Showing posts with label 2014. Show all posts
Showing posts with label 2014. Show all posts

Monday, May 26, 2014

Kain Lokal Rasa Internasional di Fashion Extravaganza JFFF2014

Jakarta, 18 Mei 2014

JFFF (baca: ji ef tri) 2014 yang merupakan singkatan dari Jakarta Fashion and Food Festival 2014 kali ini telah memasuki dekade yang kedua sekaligus sebelas kali penyelenggaraan, oleh karena itu tagline besar tahun ini mengambil tema yakni “11th Jakarta Fashion and Food Festival: The Beginning of The Second Decade”. Program ini merupakan perhelatan tahunan yang digawangi oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta yang diwakili Enjoy Jakarta. Ada tiga acara utama tahun ini yang sekaligus menjadi tema besar yaitu Fashion Extravaganza (16 Mei – 1 Juni 2014) yang menampilkan ragam kekayaan budaya Indonesia melalui mode; Food Festival (9 Mei – 1 Juni 2014) yang mengangkat pesona kuliner Nusantara pada tataran lokal maupun global dan mengombinasikannya dengan citra Summarecon Kelapa Gading sebagai kota sejuta makanan; Gading Nite Carnival (15 Mei 2014, 18:00 WIB) yang menjadi primadona hiburan tahunan JFF yang kembali dengan kemegahan parade mengelilingi Sentra Kelapa Gading yang melibatkan ratusan peserta, mobil hias, atraksi seni, pesta kostum, dan pertunjukan spektakuler kembang api.
 
 
Suasana antrian di Grand Ballroom Harris Hotel Convention Center Kelapa Gading
Saya berkesempatan mendapatkan undangan untuk menyaksikan perhelatan fesyen ini pada hari Minggu 18 Mei 2014 di Grand Ballroom Harris Hotel and Conventions Center Kelapa Gading Jakarta. Ada tiga sesi utama yang dimeriahkan oleh koleksi IKAT Indonesia “Garis-Garis Budaya Nusantara” by Didiet Maulana pada pukul 14.30 WIB, Sirena del Sur by Rafi Ridwan pada pukul 16.30 WIB, dan Kain Negeri 2014 by IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia/ Indonesian Fashion Designer Council) pada pukul 18.30

Undangan "Garis Garis Budaya Nusantara IKAT Indonesia by Didiet Maulana

Undangan Sirena del Sur by Rafi Ridwan

Undangan KAIN NEGERI by IPMI


Berbagai awak media turut meliput acara ini yang menunjukkan antusiasme bagi perkembangan fesyen anak negeri yang tak kalah dari luar negeri.

Suasana peliputan oleh awak media


Didiet Maulana dengan IKAT Indonesia “Garis-Garis Budaya Nusantara” menampilkan jenis kain lurik khas Klaten dan Yogyakarta dipadu dengan kombinasi kain Endek khas Denpasar, Bali. Desainer muda yang sekaligus pengusaha ini bermain dengan variasi warna yang menarik yaitu putih, hitam, dan merah. Tahun ini diberi tajuk olehnya “Garis-Garis Budaya Nusantara”. Ada pesan menarik yang ingin disampaikan oleh Didiet, begitu beliau akrab disapa, yakni mengenai penamaan brand IKAT Indonesia, beliau ingin agar koleksi kain bernuansa klasik dan modern yang ditampilkan menjadi pengikat rasa kebangsaan yang satu: Indonesia.

Didiet Maulana @ Press Conference JFFF2014


IKAT Indonesia by Didiet Maulana


Mike Lewis sebagai wajah baru yang terpilih sebagai inspirator busana maskulin dan Isabel Jahja yang mewakili sosok busana feminis didaulat menjadi model utama dari koleksi IKAT Indonesia by Didiet Maulana JFFF 2014 kali ini. Lebih dari 50 koleksi ditampilkan untuk busana pria dan wanita dengan permainan potongan cropped pada atasan, dan rompi untuk laki-laki. Adapun dengan gaya casual ditampilkan dengan desain sweater dan jaket. Beberapa sweater untuk laki-laki dan wanita bertuliskan IKAT di bagian dada yang menghiasi koleksi Mentari 2014. IKAT Indonesia berusaha menampilkan sebuah garis baru dalam peta busana nasional dengan mengangkat lurik sebagai tema utama yang dikemas dalam warna baru sehingga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk lebih mengenal kekayaan budaya bangsa lewat jalur tren busana.

