Thursday, March 30, 2017

Surat Curhat



Selamat pagi siang sore dan malam.
Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Tapi entah ada kekuatan yang memaksa untuk tulis surat ini. Setelah terakhir kemarin kamu chat di whatsapp. Anggap saja kalimat-kalimat tadi sebagai intro surat ini.

--------------
Maaf kalau akhir-akhir ini aku bersikap aneh atau apalah namanya. Aku cuma berusaha jadi diriku sendiri yang entah siapa namanya. Aku coba mencari kehidupan yang baru entah apa namanya. Tapi hasilnya nihil.

Aku coba menerawang. Kilas balik ke masa awal pertama kita ketemu. Rasanya lucu. Dan rasanya juga baru kemarin. Semua kenangan tersusun rapi. Satu per satu coba aku ingat. Berawal dari kopi. Iya itu yang melulu aku ingat. Dan ketika itu kamu masih kecil, maksudnya kamu masih jadi anak abege yang belum kenal apa itu film bokep dan belum tahu caranya menggunakan selangkangan selain untuk kencing.

Aku coba baca ulang teks demi teks chat whats app dari jaman kemarin kita berinteraksi lewat medsos percakapan yang tanpa iklan itu. Ternyata aku paham bahwa yang namanya cinta itu pernah hadir di linimasa kita, anggaplah aku aja yang mengalami. Ketika itu cinta sudah dibuktikan bukan hanya lewat aksara per aksara, namun kita sudah jauh lebih dari itu. Dan aku yakin kalau kamu juga merasakan hal yang sama yaitu kita sudah jauh melangkah yang melebihi batas yang tidak kita bayangkan selama ini. Katakanlah kita jatuh cinta. Entah apa namanya. Dan aku semakin yakin cinta itu tidak butuh pengorbanan, karena aku melakukannya ikhlas tanpa dipungut biaya apalagi pungli. Cinta sudah dibuktikan dengan tindakan. Namun memang terkadang sebagai manusia ada kalanya perlu juga dibuktikan dengan kata-kata, salah satunya dengan surat ini. Sebagai ciri kita sebagai manusia yang berbeda dengan makhluk lain di semesta ini.

Entah aku pun gak ngerti. Aku begitu menikmati saat-saat itu. Setiap saatnya aku nikmati tanpa beban. Padahal kalau dipikir secara logis, jarak Jakarta-Bandung itu merupakan PR yang adalah singkatan dari pekerjaan rumah buatku mesti bolak-balik. Artinya mau siang kek mau tengah malam buta kek, semua itu tidak menghalangiku, bahkan juga kamu yang rela bangun tengah malam cuma buat jemput aku di perempatan Cibaduyut atau di Stasiun Bandung. Aku juga masih ingat kamu sampai ngantuk nungguin keretaku yang terlambat padahal waktu itu cuaca sedang dingin-dinginnya.

Perlahan tapi pasti, kamu mencatatkan berbagai rekor. Aku masih ingat pertama kali kamu selundupin di kosan selama seminggu. Boleh dibilang itu wow.

Pun aku juga masih ingat betapa cemburu dan jengkelnya kamu setiap aku sebut satu merk yang haram buat kamu dengar, yaitu Tamara. Teman sekelasmu dulu waktu di SMA, kalau gak salah ya. CMIIW (baca: cemewew).

Kalau dipikir logis, waktu itu kamu punya pacar. Artinya mungkin waktu itu aku adalah orang yang mengganggu hubungan kalian. Tapi anehnya kamu gak ada perasaan benci sama sekali ke aku. Malah yang ada istilahnya yang pacaran siapa yang enjoy siapa. Katakanlah aku begitu menikmati peranku sebagai perusak hubungan orang. Memang itu salah. Tapi salah sendiri kenapa juga pacarmu tidak bisa jadi seperti aku ketika itu. (ini bahasa yang agak bernada sombong, jangan ditiru).

