Manusia pada fitrahnya
selalu menghindari hal yang negatif. Tak ada manusia yang ingin sesuatu yang
buruk, kotor, berantakan, bahaya dan seterusnya. Negatif hadir karena adanya
oposisi biner sebagai lawan utama, yakni positif. Pada hakikatnya tak ada
manusia yang menolak jika secara tiba-tiba mendapatkan harta berlimpah semisal
emas sebesar bongkahan gunung. Dikarenakan sifat manusia yang dilengkapi dengan
apa yang disebut ego.
Tak heran, acara televisi
semacam uang kaget atau yang bertema sejenis pastilah laris manis untuk
ditonton pemirsanya. Sebagai gambaran, acara ini berbentuk semacam reality show yang menampilkan seorang
kaya sebagai subjek pemberi dan seorang miskin sebagai objek penerima, dengan
uang sebagai simbol perantaranya, yang dinamakan uang kaget karena sifatnya
yang spontan tanpa rekayasa sebelumnya serta jumlah nominalnya yang relatif
besar yang bisa membuat orang setidaknya berkata “wah” untuk mewakili ekspresi
kaget. Nah kemudian ada aturan mainnya, yakni si penerima harus membelanjakan
uang kaget tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan dan biasanya
relatif cepat senada untuk ukuran makna “kaget”, misalnya 10 menit. Namun yang
jadi catatan di acara model tersebut adalah reaksi si penerima bantuan uang
kaget yang notabene kalap, bingung, atau sebut saja dengan bahasa anak muda
sekarang: galau.
Reaksi selanjutnya inilah yang jadi adegan
utama nan menegangkan di acara ini. Menangis haru bercampur kaget menjadi
ekspresi utamanya karena misi berikutnya sudah menunggu di depan mata. Apa itu?
Belanja. Ya, si penerima harus membelanjakan si uang kaget tersebut. Scene berikutnya hampir dapat ditebak,
yakni si penerima membelanjakan uang kaget dengan membeli barang-barang
tetekbengek yang sejatinya kalau dipikir cermat ya tidak penting. Namun
begitulah esensi acara tersebut: kaget.
Acara semacam ini menjadi
semacam shock terapy bagi kaum marjinal yang notabene hidup di bawah garis
kemiskinan. Betapa tidak, seorang yang biasa dengan hal bertajuk “si miskin”
secara mendadak serta merta dipaksa untuk berganti tajuk menjadi “si kaya”
dengan perantara benda bernama uang yang diistilahkan “si uang kaget” dalam
waktu yang singkat. Abracadabra.
Demikianlah contoh gambaran
hidup manusia. Ada orang yang terbiasa dengan miskin dan dia enjoy menikmatinya,
lantas suatu ketika dia dipaksa untuk beralih menjadi kaya secara instan.
Paling tidak dia bukannya tidak siap menjadi kaya, namun karena dia tidak biasa
dengan gaya hidup yang berbeda 180 derajat “lebih baik” dari kemisikinan yang
dia rasakan selama ini.
Alih-alih.
Bagaimana kalau posisinya
dibalik? Ada seorang yang terbiasa kaya dan dia enjoy menikmatinya, lantas
suatu ketika dia dipaksa untuk menjadi miskin dalam sekejap mata. Yakinlah tak
ada manusia yang ingin hal seperti ini terjadi. Bahkan mungkin hal yang terjadi
setelahnya jauh lebih fatal ketimbang si miskin yang beralih jadi si kaya.
Begitulah, dari kisah si
uang kaget kita dapat memetik pelajaran berharga, bahwa manusia cenderung
sangat siap menerima kemenangan, kedigdayaan, kekuasaan, atau ringkasnya:
kenikmatan. Namun di sisi lain, manusia cenderung tidak akan siap untuk
menerima kekalahan, kemunduran, ketertindasan, atau ringkasnya: kesengsaraan.
Sekarang pertanyaannya
kembali ke diri kita masing-masing: sudah siapkah kita untuk suatu saat
mengalami kesengsaraan? Tak ada yang pasti dalam hidup, kecuali: kematian.
No comments:
Post a Comment