Masak-masak paling indah,
masak-masak di sekolah. Begitu syair terkenal milik Obbie Mesakh yang sudah
dikacaukan oleh Pidi Baiq sang Imam The Panasdalam. Sepintas memang asyik juga
dicermati, kalau masa yang paling indah itu konon pada saat kita bersekolah.
Soalnya masa itu enak, hidup cuma mikirin sekolah aja, gak mikir yang lain.
Sejurus pikiran saya melayang
ke masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketika itu saya tidak pernah suka sama lawan
jenis sampai akhirnya ada seorang wanita yang awalnya saya suka hingga cinta
dan berakhir benci, karena saya tahu dia menikah dengan lelaki lain. Kisah ini
tidak menarik untuk dikisahkan, cuma sebatas intro saja.
Kemudian kisah berlanjut kala
SMA kelas 3, saat itu saya dipilih jadi anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah
(OSIS), gak nyangka juga sih bisa gabung OSIS lewat wild card, kira-kira begitu
istilahnya. Maksudnya saya masuk OSIS tanpa lewat seleksi yang bertele-tele
karena ketika itu saya ‘dipaksa’ mewakili himpunan siswa ekstrakurikuler Kelompok
Ilmiah Remaja (KIR) yang konon ketika itu namanya mentereng, ya boleh dibilang keren
lah.
Singkat cerita saya didaulat
jadi penjaga kelas, disingkat PK. Tapi bukan penjahat kelamin. Berdua dengan
rekan saya yang wanita, saya lupa namanya, berjilbab bukan berjilboobs. Mungkin
dia masih ingat saya, hahaha. Waktu itu saya ingat ada seorang cewek yang
mukanya jutek, jutek itu konon singkatan dari judes patek alias judes sangat.
Dia anak baru di SMA saya itu. Jadinya saya belum kenal siapa namanya. Namun saya orang yang tidak mau suuzon sama
orang yang belum saya kenal, saya malah berpikir sebaliknya alias husnuzon.
Saya dengan pede menganggap si cewek ini pastilah ramah, cuma mungkin karena
situasi ketika itu yang menjadikan dia jadi tegang hingga berujung pada raut
muka yang tidak sedap dipandang.
Kisah berlanjut, saya diberi
tugas selama 3 hari untuk mengawal kelas itu. Namanya juga inisiasi alias
pengenalan kelas, makanya saya bertindak sewajarnya walau teman saya banyak
yang bilang saya tidak wajar, tepatnya tidak waras. Di sela saya menerangkan di
depan kelas, saya curi pandang ke cewek ini, yang dikemudian hari saya kenalan
dengannya. Kadang dia tertawa dari sudut jauh tempat dia duduk, saya ingat dia
duduk di belakang kelas sebelah kanan dari sisi saya. Nah karena saya jadi PK
itulah jadi tau en kenal namanya. Dia sempat menyebut namanya ketika saya
pura-pura ngetes dengan ngasih pertanyaan gak jelas. Dijawabnya dengan ramah
serta dihiasi dengan senyum sungging di bibirnya yang mungil. Nama saya Ine,
kak. Gitu katanya. Nama lengkapnya Irene Kusumawardhani, saya tahu dari daftar absensi siswa baru.
Saya memang orang yang sulit
ditebak. Pernah ketika itu saya mengajukan pertanyaan sok ilmiah yang berbau
tebakan. Gini ceritanya ada seekor katak yang ingin menyeberangi sungai dengan
jarak dan kecepatan anu, lantas berapa kali kah si katak jomblo ini meloncat
untuk sampai dari sisi a ke sisi b menyeberangi sungai tadi? Saya bilang kalau
mereka itu kan siswa pilihan, nah pasti tau deh jawabannya. Ternyata mereka gak
ada yang bisa menjawab. Padahal jawabannya kan sepele. Cuma dua loncatan. Iya,
dua, gak percaya?: satu kali, ketika si katak bergeser dari sisi a ke sungai
untuk berenang, dua kali, ketika si katak loncat dari sungai untuk sampai ke
sisi b. Hahaha. Sontak mereka tertawa karena merasa tertipu.
Habis saya cerita ini, saya
lihat si Ine juga tertawa renyah nan lepas gegara ketololan soal ilmiah yang
sangat ilmiah ini. Haha. Terus saya kasih soal fisika, gini soalnya: ada seekor
kepiting berjalan dari sisi a ke sisi b dengan kecepatan x dan jarak y (saya
kasih contoh angkanya juga), nah pertanyaannya berapa lamakah waktu tempuh yang
dibutuhkan si kepiting untuk sampai di sisi b? Lantas semua siswa menebak
dengan antusias menggunakan segala macam rumus fisika yang mereka punya. Tapi
satu pun gak ada yang mampu menjawab pertanyaan logika ini. Ada yang tau?
Jawabannya ya gak akan ketemu. Loh kok gitu kak? Iya, emang kamu pernah lihat
kepiting jalan itu gimana? Apa ada yang jalannya lurus?? Enggak kan, yang ada
jalannya bengkok, nahh jadi gak pernah nyampe deh ke sisi b. Grrrrrrrr.
