Friday, December 6, 2013

Sexulerisme

Sexulerisme.
Seks dan sekuler yang berisme. Tampaknya jadi jualan manis di negeri ini. Entah berapa kali dengan berapa tokohnya dua ajaran yang berbasis bebas sebablas-bablasnya ini mencoba memasuki semua sendi kehidupan. Seakan manusia itu bebas tanpa ikatan apapun untuk hidup. Kedunguan macam apa yang merasuki otak bahkan celakanya hati nurani anak manusia untuk menganut paham yang demikian ekstrim namun kacau balau tak berperi.

Alih-alih paham demikian digaungkan oleh tokoh yang katanya akademis, terdidik, terpelajar, bahkan disebut cendekia. Sungguh ironis kalau suatu paham yang katanya mentereng harus berujung pada hawa nafsu yang berpangkal pada selangkangan semata, dengan mengabaikan akal yang berpangkal pada otak dan nurani yang berpangkal pada hati. Ya, silakan saja acuhkan agama biar sekalian binasa. Toh Tuhan juga tidak ada bagi yang sok idealis pada akal yang cuma seberat gumpalan daging yang tak sampai 2 kilogram. Sungguh naif bagi kisah Firaun yang menantang Musa seraya berkata "akulah Tuhanmu yang Maha Tinggi", telah banyak Firaun-Firaun di jaman yang katanya serba canggih ini sehingga manusia bebas menaruh akalnya di pantat dan menaruh pantatnya di akal.

Cukuplah sabda manusia terbaik di muka bumi shallallahu alaihi wasallam:

 "Jika kau tidak malu, maka berbuatlah sesuka hatimu"  

Al-Bukhâri (no. 3483, 3484, 6120), Ahmad (IV/121, 122, V/273), Abû Dâwud (no. 4797), Ibnu Mâjah (no. 4183), ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmul Ausath (no. 2332), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (IV/411, VIII/129), al-Baihaqi (X/192), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 3597), ath-Thayâlisi (no. 655), dan Ibnu Hibbân (no. 606-at-Ta’lîqâtul Hisân).

No comments:

Post a Comment