Entah ini kali ke berapa aku menulis diary; yang ketika aku masih duduk di bangku SMP aku mengeja diary dengan diare; yang konon padan dengan kata mencret di KBBI. Aku pernah punya buku diary sebagai bukti anak yang hidup di jaman 90an. Isinya? Mirip formulir cuma minus pas foto dan materai 6 ribu saja. Buku diary-ku waktu itu gak pakai gembok; karena aku tahu buat apa juga digembok kalau ujungnya bakal dibuka kembali, bikin repot saja. Oh iya aku pernah punya memorabilia unik jaman SMP; namanya buku ‘asal coret’. Norak sih tapi kenangan di dalamnya luar biasa; karena muatan sejarah yang menulisnya itu teman-teman saya sendiri. Tolol memang namun itulah narsis ala anak yang hidup di jaman itu; jaman dimana pengguna internet masih bisa dihitung dengan jari. Walaupun begitu, buku asal coret ini sampai dibikin jilid 3. Mencengangkan. Terhitung hal ini dikarenakan rekues dari teman-teman saya sendiri untuk melanjutkan buku ini sampai sejauh mana kuatnya; dan walhasil sampai tiga seri. Luar biasa. Tepuk tangan.
Aku kangen. Aku kangen kenangan kita; mungkin naïf terdengarnya. Nggilani. Menjijikkan. Sudah 4 hari aku hanya terbaring di kamar, tak bisa melakukan sesuatu dengan normal; alias butuh seseorang untuk membantu kegiatan sehari-hari. Aku tahu kamu sibuk. Ya apalah dengan segala tetek bengek aktifitasmu. Jujur sih aku gak butuh ini itu dari kamu; aku cuma butuh kabarmu dalam format teks pesan singkat. Sederhana. Apa susahnya sih kirim pesan? Gak tau lah. Aku makin gak paham dirimu, apalagi diriku sendiri aku makin njeleh. Sebenarnya malas buatku untuk kasih kabar ke kamu; ngapain juga. Seakan ada dan tiadanya kamu itu gak ngaruh juga di sakitku ini.
Aku teriak-teriak gak jelas juntrungannya karena toh gak ada juga orang yang mendengar teriakanku. Aku tahu kalau aku gak tahu apa yang mesti aku lakukan. Rasanya aku ingin keluarkan roh dari dalam jasad terus aku gentayangi kamu. Biar kamu mampus; gitu bahasa sastranya Chairil Anwar. Sudahlah aku akhiri saja curhatku; bukan suratku. Karena konon kata ‘surat’ sudah gak payu lagi ketimbang kata ‘curhat’ untuk mewakili emosi anak gaul masa kini padahal artinya cuma kepanjangan dari kata curahan hati. Sudahlah. Aku capek. Intinya andai kamu ada di hadapanku sekarang, aku cuma mau lakukan satu hal untukmu: gampar pipi kamu bolak-balik.
No comments:
Post a Comment