Sekedar mengingatkan, kamu pasti masih ingat puisi ini:

Kalau kopi rasanya pahit
Aku tahu kamulah penawarnya
Kamu itu manis alamiah tanpa buatan
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa
Kita pernah muda pernah berkuasa
Atas segala nafsu dan cinta
Kita tahu bagaimana caranya mencari tahu
Lewati lembah mendaki menurun
Titipkan kenangan kita pada tiap jengkal aspal
Bersama rodadua yang menderu layaknya semangat kita

Kamu tahu bagaimana caranya menjadi adik
Aku tahu bagaimana caranya menjadi kakak
Kita tahu bagaimana caranya menjadi penguasa
Atas segenap sejarah kita

Bandung, Tangerang, Jakarta
Adalah deretan nama kota yang pernah singgah di linimasa kita
Kereta kita terus melaju bersama pikiran kita
Yang semakin menua semakin menggila

Bersama cinta kita, selamanya
-------------------------------------------------------------------- []
Anggaplah puisi itu tidak penting. Alih-alih.
Tapi percayalah menurut definisi pakar puisi, makna puisi itu adalah kata-kata terbaik dalam bentuk terbaik. Karena dia sudah terpublikasi, maka kamu yang berhak komentar atasnya.
----------------------

Sampai aku temukan tulisan yang butuh waktu setahun untuk menemukannya di file organizer itu. Di situ aku nangis. Aku pikir pastilah hal ini bukan kebetulan belaka. Semua yang terjadi di hidupku dari semenjak awal kenal kamu sampai detik menemukan tulisan di file itu bagiku suatu yang berharga. Tidak pernah aku merasakan suatu penghargaan besar di hidupku selain itu karena ditulis dengan bahasa yang jujur, spontan, dan ajaibnya tanpa coretan, Aku sampai ceritakan semua ke teman-teman dekatku soal tulisan itu. Maklum norak.

Kamu pasti ingat waktu mamamu bilang pas di rumah: “dek, kamu kenapa gak nikah sama kak jun aja?”. Jujur kalimat itu mengganggu sampai kini, sampai detik kamu baca tulisan ini. Aku hanya ingin jujur pada diri sendiri, semenjak kalimat itu terlintas, rasanya aku ingin bilang jujur tapi entah kenapa aku gak bisa. Makanya aku selalu mencari-cari alasan untuk tidak bilang iya pada kalimat pernyataan sekaligus pertanyaan itu.

Sampai detik ini aku gak bisa bohong.

Mungkin yang ada di diriku sekarang hanya penyesalan. Kalau kamu baca chat kita dulu kamu akan temukan percakapan kita menjurus ke arah situ. Pernikahan. Sebuah hal sakral menghalalkan yang tidak halal. Dan hal itu yang hingga detik ini selalu mengganggu melintas pikiranku. Dan sekarang kamu sudah tahu kan.

Toh aku juga selalu bilang ke kamu soal jodoh kita gak pernah tahu. Makanya aku gak mau sesumbar untuk bilang kamu PASTI bukan jodohku. Karena jodoh siapa yang tahu, bahkan setanpun tidak tahu.

Kamu pasti masih ingat waktu kamu pura-pura bohong gak bisa jemput aku di Bandung waktu itu. Alasannya klasik dan dibuat-buat. Iya, ketemu mantanmu. Di situ aku kecewa. Sedih. Ya mungkin itu awal dari satu per satu kamu bakalan pergi ninggalin aku. Kamu. Kamu yang mungkin mewakili masalalu dari rentetan waktu di hidupku. Dan mungkin itu benar. Satu per satu orang yang pernah aku kenal perlahan pergi meninggalkanku. Aku sudah duga sebelumnya dan kelak pasti itu akan terjadi.

Sampai pada akhirnya.
Waktu berlalu. Hidupku berubah. Dan aku selalu pasrah terima takdir baik buruknya. Sempat ada perasaan menyesal waktu aku ceritakan semua kejadian yang aku alami semenjak kita sudah jaga jarak macam angkot, bedanya gak pake klakson om telolet om. Tapi aku pikir toh aku juga cuma cerita aib ini ke kamu bukan ke siapa-siapa sembarang orang. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku ceritakan soal rahasia yang amat rahasia ini. Dan aku tahu kamu gak bakalan jadi ember bocor yang cerita ke sana sini. Lagipula apa faedahnya. Kamu sudah tau semua tentangku.

