Selamat pagi siang sore dan malam.
Aku
gak tahu mesti mulai dari mana. Tapi entah ada kekuatan yang memaksa untuk
tulis surat ini. Setelah terakhir kemarin kamu chat di whatsapp. Anggap saja
kalimat-kalimat tadi sebagai intro surat ini.
--------------
Maaf
kalau akhir-akhir ini aku bersikap aneh atau apalah namanya. Aku cuma berusaha
jadi diriku sendiri yang entah siapa namanya. Aku coba mencari kehidupan yang
baru entah apa namanya. Tapi hasilnya nihil.
Aku
coba menerawang. Kilas balik ke masa awal pertama kita ketemu. Rasanya lucu.
Dan rasanya juga baru kemarin. Semua kenangan tersusun rapi. Satu per satu coba
aku ingat. Berawal dari kopi. Iya itu yang melulu aku ingat. Dan ketika itu
kamu masih kecil, maksudnya kamu masih jadi anak abege yang belum kenal apa itu
film bokep dan belum tahu caranya menggunakan selangkangan selain untuk
kencing.
Aku
coba baca ulang teks demi teks chat whats app dari jaman kemarin kita
berinteraksi lewat medsos percakapan yang tanpa iklan itu. Ternyata aku paham
bahwa yang namanya cinta itu pernah hadir di linimasa kita, anggaplah aku aja
yang mengalami. Ketika itu cinta sudah dibuktikan bukan hanya lewat aksara per
aksara, namun kita sudah jauh lebih dari itu. Dan aku yakin kalau kamu juga
merasakan hal yang sama yaitu kita sudah jauh melangkah yang melebihi batas
yang tidak kita bayangkan selama ini. Katakanlah kita jatuh cinta. Entah apa
namanya. Dan aku semakin yakin cinta itu tidak butuh pengorbanan, karena aku
melakukannya ikhlas tanpa dipungut biaya apalagi pungli. Cinta sudah dibuktikan
dengan tindakan. Namun memang terkadang sebagai manusia ada kalanya perlu juga
dibuktikan dengan kata-kata, salah satunya dengan surat ini. Sebagai ciri kita
sebagai manusia yang berbeda dengan makhluk lain di semesta ini.
Entah
aku pun gak ngerti. Aku begitu menikmati saat-saat itu. Setiap saatnya aku
nikmati tanpa beban. Padahal kalau dipikir secara logis, jarak Jakarta-Bandung
itu merupakan PR yang adalah singkatan dari pekerjaan rumah buatku mesti
bolak-balik. Artinya mau siang kek mau tengah malam buta kek, semua itu tidak
menghalangiku, bahkan juga kamu yang rela bangun tengah malam cuma buat jemput
aku di perempatan Cibaduyut atau di Stasiun Bandung. Aku juga masih ingat kamu
sampai ngantuk nungguin keretaku yang terlambat padahal waktu itu cuaca sedang
dingin-dinginnya.
Perlahan
tapi pasti, kamu mencatatkan berbagai rekor. Aku masih ingat pertama kali kamu
selundupin di kosan selama seminggu. Boleh dibilang itu wow.
Pun
aku juga masih ingat betapa cemburu dan jengkelnya kamu setiap aku sebut satu
merk yang haram buat kamu dengar, yaitu Tamara. Teman sekelasmu dulu waktu di
SMA, kalau gak salah ya. CMIIW (baca: cemewew).
Kalau
dipikir logis, waktu itu kamu punya pacar. Artinya mungkin waktu itu aku adalah
orang yang mengganggu hubungan kalian. Tapi anehnya kamu gak ada perasaan benci
sama sekali ke aku. Malah yang ada istilahnya yang pacaran siapa yang enjoy
siapa. Katakanlah aku begitu menikmati peranku sebagai perusak hubungan orang.
Memang itu salah. Tapi salah sendiri kenapa juga pacarmu tidak bisa jadi
seperti aku ketika itu. (ini bahasa yang agak bernada sombong, jangan ditiru).
