Buat apa sih Mario Teguh?
Paling tidak begitulah pertanyaan yang timbul
dari orang-orang yang membenci atau setidaknya tidak suka kepada motivator
salam super tersebut. Saya bisa kok begini begitu, kata si anu. Ya setiap orang
bebas berpendapat asal disertai argumen.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana demikian.
Banyak kok orang yang bisa baca tulis yang mampu menulis abjad Latin dari a-z;
namun nyatanya menjadi penulis itu tidak mudah. Coba saja buktikan sendiri. Bagaimana
merangkai kata yang indah dan tepat sehingga enak dibaca dan dipahami maknanya
sehingga pesan mudah diterima. Begitu halnya banyak orang beragama, lantas
mengapa masih ada ustad, pendeta, pastor, biksu, dan sebagainya? Seandainya
sesuatu dapat dipahami secara otodidak secara mutlak pastilah manusia banyak
yang keliru.
Begitulah manusia. Makhluk yang doyan hal yang
serba instan; tanpa proses panjang dan lama. Tak heran banyak produk kekinian
yang didasari oleh satu kata: instan. Perhatikan saja dari makanan, minuman,
teknologi, dan sebagainya. Untung saja rumah dan istri tidak instan; jika ya
maka celakalah. Sepertinya itulah ciri-ciri manusia modern. Kalau ada facebook buat apa baca buku eh maksudnya album foto? Kalau ada twitter buat apa lagi iklan baris? Kalau ada sms dan email buat apa lagi surat menyurat?
Banyak orang mampu berbicara. Bahkan yang mirip burung beo sekalipun ada, spesies manusia yang mampu berkicau sampai mulut berbusa. Namun kenyataannya tidak banyak manusia yang mampu berbicara dengan komunikatif serta interaktif. Tengoklah para komika yang beraksi di panggung stand up comedy misalnya; ternyata mereka tidak hanya sebatas cuap-cuap tak jelas belaka. Para komika membuat materi terlebih dahulu sebelum mereka naik panggung. Artinya mereka tidak semerta-merta tampil tanpa adanya persiapan matang.
Pun begitu dengan Mario Teguh.
Apa orang seperti dia tidak sekolah sebelumnya? Tanpa pengetahuan apa-apa langsung bisa berceloteh macam burung kakatua. Mustahil.
No comments:
Post a Comment