“To me – absurdity is the only reality” ~ Frank Zappa
[1940-1993]
![]() |
Frank Zappa portrait, courtesy of https://www.allaboutjazz.com |
Membaca Frank Zappa memang menarik.
Dia adalah sosok seniman nyentrik dengan segudang bakat dan talenta yang
diberikan dan mampu mengejawantahkannya menjadi sesuatu yang epik, flamboyan,
dan elegan. Terlahir dengan nama Frank Vincent Zappa, sosok yang satu ini
menggugah nalar sehat dan pikiran saya dalam peta pemikiran dunia. Adalah sosok
Steve Vai, sang gitaris legenda yang sekaligus murid Frank Zappa yang
mengenalkan saya pada sosok ayah dari Dweezil, Ahmet, Moon Unit, dan Diva yang
semuanya menggunakan Zappa di ujung namanya. Frank Zappa adalah sebutan untuk
seniman, musikus, pencipta lagu, pembuat film, produser rekaman, aktor,
politikus, dan sejumlah sebutan orang kepada sosok ikon kumis untuk lelaki yang
satu ini.
Ada satu hal menarik ketika Frank
Zappa mengajari Steve Vai bagaimana membuat komposisi musik. Ketika itu Frank
Zappa menyuruh Steve Vai menghapal satu bait instrumental gitar, dan Steve Vai
berhasil menghapalnya karena baginya itu adalah sebuah harta karun yang tak
ternilai harganya. Uniknya ketika selang beberapa bulan kemudian Steve Vai
menanyakan soal komposisi itu kembali, Frank Zappa bilang lupa. Namun lebih
uniknya dia punya lanjutan komposisi itu. Begitu seterusnya hingga selang
beberapa bulan kemudian, satu per satu bagian komposisi Frank Zappa diwariskan
ke Steve Vai yang kelak menjadi nomor legendaris khas ala Frank Zappa bertajuk “What’s
New in Baltimore”. Hal yang jadi
perhatian saya adalah judul komposisi itu menggunakan kata Baltimore, nama kota
di Amerika Serikat, merujuk pada tempat kelahiran Frank Zappa sendiri.
Saya membayangkan jika diri saya
menjadi Steve Vai. Betapa kagumnya akan sosok maestro yang mampu mengajarkan
bagaimana membuat komposisi dahsyat dengan cara seperti main-main saja. Ya,
Frank Zappa memang luarbiasa. Tak ayal salah satu kutipan darinya “to me,
absurdity is only reality” itu seolah menjadi label yang mencirikan
karakternya. Baginya sebuah absurditas itu sejatinya merupakan sebuah realitas
nyata yang dipersepsikan orang bermacam-macam. Dan bagi saya pribadi, Frank
Zappa telah berpikir keluar jalur mainstrim, bahkan boleh dikatakan “without
the box” dalam pemikiran.
Frank Zappa juga pernah berujar soal
pemikiran, “a mind is like a parachute, it doesn’t work if it is not open”,
pemikiran itu seperti halnya parasut, dia tidak akan bekerja jika tidak dibuka.
Artinya manusia diberi akal pikiran yang harus dimaksimalkan hingga titik
kulminasi akhir. Dan pikiran yang kaku, tertutup, kolot, yang jadi sebab muasal
kegamangan berpikir sehingga tujuan kita tidak tercapai dengan mulus. Frank
Zappa mengisyaratkan analogi pikiran itu layaknya parasut yang bisa dibuka dan
ditutup, menunjukkan bahwa pemikiran manusia ada pada 2 oposisi biner.
Saya juga ingat video Frank Zappa
pertama kali muncul di acara The Steve Allen Show yang dirilis televisi ABC
pada tahun 1963, dimana dia mendemonstrasikan musik menurut persepsinya
sendiri. Ketika itu Zappa muda berusia 22 tahun. Dia menggunakan satu buah sepeda
utuh yang mengeluarkan bunyi-bunyi yang kala itu tidak lazim didengar, kemudian
dilanjutkan dengan tambahan satu buah sepeda, hingga total dua buah sepeda yang
menjadi sumber bunyi. Entah genre musik macam apa yang dicetuskan Frank Zappa
ketika itu, mungkin bisa dikatakan eksperimental. Uniknya audiens terhibur oleh
tingkah Frank Zappa yang pada waktu itu memang jarang ada orang sepertinya.
