Jakarta,
13 Agustus 2016
Aku gak tahu mesti mulai dari
mana. Tapi tolong kamu simak surat ini dengan segala indra yang kamu punya
sebagai wanita. Aku sengaja gak mau bicara sama kamu tapi aku tulis ini agar
kamu paham tentang semua hal di luar obrolan lisan. Anggaplah ini sebagai
prolog suratku.
Aku kenal kamu sejak waktu
dulu itu, iya terimakasih untuk perkariban yang sudah kamu beri kepadaku.
Mungkin banyak yang kenal aku, dan mungkin banyak juga yang sebaliknya, tidak
kenal aku. Aku gak peduli itu. Banyak yang menyangka aku itu orang yang penuh
senda gurau, gak pernah serius. Tapi mohon maaf, aku adalah orang yang serius
soal perasaan, terlebih perasaan kepada lawan jenis.
Kamu pasti ingat waktu itu
kita makan berdua, jujur aku tidak memaknai itu sebagai sesuatu yang lebih. Aku
hanya memaknai itu sebagai persahabatan. Dan aku minta maaf kalau seandainya
kamu memaknai itu sebagai suatu hal yang mewah dan spesial di matamu. Sejak itu
aku jadi kenal kamu dari kisah-kisah orang terdekatmu, yang tidak sengaja aku
niatkan untuk tahu soal itu. Sampai kiranya pernah mampir juga di telingaku
andaikata aku batal nikah dengan calonku ini, kamulah orang yang dengan tulus
ikhlas siap menggantikan posisi itu lillahi ta’ala. Jujur aku merasa itu suatu
yang mewah bagiku. Dan aku pun tidak pernah menghendaki takdirku semacam ini.
Aku percaya kalau kamu bisa rencanakan menikah dengan siapa, tapi kamu tidak
akan bisa rencanakan cintamu untuk siapa, menikah itu nasib, mencintai itu
takdir (Sujiwo Tejo).
Aku orang yang tidak pernah
bercanda soal perasaan. Jujur aku mencintai sahabatmu sendiri yang kamu kenal
bukan sehari dua hari. Entah setan dari mana yang membawa angin apa sehingga
aku bisa jatuh cinta pada seorang putri trah ningrat bernama RA Safitri
Kusumawardhani yang aku kenal bernama Vivie. Dan aku sudah berusaha menangkis
perasaan itu dengan keras. Semakin keras aku menyangkal itu maka semakin keras
itu pula perasaan itu membawaku larut untuk semakin sayang ke manusia itu. Dan
aku tidak pernah menghendaki kejadian ini sebelumnya.
Oh iya aku juga minta maaf
soal kejadian kemarin. Jujur kalau kamu itu sama sekali gak terlibat apapun.
Ibarat perang Mahabarata yang melibatkan Kurawa dan Pandawa antara aku dan
Vivie, kamu itu jadi tokoh yang ikut terlibat tanpa tahu siapa peranmu. Awalnya
aku masih bersangka baik ke Vivie waktu aku temui dia di lantai dasar dan dia
sempat ngerjain aku. Dan karena aku tahu dia itu sakit ya anggaplah mungkin itu
sebagai hadiah buat dia. Dia bilang sudah bikin harinya berbeda di hari itu
karena aku. Sampai di titik itu aku masih bersangka baik ke dia. Dan sama
sekali gak ada terbersit soal kamu di pikiranku. Sampai pada akhirnya kamu
kasih aku secangkir kopi, di situlah argumen di pikiranku bermain. Dia bilang,
ini pasti rekayasa Vivie, dan aku benci drama klasik tai kucing macam ini.
Sehingga pada akhirnya aku memilih untuk tidak menerima pemberianmu, bukan
karena aku tidak suka tapi aku terlanjur melukai hati ini. Vivie yang aku kenal
setelah detik itu bukan Vivie yang selama ini aku kenal. Maaf dan maaf dan
maaf. Aku tidak bermaksud buruk sama sekali ke kamu. Kamu gak salah apa-apa.
Kamu benar, niatmu tulus. Cuma aku yang salah menginterpretasikan niatmu itu.
Tafsirku keliru keburu terbawa angin kejelekan durjana entah dari mana
datangnya. Aku paling benci dengan orang salah yang tidak tahu dimana letak salahnya dan enggan
meminta maaf. Bagiku itu gak lebih dari seorang pecundang. Dan aku gak ingin
menyalahkan Vivie, karena mungkin ini semua salahku sendiri, ulahku. Kenapa
juga aku jatuh cinta sama dia. Akulah yang pecundang atas segala cinta dan
benci yang pernah ada dalam hidupku. Laki-laki yang tak bisa memaknai kebaikan
kecil yang bermakna besar.
Aku sudah terlanjur mencintai
Vivie dengan segala konsekuensinya. Dan aku tahu ada saatnya aku dipaksa kalah
dan menyerah untuk suatu hal yang tak perlu diucapkan dengan lisan dan
dituliskan melalui aksara. Tapi sekali lagi aku ingin minta maaf
sebesar-besarnya atas yang pernah aku lakukan ke kamu. Kamu baik. Dan orang
baik layak untuk bersama pasangan yang baik, yang pasti bukan akulah orangnya.
Teriring salam dan tahniahku untukmu, maaf dan terimakasih atas semua yang
telah kamu hadirkan di linimasa hidupku. Doaku, semoga kamu dan semoga dan
semoga.
Salam hangat,
Si Anak Hilang
Jun
No comments:
Post a Comment