Friday, May 30, 2014

[Resensi Buku] Malaikat Lereng Tidar - Remy Sylado




 Asam di gunung, ikan di laut, bertemu di belanga jua.

Kira-kira demikian pepatah yang tepat untuk menggambarkan kisah cinta sepasang insan yang entah dari mana asalnya satu sama lain yang bertemu di lereng gunung Tidar, menjalani kisah yang penuh lika-liku. Sungguh epik. Ya, Remy Sylado kembali bertutur lewat cerita sederhana ala tempo dulu. Cerita rekaan yang berdasarkan nas sejarah kembali dihadirkan lewat buku yang berjudul Malaikat Lereng Tidar. Tumirah sang bunga desa asal Magelang yang hanya seorang penjaga warung minum bernama Warung Idjo milik orangtuanya ternyata tergila-gila pada seorang anggota tentara KNIL bernama Jehezkiel Tambajong asal Minahasa keturunan Holanda. Pun begitu sebaliknya, sang tentara langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dan rela untuk sejenak meninggalkan leluri adat serta janji yang penah diucapkannya pada sang bunda kala ingin merantau meninggalkan kampung halaman. Buku setebal 544 halaman ini jadi bukti kemapanan sang maestro sastra Indonesia, Remy Sylado dalam meracik sebuah cerita perjalanan cinta anak manusia yang terkadang tidak semudah membalik telapak tangan semata.

Menarik untuk disimak peran tokoh-tokoh antagonis diantaranya Sembino si tua Bangka yang menginginkan Tum, sapaan Tumirah untuk jadi istri ke-9 sebagai syarat ilmu entah apa namanya yang dianutnya. Adapula tokoh antagonis yang dikemudian hari berubah watak setelah ditempa oleh sang waktu. Juga bagaimanakah petualangan cinta Jez, panggilan Jehezkiel yang ditugaskan untuk berperang di Aceh. Apakah ia sanggup menepati janjinya pada Tumirah serta anaknya bahwa ia pasti akan kembali menemui belahan hatinya yang terpisah oleh samudera di ujung barat Nusantara sana. Tak kalah menarik untuk disimak, yaitu peran protagonis dari rekan-rekan yang mendukung usaha Jez dalam mendapatkan cinta sejatinya.

Satu per satu latar yang ditampilkan oleh Remy Sylado merupakan linimasa historis yang apik serta patut untuk disimak. Kosakata Nusantara banyak ditampilkan di novel ini yang menunjukkan kekuatan bahasa dari Sabang sampai Merauke yang jadi ciri khas Remy selama ini. Tak salah kiranya Penerbit Buku Kompas dipercaya sebagai penerbit buku ini yang memang berkelas tak sekedar ecek-ecek. Selamat membaca.



Thursday, May 29, 2014

Hidup ala Copy Paste



Pernah gak sih kalian mikirin hidup? Rasanya pertanyaan itu gak perlu dijawab panjang lebar, jawabannya iya. Nah terus hidup seperti apa yang kalian pikirin? Kalau ini sepertinya gak perlu dipikirin, nanti pusing sendiri. Sebenarnya gak usah dipikirin juga kalimat-kalimat tadi, soalnya  cuma untuk pembuka cerita saja kok. Biar gak seperti judulnya yang copy paste doang, paling gak lebih menarik lah; walau sedikit, dan maksa.
---------






Alkisah saya pernah mikirin soal hidup bersama rekan saya satu kontrakan. Di tengah keheningan tengah malam tiba-tiba dia bilang begini: 

| Bro, enak ya kita ini hidup, setiap hari gini-gini aja. Makan, minum, eek, tidur, bangun tidur, ibadah, terus gitu lagi berulang-ulang. Enak banget deh pokoknya hidup kita ini, nikmat mana lagi yang kamu dustakan. Bosan juga tapi mau gimana lagi, nasib orang miskin di dunia. Tapi paling gak kita udah berusaha bro, ada keuntungannya kita hidup model copy paste bin plagiat gini setiap hari.
| Enaknya apa bro?
| Ya paling gak kan kita ikut meringankan tugas malaikat pencatat amal perbuatan manusia. Jadi ketika si malaikat datang ingin mencatat dia bergumam: “Ini manusia berdua; si John Koplo dan si Faung Joe Manning; sama saja setiap hari kegiatannya hidup di dunia, tak ada perubahan sama sekali. Hidupnya cuma menjiplak itu ke itu saja. Tidak kreatif. Tapi tetap saya akan mencatat amal perbuatan kedua manusia ini karena itu memang kewajiban saya sebagai malaikat pencatat”. Kan jadi enak tugasnya si malaikat cuma tinggal ctrl c + ctrl v alias copy paste aja. Hahaha.
| Hahaha. Bener itu bro, bener banget.
| Tapi kira-kira malaikat itu bosan gak ya dengan kita? Kayaknya hidup kita ini gak ada artinya buat dunia. Hahaha
| Ya paling gak kita udah mengukir sejarah, bro. Jadi manusia yang ikut bikin sesak dunia. Hahaha.
-----



Hidup terkadang membosankan, kalau kita tidak bisa memaknai hidup itu sendiri. Betapa banyak manusia yang bosan hidup, ujung-ujungnya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak baik yaitu bunuh diri. Alangkah bodohnya manusia semacam ini. Apa dia tidak ingat ketika dahulu kala sejarah penciptaan manusia yang dijelaskan di dalam Quran, dari mulai segumpal darah yang menjadi segumpal daging untuk kemudian berkembang hingga memiliki tulang belulang dan hingga akhirnya berupa manusia yang diciptakan dalam sebaik-baik rupa? 


