katanya
pd mw jmpt tmn yg trtimpa granat, dia bner2 ga brdaya di Sari Asih @ariefjuga @tsa1985 @h3ndaru
@ossopi
---------------
Siang itu terik. Eko dengan sebatang
rokoknya tampak gusar menghisap jengkal demi jengkalnya. Ditarik dan
dihembuskannya batang tembakau dengan tidak biasa. Pikirannya cewang entah
menuju ke mana. Ada sebuah keinginan yang belum tersampaikan hingga kini dalam
benaknya. Diulangnya menghisap rokok agar hilang gusar di pikirannya. Namun
tetap saja ia tidak mampu.
Eko memang manusia yang unik. Usianya
lebih dari selangkung, 26 tahun tepatnya. Dalam usia ini konon katanya seorang
manusia telah menentukan nasibnya sendiri, baik atau buruk. Ada yang bilang
kalau usia 27 tahun itu menjadi ukuran keberhasilan seorang manusia dalam
hidupnya. Sampai-sampai ada sebutan 27
Club yang berisi orang-orang yang mati muda di usia 27 salah satunya Kurt
Cobain, sang pentolan grup band Nirvana. Mengutip dari perkataan Soe Hok Gie
dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran:
“Nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”
Kiranya ada benarnya dari ungkapan
tersebut. Beruntung bagi yang mati muda, karena tidak usah bersusah payah
mengalami apa yang disebut dengan tua, kosokbali dari muda sebagai konsekuensi
atas fitrah seorang anak manusia yang dilahirkan ke dunia fana ini. Berapa
banyak pahlawan yang gugur dalam hitungan usia yang boleh dibilang relatif muda.
Jarang kita temui potret pahlawan yang tampil dalam sosok tua renta. Ada
memang, namun jarang sekali.
17 Mei 2012
Hari ini merupakan awal perjalanan.
KA Kutojaya jurusan Pasar Senen – Kutoarjo telah menunggu di peron nomer satu
di Stasiun Pasar Senen. Eko, Shubhi, dan Arief, tiga anak manusia ini hendak
bertolak dari peraduan ibukota menuju satu tempat: Jogjakarta. Sederhana saja
tujuannya yakni menghabiskan waktu bertema liburan. Sekedar melepaskan penatnya
kesibukan hingar binger ala ibukota yang tak kenal lelahnya. Pukul 07.15.
Kereta siap berangkat menunggu aba-aba dari petugas sinyal perlintasan kereta
api. Sinyal dibunyikan. Kereta melaju menuju Kutoarjo. KA Kutoarjo ini menempuh
trayek Tanah Abang – Kutoarjo, berangkat pukul 06.45.
Ada alasan mengapa Eko sang pencetus
perjalanan memilih jurusan Kutoarjo. Karena seluruh tiket kereta api jurusan
Jogjakarta nyaris ludes pun ditambah harganya yang selangit, arkian alternatif
lain yang terdekat ya Kutoarjo mengingat agak riskan jika harus menyambung
estafet dari Semarang, yang kurang lebih sekitar tiga jam perjalanan melalui
bus. Akhirnya mereka bertiga berangkat melalui jalur kereta api via selatan
Jawa. Selepas Cirebon, kereta api berpindah jalur menuju Stasiun Kroya untuk
terus menuju Stasiun Kebumen dan berakhir di Stasiun Kutoarjo.
Priiiiiit.
Suara peluit masinis menandakan
kereta segera beranjak meninggalkan peraduannya menuju timur. Eko, Arief, dan
Shubhi tampak ceria. Tiada tampak kegundahan di wajah mereka. Ya dipikir-pikir
paling tidak sebagai alternatif melepas penat ibukota yang selalu jadi hantu
setiap saat. Mungkin hal yang demikian jadi kulina bagi penduduk Jakarta, pagi
siang sore malam selalu diliputi dengan tekanan di sana sini. Macet, banjir,
polusi, kriminal, dan lain sebagainya yang konon kerap dituduhkan kepada sang
gubernur.
Jakarta memang unik. Kota ini
merupakan tiruan kota fasis kata seorang ahli tata kota dari luar negeri sana.
Betapa tidak, fasilitas-fasilitas umum cenderung dibiarkan bobrok berikut
dengan seisi kota yang dipenuhi dengan kemacetan tanpa henti, suasana riuh,
polusi udara berikut suara. Kali
Ciliwung yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda saja contohnya. Kali ini
secara sepintas fisik saja sudah dapat dikatakan tidak layak untuk dilihat
apalagi untuk digunakan bagi kehidupan sehari-hari. Hitam pekat, begitulah
warnanya. Ironis memang yang demikian didukung sendiri oleh mental warga
ibukota sendiri yang doyan membuang apa saja barang yang tidak terpakai ke
sungai ini. Alhasil warna sungai makin tambah tidak karu-karuan, apalagi baunya
yang merusak hidung hingga mengakibatkan merusak kesehatan kata para dokter.
Angkutan kota alias angkot di Jakarta
pun sungguh unik bin ajaib. Mungkin usianya sudah seumuran dengan penumpangnya.
