Asam di
gunung, ikan di laut, bertemu di belanga jua.
Kira-kira demikian
pepatah yang tepat untuk menggambarkan kisah cinta sepasang insan yang entah
dari mana asalnya satu sama lain yang bertemu di lereng gunung Tidar, menjalani
kisah yang penuh lika-liku. Sungguh epik. Ya, Remy Sylado kembali bertutur
lewat cerita sederhana ala tempo dulu. Cerita rekaan yang berdasarkan nas
sejarah kembali dihadirkan lewat buku yang berjudul Malaikat Lereng Tidar. Tumirah
sang bunga desa asal Magelang yang hanya seorang penjaga warung minum bernama Warung
Idjo milik orangtuanya ternyata tergila-gila pada seorang anggota tentara KNIL
bernama Jehezkiel Tambajong asal Minahasa keturunan Holanda. Pun begitu
sebaliknya, sang tentara langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan rela
untuk sejenak meninggalkan leluri adat serta janji yang penah diucapkannya pada
sang bunda kala ingin merantau meninggalkan kampung halaman. Buku setebal 544
halaman ini jadi bukti kemapanan sang maestro sastra Indonesia, Remy Sylado
dalam meracik sebuah cerita perjalanan cinta anak manusia yang terkadang tidak
semudah membalik telapak tangan semata.
Menarik untuk
disimak peran tokoh-tokoh antagonis diantaranya Sembino si tua Bangka yang
menginginkan Tum, sapaan Tumirah untuk jadi istri ke-9 sebagai syarat ilmu
entah apa namanya yang dianutnya. Adapula tokoh antagonis yang dikemudian hari
berubah watak setelah ditempa oleh sang waktu. Juga bagaimanakah petualangan
cinta Jez, panggilan Jehezkiel yang ditugaskan untuk berperang di Aceh. Apakah
ia sanggup menepati janjinya pada Tumirah serta anaknya bahwa ia pasti akan
kembali menemui belahan hatinya yang terpisah oleh samudera di ujung barat Nusantara
sana. Tak kalah menarik untuk disimak, yaitu peran protagonis dari rekan-rekan
yang mendukung usaha Jez dalam mendapatkan cinta sejatinya.
Satu per satu latar
yang ditampilkan oleh Remy Sylado merupakan linimasa historis yang apik serta
patut untuk disimak. Kosakata Nusantara banyak ditampilkan di novel ini yang
menunjukkan kekuatan bahasa dari Sabang sampai Merauke yang jadi ciri khas Remy
selama ini. Tak salah kiranya Penerbit Buku Kompas dipercaya sebagai penerbit
buku ini yang memang berkelas tak sekedar ecek-ecek. Selamat membaca.
No comments:
Post a Comment