Sadar atau tidak sejatinya kita hidup di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan semata. Mengapa begitu? Bayangkan, dari jutaan sel sperma yang ada ketika membuahi sel telur hingga berupa janin, secara teori hanya sel sperma yang kuat lah yang sanggup menembus dinding sel telur yang memiliki proteksi terhadap gangguan asing untuk masuk dan bersama-sama membentuk koalisi dalam membendung serangan luar setelah terjadinya proses pembuahan sel. Bayangkan pula, setelah proses pembuahan terjadi maka sel sperma, sebut saja “yang menang” hanya satu saja, selebihnya sebutlah “yang kalah” maka akan tidak bertahan lama alias mati. Lantas artinya apa? Jelas lah bahwa manusia yang hidup serta akhirnya mampu merasakan oksigen dunia tentunya manusia pilihan yang telah melewati serangkaian proses biologis, kimiawi, dan fisika. Untuk menjadi seorang manusia saja butuh proses panjang, tidak instan seperti membuat teh celup. Dari sekian juta lebih probabilitas peluang untung menjadi manusia, maka hanya satu yang berhak dan layak jadi juaranya dan hal demikian bukanlah rekayasa kebetulan semata melainkan melalui hitungan matematis ilahi.

Dan kalian tahu siapa juaranya itu? Juaranya sedang membaca tulisan ini. Percayalah.

Wednesday, May 28, 2014

Ustadz Mubarak Bamualim, Seorang Alim Nan Halim



Banyak yang bilang kalau ustadz Mubarak Bamualim itu sosok yang angker. Kalau kata ustadz Chusnul Yaqin beliau itu “macannya sunnah”. Beliau memang dikenal “angker” oleh murid-muridnya, bahkan rekan saya yang bernama Fatkhun Mubin sampai-sampai bilang kalau beliau itu seperti punya julukan “ustadz kuburan”, mengapa? Ya karena setiap beliau masuk kelas untuk mengajar pastilah semua yang di kelas hening seperti di kuburan; begitu ibaratnya. Ada lagi rekan saya yang bernama Abdurrahman Yongki juga mengiyakan hal serupa, beliau diibaratkan “ustadz maqabir” semakna dengan ustadz kuburan tadi. Jangan harap kita bisa curi-curi waktu untuk sejenak tidur di dalam kelas, beliau seakan punya radar untuk mendeteksi hal tersebut. Beberapa kali saya jumpai rekan saya yang mengantuk tak ayal kena semprotan beliau. Ternyata tidak untuk saya. Saya orang yang pernah menyaksikan kelemahlembutan beliau, di samping keangkeran tersebut di awal.

 Hal yang saya ingat dari ustadz Mubarak yaitu beliau menulis dengan tangan kiri. Waktu itu beliau mengajar mata kuliah menulis Arab [khat], dengan cekatan tangan beliau menggoreskan kapur di papan tulis dari kanan ke kiri. Saya pernah merasakan hal yang tidak menyenangkan kala ditegur oleh beliau. Memang saya akui kesalahan saya sendiri ketika itu.

 Kisahnya ketika saya pulang ke Jakarta lebih dari seminggu masa aktif belajar di Ma’had Ali Al Irsyad Surabaya. Ada urusan yang penting ketika itu dimana saya harus mengurus tetek bengek segala keperluan yang berhubungan dengan SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru] yang ketika itu saya diterima di Universitas Indonesia. Alhasil waktu saya di Jakarta harus molor sekitar seminggu untuk mengurus ini itunya. Ketika saya kembali ke Surabaya, saya shalat jamaah di masjid ma’had. Saya sedang mengambil air wudhu dan persis di sebelah saya ada beliau yang sempat berpapasan mata dengan saya. Entah perasaan apa yang berkecamuk di hati saya waktu itu antara ingin menyapa beliau dengan salam, namun lidah saya malahan kelu dan tidak sedikitpun mengeluarkan huruf. Sungguh ketika itu saya malu dan saya menyesali kebodohan saya sendiri. Sampai selang beberapa hari ketika beliau mengajar saya dalam salah satu mata kuliah di situlah saya ditegur; lebih tepatnya dinasehati. Beliau bilang tidak hanya khusus untuk saya tapi bagi siapa saja yang bertemu dengan ustadz di ma’had atau di manapun berada hendaknya bertegur sapa dengan salam, karena yang demikian merupakan ciri-ciri akhlak muslim yang baik. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu; bermakna keselamatan, rahmat, dan berkah Allah semoga padamu. Sungguh sebuah kata singkat namun padat makna. Begitulah beliau mengajari saya, muridnya yang tak kunjung pandai hingga kini. Sampai detik ini saya masih ingat rekaman hal itu yang menjadikan saya tergugah untuk selalu mencontoh akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebaik-baik suri teladan manusia.

