Tuesday, December 2, 2014

Uang Kaget



Manusia pada fitrahnya selalu menghindari hal yang negatif. Tak ada manusia yang ingin sesuatu yang buruk, kotor, berantakan, bahaya dan seterusnya. Negatif hadir karena adanya oposisi biner sebagai lawan utama, yakni positif. Pada hakikatnya tak ada manusia yang menolak jika secara tiba-tiba mendapatkan harta berlimpah semisal emas sebesar bongkahan gunung. Dikarenakan sifat manusia yang dilengkapi dengan apa yang disebut ego.

Tak heran, acara televisi semacam uang kaget atau yang bertema sejenis pastilah laris manis untuk ditonton pemirsanya. Sebagai gambaran, acara ini berbentuk semacam reality show yang menampilkan seorang kaya sebagai subjek pemberi dan seorang miskin sebagai objek penerima, dengan uang sebagai simbol perantaranya, yang dinamakan uang kaget karena sifatnya yang spontan tanpa rekayasa sebelumnya serta jumlah nominalnya yang relatif besar yang bisa membuat orang setidaknya berkata “wah” untuk mewakili ekspresi kaget. Nah kemudian ada aturan mainnya, yakni si penerima harus membelanjakan uang kaget tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan biasanya relatif cepat senada untuk ukuran makna “kaget”, misalnya 10 menit. Namun yang jadi catatan di acara model tersebut adalah reaksi si penerima bantuan uang kaget yang notabene kalap, bingung, atau sebut saja dengan bahasa anak muda sekarang: galau.

 Reaksi selanjutnya inilah yang jadi adegan utama nan menegangkan di acara ini. Menangis haru bercampur kaget menjadi ekspresi utamanya karena misi berikutnya sudah menunggu di depan mata. Apa itu? Belanja. Ya, si penerima harus membelanjakan si uang kaget tersebut. Scene berikutnya hampir dapat ditebak, yakni si penerima membelanjakan uang kaget dengan membeli barang-barang tetekbengek yang sejatinya kalau dipikir cermat ya tidak penting. Namun begitulah esensi acara tersebut: kaget.
 
Acara semacam ini menjadi semacam shock terapy bagi kaum marjinal yang notabene hidup di bawah garis kemiskinan. Betapa tidak, seorang yang biasa dengan hal bertajuk “si miskin” secara mendadak serta merta dipaksa untuk berganti tajuk menjadi “si kaya” dengan perantara benda bernama uang yang diistilahkan “si uang kaget” dalam waktu yang singkat. Abracadabra.

Demikianlah contoh gambaran hidup manusia. Ada orang yang terbiasa dengan miskin dan dia enjoy menikmatinya, lantas suatu ketika dia dipaksa untuk beralih menjadi kaya secara instan. Paling tidak dia bukannya tidak siap menjadi kaya, namun karena dia tidak biasa dengan gaya hidup yang berbeda 180 derajat “lebih baik” dari kemisikinan yang dia rasakan selama ini.

Alih-alih.
Bagaimana kalau posisinya dibalik? Ada seorang yang terbiasa kaya dan dia enjoy menikmatinya, lantas suatu ketika dia dipaksa untuk menjadi miskin dalam sekejap mata. Yakinlah tak ada manusia yang ingin hal seperti ini terjadi. Bahkan mungkin hal yang terjadi setelahnya jauh lebih fatal ketimbang si miskin yang beralih jadi si kaya.

Begitulah, dari kisah si uang kaget kita dapat memetik pelajaran berharga, bahwa manusia cenderung sangat siap menerima kemenangan, kedigdayaan, kekuasaan, atau ringkasnya: kenikmatan. Namun di sisi lain, manusia cenderung tidak akan siap untuk menerima kekalahan, kemunduran, ketertindasan, atau ringkasnya: kesengsaraan.

Sekarang pertanyaannya kembali ke diri kita masing-masing: sudah siapkah kita untuk suatu saat mengalami kesengsaraan? Tak ada yang pasti dalam hidup, kecuali: kematian.

No comments:

Post a Comment