II
Wahai wanita apa
kalian tahu bagaimana cara lelaki menangis? Padahal tak ada wartawan khusus
yang meliput tangis lelaki untuk bahan headline berita. Atau penelitian ilmiah
berupa skripsi, tesis, dan disertasi yang membahas tangis lelaki. Sudah banyak
kajian ilmiah di bangku seminar, kuliah, sarasehan, yang membahas wanita dan
tetekbengeknya. Sebut saja feminisme dan turunan ini itunya. Konon katanya,
bagi wanita perihal menangis adalah senjata. Senjata untuk mengalahkan hati
lelaki. Senjata pamungkas untuk menghabisi seluruh ego yang ada dalam diri
lelaki. Senjata yang mewakili simbol yoni yang betina.
Tangis wanita itu
multi tafsir. Tak ada kitab satu pun di dunia yang mampu menerjemahkannya. Ibarat
sang supir bajaj yang belok yang tahu kemana dia belok. Begitu kira-kira
gambaran betapa sulitnya mencari arti tangisan wanita. Bahkan penemuan mutakhir
abad ini bernama Google pun tidak mampu mengejawantahkan arti tangisan wanita. Karena
Google bukan wanita, dia juga bukan lelaki. Nirkelamin.
Aku pernah
menjumpai wanita menangis. Dia bukan sembarang wanita, dia ini wanita yang aku
cinta dengan segenap lahir batin. Ya katakanlah dia ini kekasih yang pengasih.
Soalnya aku tak setuju dengan istilah pacar. Pacar itu istilah ambigu. Punya banyak
arti di KBBI. Atau kalau mungkin lebih kena dengan istilah garwa, sigaraning
nyawa. Istilah Jawa yang tidak ada padannya di bahasa lain. Dia menangis. Si
cantik nan ganjen, aku menyebutnya, menangis.
Kalian tahu apa
yang aku lakukan? Pasti jawabannya tidak tahu. Makanya aku kasih tahu biar tahu
dan bukan tahi. Jawabannya sederhana.
Aku hanya diam. Biarkan saja dia menangis senangis-nangisnya. Karena sudah aku
tulis di paragraf awal, kalau tangis wanita itu tidak bisa diterjemahkan oleh
bahasa manapun di muka bumi. Aku ingin agar dia makan tangisnya sampai habis,
dan tidak mubazir menyisakan tangis yang tak kunjung usai.
Percuma bicara
apalagi diskusi dengan wanita yang sedang menangis. Itu sama seperti kamu
menasehati orang yang sedang jatuh cinta dan orang yang sedang mabuk sekaligus teler
akibat minuman keras yang kalau kata Bang Rhoma Irama namanya Mirasantika.
Kalau aku boleh memerintah ketika itu, pastilah aku buat kalimat: “Hai wanita,
habiskan tangismu. Sesungguhnya pencipta tangismu itu tidak suka hal yang
mubazir. Habiskan tangismu. Tangiskanlah tangis”.
No comments:
Post a Comment