Peremajaan itu langka bagi angkot. Berkali-kali sudah ganti gubernur tapi
angkot setia dengan wajah lamanya. Paling-paling tambal sulam ala kanibal,
ganti ordeldil sana sini dengan yang pas. Itupun tidak mesti yang orisinil,
alias istilahnya pakai yang KW. Entah pakai KW yang kualitas super atau
kualitas ecek-ecek. Nah, si angkot-angkot inilah yang memenuhi segenap ruang
jalan raya di Jakarta. Berisik, bau, macet, tidak nyaman, tarif seenaknya;
menjadi deretan kata-kata yang terlintas jika seseorang yang hidup di ibukota
ditanya soal apa yang itu angkot. Bicara soal macet, Jakarta itu rajanya. Entah
berapa banyak orang yang bilang begitu. Sampai-sampai pernah waktu konser Dream
Theater ke Jakarta yang dihelat pada 21 April 2012, sang vokalis grup band
lawas Amerika tersebut, James Labrie pernah berujar bahwa sungguh gila kota
Jakarta ini, 30 menit mereka menaiki bus dari bandara belum juga beranjak dari
tempatnya karena parahnya kemacetan di ibukota Indonesia ini. Padahal mereka
sudah dikawal dengan banyaknya voor rider. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Macet
di Jakarta itu sebuah hal yang di atas luar biasa. Entah apa itu namanya. Sudah
gitu ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang tak karu-karuan, lubang di sana
sini, bergelombang. Mungkin sudah berapa banyak orang yang jadi korban keganasan
aspal di Jakarta. Ya lagi lagi tetap saja tidak pernah menyurutkan gairah orang
untuk memacu kendaraannya melintasi jalanan kota dengan tenahaknya. Konyolnya
macet dituding jadi kambinghitam, padahal mereka sendiri yang bikin kota ini
jadi macet. Aneh memang.
Memikirkan kota ini untuk sebuah
solusi merupakan suatu yang hampir mustahil. Mungkin solusinya seperti waktu
jaman penjajahan Jepang dahulu, kota ini dipasangi bom nuklir. Meledak.
Wassalam. Tinggal sejarah ini kota. Barulah bisa diganti dengan Jakarta yang
baru. Entah jadi apa namanya kelak.
Alih-alih.
Kereta semakin melaju kencang di
relnya. Maklumlah namanya juga kereta ekonomi, semuanya serba ekonomis. Begitu
aturan mainnnya. Bebas ngapain saja asal tertib dan sopan serta pastinya tidak
melanggar Pancasila dan UUD 1945. Jadi kalau mau merokok ya boleh-boleh saja.
Ffuihh. Begitu suara tiruan Eko menghembuskan napas berikut asap dari batang
tembakau yang dihisapnya. Agaknya hembusan asap ini mengandung makna: penatnya
hidup di ibukota dengan segala tetek-bengeknya yang banyak aturan di sana-sini,
sehingga manusia tidak disebut manusia lagi melainkan robot yang bisa kentut.
Bayangkan saja mau buang air kecil alias kencing ataupun buang air besar alias
berak yang notabene membuang sesuatu yang tidak digunakan alias sampah kotoran
saja harus membayar. Untung saja kentut belum disuruh bayar dan belum ada
peraturan daerah yang mengaturnya. Kalau ada, ya celaka. Celaka sangat. Nahh,
di kereta ekonomi ini semuanya setipe model begitu: dari mulai tempat duduk
yang sempit berhadap-hadapan dengan seat 3x3, jalanan di antara tempat duduk
yang sempitnya sehingga bisa jadi ajang goyang senggol-senggolan antar
penumpang yang lewat, kondisi gerbong yang memprihatinkan, kumuh, banyak
pengamen hilir mudik, pedagang asongan yang cuek bebek berjualan dengan tidak
mengindahkan sopan santun ala pelajaran PPKn. Ditambah atau diperparah lagi
dengan kondektur yang berpakaian agak kurang rapi berikut dengan satuan
pengamanan yang ala kadarnya. Komplit.
“Bedebah” Eko memulai percakapan.
Langsung disambut gelak tawa oleh
kedua rekan sejawatnya tersebut. Arief dan Shubhi memang termasuk teman yang
boleh dibilang dekat dengan Eko. Boleh dibilang begitu. Kenapa? Ya karena
paling tidak mereka berdua pernah satu jurusan kuliah di Sastra Indonesia
Universitas Indonesia. Oh iya, ada satu lagi rekan yang tidak ikut di
perjalanan kali ini, sebut saja namanya Hendaru dan Ospi. Dia juga rekan
diskusi Eko Arief dan Shubhi, namun sayang seribu sayang mereka berdua tidak
dapat hadir dalam perjalanan yang entah apa tujuannya ini.
Jes gejes gejes.
Kira-kira demikian tiruan bunyi mesin
kereta api yang entah dimana letak apinya, begitu cetus Eko. Seperti dimaklumi,
Eko adalah orang yang kritis namun agak zaklijk, dia bisa meledak-ledak tanpa
bisa kita tebak kemana arah ledakannya itu. Konon itulah pengakuan dari salah
seorang rekannya yang ingin disebut inisialnya Arief. Loh kok dia lagi? Ah
sudahlah, tidak penting juga. Sebenarnya maksud Eko itu dapat diterima nalar,
yang dia maksud itu kereta Commuter Line atau kereta rel listrik yang
mondar-mandir di Jabodetabek. Kereta itu tidak menggunakan bahan bakar untuk
pemantik api layaknya kereta uap yang menggunakan mesin diesel. Okelah, sip.
Cerita berjalan seiring putaran intro
roda kereta api yang bergesekan dengan rel untuk meluncur ke timur Jawa. Mereka
bertiga kemudian melakukan ritual khas manusia beradab: tidur. Tampak dari raut
wajah mereka yang amat kelelahan karena harus berjibaku sepagi buta dari
Stasiun Universitas Indonesia untuk menuju Stasiun Pasar Senen karena KA
Kutojaya yang sekarang ini mereka tumpangi berangkat dari situ. Dapat dikatakan
pula mereka sudah pasang niat untuk menjadi musafir.
No comments:
Post a Comment