Sekedar
mengingatkan, kamu pasti masih ingat puisi ini:
Kalau kopi rasanya pahit
Aku tahu kamulah penawarnya
Kamu itu manis alamiah tanpa buatan
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa
Kita pernah muda pernah berkuasa
Atas segala nafsu dan cinta
Kita tahu bagaimana caranya mencari
tahu
Lewati lembah mendaki menurun
Titipkan kenangan kita pada tiap
jengkal aspal
Bersama rodadua yang menderu
layaknya semangat kita
Kamu tahu bagaimana caranya menjadi
adik
Aku tahu bagaimana caranya menjadi
kakak
Kita tahu bagaimana caranya menjadi
penguasa
Atas segenap sejarah kita
Bandung, Tangerang, Jakarta
Adalah deretan nama kota yang pernah
singgah di linimasa kita
Kereta kita terus melaju bersama
pikiran kita
Yang semakin menua semakin menggila
Bersama cinta kita, selamanya
--------------------------------------------------------------------
[]
Anggaplah
puisi itu tidak penting. Alih-alih.
Tapi
percayalah menurut definisi pakar puisi, makna puisi itu adalah kata-kata
terbaik dalam bentuk terbaik. Karena dia sudah terpublikasi, maka kamu yang
berhak komentar atasnya.
----------------------
Sampai
aku temukan tulisan yang butuh waktu setahun untuk menemukannya di file
organizer itu. Di situ aku nangis. Aku pikir pastilah hal ini bukan kebetulan
belaka. Semua yang terjadi di hidupku dari semenjak awal kenal kamu sampai
detik menemukan tulisan di file itu bagiku suatu yang berharga. Tidak pernah
aku merasakan suatu penghargaan besar di hidupku selain itu karena ditulis
dengan bahasa yang jujur, spontan, dan ajaibnya tanpa coretan, Aku sampai
ceritakan semua ke teman-teman dekatku soal tulisan itu. Maklum norak.
Kamu
pasti ingat waktu mamamu bilang pas di rumah: “dek, kamu kenapa gak nikah sama
kak jun aja?”. Jujur kalimat itu mengganggu sampai kini, sampai detik kamu baca
tulisan ini. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri, semenjak kalimat itu
terlintas, rasanya aku ingin bilang jujur tapi entah kenapa aku gak bisa.
Makanya aku selalu mencari-cari alasan untuk tidak bilang iya pada kalimat
pernyataan sekaligus pertanyaan itu.
Sampai
detik ini aku gak bisa bohong.
Mungkin
yang ada di diriku sekarang hanya penyesalan. Kalau kamu baca chat kita dulu
kamu akan temukan percakapan kita menjurus ke arah situ. Pernikahan. Sebuah hal
sakral menghalalkan yang tidak halal. Dan hal itu yang hingga detik ini selalu
mengganggu melintas pikiranku. Dan sekarang kamu sudah tahu kan.
Toh
aku juga selalu bilang ke kamu soal jodoh kita gak pernah tahu. Makanya aku gak
mau sesumbar untuk bilang kamu PASTI bukan jodohku. Karena jodoh siapa yang tahu,
bahkan setanpun tidak tahu.
Kamu
pasti masih ingat waktu kamu pura-pura bohong gak bisa jemput aku di Bandung
waktu itu. Alasannya klasik dan dibuat-buat. Iya, ketemu mantanmu. Di situ aku
kecewa. Sedih. Ya mungkin itu awal dari satu per satu kamu bakalan pergi
ninggalin aku. Kamu. Kamu yang mungkin mewakili masalalu dari rentetan waktu di
hidupku. Dan mungkin itu benar. Satu per satu orang yang pernah aku kenal
perlahan pergi meninggalkanku. Aku sudah duga sebelumnya dan kelak pasti itu
akan terjadi.
Sampai
pada akhirnya.
Waktu
berlalu. Hidupku berubah. Dan aku selalu pasrah terima takdir baik buruknya.
Sempat ada perasaan menyesal waktu aku ceritakan semua kejadian yang aku alami
semenjak kita sudah jaga jarak macam angkot, bedanya gak pake klakson om
telolet om. Tapi aku pikir toh aku juga cuma cerita aib ini ke kamu bukan ke
siapa-siapa sembarang orang. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku ceritakan
soal rahasia yang amat rahasia ini. Dan aku tahu kamu gak bakalan jadi ember
bocor yang cerita ke sana sini. Lagipula apa faedahnya. Kamu sudah tau semua
tentangku.
