Friday, November 15, 2013

Politisasi Istilah dalam Ranah Ilmu Komunikasi


Jurgen Habermas pernah mengemukakan teori mengenai bahasa merupakan suatu kekuatan tersendiri bagi kekuasaan. Hal ini terbukti dalam dunia politik Indonesia. Bahasa seakan selalu digunakan sebagai alat untuk memperoleh kekuasaan. Tak pelak lagi cendekiawan ahli suatu bidang ilmu pengetahuan sebagai juru netral dari sebuah gerbong demokrasi negeri terkena pula imbasnya. Istilah menyanyi tampaknya mulai naik daun setelah berbagai kasus korupsi menerpa negeri ini. Kata nyanyi yang mendapat imbuhan me- ini mengalami destruksi makna eufimisme menjadi kegiatan berdusta melalui kekuatan kata-kata. Seakan seperti sebuah pertunjukan teater, istilah menyanyi jadi primadona dikala seorang tersangka korupsi dalam pleidoi pengakuan hukumnya berkelit serta mengajukan sebuah premis baru mengenai keadaan yang sebenarnya. Realitas dibalik menggunakan bahasa dengan apik nan luwes. Nama buah-buahan pun tak luput dari permainan politisasi bahasa. Buah apel yang dikenal sebagai buah antioksidan yang digunakan salah satu perusahaan elektronik terkemuka di Amerika juga menjadi sorotan. Di kala kasus korupsi Angelina Sondakh dalam kaitannya dengan penggelapan dana Wisma Atlet Century oleh Nazaruddin menjadi contoh yang pas. Istilah apel Malang dan apel Washington sungguh jadi suatu yang masyhur. Seperti diketahui penisbatan Malang dan Washington merujuk pada nama kota di Indonesia dan Amerika Serikat. Korupsi tampaknya menjadi tren baru negeri ini. Namun istilah korupsi pun mengalami politisasi bahasa menjadi kebocoran dana. Suatu eufimisme dari sebuah kebobrokan mental yang terbudayakan dalam kehidupan berpolitik. Aneh memang jika mengamati lenggak-lenggok perilaku koruptor yang selalu diekspos bagaimana mereka berfoya-foya menikmati lezatnya dunia, namun tidak disorot apa sesungguhnya perilaku korupsi yang tercela itu sendiri. Menjadikan orang lain di luar sana iri dan suatu saat mungkin ingin berkorupsi juga menikmati kekayaan yang sejatinya bukan hak milik melainkan milik orang lain. Apa anda rela jika istri anda tinggal serumah dengan orang lain yang tidak anda kenal bahkan untuk konsumsi jamaah?

No comments:

Post a Comment