oleh RM Kencrot
Pagi itu kampus Bulaksumur Ngayogyakarta Hadiningrat sungguh
cerah secerah hati saya yang sumringah entah kenapa. Mata kuliah yang kurang
saya suka bernama Metode Penelitian Kualitatif karena terlalu teoretis. Namun
agaknya hari ini sungguh berbeda, nanti Anda akan tahu bagaimana kenapa
Adalah seorang laki paruh baya mengenakan kaus putih oblong
polos, jeans biru langit, sekotak rokok Marlboro merah, dan ponsel Blackberry
Gemini, lengkap membawa map berisi dafta kehadiran mahasiswa. Namun ada satu
hal nyentrik yang ketika itu mengganggu mata saya, yatu dua anting perak
bertengger kokoh di daun telinga beliau. Lalu dengan unggah ungguh sopan santun
ala Jawa beliau masuk kelas seraya bertanya. Permisi, ini kelas siapa ya?
Teman saya jawab, anu mas kelas Prof Nunung, metode kuali.
Maklum, bagi Anda yang pernah sowan ke kampus Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, pastilah paham kalau di sana
tidak ada panggilan semacam Bapak Ibu sejenisnya, melainkan Mas Mbak Cak Bang
dan semisalnya.
Kemudian beliau menyahut, oh iya itu saya, katanya lirih.
Jrengggg.
Saya langsung terperangah.
Sontak seisi kelas
hening. Ruangan ber-AC yang tadinya riuh berubah kaku, menyisakan suara mesin
kipas pendingin yang mendengung pelan. Ego saya yang tadi pagi sempat melambung
tinggi karena merasa paling paham gaya khas anak muda—beranting, kasual, dan terkesan
pembangkang—langsung rubuh tak berbekas. Sosok di depan kelas ini bukan sekadar
dosen senior biasa, melainkan satu-satunya Guru Besar di Program Studi Ilmu
Komunikasi UGM saat itu.
Namun kejutan
sebenarnya baru saja dimulai ketika beliau meletakkan map kehadiran di atas
meja dosen.
"Kalau butuh
bimbingan atau mau diskusi santai di luar jam kuliah, cari saya gampang
kok," ujar beliau santai sambil tersenyum tipis. "Malam Sabtu atau malam
Minggu atau malam lainnya, samperin saja saya di Liquid Jogja. Saya ada di sana."
Perkataan itu meluncur
begitu saja tanpa beban, membuat rahang saya kian membatu. Liquid—klub malam
papan atas di Jogja yang identik dengan dentuman musik elektronik, lampu sorot
warna-warni, dan gemerlap kehidupan malam—adalah "ruang kerja" kedua
bagi seorang Profesor Doktor Ilmu Komunikasi. Konsep idealis saya tentang sosok
akademisi berwibawa yang mengurung diri di antara tumpukan buku tebal seketika
luluh pasak.
Siang itu, di bawah
naungan pohon-pohon rindang Bulaksumur, saya tidak hanya belajar dasar-dasar
etnografi atau fenomenologi kualitatif. Saya belajar pelajaran hidup yang jauh
lebih berharga: tentang kerendahan hati, tentang meruntuhkan tembok prasangka,
dan bagaimana sebuah ilmu pengetahuan yang adiluhung bisa berpijak sangat wajar
di atas lantai dansa. Kalimat sederhana itu membentur kepala saya begitu keras.
Selama ini saya bangga dengan atribut "anak muda rebel", merasa
paling paham subkultur dan paling gaya hanya karena gaya berpakaian atau tempat
nongkrong. Tapi di hadapan Prof Nunung, semua superioritas palsu itu menguap
begitu saja.
Bagaimana tidak? Seseorang yang memegang jabatan akademik
tertinggi, dengan kualifikasi intelektual yang tak tertandingi di ruang perkuliahan,
ternyata adalah sosok yang sama yang memutar piringan hitam dan meramu ritme
musik di riuhnya lantai dansa. Beliau membuktikan bahwa kedalaman berpikir dan
martabat ilmu tidak ditentukan oleh jubah toga yang kaku, pakaian formal, atau
tampang yang berpura-pura serius.
*Never judge a book by its cover.* Pesan itu bukan lagi sekadar
kiasan klise dari buku teks, melainkan tampar renyah yang mendidik. Kita
terlalu sering terjebak menilai kapasitas seseorang dari bungkus luarnya—dari
cara berpakaian, anting yang menempel di telinga, hingga tempat seseorang
menghabiskan malamnya. Padahal, isi kepala dan kearifan sikap tidak pernah bisa
diukur dari presisi lipatan kemeja. Hari itu, di Bulaksumur, saya tidak hanya
membedah metodologi penelitian kualitatif, tetapi juga belajar membedah
prasangka saya sendiri.
Ada satu momen di perkuliahan berikutnya yang masih saya ingat
ketika rekan saya dari Pekanbaru bertanya kepada beliau mengapa beliau tidak
pernah pakai kemeja ketika mengajar di kelas, dan jawabannya di luar nalar.
Beliau jawab dengan sangat rendah hati kalau beliau memang tidak punya kemeja,
bahkan kalau pun ada yang mau kasih maka beliau akan terima dengan senang hati.
Yassalam.
