Saturday, January 10, 2015

Irene Kusumawardhani



Masak-masak paling indah, masak-masak di sekolah. Begitu syair terkenal milik Obbie Mesakh yang sudah dikacaukan oleh Pidi Baiq sang Imam The Panasdalam. Sepintas memang asyik juga dicermati, kalau masa yang paling indah itu konon pada saat kita bersekolah. Soalnya masa itu enak, hidup cuma mikirin sekolah aja, gak mikir yang lain.

Sejurus pikiran saya melayang ke masa Sekolah Menengah Atas (SMA).  Ketika itu saya tidak pernah suka sama lawan jenis sampai akhirnya ada seorang wanita yang awalnya saya suka hingga cinta dan berakhir benci, karena saya tahu dia menikah dengan lelaki lain. Kisah ini tidak menarik untuk dikisahkan, cuma sebatas intro saja.

Kemudian kisah berlanjut kala SMA kelas 3, saat itu saya dipilih jadi anggota Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), gak nyangka juga sih bisa gabung OSIS lewat wild card, kira-kira begitu istilahnya. Maksudnya saya masuk OSIS tanpa lewat seleksi yang bertele-tele karena ketika itu saya ‘dipaksa’ mewakili himpunan siswa ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) yang konon ketika itu namanya mentereng, ya boleh dibilang keren lah.

Singkat cerita saya didaulat jadi penjaga kelas, disingkat PK. Tapi bukan penjahat kelamin. Berdua dengan rekan saya yang wanita, saya lupa namanya, berjilbab bukan berjilboobs. Mungkin dia masih ingat saya, hahaha. Waktu itu saya ingat ada seorang cewek yang mukanya jutek, jutek itu konon singkatan dari judes patek alias judes sangat. Dia anak baru di SMA saya itu. Jadinya saya belum kenal siapa namanya.  Namun saya orang yang tidak mau suuzon sama orang yang belum saya kenal, saya malah berpikir sebaliknya alias husnuzon. Saya dengan pede menganggap si cewek ini pastilah ramah, cuma mungkin karena situasi ketika itu yang menjadikan dia jadi tegang hingga berujung pada raut muka yang tidak sedap dipandang.

Kisah berlanjut, saya diberi tugas selama 3 hari untuk mengawal kelas itu. Namanya juga inisiasi alias pengenalan kelas, makanya saya bertindak sewajarnya walau teman saya banyak yang bilang saya tidak wajar, tepatnya tidak waras. Di sela saya menerangkan di depan kelas, saya curi pandang ke cewek ini, yang dikemudian hari saya kenalan dengannya. Kadang dia tertawa dari sudut jauh tempat dia duduk, saya ingat dia duduk di belakang kelas sebelah kanan dari sisi saya. Nah karena saya jadi PK itulah jadi tau en kenal namanya. Dia sempat menyebut namanya ketika saya pura-pura ngetes dengan ngasih pertanyaan gak jelas. Dijawabnya dengan ramah serta dihiasi dengan senyum sungging di bibirnya yang mungil. Nama saya Ine, kak. Gitu katanya. Nama lengkapnya Irene Kusumawardhani, saya tahu dari daftar absensi siswa baru.

Saya memang orang yang sulit ditebak. Pernah ketika itu saya mengajukan pertanyaan sok ilmiah yang berbau tebakan. Gini ceritanya ada seekor katak yang ingin menyeberangi sungai dengan jarak dan kecepatan anu, lantas berapa kali kah si katak jomblo ini meloncat untuk sampai dari sisi a ke sisi b menyeberangi sungai tadi? Saya bilang kalau mereka itu kan siswa pilihan, nah pasti tau deh jawabannya. Ternyata mereka gak ada yang bisa menjawab. Padahal jawabannya kan sepele. Cuma dua loncatan. Iya, dua, gak percaya?: satu kali, ketika si katak bergeser dari sisi a ke sungai untuk berenang, dua kali, ketika si katak loncat dari sungai untuk sampai ke sisi b. Hahaha. Sontak mereka tertawa karena merasa tertipu.

Habis saya cerita ini, saya lihat si Ine juga tertawa renyah nan lepas gegara ketololan soal ilmiah yang sangat ilmiah ini. Haha. Terus saya kasih soal fisika, gini soalnya: ada seekor kepiting berjalan dari sisi a ke sisi b dengan kecepatan x dan jarak y (saya kasih contoh angkanya juga), nah pertanyaannya berapa lamakah waktu tempuh yang dibutuhkan si kepiting untuk sampai di sisi b? Lantas semua siswa menebak dengan antusias menggunakan segala macam rumus fisika yang mereka punya. Tapi satu pun gak ada yang mampu menjawab pertanyaan logika ini. Ada yang tau? Jawabannya ya gak akan ketemu. Loh kok gitu kak? Iya, emang kamu pernah lihat kepiting jalan itu gimana? Apa ada yang jalannya lurus?? Enggak kan, yang ada jalannya bengkok, nahh jadi gak pernah nyampe deh ke sisi b. Grrrrrrrr. Hahahaha. Langsung disambut tawa gemuruh di kelas yang saya ampu waktu itu.

