Banyak yang bilang
kalau ustadz Mubarak Bamualim itu sosok yang angker. Kalau kata ustadz Chusnul Yaqin
beliau itu “macannya sunnah”. Beliau memang dikenal “angker” oleh murid-muridnya,
bahkan rekan saya yang bernama Fatkhun Mubin sampai-sampai bilang kalau beliau itu
seperti punya julukan “ustadz kuburan”, mengapa? Ya karena setiap beliau masuk
kelas untuk mengajar pastilah semua yang di kelas hening seperti di kuburan;
begitu ibaratnya. Ada lagi rekan saya yang bernama Abdurrahman Yongki juga mengiyakan
hal serupa, beliau diibaratkan “ustadz maqabir” semakna dengan ustadz kuburan
tadi. Jangan harap kita bisa curi-curi waktu untuk sejenak tidur di dalam kelas, beliau seakan punya radar untuk mendeteksi hal tersebut. Beberapa kali saya jumpai rekan saya yang mengantuk tak ayal kena semprotan beliau. Ternyata tidak untuk saya. Saya orang yang pernah menyaksikan
kelemahlembutan beliau, di samping keangkeran tersebut di awal.
Hal yang saya ingat dari ustadz Mubarak yaitu
beliau menulis dengan tangan kiri. Waktu itu beliau mengajar mata kuliah
menulis Arab [khat], dengan cekatan tangan beliau menggoreskan kapur di papan
tulis dari kanan ke kiri. Saya pernah merasakan hal yang tidak menyenangkan
kala ditegur oleh beliau. Memang saya akui kesalahan saya sendiri ketika itu.
Kisahnya ketika saya pulang ke Jakarta lebih
dari seminggu masa aktif belajar di Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya. Ada urusan
yang penting ketika itu dimana saya harus mengurus tetek bengek segala
keperluan yang berhubungan dengan SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru] yang
ketika itu saya diterima di Universitas Indonesia. Alhasil waktu saya di
Jakarta harus molor sekitar seminggu untuk mengurus ini itunya. Ketika saya
kembali ke Surabaya, saya shalat jamaah di masjid ma’had. Saya sedang mengambil
air wudhu dan persis di sebelah saya ada beliau yang sempat berpapasan mata
dengan saya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati saya waktu itu antara
ingin menyapa beliau dengan salam, namun lidah saya malahan kelu dan tidak
sedikitpun mengeluarkan huruf. Sungguh ketika itu saya malu dan saya menyesali
kebodohan saya sendiri. Sampai selang beberapa hari ketika beliau mengajar saya
dalam salah satu mata kuliah di situlah saya ditegur; lebih tepatnya
dinasehati. Beliau bilang tidak hanya khusus untuk saya tapi bagi siapa saja
yang bertemu dengan ustadz di ma’had atau di manapun berada hendaknya bertegur
sapa dengan salam, karena yang demikian merupakan ciri-ciri akhlak muslim yang
baik. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu; bermakna keselamatan,
rahmat, dan berkah Allah semoga padamu. Sungguh sebuah kata singkat namun padat
makna. Begitulah beliau mengajari saya, muridnya yang tak kunjung pandai hingga
kini. Sampai detik ini saya masih ingat rekaman hal itu yang menjadikan saya
tergugah untuk selalu mencontoh akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik suri teladan
manusia.
Ada satu hari yang
paling saya kenang hingga kini, dimana saya berpamitan dengan ustadz Mubarak.
Kala itu ba’da ashar selepas saya dan beliau yang menjadi imam, baru saja
menunaikan kewajiban shalat berjamaah di masjid ma’had. Sempat ada dilema yang
berkecamuk di hati saya tentang apa yang saya ingin ungkapkan ke beliau.
