Friday, June 3, 2016

Perjalanan Terakhir Sang Legowo: Prolog


katanya pd mw jmpt tmn yg trtimpa granat, dia bner2 ga brdaya di Sari Asih @ariefjuga @tsa1985 @h3ndaru @ossopi

 ---------------

Siang itu terik. Eko dengan sebatang rokoknya tampak gusar menghisap jengkal demi jengkalnya. Ditarik dan dihembuskannya batang tembakau dengan tidak biasa. Pikirannya cewang entah menuju ke mana. Ada sebuah keinginan yang belum tersampaikan hingga kini dalam benaknya. Diulangnya menghisap rokok agar hilang gusar di pikirannya. Namun tetap saja ia tidak mampu.
Eko memang manusia yang unik. Usianya lebih dari selangkung, 26 tahun tepatnya. Dalam usia ini konon katanya seorang manusia telah menentukan nasibnya sendiri, baik atau buruk. Ada yang bilang kalau usia 27 tahun itu menjadi ukuran keberhasilan seorang manusia dalam hidupnya. Sampai-sampai ada sebutan  27 Club yang berisi orang-orang yang mati muda di usia 27 salah satunya Kurt Cobain, sang pentolan grup band Nirvana. Mengutip dari perkataan Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran:
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”
Kiranya ada benarnya dari ungkapan tersebut. Beruntung bagi yang mati muda, karena tidak usah bersusah payah mengalami apa yang disebut dengan tua, kosokbali dari muda sebagai konsekuensi atas fitrah seorang anak manusia yang dilahirkan ke dunia fana ini. Berapa banyak pahlawan yang gugur dalam hitungan usia yang boleh dibilang relatif muda. Jarang kita temui potret pahlawan yang tampil dalam sosok tua renta. Ada memang, namun jarang sekali.
17 Mei 2012
Hari ini merupakan awal perjalanan. KA Kutojaya jurusan Pasar Senen – Kutoarjo telah menunggu di peron nomer satu di Stasiun Pasar Senen. Eko, Shubhi, dan Arief, tiga anak manusia ini hendak bertolak dari peraduan ibukota menuju satu tempat: Jogjakarta. Sederhana saja tujuannya yakni menghabiskan waktu bertema liburan. Sekedar melepaskan penatnya kesibukan hingar binger ala ibukota yang tak kenal lelahnya. Pukul 07.15. Kereta siap berangkat menunggu aba-aba dari petugas sinyal perlintasan kereta api. Sinyal dibunyikan. Kereta melaju menuju Kutoarjo. KA Kutoarjo ini menempuh trayek Tanah Abang – Kutoarjo, berangkat pukul 06.45.
Ada alasan mengapa Eko sang pencetus perjalanan memilih jurusan Kutoarjo. Karena seluruh tiket kereta api jurusan Jogjakarta nyaris ludes pun ditambah harganya yang selangit, arkian alternatif lain yang terdekat ya Kutoarjo mengingat agak riskan jika harus menyambung estafet dari Semarang, yang kurang lebih sekitar tiga jam perjalanan melalui bus. Akhirnya mereka bertiga berangkat melalui jalur kereta api via selatan Jawa. Selepas Cirebon, kereta api berpindah jalur menuju Stasiun Kroya untuk terus menuju Stasiun Kebumen dan berakhir di Stasiun Kutoarjo.
 Priiiiiit.
Suara peluit masinis menandakan kereta segera beranjak meninggalkan peraduannya menuju timur. Eko, Arief, dan Shubhi tampak ceria. Tiada tampak kegundahan di wajah mereka. Ya dipikir-pikir paling tidak sebagai alternatif melepas penat ibukota yang selalu jadi hantu setiap saat. Mungkin hal yang demikian jadi kulina bagi penduduk Jakarta, pagi siang sore malam selalu diliputi dengan tekanan di sana sini. Macet, banjir, polusi, kriminal, dan lain sebagainya yang konon kerap dituduhkan kepada sang gubernur.
Jakarta memang unik. Kota ini merupakan tiruan kota fasis kata seorang ahli tata kota dari luar negeri sana. Betapa tidak, fasilitas-fasilitas umum cenderung dibiarkan bobrok berikut dengan seisi kota yang dipenuhi dengan kemacetan tanpa henti, suasana riuh, polusi udara  berikut suara. Kali Ciliwung yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda saja contohnya. Kali ini secara sepintas fisik saja sudah dapat dikatakan tidak layak untuk dilihat apalagi untuk digunakan bagi kehidupan sehari-hari. Hitam pekat, begitulah warnanya. Ironis memang yang demikian didukung sendiri oleh mental warga ibukota sendiri yang doyan membuang apa saja barang yang tidak terpakai ke sungai ini. Alhasil warna sungai makin tambah tidak karu-karuan, apalagi baunya yang merusak hidung hingga mengakibatkan merusak kesehatan kata para dokter.
