajahi semakin sadarlah manusia soal
kebodohannya.
Itulah pentingnya doa meminta hidayah. Betapa banyak
manusia yang sudah beragama Islam namun tidak mengenal agama itu sendiri.
Bayangkan saja ada orang yang melakukan amalan kecil, anggaplah baca surat
tertentu dalam Al Quran yang mungkin isinya hanya seperti surat juz 30 yang
pendek bacaannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah amalan mudah, namun
permasalahannya bagaimana kalau amalan itu dikerjakan sepanjang hari secara
konsisten alias istiqamah. Inilah letak yang menjadikan sebuah amalan kecil
secara kuantitas namun menjadi besar secara kualitas. Amalnya biasa saja, namun
kualitasnya yang luar biasa karena konsisten dan tidak terputus.
Sejatinya malas merupakan musuh terbesar manusia
setelah setan Iblis laknatullah dan bala tentaranya. Malas merupakan sosok gaib
yang melekat pada diri setiap manusia yang merupakan fitrah bawaan dalam
penciptaan manusia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya agar berlindung
diri dari sifat malas dalam doa pagi dan petang. Artinya sifat malas ini
menjadi salah satu godaan di antara sekian banyak godaan dalam hidup manusia di
dunia.
Alih-alih.
Alkisah, di dekat rumah saya ada sebuah masjid bernama Masjid Al Istiqamah.
Saya perhatikan jamaah di sana sungguh mencerminkan nama masjidnya yaitu selalu
istiqamah di dalam iman dan islam di atas sunnah nabi yang mulia ﷺ. Saya jadi
ambil kesimpulan betapa pentingnya memberikan nama kepada sesuatu benda. Istiqamah
dapat dimaknai sebagai suatu hal yang dikerjakan secara konsisten dan terus
menerus tanpa adanya jeda rehat panjang, artinya seseorang melakukan pekerjaan
secara kontinyu tanpa adanya rasa bosan yang merupakan bawaan sifat fitrah
manusia.
Bayangkan hal semacam di atas pastinya sulit, karena
istiqamah itu pasti membosankan. Dalam hidup ini algoritma manusia selalu
menghindari kejenuhan dan kebosanan yang itu-itu saja, adapun hal ini sejatinya
benar. Namun belajar untuk konsisten dalam suatu hal terutama kebaikan ini akan
menjadikan seorang manusia lebih memiliki makna dalam hidup. Manusia akan lebih
mampu memaknai hakikat untuk apa dia hidup di alam semesta ini. Jawabannya hanya
satu, yaitu ibadah. Artinya kesimpulan sederhana dari tulisan ini bahwa ibadah
itu membutuhkan konsistensi dan perjuangan untuk dimulai dari garis awal hingga
diakhiri di garis akhir.
Mari lanjut kepada pembahasan istiqamah dalam hal
kebaikan. Ini yang menjadi pokok pertama dalam tulisan ini. Saya ingin mengajak
para pembaca yang budiman agar sekedar, atau bahkan mungkin mendalami, makna
konsisten dalam kebaikan. Dengan kata lain kebaikan itu membutuhkan
konsistensi. Karena kalau kebaikan tidak disertai dengan konsistensi maka dapat
dimaknai sebagai aji mumpung, atau tumben atau dan lain sebagainya yang dapat
mendistorsi makna kebaikan itu sendiri.
Sejatinya sadar atau tidak sadar, bahwa hidup di muka
bumi ini hanya mengulang secara terus menerus apa yang kita lakukan sejak lahir
hingga tua dan mati, lebih spesifik lagi yaitu mengulangi apa saja yang kita
lakukan sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Hidup adalah pengulangan, oleh
karena itu kita tinggal memilih secara sederhana apakah mau mengulang suatu hal
yang baik atau hal yang buruk. Percayalah, untuk memulai suatu hal yang baik
itu lebih sulit ketimbang memulai suatu hal yang buruk padahal sejatinya
manusia pertama Nabi Adam waktu masih hidup di surga dikelilingi dengan hal-hal
yang baik dengan jumlah yang banyak. Dan hal-hal yang buruk hanya sedikit. Namun
lagi-lagi begitulah fitrah manusia, ada hal yang baik dalam jumlah banyak
malahan memilih hal yang buruk dalam jumlah sedikit.
Kemudian hal kedua yang teramat sulit dilakukan dalam
hidup ini adalah menjauhi maksiat. Saya tidak menggunakan kata bermaksiat,
namun saya gunakan kata menjauhi maksiat. Sama halnya ketika larangan zina
dalam Alquran yang tidak menggunakan kata berzina, melainkan menggunakan kata
jangan dekati zina. Bayangkan saja, untuk perihal zina saja manusia dilarang
untuk mendekati, apalagi untuk melakukan dan seterusnya hal yang lebih rusak
dari paket perihal zina. Artinya dapat dipahami dengan pemahaman bahasa yang
mudah bahwa zina itu merusak dan ada tingkatan-tingkatan kerusakannya
masing-masing sampai titik paling puncaknya.
Menjauhi maksiat merupakan frase yang hanya terdiri
dari dua kata, yaitu jauh dan maksiat. Kelihatannya sepele namun mari
perhatikan lebih jauh mengenai kata jauh dan maksiat. Kata jauh memiliki lawan
kata yaitu dekat, ini merupakan hal yang menarik ditinjau dari segi bahasa. Mari
kita jauhi narkoba, misalnya. Artinya mengandung konsekuensi bahwa kita jangan
berinteraksi dengan segala perangkat dan rupa yang berhubungan dengan narkoba. Cukup
kita mengetahui narkoba sebagai ranah pengetahuan dan bukan sebagai ranah
amalan atau bahkan lebih parah yaitu menjadi pelaku professional dalam bidang
narkoba. Nauzubillah.
No comments:
Post a Comment