Jakarta, 18 Mei 2014
JFFF (baca: ji ef
tri) 2014 yang merupakan singkatan dari Jakarta Fashion and Food Festival 2014
kali ini telah memasuki dekade yang kedua sekaligus sebelas kali penyelenggaraan,
oleh karena itu tagline besar tahun
ini mengambil tema yakni “11th Jakarta Fashion and Food Festival: The
Beginning of The Second Decade”. Program ini merupakan perhelatan tahunan yang
digawangi oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta yang diwakili Enjoy Jakarta. Ada
tiga acara utama tahun ini yang sekaligus menjadi tema besar yaitu Fashion Extravaganza (16 Mei – 1 Juni 2014)
yang menampilkan ragam kekayaan budaya Indonesia melalui mode; Food Festival (9 Mei – 1 Juni 2014)
yang mengangkat pesona kuliner Nusantara pada tataran lokal maupun global dan
mengombinasikannya dengan citra Summarecon Kelapa Gading sebagai kota sejuta
makanan; Gading Nite Carnival (15 Mei
2014, 18:00 WIB) yang menjadi primadona hiburan tahunan JFF yang kembali
dengan kemegahan parade mengelilingi Sentra Kelapa Gading yang melibatkan
ratusan peserta, mobil hias, atraksi seni, pesta kostum, dan pertunjukan
spektakuler kembang api.
Saya berkesempatan
mendapatkan undangan untuk menyaksikan perhelatan fesyen ini pada hari Minggu
18 Mei 2014 di Grand Ballroom Harris Hotel and Conventions Center Kelapa Gading
Jakarta. Ada tiga sesi utama yang dimeriahkan oleh koleksi IKAT Indonesia
“Garis-Garis Budaya Nusantara” by Didiet Maulana pada pukul 14.30 WIB, Sirena del Sur by Rafi
Ridwan pada pukul 16.30 WIB, dan Kain Negeri 2014 by IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia/
Indonesian Fashion Designer Council) pada pukul 18.30
.
Berbagai awak media turut meliput acara ini yang menunjukkan antusiasme bagi perkembangan fesyen anak negeri yang tak kalah dari luar negeri.
![]() |
Undangan "Garis Garis Budaya Nusantara IKAT Indonesia by Didiet Maulana |
Undangan Sirena del Sur by Rafi Ridwan |
Undangan KAIN NEGERI by IPMI |
Berbagai awak media turut meliput acara ini yang menunjukkan antusiasme bagi perkembangan fesyen anak negeri yang tak kalah dari luar negeri.
Suasana peliputan oleh awak media |
Didiet
Maulana dengan IKAT Indonesia “Garis-Garis Budaya Nusantara”
menampilkan jenis kain lurik khas Klaten dan Yogyakarta dipadu dengan kombinasi
kain Endek khas Denpasar, Bali. Desainer muda yang sekaligus pengusaha ini
bermain dengan variasi warna yang menarik yaitu putih, hitam, dan merah. Tahun
ini diberi tajuk olehnya “Garis-Garis Budaya Nusantara”. Ada pesan menarik yang
ingin disampaikan oleh Didiet, begitu beliau akrab disapa, yakni mengenai
penamaan brand IKAT Indonesia, beliau ingin agar koleksi kain bernuansa klasik
dan modern yang ditampilkan menjadi pengikat rasa kebangsaan yang satu:
Indonesia.
Didiet Maulana @ Press Conference JFFF2014 |
IKAT Indonesia by Didiet Maulana |
Mike Lewis sebagai
wajah baru yang terpilih sebagai inspirator busana maskulin dan Isabel Jahja yang
mewakili sosok busana feminis didaulat menjadi model utama dari koleksi IKAT
Indonesia by Didiet Maulana JFFF 2014 kali ini. Lebih dari 50 koleksi
ditampilkan untuk busana pria dan wanita dengan permainan potongan cropped pada atasan, dan rompi untuk
laki-laki. Adapun dengan gaya casual
ditampilkan dengan desain sweater dan jaket. Beberapa sweater untuk laki-laki
dan wanita bertuliskan IKAT di bagian dada yang menghiasi koleksi Mentari 2014.
IKAT Indonesia berusaha menampilkan sebuah garis baru dalam peta busana
nasional dengan mengangkat lurik sebagai tema utama yang dikemas dalam warna
baru sehingga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk lebih mengenal
kekayaan budaya bangsa lewat jalur tren busana.
IKAT Indonesia by Didiet Maulana |
IKAT Indonesia by Didiet Maulana |
Rafi
Ridwan dengan Sirena del Sur (Puteri Duyung dari Selatan)
mengusung 40 set busana wanita yang menggambarkan kesan effortless beauty, yakni kecantikan yang sederhana namun tetap
mempesona tanpa penampilan berlebih. Ada kisah menarik di balik pemilihan tema
tahun ini yakni mengapa Puteri Duyung dipilih oleh Rafi Ridwan, sang desainer
muda ini pada usia 3 tahun sudah diajarkan kesopanan. Ketika itu dia melihat
tokoh dalam dongeng Puteri Duyung yaitu
“Ariel” Little Mermaid yang tidak memakai busana, sontak saja dia bertanya kepada
sang ibunda, Shinta Ayu Handayani mengapa si puteri duyung tak berbusana?