Artinya dengan bahasa apa saya mengutarakan keinginan saya berpamitan kepada
beliau. Jujur waktu itu berat rasanya bagi lidah saya untuk berpisah dengan
beliau. Namun apa daya takdir jualah yang berbicara. Singkatnya saya beranikan
diri untuk menegur beliau:
| Assalamu’alaikum
ya ustadz
|Wa’alaikumsalam ya
Junaidi. Apa kabarnya? Gimana, gimana?....
Tanpa diduga beliau
menjabat tangan saya dan memeluk saya hangat ibarat ayah yang telah lama tidak
bertemu dengan anaknya. Subhanallah. Saya gemetar ketika itu, bukan karena
takut namun saya merasakan getaran cinta dari beliau yang penuh rahim. Saya
lanjutkan:
| Anu ustadz,
begini, saya mau pamit. Mau pulang.
|Loh.. loh.. mau
kemana? Kenapa? Heh cerita ya. Kalau mau kerja di sini ya ndak apa-apa nanti
saya bilang ke yayasan. Biar kamu dapat beasiswa di sini.
| Bukan. Bukan soal
itu ustadz, ada uzur lain jadi saya harus pamit.
|………….
Sempat jeda.
Saya tidak kuasa
menahan emosi yang bergejolak ketika itu. Ustadz Mubarak memang luar biasa,
beliau paham situasi kala itu. Langsung saja tanpa basa basi beliau mengajak saya
sowan ke rumahnya yang berada tak jauh dari masjid ma’had.
Sesampainya saya di
depan rumah beliau, saya menunggu di luar, beliau masuk. Tak lama kemudian
beliau memanggil dari dalam:
|Hei, ayo masuk.
Ngapain di situ? Sini.
|Labbaik [saya datang] ya ustadz. *seraya
masuk rumah beliau*.
|Sini duduk. Mau
minum apa, hah? Air putih campur madu mau? Enak itu. Mumpung saya lagi baik ini
*canda beliau seraya tersenyum*
|Apa aja ustadz asal
gak ngerepotkan.
Kemudian beliau
menyuguhkan air dingin dicampur dengan madu asli. Beliau menyuruh saya agar
segera meminum air tersebut. Setelah saya jelaskan maksud pamitan saya maka
beliau dengan bijaksana memahami masalah saya dan mengijinkan saya untuk pulang
menempuh cita-cita. Tak lupa beliau berpesan agar saya selalu menjaga agama
Islam yang mulia ini dengan cara selalu belajar dan bertanya kepada ahli ilmu
di tempat saya berada. Beliau pun ucapkan salam kepada kedua orangtua saya.
Sungguh di kala itu rasanya saya ingin menangis tapi hanya sedikit airmata yang
keluar untuk menutupi malu bertemu orang seperti beliau yang saya kagumi.
Luar biasa. Saya
tidak menyangka di balik sosok beliau yang garang ternyata beliau memiliki
akhlak yang mulia. Sungguh saya beruntung sempat menjadi murid beliau,
diajarkan langsung akhlak nabi Muhammad shallalahu
‘alaihi wa sallam dalam sopan santun guru dan murid. Beliau adalah sosok alim [berilmu] yang juga halim [lemah lembut]. Terimakasih wahai
ustadz Mubarak, semoga Allah membalas kebaikanmu dan menjadikan ilmu dan amalmu
bercahaya menerangi semua.
Ada pesan yang saya
ingat dari beliau kala mengajar: “ijtahidu
ya akhi” [bersungguh-sungguh wahai saudaraku], antum [kalian] datang dari jauh
ke sini jangan main-main ya.
"Muhammad is the
Messenger of Allah; and those with him are forceful against the disbelievers,
merciful among themselves. You see them bowing and prostrating [in prayer],
seeking bounty from Allah and [His] pleasure. Their mark is on their faces from
the trace of prostration. That is their description in the Torah. And their
description in the Gospel is as a plant which produces its offshoots and
strengthens them so they grow firm and stand upon their stalks, delighting the
sowers - so that Allah may enrage by them the disbelievers. Allah has promised
those who believe and do righteous deeds among them forgiveness and a great
reward."
[48:29]