Apalagi waktu itu,
saya datang ke Jogja dengan ego yang melambung tinggi, membawa beban tak
kasatmata namun sangat terasa: bayang-bayang logo Makara UI di pundak. Sebagai
lulusan kampus ternama di Depok dengan kultur Jakarta yang serba cepat,
kompetitif, dan cenderung judgmental, saya
terbiasa menakar nilai seseorang dari bungkus luarnya. Di ibukota, visual
adalah segalanya—pakaian formal menentukan kelas, gengsi sosial diukur dari
tempat nongkrong, dan status akademis kerap dipamerkan lewat gestur kaku serta
bahasa yang digenit-genitkan.
Dengan tolok ukur ala
Jakarta yang dangkal itu, saya sempat merasa superior. Saya mengira pemikiran
saya paling modern dan paling paham riak zaman. Namun, dalam hitungan menit di
ruang kelas Bulaksumur itu, kultur ibukota yang melingkupi kepala saya rontok
tak tersisa. Prof Nunung menampar ego "anak Jakarta" saya tanpa
bersuara keras.
Beliau menunjukkan
bahwa keagungan intelektual di tanah Jawa ini tidak butuh validasi dari jubah
formalitas atau kesombongan almamater. Kemewahan ilmu justru hadir dalam
balutan kaus oblong polos, kesederhanaan unggah-ungguh, dan
keberanian untuk jujur menjadi diri sendiri—bahkan jika itu berarti menjadi
seorang DJ di klub malam. Di situ saya sadar, logo Makara di pundak saya tidak
ada artinya jika kepala saya masih tertutup oleh kabut prasangka.
Sesampainya di
indekos, rasa penasaran yang membuncah membuat saya tak sempat sekadar melepas
sepatu. Saya bergegas membuka laptop, menyambungkannya ke jaringan internet,
lalu mengetikkan nama beliau di kolom pencarian Google. Saya pikir, informasi
yang saya temukan nanti mungkin bisa sedikit menurunkan kadar
"kejutan" tadi pagi.
Namun, hasil pencarian
di layar monitor justru menghantam ego saya sampai luluh lantak tanpa sisa.
Layar laptop memamerkan deretan rekam jejak akademik beliau yang teramat
fantastis. Beliau adalah jebolan salah satu universitas tersohor di New
Zealand, menempuh jenjang magister hingga doktoral di sana, dan
menyelesaikannya dengan predikat summa cumlaude.
Tidak berhenti di situ, deretan publikasi ilmiah beliau di Google Scholar dan
Scopus membuat mata saya membelalak. Rekor jurnal internasionalnya sungguh
"gendeng bin edan"—semuanya ditulis dalam bahasa Inggris yang bernas,
terbit di jurnal-jurnal bereputasi tinggi dengan skala sitasi yang luar biasa.
Melihat jejak digital
itu, ego saya yang tadinya sembrono menilai beliau hanya dari kaus oblong, dua
anting perak, dan tempat nongkrong malam hari, benar-benar hancur berkeping-keping.
Sosok yang tadi pagi bertanya dengan sangat santun dan nrimo ala orang Jawa, ternyata adalah raksasa
intelektual kelas dunia. Pundak saya yang tadi pagi masih terasa berat oleh
beban gengsi ala ibukota, seketika membongkok hormat. Hari itu saya benar-benar
paham arti dari peribahasa tua: makin berisi, makin merunduk. Tak sampai di
situ, jemari saya yang masih bergetar terus mengulik halaman demi halaman hasil
pencarian, hingga menemukan sebuah berkas PDF arsip naskah Pidato Pengukuhan
Guru Besar atas nama Prof. Yuventius August Nunung Prajarto.
Pidato
pengukuhan guru besar Prof. Nunung Prajarto, M.A., Ph.D.
bertajuk
“New Media, HAM, dan
Ilmu Komunikasi: Aras dan Arus Perhatian”. disampaikan saat
ipengukuhan Guru Besar bidang Ilmu
Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas
Gadjah Mada (UGM) Selasa, 2 November 2010 di Balai Senat UGM, Yogyakarta
Begitu berkas itu
terunduh dan saya buka, runtuh sudah sisa-sisa kesombongan yang tersisa dalam
dada. Habis. Tamat.
Naskah pidato
pengukuhan itu disusun dengan struktur berpikir yang teramat jernih, tajam, dan
visioner. Beliau membedah fenomena komunikasi dengan pisau analisis yang begitu
tajam, memadukan teori-teori kualitatif tingkat tinggi dengan realitas sosial
secara sangat elegan. Bahasa yang digunakan begitu bernas—sebuah karya
pemikiran kelas wahid dari seorang akademisi puncak yang telah mencapai maqam
tertinggi di dunia pendidikan tinggi.
Membaca lembar demi
lembar pidato resmi tersebut sambil membayangkan sosok yang
menyampaikannya—pria paruh baya berkaus oblong polos, beranting dua, pemegang
BlackBerry Gemini, serta seorang DJ di Liquid Jogja—membuat saya merinding. Di
titik itulah memoar penghancur ego masa muda saya lengkap sudah. Kampus
Bulaksumur melalui sosok Prof. Nunung telah memberi saya kuliah paling
berharga: bahwa kehebatan yang sesungguhnya tidak pernah berisik menuntut
pengakuan, dan keagungan ilmu justru bersemayam dalam kebersahajaan yang paling
tulus.
No comments:
Post a Comment