Saya juga pernah dinobatkan sebagai kakak terganteng dan kakak tergila, kakak terngawur, dan sejenisnya oleh adik kelas saya. Mereka bilang yang bisa nandingin saya cuma si Daniel Usman sang wakil ketua OSIS, yang tidak lain adalah teman sebangku saya sendiri. Hahaha.

Waktu berlalu.
Saya kembali ke kehidupan SMA saya jadi anak kelas 3, senior yang katanya ditakuti. Yoi, pastinya itu. Masa dimana saya merajai dan berkuasa menjadi biang rusuh di SMA. Tapi soal ini nanti saya ceritakan di bab lain, kali ini fokus cerita ke si Ine. Okeh, balik ke si Ine. Saya mulai tertarik dengan cewek ini, entah mengapa ada magnet tersembunyi dari dirinya yang belakangan saya ketahui ternyata dia dan sekeluarganya mualaf, pindah agama dari Kristen ke Islam. Senyumnya itu gak bisa saya lupa, mungkin hingga kini. Dia banyak cerita soal papa mamanya yang gaul. Oh iya pernah suatu hari saya kan hobi ngirimin dia artikel soal Islam yang ringan dan enak dibaca ya semisal mutiara hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Eh karena keseringan saya kirim ke dia, suatu ketika si Ine bilang kalau ibunya penasaran dan bertanya-tanya siapa gerangan cowok iseng yang hobinya ngirim artikel tersebut. Kata ibunya, wah temen cowok kamu itu keren juga ya, Ine. Gak nyangka hobinya positif, beda aja gitu sama cowok kebanyakan. Hahaha. Saya langung ketawa dengar pengakuan si Ine menirukan gaya ibunya yang gaul itu. Tante oh tante, padahal saya penasaran ingin ketemu tante dan juga om, sekalian minta restu buat ngelamar anak kalian ehh gak kesampean sampai sekarang. Haha.

Saya juga pernah sampai nunggu diusir guru kelasnya Ine, karena saya kelamaan ngobrol sama Ine di dalam kelasnya, padahal jam belajar dia sudah masuk. Eh saya langsung dicubit sama itu Ibu Guru yang saya lupa namanya tapi beliau kenal saya. Kontan aja satu kelas pada heboh ngetawain saya, tapi saya mah cuek aja demi cinta gitu loh. Halah. Lantas pas jam Ine istirahat saya coba ngobrol sama Ine lewat jendela kelasnya, soalnya dia duduk persis di sebelah jendela. Gak ada kapoknya memang saya waktu itu. Hahaha.

Satu kejadian epik pernah waktu si Ine datang pagi ke sekolah (biasanya gak pernah soalnya Ine kan sekolahnya masuk siang hari), ternyata dia mau ikut ekskul komputer yang jadi mata pelajaran wajib. Posisi ruangan itu di lantai 2. Sedangkan ketika itu saya sedang asyik bermain sepakbola di lapangan persis di bawah ruangan si Ine itu. Langsung aja tanpa basa basi sebelum Ine masuk ke ruangannya. saya nekat menghampiri dia yang masih bingung saya mau ngapain sama dia. Sejarahnya semalam sebelum saya ketemu dia itu saya bermimpi ketemu dia, lantas saya ceritakan semua mimpi saya itu ke dia, tentunya ala saya yang menurut Ine itu nyentrik, gitu sih pengakuan dia. Ehh dia ujungnya senyum sambil bilang gini: Oalah kak, kirain mau ngapain eh ternyata mau minta nomer teleponku toh. Hehehe. Gitu katanya. Dengan senang hati Ine menuliskan beberapa digit angka nomer telepon rumahnya yang berkode area 021 karena dia tinggal di Bekasi. Selesai dia menulis angka tersebut tak lama terdengar gemuruh tempik sorak beserta suit-suit dan kalimat yang gak ada di kamus yaitu cie-cie. dari teman-teman saya yang sedang bermain bola di lapangan bawah. Ternyata mereka mendukung perjuangan saya, ah jadi terharu sedikit. Lantas saya refleks bersikap sok artis. Hahaha.

Banyak yang saya ingat dari Ine, banyak juga yang saya lupa. Seiring berjalannya waktu saya jadi tak sengaja teringat kisah klasik ini. Mungkin diantara teman saya SMA ada yang masih ingat saya dan Ine. Harapan saya mungkin kalau Ine masih ingat saya yang dipanggil Kak Romi ketika itu, saya ingin ketemu. Sekedar ucapkan terimakasih sudah sudi mampir di linimasa hidup saya. 


semoga aja ini benar fotonya Ine, sekian tahun sejak 2004. courtesy of instagram


No comments:

Post a Comment