Saya malas bercerita. Tapi
ada hal kuat yang mendorong saya untuk menulis. 20 tahun lalu mungkin adalah
waktu yang panjang bagi saya. Dan saya merasa telah melewatkannya dengan
tergesa. Sejak lepas SMA, saya ingin mencari jatidiri layaknya manusia abege
alias anak baru gede. Maaf kalau bahasa Indonesia saya carut marut. Saya
sengaja menggunakan bahasa Indonesia yang tepat dan indah, bukan baik dan
benar, Karena penggunaan bahasa Indonesia yang baku baik dan benar malah bikin
bahasa itu kaku dan tak punya kedigdayaan.
Langsung saja tanpa
bertele-tele. Saya mulai kisah ini selepas saya SMA. Saya adalah anak yang
tidak pernah memprogram masa depan saya, besok mau jadi apa, siapa, bagaimana,
kapan, dimana. 5w+1h. Saya rasa hidup ini ya harus dijalani dengan hidup. Tanpa
perlu tahu besok mau ngapain. Dan saya anak yang nurut orangtua. Bagi saya
orangtua itu segalanya. Artinya kalau mereka bahagia, itu sudah jadi kebahagian
bagi saya. Makanya itu saya kuliah pun atas saran mereka. Saya tidak pernah
berambisi untuk bisa kuliah bahkan di kampus mentereng sekalipun. Di benak saya
hanya ingin lulus SMA lanjut kerja, itu saja. Namun ternyata takdir membawa
saya masuk kampus Universitas Indonesia yang katanya banyak diimpikan anak
seusia saya ketika itu. Maklum nama UI memang punya sejarah besar di Indonesia
sebagai cikal bakal kampus negeri. Saya tak ambil pusing. Pun waktu ujian SPMB
waktu itu saya benar-benar tidak niat banget mau masuk jurusan tertentu,
ternyata takdir berkata saya masuk kampus kuning.
(1)
PDJ
Waktu berjalan. Saya mulai
kuliah. Dan lebih tepatnya memahami apa arti kuliah. Ternyata kuliah itu seru.
Bisa ketemu hal baru yang selama ini saya tidak temukan. Termasuk saya kenal
apa yang disebut dengan wanita, tapi kalau pada masa ini sebutannya cewek. Sebut
saja namanya, PDJ. Saya masih hafal betul namanya parasnya
waktu itu. Mungkin dia adalah representasi wanita cantik idaman saya waktu itu.
Dia kuliah di jurusan Sastra Jerman. Rumahnya di Bogor Lake Side, menurut
pengakuannya. Rumahnya tak berpagar karena mungkin saking besarnya. Saya gak
terlalu paham apa maksudnya. Dia sering curhat ke saya soal kehidupannya yang
sebenarnya mewah namun dia sering merasa kesepian karena mungkin kurang gaul.
Entahlah. Tapi yang jelas buat saya, dia itu pernah singgah di hidup saya. Hal
yang paling saya ingat dan simpan sampai sekarang, dia pernah kasih saya foto
dalam bentuk cetakan fotobox. Kalau gak tahu bisa googling apa itu. Enak ya
jaman sekarang kalau gak tahu sesuatu tinggal tanya Google. Kalau dulu mah
boro-boro.
PDJ ini biasa dipanggil
Poe, dibaca Pu oleh temannya. Dia pernah sekelas dengan saya di matakuliah umum
kalau gak salah itu PDPT alias Pendidikan Dasar Perguruan Tinggi. Saya lebih
sering memplesetkan istilah PDPT itu dengan PenDemPeTan, tindak lanjut dari
PeDeKaTe alias pendekatan. Istilah di Indonesia memang semau gue, bebas.
Sah-sah saja asal enak diucapkan enak didengar. Nah waktu kuliah PDPT itu si
Pu pernah satu kelompok dengan saya. Saya waktu itu kan masih cupu abis.
Cupu itu mungkin istilah kependekan dari culun punya. Rambut saya waktu itu
macam orang habis sakit. Gak berbentuk apapun. Gak jelas. Saya memang orang
yang cuek soal penampilan termasuk rambut. Anehnya semua jenis potongan rambut
sudah pernah saya coba. Tapi saya tidak merasa cocok dengan satu jenis model
potongan rambut. Lagipula bahas rambut tidak penting di paragraf ini. Balik ke
si PDJ, nah saya masih menyimpan potongan kertas halaman komentar mahasiswa
menilai mahasiswa lain ya semacam borang isian gitu lah. Dia tulis gini: 1.
“Mi, kenapa gak masuk jurusan Politik aja?
2. Senyum elo manis kok, jangan nunduk mulu *emot senyum
Dari sini saya mulai makin
simpati sama cewek ini. Tapi gak merasa ge-er karena bagi saya dipuji atau
enggak saya gak butuh. Saya cuma butuh orangnya. Dan di mata saya ketika itu si
Pu ini mewakili tafsiran saya atas wanita. Cantik, manis, keibuan, kulitnya
putih, tinggi semampai, dan segala sifat kesempurnaan dan keindahan ala kaum
Hawa. Apalagi kalau dia sudah bertuturkata, laki-laki pasti mampus dibuatnya.