IKAT Indonesia by Didiet Maulana
IKAT Indonesia by Didiet Maulana


Rafi Ridwan dengan Sirena del Sur (Puteri Duyung dari Selatan) mengusung 40 set busana wanita yang menggambarkan kesan effortless beauty, yakni kecantikan yang sederhana namun tetap mempesona tanpa penampilan berlebih. Ada kisah menarik di balik pemilihan tema tahun ini yakni mengapa Puteri Duyung dipilih oleh Rafi Ridwan, sang desainer muda ini pada usia 3 tahun sudah diajarkan kesopanan. Ketika itu dia melihat tokoh dalam dongeng Puteri Duyung  yaitu “Ariel” Little Mermaid yang tidak memakai busana, sontak saja dia bertanya kepada sang ibunda, Shinta Ayu Handayani mengapa si puteri duyung tak berbusana? Lantas ibunda Rafi menjawab dengan menyuruh Rafi kecil agar memberikan si puteri duyung pakaian. Nah, sejak saat itulah Rafi mulai senang dan sering menggambar puteri duyung dalam berbagai busana seperti gaun pesta, demikian tutur sang ibunda Rafi.
 
Rafi Ridwan dan Ibunda Shinta Ayu Handayani @ Press Conference JFFF2014


Rafi Ridwan memulai debut di dunia fesyen pada usia 9 tahun, termasuk kategori desainer muda di Indonesia bahkan dunia. Meskipun Rafi merupakan penyandang difabel tunarungu tidak menghalangi semangatnya dalam berkarya. Bahkan justru semakin memacu dirinya menghasilkan karya yang brilian. Tak lupa Rafi pun mengajak rekan-rekan sesamanya dalam proses produksi pada pergelaran JFFF 2014. Hal ini yang menjadi motivasi positif bagi siapa saja yang menikmati hasil karyanya, salah satunya yakni perancang mode dunia Tyra Banks. Melalui bantuannya, desain karya Rafi dikenakan oleh para kontestan America’s Next Top Models cycle 20 (Boys & Girls). Prestasi tingkat dunia lain yang pernah ditorehkan oleh Rafi yaitu berhasil memukau publik Australia pada Melbourne Festival Indonesia 2012. Bakat Rafi memang tampak sejak kecil, seperti dijelaskan oleh sang ibunda, Rafi kecil kerap bermimpi mengenai suara. Wajar saja karena keterbatasan yang dimilikinya, namun sang ibunda dengan sabar dan telaten menjelaskan bahwa suara itu sama indahnya seperti aneka warna. Sehingga pada tahun 2011 karyanya yang penuh imajinatif berhasil memikat desainer Barli Asmara untuk berkolaborasi. Bahkan di tahun berikutnya pada 2012, Rafi juga turut berkolaborasi dengan segenap desainer berkelas semacam Nonita Respati dari Purana Batik dan Ariani Pradjasaputra dari Label Aarti yang kemudian membentuk label PAR serta menampilkan koleksi busananya pada Jakarta Fashion Week 2012. 
Sirena del Sur by Rafi Ridwan


Sirena del Sur by Rafi Ridwan


IPMI (Ikatan Perancang Mode Indonesia/ Indonesian Fashion Designer Council) dengan “Kain Negeri 2014” mengangkat kain lokal sebagai kepedulian dan tanggungjawab anggotanya untuk menumbuhkembangkan kain Indonesia, memperkenalkannya serta sebagai sarana edukasi untuk menghargai suatu proses apresiasi seni, disamping ikut menyokong perekonomian usaha kecil menengah (UKM), juga dalam rangka peningkatan industri kreatif berbasis budaya. Kain Negeri menjadi ikon sebagai bentuk kebanggaan anak bangsa untuk mengusung rasa kecintaan terhadap tanah air. Pada tahun ini IPMI menghadirkan beberapa desainer terkemuka seperti:

IPMI: Press Conference @ JFFF2014


Carmanita, mengusung tema Tropique dengan motif batik yang dibuat sesuai dengan garis rancangan desainer.