Lantas ibunda Rafi menjawab dengan menyuruh Rafi kecil agar memberikan si
puteri duyung pakaian. Nah, sejak
saat itulah Rafi mulai senang dan sering menggambar puteri duyung dalam
berbagai busana seperti gaun pesta, demikian tutur sang ibunda Rafi.
Rafi Ridwan memulai
debut di dunia fesyen pada usia 9 tahun, termasuk kategori desainer muda di
Indonesia bahkan dunia. Meskipun Rafi merupakan penyandang difabel tunarungu
tidak menghalangi semangatnya dalam berkarya. Bahkan justru semakin memacu
dirinya menghasilkan karya yang brilian. Tak lupa Rafi pun mengajak rekan-rekan
sesamanya dalam proses produksi pada pergelaran JFFF 2014. Hal ini yang menjadi
motivasi positif bagi siapa saja yang menikmati hasil karyanya, salah satunya
yakni perancang mode dunia Tyra Banks. Melalui bantuannya, desain karya Rafi
dikenakan oleh para kontestan America’s Next Top Models cycle 20 (Boys &
Girls). Prestasi tingkat dunia lain yang pernah ditorehkan oleh Rafi yaitu
berhasil memukau publik Australia pada Melbourne Festival Indonesia 2012. Bakat
Rafi memang tampak sejak kecil, seperti dijelaskan oleh sang ibunda, Rafi kecil
kerap bermimpi mengenai suara. Wajar saja karena keterbatasan yang dimilikinya,
namun sang ibunda dengan sabar dan telaten menjelaskan bahwa suara itu sama
indahnya seperti aneka warna. Sehingga pada tahun 2011 karyanya yang penuh
imajinatif berhasil memikat desainer Barli Asmara untuk berkolaborasi. Bahkan
di tahun berikutnya pada 2012, Rafi juga turut berkolaborasi dengan segenap
desainer berkelas semacam Nonita Respati dari Purana Batik dan Ariani
Pradjasaputra dari Label Aarti yang kemudian membentuk label PAR serta
menampilkan koleksi busananya pada Jakarta Fashion Week 2012.
Sirena del Sur by Rafi Ridwan |
Sirena del Sur by Rafi Ridwan |
IPMI
(Ikatan Perancang Mode Indonesia/ Indonesian Fashion Designer Council) dengan
“Kain Negeri 2014” mengangkat kain lokal sebagai
kepedulian dan tanggungjawab anggotanya untuk menumbuhkembangkan kain
Indonesia, memperkenalkannya serta sebagai sarana edukasi untuk menghargai
suatu proses apresiasi seni, disamping ikut menyokong perekonomian usaha kecil
menengah (UKM), juga dalam rangka peningkatan industri kreatif berbasis budaya.
Kain Negeri menjadi ikon sebagai bentuk kebanggaan anak bangsa untuk mengusung
rasa kecintaan terhadap tanah air. Pada tahun ini IPMI menghadirkan beberapa
desainer terkemuka seperti:
IPMI: Press Conference @ JFFF2014 |
Carmanita,
mengusung tema Tropique dengan motif
batik yang dibuat sesuai dengan garis rancangan desainer.
Tropique by Carmanita |
Yongki
Budisutisna, mengusung tema Ressurection yang berarti kebangkitan. Motif batik tulis kawung
dipadu dengan desain modern bagi kawula muda urban dominan dengan warna hitam,
putih, dan abu-abu sebagai tren masa kini yang dinamis.
Ressurection by Yongki Budisutisna |
Yogie
Pratama, mengusung tema Ligne yang dalam bahasa Prancis bermakna garis, diilhami dari mode
fesyen vintage ala tahun 1960 dipadu dengan motif kain tenun Jepara.
Mel
Ahyar, dengan tema Muli
Wawai yang berasal dari bahasa Lampung bermakna "Gadis Cantik", menggunakan
teknik sulam khas Sumatera dengan desain lebih modern bermain dengan warna
natural seperti nude, hitam dan off white.
Barli
Asmara, mengambil tema Culture Mix dengan menampilkan kain tenun khas Garut berpadu dengan
variasi warna yang cerah dan lembut sehigga menampilkan kesan wanita masa kini
yang ceria, feminin dan independen. Tampilan keseluruhan yang ingin disampaikan
dalam tema kali ini yaitu kesan muda (youthful),
canggih (sophisticated), dan
dinamis (edgy).
Era
Soekamti, mengusung tema Asmaradhana yang merupakan falsafah Jawa bermakna wanita perkasa.
Konsep kecantikan dan kekuatan (power
and beauty) membaur dalam balutan
modern yang coba ditampilkan tanpa mengurangi esensi utama dari Asmaradhana itu sendiri. Motif
Sawunggaling dipilih untuk menerjemahkan kain Iwan Tirta Private Collection dalam bentuk yang lebih feminin,
anggun, dan berwibawa. Bentuk drapery yang jadi ciri khasnya kali ini bercampur
dengan coat bervolume serta teknik cutting seperti layang-layang dan cape sebagai alternatif dalam berkebaya.
Dengan ini saya menyatakan:
menarik yaa
ReplyDeletemakasih telah sudi mampir. salam :)
DeleteSalam lemper :)
ReplyDeletesalam lontong sayur :)
Delete