Suaranya halus merdu seperti suara embak-embak bagian barang hilang di mal.
Usut punya usut dia hobi mendongeng dan katanya pernah juara lomba dongeng
se-SMA Bogor. Suatu hari Pu pernah cerita dia pulang ke rumahnya naik KRL.
Dia digodain cowok-cowok. Ternyata alasannya klasik, dia pakai baju agak minim.
Ya jelas lah cowok mana yang gak tertarik. Saya cuma jawab sederhana, kalau
semua laki-laki itu baik ya gak akan ada yang namanya cowok brengsek atau sejenisnya.
Sampai rumah, dia mewek, curhat ke kakaknya yang cewek. Maklum anak bungsu
jadinya gak punya adik. Pu juga pernah cerita suatu hari lewat rekaman tep
rekorder kaset, isinya tentang cerita hidupnya sehari-hari. Bagaimana dia
melewati hari demi hari sebagai mahasiswi yang kesepian. Melankolis. Itu kata
yang tepat mewakilinya. Saya gak nyangka di balik senyum yang selalu menghiasi
bibirnya yang manis dan paras cantik berikut tubuh semampai yang dimilikinya
ternyata tidak menghalangi kesedihan untuk ikut campur dalam kehidupannya. Apa
yang dilihat manusia pada umumnya memang tidak bisa dinilai sebagai suatu
kebenaran.
Suatu waktu saya diajak Pu singgah ke kosannya. Sebelumnya dia kasih prolog soal kosannya yang lebih tepat
disebut sebagai kastil dan dia sebagai putrinya. Segala kemewahan yang ada di
rumahnya di Bogor dia bawa ke sana. Awalnya saya tidak percaya karena belum
menyaksikan secara langsung. Namun ketika saya sampai di depan gerbang kosannya
saya tercengang. Kenapa? Saya disambut oleh sekuriti. Lantas saya berpikir
dalam hati. Kosan anak kuliahan saja kok ada satpamnya? Ckckck. Kekaguman saya
tidak berhenti sampai di situ. Begitu saya dipersilakan oleh simpunya kosan
alias Pu, saya langsung tercengang. Tampak dia sudah berdiri dengan manis,
berbeda dari tampilan biasanya di kampus. Lebih cantik dan natural. Saya tidak
melihat kosan sebagaimana layaknya. Namun di mata saya yang ada yaitu istana
megah bertingkat dengan segala fasilitas yang luar biasa mewah. Pekarangan yang
luas dipenuhi pohon dan bunga berbagai jenis. Saya sulit menggambarkan betapa
wah nya tempat itu. Pu bercerita kalau kosannya itu kerap kali dijadikan
tempat syuting film. Entah film apa. Yang jelas pada hati itu hati saya
berbunga-bunga.
Yang lebih mencengangkan lagi, di kosan itu terdapat besmennya. Ajaibnya si Pu baru mengetahui hal itu setelah hampir setahun dia tinggal di sana. Menurut pengakuannya, di kamarnya terdapat televisi berikut piranti canggih lainnya macam cd walkman. Maklum pada masa itu punya walkman kaset saja sudah terlihat gaul apalagi dalam format cd rasanya hanya orang berduit yang punya ketika itu.
Pu pernah bercerita waktu
pertama kali dia ke Taman Ismail Marzuki naik Kopaja dan Metro Mini. Menurutnya
itu adalah pengalaman luar biasa. Saya bisa paham karena betapa sulitnya
menjadi dirinya yang ibarat putri keraton tak bisa sembarang kemana-mana
sendirian. Pu bercerita dengan betapa polos dan tulusnya. Saya jarang
bertemu momen semacam itu. Kebanyakan yang saya dapat itu cerita biasa bahkan
dibuat-buat macam naskah drama.
Sampai kini saya gak ngerti
kenapa Pu bisa punya perasaan cinta ke saya. Saya berpikir berkali-kali
hingga akhirnya sampai pada suatu kesimpulan bahwa cinta itu tidak bisa diukur
dengan standar logika saja. Kalau cinta sudah beralasan maka otomatis sudah
merusak makna aslinya. Cinta itu tak butuh pengorbanan, kalau sudah butuh
pengorbanan itu namanya sinetron. Mungkin karena saya jadi diri saya sendiri,
saya tampil dengan pribadi yang apa adanya, tiada duanya. Manusia punya banyak
kepribadian, makanya itulah alasan kenapa ada jurusan psikologi. Namun saya
hadir dengan pribadi yang satu. Dan itu sudah menghancurkan pemahaman manapun
soal cinta itu tak ada yang pasti, semua serba relatif dan bahkan kadang naif.
Segitu saja yang bisa saya
ceritakan dari PDJ. Sebenarnya tidak ada yang spesial amat namun paling
tidak dia pernah singgah di perjalanan hidup saya. Seperti saya sudah tulis di
awal kalau saya malas bercerita.
No comments:
Post a Comment