Jurgen
Habermas pernah mengemukakan teori mengenai bahasa merupakan suatu
kekuatan tersendiri bagi kekuasaan. Hal ini terbukti dalam dunia politik
Indonesia. Bahasa seakan selalu digunakan sebagai alat untuk memperoleh
kekuasaan. Tak pelak lagi cendekiawan ahli suatu bidang ilmu
pengetahuan sebagai juru netral dari sebuah gerbong demokrasi negeri
terkena pula imbasnya. Istilah menyanyi tampaknya mulai naik daun
setelah berbagai kasus korupsi menerpa negeri ini. Kata nyanyi yang
mendapat imbuhan me- ini mengalami destruksi makna eufimisme menjadi
kegiatan berdusta melalui kekuatan kata-kata. Seakan seperti sebuah
pertunjukan teater, istilah menyanyi jadi primadona dikala seorang
tersangka korupsi dalam pleidoi pengakuan hukumnya berkelit serta
mengajukan sebuah premis baru mengenai keadaan yang sebenarnya. Realitas
dibalik menggunakan bahasa dengan apik nan luwes. Nama buah-buahan pun
tak luput dari permainan politisasi bahasa. Buah apel yang dikenal
sebagai buah antioksidan yang digunakan salah satu perusahaan elektronik
terkemuka di Amerika juga menjadi sorotan. Di kala kasus korupsi
Angelina Sondakh dalam kaitannya dengan penggelapan dana Wisma Atlet
Century oleh Nazaruddin menjadi contoh yang pas. Istilah apel Malang dan
apel Washington sungguh jadi suatu yang masyhur. Seperti diketahui
penisbatan Malang dan Washington merujuk pada nama kota di Indonesia dan
Amerika Serikat. Korupsi tampaknya menjadi tren baru negeri ini. Namun
istilah korupsi pun mengalami politisasi bahasa menjadi kebocoran dana.
Suatu eufimisme dari sebuah kebobrokan mental yang terbudayakan dalam
kehidupan berpolitik. Aneh memang jika mengamati lenggak-lenggok
perilaku koruptor yang selalu diekspos bagaimana mereka berfoya-foya
menikmati lezatnya dunia, namun tidak disorot apa sesungguhnya perilaku
korupsi yang tercela itu sendiri. Menjadikan orang lain di luar sana iri
dan suatu saat mungkin ingin berkorupsi juga menikmati kekayaan yang
sejatinya bukan hak milik melainkan milik orang lain. Apa anda rela jika
istri anda tinggal serumah dengan orang lain yang tidak anda kenal
bahkan untuk konsumsi jamaah?
No comments:
Post a Comment