Aku
masih berpikir kamu tetaplah kamu yang dulu. Aku kenal kamu bukan sehari dua
hari tapi bertahun-tahun.
Aku
percaya kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Bayangkan saja 500 tahun sebelum
penciptaan semesta ini dari sekian milyaran probabilitas yang hil mustahil
ternyata ada tertulis kita bakalan bertemu kelak. Dari sekian milyaran sperma
ternyata kita yang dipilih untuk lahir ke dunia, melihat kenyataan. Bukan orang
lain. Tapi kita.dan itu bukan sebuah kebetulan tebak-tebak buah manggis belaka.
Bayangkan pula jika dari sekian milyaran kemustahilan itu setelah kita lahir ke
dunia namun kita tidak ditakdirkan bertemu. Pasti jalan cerita akan berbeda.
Ini yang jadi renunganku selama ini.
Hingga
pada akhirnya aku sadar kalau kamu tidak layak dibandingkan dengan semua
perempuan yang pernah singgah di hidupku. Kamu berbeda dari siapapun yang aku
kenal yang pada akhirnya berujung pergi entah kemana macam kentut.
Sempat
terpikir beberapa waktu kemarin, aku tidak mau berkomunikasi lagi sama kamu.
Tapi ternyata semua itu salah. Aku trauma. Paranoid. Di saat semua orang yang
aku anggap paling tidak bisa aku percaya ternyata semua malah pergi. Bahkan aku
sempat berpikiran yang sama ke kamu. Ya paling kamu juga bakalan sama, ternyata
tidak. Kamu malah tanya kabarku ya entah basa basi atau apapun itu tapi yang
jelas itu caramu itu agendamu untuk paling tidak sekedar tau gimana kabarku
sekarang bla la bla dengan hidupku sekarang. Aku tahu mungkin ini semua caramu
untuk coba sekedar melupakan yang sudah lalu dari apa yang sudah kita pernah
lewati. Dan aku pun lakukan hal yang sama, entah apa namanya. Sampai kamu
bilang rasanya ingin guling-guling dari kamar kos saking kamu malu untuk
menutupi semua perasaan baper itu. Itulah hidup, kita gak akan pernah tau
misteri masa depan seperti film Back to the Future garapan Stephen Spielberg
yang kesohor itu. Ya aku rasa itu hakmu untuk baper. Manusia berhak baper,
justru manusia yang gak pernah baper itu namanya bukan manusia, entah kemana
hatinya, mungkin ada namun kurang berfungsi. Dan lagipula aku rasa itu hanya
akan bikin semakin lama aku bohongi diri sendiri.
Kamu
sudah kenal siapa aku. Tak ada yang aku sembunyiin sedikitpun. Kita pernah
sama-sama melihat aib satu sama lain. Dan anehnya aku gak pernah bisa
sembunyiin sesuatu dari kamu, pasti ujungnya kamu bakalan tau sendiri.
Sekarang
kalau ditanya kabarku ya gini aja. Selalu bersyukur atas apa yang terjadi.
Ujian atau musibah semua sama saja, tak ada yang mampu menyurutkanku untuk
selalu bersyukur atas semua hal yang sudah pernah aku lalui sama kamu. Mungkin
kalau kita gak pernah ketemu pasti gak akan ada cerita ini dan cerita itu.
Manusia pernah berbuat salah, dan tempatnya berbuat salah. Namun sebaik-baik
manusia bersalah adalah yang introspeksi kesalahannya. Kalau memang jejak
masalalu yang aku tinggalkan ke kamu itu adalah sebuah kesalahan, lebih baik
kalau aku pergi dari hidupmu. Dan pun kalau semua kalimat kata atau aksara yang
sudah aku tulis sedari tadi di atas ini adalah kesalahan, maka maaf adalah kata
yang paling terdepan untuk jadi wakil atas semua perasaan ini. Aku tau aku
pernah dan sering salah sama kamu, tapi tidak dengan perasaanku, dia gak pernah
salah.
Jakarta,
Maret 2017/ Jumadil Akhir 1438 H
Salam
~Bukan
Mantanmu
No comments:
Post a Comment