Bagi Frank Zappa dia dicap oleh
sebagian orang sebagai sosok absurd. Sebagaimana kutipannya yang terkenal “I never set out to be weird. It was
always other people who called me weird.” Aku tidak pernah mengklaim
diri sendiri sebagai seorang yang aneh melainkan orang lain yang memanggilku
dengan sebutan itu. Mungkin itu adalah jawaban dari orang yang menganggap bahwa
absurditas itu adalah sebuah mitos, sehingga tidak layak untuk tampil di
hadapan khalayak sebagai sebuah realitas utuh berdiri sendiri tanpa dipengaruhi
variabel apapun. Sebagaimana diketahui dalam teori konsep diri (Rogers: 1959)
bahwa apa yang kita lihat maka itulah yang kita percaya sebagai suatu realitas
yang telah menjadi persepsi kognisi alam sadar kita. Konsep diri yang
ditawarkan Frank Zappa memang unik dan terkesan nyeleneh. Dia bisa bebas bicara
apapun perihal hal yang dia sukai namun dengan caranya sendiri yang terkadang
orang tidak mampu dengan mudah untuk menemukan pesan di dalamnya. Membaca Frank
Zappa memang rumit, jelimet.
“lf
you’re going to deal with reality, you’re going to have to make one big
discovery: Reality is something that belongs to you as an individual. If you
wanna grow up, which most people don’t, the thing to do is take responsibility
for your own reality and deal with it on your own terms. Don’t expect that
because you pay some money to somebody else or take a pledge or join a club or
run down the street or wear a special bunch of clothes or play a certain sport
or even drink Perrier water, it’s going to take care of everything for you.” ~ Frank Zappa
Tapi
entah mengapa bagi saya, sosok Frank Zappa telah menjelma jadi pionir dalam
bidang pemikiran khususnya akademis. Sebagaimana kutipannya pula, “If you want
to get laid, go to college. If you want an education, go to the library.” Kalau
kamu ingin bercinta, pergilah ke kampus. Tapi kalau kamu ingin edukasi,
pergilah ke perpustakaan. Frank Zappa paham bahwa perpustakaan merupakan sarang
ilmu, bukan sebaliknya sebagai sarang bercinta lawan jenis. Perpustakaan adalah
tempat manusia bercinta dalam ranah intelektual sehingga di situ muncul argumen
dan perdebatan layaknya orang sepasang kekasih yang berujung pada satu tujuan
akhir yakni kematangan intelektual, bukan sebaliknya sebagai ajang ngotot pada
sebuah kebenaran yang dimaknai tunggal tanpa ada pembanding yang sepadan.
Hingga pada akhirnya manusia mencapai apa yang disebut dengan orgasme
intelektual. Menyerah pada satu kesimpulan berharga bahwa ilmu pengetahuan
adalah sesuatu yang sakral yang tidak layak untuk dikotori oleh tangan-tangan
jahil.
Sudah selayaknya
pula pendidikan mendapat tempat dan apresiasi setinggi-tingginya, yang pada
kenyataannya di negara ini hanya sekedar dongeng belaka. Nasib guru Umar Bakrie
dari tahun ke tahun cuma berkutat pada mengurusi dirinya sendiri yang sulit
diurus. Logikanya sederhana, kalau memang dosen atau guru mampu mencetak
mahasiswa berkualitas yang pernah menyandang gelar maha sebagai sebuah status
akademis dan sebagai tanggungjawab sosial, sudah semestinya orang yang
melahirkan generasi ‘maha’ itu diberikan balasan yang setimpal, balasan yang
maha akibat perjuangan dan pengorbanan yang juga maha. Sehingga dosen bukan
hanya sebagai status sosial yang dinobatkan oleh masyarakat akibat sebuah
status akademis sebagai pengajar mahasiswa yang konon katanya menjadi agen
perubahan suatu bangsa.
No comments:
Post a Comment