Ada satu hari yang paling saya kenang hingga kini, dimana saya berpamitan dengan ustadz Mubarak. Kala itu ba’da ashar selepas saya dan beliau yang menjadi imam, baru saja menunaikan kewajiban shalat berjamaah di masjid ma’had. Sempat ada dilema yang berkecamuk di hati saya tentang apa yang saya ingin ungkapkan ke beliau. Artinya dengan bahasa apa saya mengutarakan keinginan saya berpamitan kepada beliau. Jujur waktu itu berat rasanya bagi lidah saya untuk berpisah dengan beliau. Namun apa daya takdir jualah yang berbicara. Singkatnya saya beranikan diri untuk menegur beliau:
| Assalamu’alaikum ya ustadz
|Wa’alaikumsalam ya Junaidi. Apa kabarnya? Gimana, gimana?....
Tanpa diduga beliau menjabat tangan saya dan memeluk saya hangat ibarat ayah yang telah lama tidak bertemu dengan anaknya. Subhanallah. Saya gemetar ketika itu, bukan karena takut namun saya merasakan getaran cinta dari beliau yang penuh rahim. Saya lanjutkan:
| Anu ustadz, begini, saya mau pamit. Mau pulang.
|Loh.. loh.. mau kemana? Kenapa? Heh cerita ya. Kalau mau kerja di sini ya ndak apa-apa nanti saya bilang ke yayasan. Biar kamu dapat beasiswa di sini.
| Bukan. Bukan soal itu ustadz, ada uzur lain jadi saya harus pamit.
|………….

Sempat jeda.
Saya tidak kuasa menahan emosi yang bergejolak ketika itu. Ustadz Mubarak memang luar biasa, beliau paham situasi kala itu. Langsung saja tanpa basa basi beliau mengajak saya sowan ke rumahnya yang berada tak jauh dari masjid ma’had.

Sesampainya saya di depan rumah beliau, saya menunggu di luar, beliau masuk. Tak lama kemudian beliau memanggil dari dalam:
|Hei, ayo masuk. Ngapain di situ? Sini.
|Labbaik [saya datang] ya ustadz. *seraya masuk rumah beliau*.
|Sini duduk. Mau minum apa, hah? Air putih campur madu mau? Enak itu. Mumpung saya lagi baik ini *canda beliau seraya tersenyum*
|Apa aja ustadz asal gak ngerepotkan.
Kemudian beliau menyuguhkan air dingin dicampur dengan madu asli. Beliau menyuruh saya agar segera meminum air tersebut. Setelah saya jelaskan maksud pamitan saya maka beliau dengan bijaksana memahami masalah saya dan mengijinkan saya untuk pulang menempuh cita-cita. Tak lupa beliau berpesan agar saya selalu menjaga agama Islam yang mulia ini dengan cara selalu belajar dan bertanya kepada ahli ilmu di tempat saya berada. Beliau pun ucapkan salam kepada kedua orangtua saya. Sungguh di kala itu rasanya saya ingin menangis tapi hanya sedikit airmata yang keluar untuk menutupi malu bertemu orang seperti beliau yang saya kagumi.

Luar biasa. Saya tidak menyangka di balik sosok beliau yang garang ternyata beliau memiliki akhlak yang mulia. Sungguh saya beruntung sempat menjadi murid beliau, diajarkan langsung akhlak nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam sopan santun guru dan murid. Beliau adalah sosok alim [berilmu] yang juga halim [lemah lembut]. Terimakasih wahai ustadz Mubarak, semoga Allah membalas kebaikanmu dan menjadikan ilmu dan amalmu bercahaya menerangi semua.

Ada pesan yang saya ingat dari beliau kala mengajar: “ijtahidu ya akhi” [bersungguh-sungguh wahai saudaraku], antum [kalian] datang dari jauh ke sini jangan main-main ya.




"Muhammad is the Messenger of Allah; and those with him are forceful against the disbelievers, merciful among themselves. You see them bowing and prostrating [in prayer], seeking bounty from Allah and [His] pleasure. Their mark is on their faces from the trace of prostration. That is their description in the Torah. And their description in the Gospel is as a plant which produces its offshoots and strengthens them so they grow firm and stand upon their stalks, delighting the sowers - so that Allah may enrage by them the disbelievers. Allah has promised those who believe and do righteous deeds among them forgiveness and a great reward." [48:29]