Aku masih berpikir kamu tetaplah kamu yang dulu. Aku kenal kamu bukan sehari dua hari tapi bertahun-tahun.

Aku percaya kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Bayangkan saja 500 tahun sebelum penciptaan semesta ini dari sekian milyaran probabilitas yang hil mustahil ternyata ada tertulis kita bakalan bertemu kelak. Dari sekian milyaran sperma ternyata kita yang dipilih untuk lahir ke dunia, melihat kenyataan. Bukan orang lain. Tapi kita.dan itu bukan sebuah kebetulan tebak-tebak buah manggis belaka. Bayangkan pula jika dari sekian milyaran kemustahilan itu setelah kita lahir ke dunia namun kita tidak ditakdirkan bertemu. Pasti jalan cerita akan berbeda. Ini yang jadi renunganku selama ini.

Hingga pada akhirnya aku sadar kalau kamu tidak layak dibandingkan dengan semua perempuan yang pernah singgah di hidupku. Kamu berbeda dari siapapun yang aku kenal yang pada akhirnya berujung pergi entah kemana macam kentut.

Sempat terpikir beberapa waktu kemarin, aku tidak mau berkomunikasi lagi sama kamu. Tapi ternyata semua itu salah. Aku trauma. Paranoid. Di saat semua orang yang aku anggap paling tidak bisa aku percaya ternyata semua malah pergi. Bahkan aku sempat berpikiran yang sama ke kamu. Ya paling kamu juga bakalan sama, ternyata tidak. Kamu malah tanya kabarku ya entah basa basi atau apapun itu tapi yang jelas itu caramu itu agendamu untuk paling tidak sekedar tau gimana kabarku sekarang bla la bla dengan hidupku sekarang. Aku tahu mungkin ini semua caramu untuk coba sekedar melupakan yang sudah lalu dari apa yang sudah kita pernah lewati. Dan aku pun lakukan hal yang sama, entah apa namanya. Sampai kamu bilang rasanya ingin guling-guling dari kamar kos saking kamu malu untuk menutupi semua perasaan baper itu. Itulah hidup, kita gak akan pernah tau misteri masa depan seperti film Back to the Future garapan Stephen Spielberg yang kesohor itu. Ya aku rasa itu hakmu untuk baper. Manusia berhak baper, justru manusia yang gak pernah baper itu namanya bukan manusia, entah kemana hatinya, mungkin ada namun kurang berfungsi. Dan lagipula aku rasa itu hanya akan bikin semakin lama aku bohongi diri sendiri.

Kamu sudah kenal siapa aku. Tak ada yang aku sembunyiin sedikitpun. Kita pernah sama-sama melihat aib satu sama lain. Dan anehnya aku gak pernah bisa sembunyiin sesuatu dari kamu, pasti ujungnya kamu bakalan tau sendiri. 

Sekarang kalau ditanya kabarku ya gini aja. Selalu bersyukur atas apa yang terjadi. Ujian atau musibah semua sama saja, tak ada yang mampu menyurutkanku untuk selalu bersyukur atas semua hal yang sudah pernah aku lalui sama kamu. Mungkin kalau kita gak pernah ketemu pasti gak akan ada cerita ini dan cerita itu. Manusia pernah berbuat salah, dan tempatnya berbuat salah. Namun sebaik-baik manusia bersalah adalah yang introspeksi kesalahannya. Kalau memang jejak masalalu yang aku tinggalkan ke kamu itu adalah sebuah kesalahan, lebih baik kalau aku pergi dari hidupmu. Dan pun kalau semua kalimat kata atau aksara yang sudah aku tulis sedari tadi di atas ini adalah kesalahan, maka maaf adalah kata yang paling terdepan untuk jadi wakil atas semua perasaan ini. Aku tau aku pernah dan sering salah sama kamu, tapi tidak dengan perasaanku, dia gak pernah salah.

Jakarta, Maret 2017/ Jumadil Akhir 1438 H
Salam

~Bukan Mantanmu

No comments:

Post a Comment