Thursday, June 30, 2016

Membaca Frank Zappa: Persepsi vs Realitas

“To me – absurdity is the only reality” ~ Frank Zappa [1940-1993]


Frank Zappa portrait, courtesy of https://www.allaboutjazz.com


Membaca Frank Zappa memang menarik. Dia adalah sosok seniman nyentrik dengan segudang bakat dan talenta yang diberikan dan mampu mengejawantahkannya menjadi sesuatu yang epik, flamboyan, dan elegan. Terlahir dengan nama Frank Vincent Zappa, sosok yang satu ini menggugah nalar sehat dan pikiran saya dalam peta pemikiran dunia. Adalah sosok Steve Vai, sang gitaris legenda yang sekaligus murid Frank Zappa yang mengenalkan saya pada sosok ayah dari Dweezil, Ahmet, Moon Unit, dan Diva yang semuanya menggunakan Zappa di ujung namanya. Frank Zappa adalah sebutan untuk seniman, musikus, pencipta lagu, pembuat film, produser rekaman, aktor, politikus, dan sejumlah sebutan orang kepada sosok ikon kumis untuk lelaki yang satu ini.
Ada satu hal menarik ketika Frank Zappa mengajari Steve Vai bagaimana membuat komposisi musik. Ketika itu Frank Zappa menyuruh Steve Vai menghapal satu bait instrumental gitar, dan Steve Vai berhasil menghapalnya karena baginya itu adalah sebuah harta karun yang tak ternilai harganya. Uniknya ketika selang beberapa bulan kemudian Steve Vai menanyakan soal komposisi itu kembali, Frank Zappa bilang lupa. Namun lebih uniknya dia punya lanjutan komposisi itu. Begitu seterusnya hingga selang beberapa bulan kemudian, satu per satu bagian komposisi Frank Zappa diwariskan ke Steve Vai yang kelak menjadi nomor legendaris khas ala Frank Zappa bertajuk “What’s New in Baltimore”.  Hal yang jadi perhatian saya adalah judul komposisi itu menggunakan kata Baltimore, nama kota di Amerika Serikat, merujuk pada tempat kelahiran Frank Zappa sendiri.
Saya membayangkan jika diri saya menjadi Steve Vai. Betapa kagumnya akan sosok maestro yang mampu mengajarkan bagaimana membuat komposisi dahsyat dengan cara seperti main-main saja. Ya, Frank Zappa memang luarbiasa. Tak ayal salah satu kutipan darinya “to me, absurdity is only reality” itu seolah menjadi label yang mencirikan karakternya. Baginya sebuah absurditas itu sejatinya merupakan sebuah realitas nyata yang dipersepsikan orang bermacam-macam. Dan bagi saya pribadi, Frank Zappa telah berpikir keluar jalur mainstrim, bahkan boleh dikatakan “without the box” dalam pemikiran.
Frank Zappa juga pernah berujar soal pemikiran, “a mind is like a parachute, it doesn’t work if it is not open”, pemikiran itu seperti halnya parasut, dia tidak akan bekerja jika tidak dibuka. Artinya manusia diberi akal pikiran yang harus dimaksimalkan hingga titik kulminasi akhir. Dan pikiran yang kaku, tertutup, kolot, yang jadi sebab muasal kegamangan berpikir sehingga tujuan kita tidak tercapai dengan mulus. Frank Zappa mengisyaratkan analogi pikiran itu layaknya parasut yang bisa dibuka dan ditutup, menunjukkan bahwa pemikiran manusia ada pada 2 oposisi biner.
Saya juga ingat video Frank Zappa pertama kali muncul di acara The Steve Allen Show yang dirilis televisi ABC pada tahun 1963, dimana dia mendemonstrasikan musik menurut persepsinya sendiri. Ketika itu Zappa muda berusia 22 tahun. Dia menggunakan satu buah sepeda utuh yang mengeluarkan bunyi-bunyi yang kala itu tidak lazim didengar, kemudian dilanjutkan dengan tambahan satu buah sepeda, hingga total dua buah sepeda yang menjadi sumber bunyi. Entah genre musik macam apa yang dicetuskan Frank Zappa ketika itu, mungkin bisa dikatakan eksperimental. Uniknya audiens terhibur oleh tingkah Frank Zappa yang pada waktu itu memang jarang ada orang sepertinya.  
Bagi Frank Zappa dia dicap oleh sebagian orang sebagai sosok absurd. Sebagaimana kutipannya yang terkenal “I never set out to be weird. It was always other people who called me weird.” Aku tidak pernah mengklaim diri sendiri sebagai seorang yang aneh melainkan orang lain yang memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin itu adalah jawaban dari orang yang menganggap bahwa absurditas itu adalah sebuah mitos, sehingga tidak layak untuk tampil di hadapan khalayak sebagai sebuah realitas utuh berdiri sendiri tanpa dipengaruhi variabel apapun. Sebagaimana diketahui dalam teori konsep diri (Rogers: 1959) bahwa apa yang kita lihat maka itulah yang kita percaya sebagai suatu realitas yang telah menjadi persepsi kognisi alam sadar kita. Konsep diri yang ditawarkan Frank Zappa memang unik dan terkesan nyeleneh. Dia bisa bebas bicara apapun perihal hal yang dia sukai namun dengan caranya sendiri yang terkadang orang tidak mampu dengan mudah untuk menemukan pesan di dalamnya. Membaca Frank Zappa memang rumit, jelimet.