Tropique by Carmanita

Yongki Budisutisna, mengusung tema Ressurection yang berarti kebangkitan. Motif batik tulis kawung dipadu dengan desain modern bagi kawula muda urban dominan dengan warna hitam, putih, dan abu-abu sebagai tren masa kini yang dinamis.

Ressurection by Yongki Budisutisna

Yogie Pratama, mengusung tema Ligne yang dalam bahasa Prancis bermakna garis, diilhami dari mode fesyen vintage ala tahun 1960 dipadu dengan motif kain tenun Jepara.

 
Ligne by Yogie Pratama

Mel Ahyar, dengan tema Muli Wawai yang berasal dari bahasa Lampung bermakna "Gadis Cantik", menggunakan teknik sulam khas Sumatera dengan desain lebih modern bermain dengan warna natural seperti nude, hitam dan off white.

 
Muli Wawai by Mel Ahyar

Barli Asmara, mengambil tema Culture Mix dengan menampilkan kain tenun khas Garut berpadu dengan variasi warna yang cerah dan lembut sehigga menampilkan kesan wanita masa kini yang ceria, feminin dan independen. Tampilan keseluruhan yang ingin disampaikan dalam tema kali ini yaitu kesan muda (youthful), canggih (sophisticated), dan dinamis (edgy).

 
Culture Mix by Barli Asmara

Era Soekamti, mengusung tema Asmaradhana yang merupakan falsafah Jawa bermakna wanita perkasa. Konsep kecantikan dan kekuatan (power and beauty) membaur dalam balutan modern yang coba ditampilkan tanpa mengurangi esensi utama dari Asmaradhana itu sendiri. Motif Sawunggaling dipilih untuk menerjemahkan kain Iwan Tirta Private Collection dalam bentuk yang lebih feminin, anggun, dan berwibawa. Bentuk drapery yang jadi ciri khasnya kali ini bercampur dengan coat bervolume serta teknik cutting seperti layang-layang dan cape sebagai alternatif dalam berkebaya.
 
Asmaradhana by Era Soekamti

Dengan ini saya menyatakan:

Tuesday, December 17, 2013

Dagelan Politik



Perang capres 2014 jadi jualan media televisi utama yg asyik masyuk. tokoh-tokoh lama bertarung dengan tokoh-tokoh baru, dagelan politik semakin seru. Negara ini sudah kehilangan hikmah tampaknya, pasal memilih orang nomer satu untuk memimpin navigasi kapal sudah carut marut tak ketulungan.  sebut saja nama-nama macam raja dangdut, si eyang anu, pengacara itu; layaknya panggung sebut sajalah “stand up comedy"  bertitel politik: Perang Capres 2014, artinya bahwa siapapun yang nantinya maju sebagai presiden harus memiliki kriteria utama: pandai mengocok perut rakyatnya biar lupa semua masalah.

Sejumlah tokoh yang tidak jelas asal-usul juntrungannya tampil bak jago yang siap bertarung. Mereka lupa akan diri mereka sendiri, seakan tidak ada orang yang lebih baik dari mereka. Ya hitung-hitung ngetop dan narsis lah, adapun urusan menang kalah itu belakangan. Hal yang terpenting itu maju sebagai komik, cuap-cuap, bisa bikin audiens tertawa terbahak-bahak bahkan sampai terkencing terberak di celana. Soal latarbelakang siapa mereka dan darimana, itu tidak penting lah, off the record saja. Syabas-lah.