Tuesday, June 21, 2016

Sebuah Refleksi: 3 Dekade

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Maha Hidup yang telah memberikan kehidupan kepada saya hingga masuk pada dekade ketiga. Salawat serta salam semoga tercurah kepada manusia terbaik yang diutus sebagai rahmat bagi semesta, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta sahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jalannya hingga hari kiamat kelak.

Amma bakdu:
Pada hari ini genap usia saya mencapai 3 dekade. Suatu pencapaian yang luarbiasa dari kehidupan manusia. Tak henti saya mengucap syukur atas segala yang telah diberikan kepada saya hingga menjadi manusia yang hanya menghambakan diri pada Sang Pemilik manusia. Lantas apa arti 3 dekade bagi saya?

Bagi saya, 3 dekade berarti merupakan sebuah lintas batas bagi saya yang tidak pernah menghendaki untuk sampai pada usia ini. Kedewasaan memang tidak bisa diukur melalui satuan usia yang diimplementasikan dalam angka. Namun 30 itu suatu bilangan yang banyak dalam ilmu matematika.

Telah banyak hal yang saya lalui dalam 1 dekade terakhir. Menjadi dewasa adalah pilihan ketimbang menjadi tua yang merupakan sebuah keniscayaan dari kehidupan manusia. Saya merasa di usia ini lah menjadi puncak usia saya sebagai manusia, sebelum Allah kembalikan saya menjadi kanak-kanak kembali [QS 30:54]. Ada pepatah mengatakan “life begins at 40”, hidup dimulai pada usia 40 tahun. Agaknya yang demikian tidak berlaku bagi saya. Hidup saya sudah dimulai dari setengah pepatah tersebut. Ya, hidup saya dimulai ketika usia 20. Usia dimana saya masih membawa kemana-mana bendera idealisme yang pada akhirnya mesti dicuci, dikucek, dijemur hingga akhirnya menjadi luntur karena proses alamiah.

Pada usia ini, idealisme tak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah bendera yang menancap. Dia sudah mau berkompromi dengan realistis, sebuah bendera baru yang mesti hadir mengiringi bendera idealisme. Memang nasib baik tak pernah dilahirkan kalau kata Soe Hok Gie, tapi dia bisa dimanipulasi. Manipulasi nasib. Entah berapa banyak jiwa-jiwa yang mati muda yang tak mampu merasakan nikmatnya nasib baik itu.

Idealisme yang sempat saya gadang-gadang di masa lalu mesti karam hancur lebur seiring dengan waktu. Saya sadar seraya tersenyum menertawakan betapa bodoh dan angkuhnya diri saya waktu itu. Masa lalu yang membentuk saya sekarang ini. Masa muda yang penuh gejolak api ambisi yang membara, yang kini api itu mesti sedikit demi sedikit surut seperti air sisa banjir.

Dan saya beruntung, bejo, telah sampai pada bilangan ini yang semestinya menjadikan suatu refleksi bagi saya sebagai hamba. Saya itiraf, mengakui segala dosa yang telah saya lakukan di masa lalu. Saya sadar kalau saya lah manusia tempatnya salah dan khilaf. Telah banyak tempat yang saya jelajahi di muka bumi ini yang menjadikan saya semakin sadar bahwa saya hanya makhluk kecil yang lemah, yang tiada daya upaya, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta apalagi penciptanya.

Tak lupa di kesempatan ini saya ingin menghaturkan terimakasih kepada orang-orang yang cinta saya dan juga saya cinta. Terkhusus untuk kedua orangtua saya, mama dan papa, yang setia berkhidmat untuk hidup saya sejak kecil. Maafkan saya yang tugasnya hanya selalu bikin repot bikin ulah dan bikin dosa dan salah. Tak lupa kepada semua orang yang berjasa hingga menjadikan saya mampu menulis dan membaca. Semua guru-guru saya sejak bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, juga tak lupa kepada semua guru mengaji saya, ustadz dan ustadzah yang ikhlas memberikan ilmunya kepada saya yang tak kunjung pandai ini. Semoga Allah membalas jasa kalian semua.

Tak lupa kepada semua teman dan sahabat saya yang tidak bisa saya sebut di sini satu per satu karena mubazir dan tidak penting. Terimakasih pernah mengisi bagian takdir linimasa saya. Kita pernah berkuasa atas waktu dan kesombongan sesaat akan hidup kawula muda.

Terakhir semoga tulisan saya ini menjadi bahan renungan bagi saya sendiri dan orang lain yang membacanya. Semoga Allah wafatkan saya di atas agama dan sunnahnya yang haq. Akhirul kalam segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Jakarta, 21 Juni 2016


Si Anak Hilang


No comments:

Post a Comment