Monday, December 15, 2014

Merawat Akal Sehat



Jaman ini semakin edan rupanya, nalar manusia bisa seenaknya terbolak-balik melalui berbagai macam cara dan acara. Kiranya konsep definisi kata sosial sudah tercerabut dari akarnya. Betapa tidak, kita dapati dalam kehidupan sehari-hari, manusia modern yang hidup di kota tidak ubahnya seperti robot bernyawa, atau katakanlah manusia yang tidak manusiawi. Bayangan dalam benak saya secara kasar yaitu manusia yang bangun tidur di pagi hari, kemudian memulai aktifitas menuju kantor, sekolah, pabrik, dan tempat-tempat lain dengan berjalan kaki, naik motor, mobil, bus, kereta api, sepeda dan semua moda transportasi yang menjadi simbol peradaban maju. Manusia mengular untuk memenuhi jalan-jalan raya di kota. Memaki-maki kemacetan yang ironisnya mereka buat sendiri. Aneh bin ajaibnya, semua telah tersusun secara sistematis tanpa adanya dialog antar manusia yang mencirikan peradaban dari jaman Adam nenek moyang manusia dahulu kala. Lantas ketika malam telah tiba, begitu halnya manusia sibuk dengan masygul rebutan untuk pulang ke peraduan masing-masing yang bernama rumah. Ada yang tinggal di rumah orangtua, rumah orangtua, kos-kosan, hotel, atau bahkan ada yang tidak punya rumah sama sekali hingga harus tinggal di kolong flyover, atau bahasa kerennya kolong langit. Lantas entri kata-kata yang populer di kamus seperti macet, bau, kotor, polusi, semrawut menjadi langganan kota-kota besar di Indonesia.

Rekan saya, sebut saja namanya Shubhi pernah mengeluhkan soal betapa angkuhnya manusia Indonesia jaman sekarang ini. Sulitnya mencari tempat untuk diskusi yang dinamis bertukar pikiran, mencari ruang-ruang untuk sekedar mencurahkan penat atau bahasa gaulnya curhat. Imbasnya lebih jauh, kritik atas sesuatu di jaman ini menjadi barang langka. Saya pun mengamini pendapat rekan saya ini.

Menyinggung soal kritik, kalau kita menengok sejenak ke beberapa masa silam, di bidang sastra ada nama HB Jassin yang konsisten mengkritik perkembangan sastra Indonesia modern, hingga namanya diabadikan menjadi pusat dokumentasi sastra di Cikini, Jakarta. Atau di jaman kini ada nama Remy Sylado yang nyentrik menguasai beberapa bidang mencakup teologi, dramaturgi, musik, sastra, bahasa, film dan seabrek bidang lain yang semua tak lepas dari kritiknya. Saya rasa dan saya pikir bangsa ini sudah kehilangan sosok-sosok semacam ini. Karya-karya layar kaca kini hanya dipenuhi artis artis bergincu modal tampang keren dan cantik plus seksi yang jadi syarat utama untuk lolos audisi. Sinetron-sinetron cengeng bertema ilusi dan utopia semakin menjamur. Komedi yang dulu benar-benar jujur menyuarakan hiburan untuk rakyat didominasi oleh acara-acara yang cuma menjual dagangan semata, yang entah kemana juntrungannya. Lawakan atau sandiwara radio yang dulu sempat ngetop kini dianggap sesuatu yang langka, padahal faktanya banyak artis layar kaca yang ngetop lewat jalur radio. Agaknya paham neoliberal kini menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dinikmati. Tak ayal, kata-kata semacam sharing, rating, kini menjadi laris manis tanjung kimpul.

Semua aktifitas yang dilakukan manusia canggih abad ini nyaris dilakukan tanpa tegur sapa, atau ya minimal basa basi lah. Hal itu yang amat saya rasakan. Entah setan macam apa yang menjangkiti bangsa Indonesia ini di era yang katanya milenium ketiga.  Gejala penyakit semacam ini dapat dirunut pasca tumbangnya Orde Baru yang katanya melulu dikaitkan pada sesuatu yang negatif. Sebut saja media sosial, yang lazim disebut social media disingkat socmed. Tanpa disadari kehadirannya menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini melekat kepada bangsa Indonesia yang gemah ripah loh jinawi tentrem tata raharja. Deretan nama semacam Facebook, YouTube, Twitter, telah menjadi racun yang semakin lama menjadi candu yang nikmat bagi masyarakat. Kalau dulu kata Nietsczhe yang jadi candu masyarakat itu adalah agama karena membikin lemah masyarakat, agaknya kini definisi agama itu telah mengalami pergeseran menjadi socmed. Dapat kita saksikan betapa mirisnya tayangan-tayangan yang tidak mendidik akibat didikan socmed yang digunakan oleh remaja-remaja tanggung berjiwa labil yang masih mencari jatidiri dan gagap teknologi melek media.

Beruntunglah saya masih punya teman-teman yang hidup semasa dengan saya, yang menyaksikan transisi sebuah sistem yang punya gradasi berbeda, Generasi yang hidup bukan dari barang instan seperti sekarang ini. Saya merasa butuh ruang lebih banyak untuk berdiskusi, berdiskursus, mengaktualisasi diri. Atau lebih jelasnya yaitu untuk merawat akal sehat yang semakin lama semakin tidak waras akibat cepatnya perubahan jaman. Saya butuh kritik, tapi bukan hujatan yang konon kini lagi ngetop di masyarakat. Semoga saya masih bisa terus merawat akal sehat ini di tengah keblingernya jaman ini. Amin

2 comments:

  1. Benar banget. :)
    Kamu memang beruntung :)

    ReplyDelete