Angkutan kota alias angkot di Jakarta pun sungguh unik bin ajaib. Mungkin usianya sudah seumuran dengan penumpangnya. Peremajaan itu langka bagi angkot. Berkali-kali sudah ganti gubernur tapi angkot setia dengan wajah lamanya. Paling-paling tambal sulam ala kanibal, ganti ordeldil sana sini dengan yang pas. Itupun tidak mesti yang orisinil, alias istilahnya pakai yang KW. Entah pakai KW yang kualitas super atau kualitas ecek-ecek. Nah, si angkot-angkot inilah yang memenuhi segenap ruang jalan raya di Jakarta. Berisik, bau, macet, tidak nyaman, tarif seenaknya; menjadi deretan kata-kata yang terlintas jika seseorang yang hidup di ibukota ditanya soal apa yang itu angkot. Bicara soal macet, Jakarta itu rajanya. Entah berapa banyak orang yang bilang begitu. Sampai-sampai pernah waktu konser Dream Theater ke Jakarta yang dihelat pada 21 April 2012, sang vokalis grup band lawas Amerika tersebut, James Labrie pernah berujar bahwa sungguh gila kota Jakarta ini, 30 menit mereka menaiki bus dari bandara belum juga beranjak dari tempatnya karena parahnya kemacetan di ibukota Indonesia ini. Padahal mereka sudah dikawal dengan banyaknya voor rider. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Macet di Jakarta itu sebuah hal yang di atas luar biasa. Entah apa itu namanya. Sudah gitu ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang tak karu-karuan, lubang di sana sini, bergelombang. Mungkin sudah berapa banyak orang yang jadi korban keganasan aspal di Jakarta. Ya lagi lagi tetap saja tidak pernah menyurutkan gairah orang untuk memacu kendaraannya melintasi jalanan kota dengan tenahaknya. Konyolnya macet dituding jadi kambinghitam, padahal mereka sendiri yang bikin kota ini jadi macet. Aneh memang.
Memikirkan kota ini untuk sebuah solusi merupakan suatu yang hampir mustahil. Mungkin solusinya seperti waktu jaman penjajahan Jepang dahulu, kota ini dipasangi bom nuklir. Meledak. Wassalam. Tinggal sejarah ini kota. Barulah bisa diganti dengan Jakarta yang baru. Entah jadi apa namanya kelak.
Alih-alih.
Kereta semakin melaju kencang di relnya. Maklumlah namanya juga kereta ekonomi, semuanya serba ekonomis. Begitu aturan mainnnya. Bebas ngapain saja asal tertib dan sopan serta pastinya tidak melanggar Pancasila dan UUD 1945. Jadi kalau mau merokok ya boleh-boleh saja. Ffuihh. Begitu suara tiruan Eko menghembuskan napas berikut asap dari batang tembakau yang dihisapnya. Agaknya hembusan asap ini mengandung makna: penatnya hidup di ibukota dengan segala tetek-bengeknya yang banyak aturan di sana-sini, sehingga manusia tidak disebut manusia lagi melainkan robot yang bisa kentut. Bayangkan saja mau buang air kecil alias kencing ataupun buang air besar alias berak yang notabene membuang sesuatu yang tidak digunakan alias sampah kotoran saja harus membayar. Untung saja kentut belum disuruh bayar dan belum ada peraturan daerah yang mengaturnya. Kalau ada, ya celaka. Celaka sangat. Nahh, di kereta ekonomi ini semuanya setipe model begitu: dari mulai tempat duduk yang sempit berhadap-hadapan dengan seat 3x3, jalanan di antara tempat duduk yang sempitnya sehingga bisa jadi ajang goyang senggol-senggolan antar penumpang yang lewat, kondisi gerbong yang memprihatinkan, kumuh, banyak pengamen hilir mudik, pedagang asongan yang cuek bebek berjualan dengan tidak mengindahkan sopan santun ala pelajaran PPKn. Ditambah atau diperparah lagi dengan kondektur yang berpakaian agak kurang rapi berikut dengan satuan pengamanan yang ala kadarnya. Komplit.
“Bedebah” Eko memulai percakapan.
Langsung disambut gelak tawa oleh kedua rekan sejawatnya tersebut. Arief dan Shubhi memang termasuk teman yang boleh dibilang dekat dengan Eko. Boleh dibilang begitu. Kenapa? Ya karena paling tidak mereka berdua pernah satu jurusan kuliah di Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Oh iya, ada satu lagi rekan yang tidak ikut di perjalanan kali ini, sebut saja namanya Hendaru dan Ospi. Dia juga rekan diskusi Eko Arief dan Shubhi, namun sayang seribu sayang mereka berdua tidak dapat hadir dalam perjalanan yang entah apa tujuannya ini.
Jes gejes gejes.
Kira-kira demikian tiruan bunyi mesin kereta api yang entah dimana letak apinya, begitu cetus Eko. Seperti dimaklumi, Eko adalah orang yang kritis namun agak zaklijk, dia bisa meledak-ledak tanpa bisa kita tebak kemana arah ledakannya itu. Konon itulah pengakuan dari salah seorang rekannya yang ingin disebut inisialnya Arief. Loh kok dia lagi? Ah sudahlah, tidak penting juga. Sebenarnya maksud Eko itu dapat diterima nalar, yang dia maksud itu kereta Commuter Line atau kereta rel listrik yang mondar-mandir di Jabodetabek. Kereta itu tidak menggunakan bahan bakar untuk pemantik api layaknya kereta uap yang menggunakan mesin diesel. Okelah, sip.
Cerita berjalan seiring putaran intro roda kereta api yang bergesekan dengan rel untuk meluncur ke timur Jawa. Mereka bertiga kemudian melakukan ritual khas manusia beradab: tidur. Tampak dari raut wajah mereka yang amat kelelahan karena harus berjibaku sepagi buta dari Stasiun Universitas Indonesia untuk menuju Stasiun Pasar Senen karena KA Kutojaya yang sekarang ini mereka tumpangi berangkat dari situ. Dapat dikatakan pula mereka sudah pasang niat untuk menjadi musafir.

No comments:

Post a Comment