Friday, October 30, 2026

Dosenku yang Profesor itu adalah Seorang DJ: Sebuah Catatan Memoar Penghancur Ego Masa Muda

oleh RM Kencrot

Pagi itu kampus Bulaksumur Ngayogyakarta Hadiningrat sungguh cerah secerah hati saya yang sumringah entah kenapa. Mata kuliah yang kurang saya suka bernama Metode Penelitian Kualitatif karena terlalu teoretis. Namun agaknya hari ini sungguh berbeda, nanti Anda akan tahu bagaimana kenapa  

Adalah seorang laki paruh baya mengenakan kaus putih oblong polos, jeans biru langit, sekotak rokok Marlboro merah, dan ponsel Blackberry Gemini, lengkap membawa map berisi dafta kehadiran mahasiswa. Namun ada satu hal nyentrik yang ketika itu mengganggu mata saya, yatu dua anting perak bertengger kokoh di daun telinga beliau. Lalu dengan unggah ungguh sopan santun ala Jawa beliau masuk kelas seraya bertanya. Permisi, ini kelas siapa ya?

Teman saya jawab, anu mas kelas Prof Nunung, metode kuali.

Maklum, bagi Anda yang pernah sowan ke kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, pastilah paham kalau di sana tidak ada panggilan semacam Bapak Ibu sejenisnya, melainkan Mas Mbak Cak Bang dan semisalnya.

Kemudian beliau menyahut, oh iya itu saya, katanya lirih.

Jrengggg.

Saya langsung terperangah.

 

Sontak seisi kelas hening. Ruangan ber-AC yang tadinya riuh berubah kaku, menyisakan suara mesin kipas pendingin yang mendengung pelan. Ego saya yang tadi pagi sempat melambung tinggi karena merasa paling paham gaya khas anak muda—beranting, kasual, dan terkesan pembangkang—langsung rubuh tak berbekas. Sosok di depan kelas ini bukan sekadar dosen senior biasa, melainkan satu-satunya Guru Besar di Program Studi Ilmu Komunikasi UGM saat itu.

 

Namun kejutan sebenarnya baru saja dimulai ketika beliau meletakkan map kehadiran di atas meja dosen.

 

"Kalau butuh bimbingan atau mau diskusi santai di luar jam kuliah, cari saya gampang kok," ujar beliau santai sambil tersenyum tipis. "Malam Sabtu atau malam Minggu atau malam lainnya, samperin saja saya di Liquid Jogja. Saya ada di sana."

 

Perkataan itu meluncur begitu saja tanpa beban, membuat rahang saya kian membatu. Liquid—klub malam papan atas di Jogja yang identik dengan dentuman musik elektronik, lampu sorot warna-warni, dan gemerlap kehidupan malam—adalah "ruang kerja" kedua bagi seorang Profesor Doktor Ilmu Komunikasi. Konsep idealis saya tentang sosok akademisi berwibawa yang mengurung diri di antara tumpukan buku tebal seketika luluh pasak.

 

Siang itu, di bawah naungan pohon-pohon rindang Bulaksumur, saya tidak hanya belajar dasar-dasar etnografi atau fenomenologi kualitatif. Saya belajar pelajaran hidup yang jauh lebih berharga: tentang kerendahan hati, tentang meruntuhkan tembok prasangka, dan bagaimana sebuah ilmu pengetahuan yang adiluhung bisa berpijak sangat wajar di atas lantai dansa. Kalimat sederhana itu membentur kepala saya begitu keras. Selama ini saya bangga dengan atribut "anak muda rebel", merasa paling paham subkultur dan paling gaya hanya karena gaya berpakaian atau tempat nongkrong. Tapi di hadapan Prof Nunung, semua superioritas palsu itu menguap begitu saja.

 

Bagaimana tidak? Seseorang yang memegang jabatan akademik tertinggi, dengan kualifikasi intelektual yang tak tertandingi di ruang perkuliahan, ternyata adalah sosok yang sama yang memutar piringan hitam dan meramu ritme musik di riuhnya lantai dansa. Beliau membuktikan bahwa kedalaman berpikir dan martabat ilmu tidak ditentukan oleh jubah toga yang kaku, pakaian formal, atau tampang yang berpura-pura serius.

*Never judge a book by its cover.* Pesan itu bukan lagi sekadar kiasan klise dari buku teks, melainkan tampar renyah yang mendidik. Kita terlalu sering terjebak menilai kapasitas seseorang dari bungkus luarnya—dari cara berpakaian, anting yang menempel di telinga, hingga tempat seseorang menghabiskan malamnya. Padahal, isi kepala dan kearifan sikap tidak pernah bisa diukur dari presisi lipatan kemeja. Hari itu, di Bulaksumur, saya tidak hanya membedah metodologi penelitian kualitatif, tetapi juga belajar membedah prasangka saya sendiri.

Ada satu momen di perkuliahan berikutnya yang masih saya ingat ketika rekan saya dari Pekanbaru bertanya kepada beliau mengapa beliau tidak pernah pakai kemeja ketika mengajar di kelas, dan jawabannya di luar nalar. Beliau jawab dengan sangat rendah hati kalau beliau memang tidak punya kemeja, bahkan kalau pun ada yang mau kasih maka beliau akan terima dengan senang hati. Yassalam.

