Thursday, March 30, 2017

Saya Berpikir Keras Maka Saya Bersyukur

Saya Berpikir Keras 

Setelah apa yang terjadi di hidup saya sekian masa, saya merenung. Berpikir keras. Apa sebenarnya rahasia semesta yang selama ini belum saya pecahkan?
Saya semakin paham tidak ada yang namanya sahabat sejati. Semua akan berlalu pada saatnya. Ya layaknya orang kuliahan. Masuk semester awal semuanya serba baru dan sama sama egaliter, teman baru, sistem baru, dosen baru, pacar baru, kenalan baru. Lantas semua itu bergulir semester demi semester hingga pada akhirnya si mahasiswa akan sadar bahwa keabadian itu tidak pernah ada. Dia murni milik yang Maha Abadi. 

Masih ingat di benak saya ketika kuliah. Saya termasuk orang yang tidak percaya pada arti sahabat sejati. Terbukti kok, ketika saya dua kali sidang akhir, dua-duanya saya lalui sendiri tanpa dukungan formalitas yang banyak diceritakan oleh orang-orang yang katanya punya teman sejati. Apalah itu namanya. Saya buktikan dan saya percaya. Konyolnya, teman saya seakan pura-pura kasih simpati dukungan moril dengan menelepon saya waktu itu, katanya sekalian minta maaf karena mereka tidak tahu bahwa hari itu saya sidang. Saya cuma tertawa dalam hati. 

Sampai pada akhirnya saya keluar dari grup percakapan Whats App bernama “love make house a home” yang mengusung tema cinta dan rumah sebagai konotasi hangat dari sebuah persamaan nasib dan apalah itu namanya.

Cinta yang klise yang cuma ada di sinetron antah berantah. Pada akhirnya saya berpikir keras dan saya akhirnya sadar bahwa di dunia ini hanyalah berisi kepentingan semata. Siapa lo siapa gue. Apa urusan lo apa urusan gue.
Jadi dunia ini ibarat panggung politik, tidak ada yang namanya teman abadi atau musuh abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. 

Sampai mungkin pada urusan cinta. Sudah tak terhitung kiranya satu per satu wanita yang saya kenal dalam hidup. Semuanya berujung sama, tinggal menunggu waktu. Cuma satu yang beda, yaitu alasannya saja. Klasik. 

Saya berpikir keras ketika teman saya wafat dalam usia muda. Apa sesungguhnya rahasia Allah memanggilnya dalam waktu yang relatif masih belia. Padahal baru kemarin saya bertatap muka dengan teman saya itu. Apa sesungguhnya rahasia takdir? Bukankah masih banyak yang bisa dia lakukan andai diberi umur panjang? Semakin saya berpikir maka saya semakin sadar bahwa manusia tidak mampu menjangkau kuasa Allah. Manusia boleh bercita-cita setinggi langit namun pemilik langit dan bumi punya kuasa penuh atas semua itu.
Saya pandangi nisan kuburan teman saya dan semakin berpikir keras. Bagaimana nasib saya kelak? Dunia sama sekali tidak saya takut. Namun kehidupan setelahnya yang buat saya berpikir. Seperti apa? Bagaimana? Dimana? Siapa? Dan sederet pertanyaan misterius yang saya tidak punya jawabannya. 

Masih ingat di benak saya ada kisah dua teman saya yang kena musibah yang sama. Mereka berdua kehilangan uang di mesin ATM karena kartunya tertelan sehingga gaji bulanan mereka walhasil ludes seketika. Anehnya teman saya itu tidak sadar kalau itulah teguran dari Allah atas apa yang mungkin sudah mereka perbuat selama ini. Saya jadi berpikir keras mengapa mereka tidak serahkan semua kepada Allah? Yang keluar dari lisan mereka hanyalah kesedihan dan kekesalan. 

Saya berpikir dan saya temukan jawabannya bahwa semua musibah ataupun nikmat yang saya terima patut dan semestinya saya kembalikan kepada yang memberinya. Maka kiranya ucapan Alhamdulillah sangat layak untuk diucapkan ketimbang merasa seakan tidak ikhlas akan keputusan Allah. Saya tahu kalau saya sedang menunggu giliran yang sama. Sesungguhnya maut adalah sebuah kepastian dari sebuah kehidupan. Tinggal pertanyaannya sederhana: sudah siapkah saya pulang dan apa serta sudah seberapa banyak bekal saya bawa?

No comments:

Post a Comment