Thursday, March 30, 2017

Kepada Avis, kapanpun dan dimanapun



Jakarta, 13 Agustus 2016


Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Tapi tolong kamu simak surat ini dengan segala indra yang kamu punya sebagai wanita. Aku sengaja gak mau bicara sama kamu tapi aku tulis ini agar kamu paham tentang semua hal di luar obrolan lisan. Anggaplah ini sebagai prolog suratku. 

Aku kenal kamu sejak waktu dulu itu, iya terimakasih untuk perkariban yang sudah kamu beri kepadaku. Mungkin banyak yang kenal aku, dan mungkin banyak juga yang sebaliknya, tidak kenal aku. Aku gak peduli itu. Banyak yang menyangka aku itu orang yang penuh senda gurau, gak pernah serius. Tapi mohon maaf, aku adalah orang yang serius soal perasaan, terlebih perasaan kepada lawan jenis. 

Kamu pasti ingat waktu itu kita makan berdua, jujur aku tidak memaknai itu sebagai sesuatu yang lebih. Aku hanya memaknai itu sebagai persahabatan. Dan aku minta maaf kalau seandainya kamu memaknai itu sebagai suatu hal yang mewah dan spesial di matamu. Sejak itu aku jadi kenal kamu dari kisah-kisah orang terdekatmu, yang tidak sengaja aku niatkan untuk tahu soal itu. Sampai kiranya pernah mampir juga di telingaku andaikata aku batal nikah dengan calonku ini, kamulah orang yang dengan tulus ikhlas siap menggantikan posisi itu lillahi ta’ala. Jujur aku merasa itu suatu yang mewah bagiku. Dan aku pun tidak pernah menghendaki takdirku semacam ini. Aku percaya kalau kamu bisa rencanakan menikah dengan siapa, tapi kamu tidak akan bisa rencanakan cintamu untuk siapa, menikah itu nasib, mencintai itu takdir (Sujiwo Tejo). 

Aku orang yang tidak pernah bercanda soal perasaan. Jujur aku mencintai sahabatmu sendiri yang kamu kenal bukan sehari dua hari. Entah setan dari mana yang membawa angin apa sehingga aku bisa jatuh cinta pada seorang putri trah ningrat bernama RA Safitri Kusumawardhani yang aku kenal bernama Vivie. Dan aku sudah berusaha menangkis perasaan itu dengan keras. Semakin keras aku menyangkal itu maka semakin keras itu pula perasaan itu membawaku larut untuk semakin sayang ke manusia itu. Dan aku tidak pernah menghendaki kejadian ini sebelumnya.

Oh iya aku juga minta maaf soal kejadian kemarin. Jujur kalau kamu itu sama sekali gak terlibat apapun. Ibarat perang Mahabarata yang melibatkan Kurawa dan Pandawa antara aku dan Vivie, kamu itu jadi tokoh yang ikut terlibat tanpa tahu siapa peranmu. Awalnya aku masih bersangka baik ke Vivie waktu aku temui dia di lantai dasar dan dia sempat ngerjain aku. Dan karena aku tahu dia itu sakit ya anggaplah mungkin itu sebagai hadiah buat dia. Dia bilang sudah bikin harinya berbeda di hari itu karena aku. Sampai di titik itu aku masih bersangka baik ke dia. Dan sama sekali gak ada terbersit soal kamu di pikiranku. Sampai pada akhirnya kamu kasih aku secangkir kopi, di situlah argumen di pikiranku bermain. Dia bilang, ini pasti rekayasa Vivie, dan aku benci drama klasik tai kucing macam ini. Sehingga pada akhirnya aku memilih untuk tidak menerima pemberianmu, bukan karena aku tidak suka tapi aku terlanjur melukai hati ini. Vivie yang aku kenal setelah detik itu bukan Vivie yang selama ini aku kenal. Maaf dan maaf dan maaf. Aku tidak bermaksud buruk sama sekali ke kamu. Kamu gak salah apa-apa. Kamu benar, niatmu tulus. Cuma aku yang salah menginterpretasikan niatmu itu. Tafsirku keliru keburu terbawa angin kejelekan durjana entah dari mana datangnya. Aku paling benci dengan orang salah yang  tidak tahu dimana letak salahnya dan enggan meminta maaf. Bagiku itu gak lebih dari seorang pecundang. Dan aku gak ingin menyalahkan Vivie, karena mungkin ini semua salahku sendiri, ulahku. Kenapa juga aku jatuh cinta sama dia. Akulah yang pecundang atas segala cinta dan benci yang pernah ada dalam hidupku. Laki-laki yang tak bisa memaknai kebaikan kecil yang bermakna besar. 

Aku sudah terlanjur mencintai Vivie dengan segala konsekuensinya. Dan aku tahu ada saatnya aku dipaksa kalah dan menyerah untuk suatu hal yang tak perlu diucapkan dengan lisan dan dituliskan melalui aksara. Tapi sekali lagi aku ingin minta maaf sebesar-besarnya atas yang pernah aku lakukan ke kamu. Kamu baik. Dan orang baik layak untuk bersama pasangan yang baik, yang pasti bukan akulah orangnya. Teriring salam dan tahniahku untukmu, maaf dan terimakasih atas semua yang telah kamu hadirkan di linimasa hidupku. Doaku, semoga kamu dan semoga dan semoga.

Salam hangat,
Si Anak Hilang

Jun


No comments:

Post a Comment