Begitu kata syair lagu nasional berjudul Ibu Kita Kartini yang nyatanya dan sebenarnya tak lebih dari lagu plagiat dari lagu daerah Minahasa berjudul O Ina Ni Keke. Kartini yang bergelar ibu kita ini dikenal berkat surat-suratnya kepada pemerintah Hindia Belanda pada jaman penjajahan. Tentu yang paling populer berjudul "Door Duisternis Tot Licht" yang diterjemahkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang". Saya yakin banyak orang yang tidak kenal siapa Kartini, karena saya sendiri pun tidak. Di jaman ini di kala emansipasi teramat dijunjung tinggi, sudah banyak sosok wanita yang telah menjadi anu menjadi itu, ya istilahnya jadi 'orang' lah; begitu kata orang-orang. Kartini konon telah 'menjelma' jadi sosok yang multitasking alias serbabisa mengurus tetek bengek kehidupan ini; tentunya tanpa mengesampingkan aspek privat feminis yang senang bersolek dan narsis, ya sah sah saja sih.
Lantas apa bedanya Kartini dengan Ngatini?
Halah.
Ngatini. Siapa sih yang kenal? Ngatini merupakan sosok yang diciptakan oleh komedian Tukul Arwana ketika meledek Vega Darwanti yang konon katanya ndeso banget ketika awal mula datang ke Jakarta. Namun karena sosok Ngatini yang mau belajar, banyak bertanya, hingga menjadikan dirinya semakin menyaingi eh lebih tepatnya menyerempet Kartini. Lha wong namanya mirip sedikit kok. Hahaha. Sosok Ngatini yang melekat pada diri Vega Darwanti ini menjadikan namanya populer di dunia industri pertelevisian tanah air. Jadi boleh dibilang kalau ibu kita Kartini itu ya namanya Kartini saja tanpa punya nama alias; nah kalau si Vega Darwanti ini punya nama samaran Ngatini yang pada awal kemunculannya disandingkan dengan sejawatnya, Ngatiyem; namun tidak ngetop seperti dia.
Ya memang sih Kartini punya lagu yang diciptakan walau plagiat; namun Ngatini tak perlu lagu untuk dikenal. Sudah banyak wanita yang menjadi Kartini ataupun Ngatini di jaman ini. Tapi sedikit sekali wanita yang menjadi semacam Ibu Sud, kalau kata teman saya yang bernama Shubhi; atau sedikit sekali wanita yang ingin menjadi Bu Kasur yang istrinya Pak Kasur. Masih terngiang lirik lagu berjudul Dongeng yang dipopulerkan grup band Wayang:
"Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar ku terlelap"
Setelah bait ini terdengar suara Bu Kasur bercerita tentang dongeng kancil yang legendaris:
"Hore, hidup kancil, hidup kancil! Kancil binatang yang cerdik. Seru mereka yang baru saja terbebas dari ancaman harimau. Terimakasih kancil."
Bu Kasur. Wanita yang bernama asli Sandiah; mendapat julukan Bu Kasur karena ikut panggilan sang suami yaitu Pak Kasur yang bernama asli Suryono yang disingkat Kak Sur. Jadilah Bu Kasur dan Pak Kasur.
Saya merindukan masa-masa dimana seorang ibu mendongengkan kepada anaknya cerita sebelum tidur. Bu Kasur tidak perlu bergelar ibu kita untuk mengajarkan nilai kebaikan kepada anak kecil. Seorang wanita yang mendidik generasi penerus bangsa ini menjadi lebih baik, bukan Kartini yang telah bergelar ibu kita.

No comments:
Post a Comment