“lf you’re going to deal with reality, you’re going to have to make one big discovery: Reality is something that belongs to you as an individual. If you wanna grow up, which most people don’t, the thing to do is take responsibility for your own reality and deal with it on your own terms. Don’t expect that because you pay some money to somebody else or take a pledge or join a club or run down the street or wear a special bunch of clothes or play a certain sport or even drink Perrier water, it’s going to take care of everything for you.” ~ Frank Zappa

Tapi entah mengapa bagi saya, sosok Frank Zappa telah menjelma jadi pionir dalam bidang pemikiran khususnya akademis. Sebagaimana kutipannya pula, “If you want to get laid, go to college. If you want an education, go to the library.” Kalau kamu ingin bercinta, pergilah ke kampus. Tapi kalau kamu ingin edukasi, pergilah ke perpustakaan. Frank Zappa paham bahwa perpustakaan merupakan sarang ilmu, bukan sebaliknya sebagai sarang bercinta lawan jenis. Perpustakaan adalah tempat manusia bercinta dalam ranah intelektual sehingga di situ muncul argumen dan perdebatan layaknya orang sepasang kekasih yang berujung pada satu tujuan akhir yakni kematangan intelektual, bukan sebaliknya sebagai ajang ngotot pada sebuah kebenaran yang dimaknai tunggal tanpa ada pembanding yang sepadan. Hingga pada akhirnya manusia mencapai apa yang disebut dengan orgasme intelektual. Menyerah pada satu kesimpulan berharga bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sakral yang tidak layak untuk dikotori oleh tangan-tangan jahil. 

Sudah selayaknya pula pendidikan mendapat tempat dan apresiasi setinggi-tingginya, yang pada kenyataannya di negara ini hanya sekedar dongeng belaka. Nasib guru Umar Bakrie dari tahun ke tahun cuma berkutat pada mengurusi dirinya sendiri yang sulit diurus. Logikanya sederhana, kalau memang dosen atau guru mampu mencetak mahasiswa berkualitas yang pernah menyandang gelar maha sebagai sebuah status akademis dan sebagai tanggungjawab sosial, sudah semestinya orang yang melahirkan generasi ‘maha’ itu diberikan balasan yang setimpal, balasan yang maha akibat perjuangan dan pengorbanan yang juga maha. Sehingga dosen bukan hanya sebagai status sosial yang dinobatkan oleh masyarakat akibat sebuah status akademis sebagai pengajar mahasiswa yang konon katanya menjadi agen perubahan suatu bangsa. 

No comments:

Post a Comment