Hahahaha. Langsung disambut tawa gemuruh di kelas yang saya ampu waktu itu.
Saya juga pernah dinobatkan
sebagai kakak terganteng dan kakak tergila, kakak terngawur, dan sejenisnya
oleh adik kelas saya. Mereka bilang yang bisa nandingin saya cuma si Daniel
Usman sang wakil ketua OSIS, yang tidak lain adalah teman sebangku saya
sendiri. Hahaha.
Waktu berlalu.
Saya kembali ke kehidupan SMA
saya jadi anak kelas 3, senior yang katanya ditakuti. Yoi, pastinya itu. Masa
dimana saya merajai dan berkuasa menjadi biang rusuh di SMA. Tapi soal ini
nanti saya ceritakan di bab lain, kali ini fokus cerita ke si Ine. Okeh, balik
ke si Ine. Saya mulai tertarik dengan cewek ini, entah mengapa ada magnet
tersembunyi dari dirinya yang belakangan saya ketahui ternyata dia dan
sekeluarganya mualaf, pindah agama dari Kristen ke Islam. Senyumnya itu gak
bisa saya lupa, mungkin hingga kini. Dia banyak cerita soal papa mamanya yang
gaul. Oh iya pernah suatu hari saya kan hobi ngirimin dia artikel soal Islam
yang ringan dan enak dibaca ya semisal mutiara hadits Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam. Eh karena keseringan saya kirim ke dia, suatu ketika si Ine bilang
kalau ibunya penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan cowok iseng yang
hobinya ngirim artikel tersebut. Kata ibunya, wah temen cowok kamu itu keren
juga ya, Ine. Gak nyangka hobinya positif, beda aja gitu sama cowok kebanyakan.
Hahaha. Saya langung ketawa dengar pengakuan si Ine menirukan gaya ibunya yang
gaul itu. Tante oh tante, padahal saya penasaran ingin ketemu tante dan juga
om, sekalian minta restu buat ngelamar anak kalian ehh gak kesampean sampai
sekarang. Haha.
Saya juga pernah sampai nunggu
diusir guru kelasnya Ine, karena saya kelamaan ngobrol sama Ine di dalam
kelasnya, padahal jam belajar dia sudah masuk. Eh saya langsung dicubit sama
itu Ibu Guru yang saya lupa namanya tapi beliau kenal saya. Kontan aja satu
kelas pada heboh ngetawain saya, tapi saya mah cuek aja demi cinta gitu loh.
Halah. Lantas pas jam Ine istirahat saya coba ngobrol sama Ine lewat jendela
kelasnya, soalnya dia duduk persis di sebelah jendela. Gak ada kapoknya memang
saya waktu itu. Hahaha.
Satu kejadian epik pernah
waktu si Ine datang pagi ke sekolah (biasanya gak pernah soalnya Ine kan
sekolahnya masuk siang hari), ternyata dia mau ikut ekskul komputer yang jadi
mata pelajaran wajib. Posisi ruangan itu di lantai 2. Sedangkan ketika itu saya
sedang asyik bermain sepakbola di lapangan persis di bawah ruangan si Ine itu.
Langsung aja tanpa basa basi sebelum Ine masuk ke ruangannya. saya nekat menghampiri
dia yang masih bingung saya mau ngapain sama dia. Sejarahnya semalam sebelum
saya ketemu dia itu saya bermimpi ketemu dia, lantas saya ceritakan semua mimpi
saya itu ke dia, tentunya ala saya yang menurut Ine itu nyentrik, gitu sih
pengakuan dia. Ehh dia ujungnya senyum sambil bilang gini: Oalah kak, kirain
mau ngapain eh ternyata mau minta nomer teleponku toh. Hehehe. Gitu katanya.
Dengan senang hati Ine menuliskan beberapa digit angka nomer telepon rumahnya
yang berkode area 021 karena dia tinggal di Bekasi. Selesai dia menulis angka
tersebut tak lama terdengar gemuruh tempik sorak beserta suit-suit dan kalimat
yang gak ada di kamus yaitu cie-cie. dari teman-teman saya yang sedang bermain
bola di lapangan bawah. Ternyata mereka mendukung perjuangan saya, ah jadi
terharu sedikit. Lantas saya refleks bersikap sok artis. Hahaha.
Banyak yang saya ingat dari
Ine, banyak juga yang saya lupa. Seiring berjalannya waktu saya jadi tak
sengaja teringat kisah klasik ini. Mungkin diantara teman saya SMA ada yang
masih ingat saya dan Ine. Harapan saya mungkin kalau Ine masih ingat saya yang
dipanggil Kak Romi ketika itu, saya ingin ketemu. Sekedar ucapkan terimakasih
sudah sudi mampir di linimasa hidup saya.
![]() |
semoga aja ini benar fotonya Ine, sekian tahun sejak 2004. courtesy of instagram |
No comments:
Post a Comment