 

Apalagi waktu itu, saya datang ke Jogja dengan ego yang melambung tinggi, membawa beban tak kasatmata namun sangat terasa: bayang-bayang logo Makara UI di pundak. Sebagai lulusan kampus ternama di Depok dengan kultur Jakarta yang serba cepat, kompetitif, dan cenderung judgmental, saya terbiasa menakar nilai seseorang dari bungkus luarnya. Di ibukota, visual adalah segalanya—pakaian formal menentukan kelas, gengsi sosial diukur dari tempat nongkrong, dan status akademis kerap dipamerkan lewat gestur kaku serta bahasa yang digenit-genitkan.

 

Dengan tolok ukur ala Jakarta yang dangkal itu, saya sempat merasa superior. Saya mengira pemikiran saya paling modern dan paling paham riak zaman. Namun, dalam hitungan menit di ruang kelas Bulaksumur itu, kultur ibukota yang melingkupi kepala saya rontok tak tersisa. Prof Nunung menampar ego "anak Jakarta" saya tanpa bersuara keras.

 

Beliau menunjukkan bahwa keagungan intelektual di tanah Jawa ini tidak butuh validasi dari jubah formalitas atau kesombongan almamater. Kemewahan ilmu justru hadir dalam balutan kaus oblong polos, kesederhanaan unggah-ungguh, dan keberanian untuk jujur menjadi diri sendiri—bahkan jika itu berarti menjadi seorang DJ di klub malam. Di situ saya sadar, logo Makara di pundak saya tidak ada artinya jika kepala saya masih tertutup oleh kabut prasangka.

 

Sesampainya di indekos, rasa penasaran yang membuncah membuat saya tak sempat sekadar melepas sepatu. Saya bergegas membuka laptop, menyambungkannya ke jaringan internet, lalu mengetikkan nama beliau di kolom pencarian Google. Saya pikir, informasi yang saya temukan nanti mungkin bisa sedikit menurunkan kadar "kejutan" tadi pagi.

 

Namun, hasil pencarian di layar monitor justru menghantam ego saya sampai luluh lantak tanpa sisa. Layar laptop memamerkan deretan rekam jejak akademik beliau yang teramat fantastis. Beliau adalah jebolan salah satu universitas tersohor di New Zealand, menempuh jenjang magister hingga doktoral di sana, dan menyelesaikannya dengan predikat summa cumlaude. Tidak berhenti di situ, deretan publikasi ilmiah beliau di Google Scholar dan Scopus membuat mata saya membelalak. Rekor jurnal internasionalnya sungguh "gendeng bin edan"—semuanya ditulis dalam bahasa Inggris yang bernas, terbit di jurnal-jurnal bereputasi tinggi dengan skala sitasi yang luar biasa.

 

Melihat jejak digital itu, ego saya yang tadinya sembrono menilai beliau hanya dari kaus oblong, dua anting perak, dan tempat nongkrong malam hari, benar-benar hancur berkeping-keping. Sosok yang tadi pagi bertanya dengan sangat santun dan nrimo ala orang Jawa, ternyata adalah raksasa intelektual kelas dunia. Pundak saya yang tadi pagi masih terasa berat oleh beban gengsi ala ibukota, seketika membongkok hormat. Hari itu saya benar-benar paham arti dari peribahasa tua: makin berisi, makin merunduk. Tak sampai di situ, jemari saya yang masih bergetar terus mengulik halaman demi halaman hasil pencarian, hingga menemukan sebuah berkas PDF arsip naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar atas nama Prof. Yuventius August Nunung Prajarto.

 

Pidato pengukuhan guru besar Prof. Nunung Prajarto, M.A., Ph.D. bertajuk “New Media, HAM, dan Ilmu Komunikasi: Aras dan Arus Perhatian”. disampaikan saat ipengukuhan  Guru Besar bidang Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) Selasa, 2 November 2010 di Balai Senat UGM, Yogyakarta

 

Begitu berkas itu terunduh dan saya buka, runtuh sudah sisa-sisa kesombongan yang tersisa dalam dada. Habis. Tamat.

 

Naskah pidato pengukuhan itu disusun dengan struktur berpikir yang teramat jernih, tajam, dan visioner. Beliau membedah fenomena komunikasi dengan pisau analisis yang begitu tajam, memadukan teori-teori kualitatif tingkat tinggi dengan realitas sosial secara sangat elegan. Bahasa yang digunakan begitu bernas—sebuah karya pemikiran kelas wahid dari seorang akademisi puncak yang telah mencapai maqam tertinggi di dunia pendidikan tinggi.

 

Membaca lembar demi lembar pidato resmi tersebut sambil membayangkan sosok yang menyampaikannya—pria paruh baya berkaus oblong polos, beranting dua, pemegang BlackBerry Gemini, serta seorang DJ di Liquid Jogja—membuat saya merinding. Di titik itulah memoar penghancur ego masa muda saya lengkap sudah. Kampus Bulaksumur melalui sosok Prof. Nunung telah memberi saya kuliah paling berharga: bahwa kehebatan yang sesungguhnya tidak pernah berisik menuntut pengakuan, dan keagungan ilmu justru bersemayam dalam kebersahajaan yang paling tulus.

 

 

 

No comments:

Post a Comment