Thursday, December 24, 2020

Nasi Goreng Buatan Istri

Nasi Goreng Buatan Istri

oleh RM Kencrotnikmatjivva

Nasi goreng itu masakan yang antah berantah dari mana asalnya. Saya tidak terlalu percaya kalau kuliner yang satu ini berasal dari Indonesia. Konon katanya nasi goreng berasal dari Cina. Siapa juga penemunya? Saya pesimis ada yang bisa bantu jawab. Namun fakta di jaman milenial ini orang Cina jarang yang makan nasi goreng yang tingkat kepopulerannya kalah dengan mie. Terserah mau dimasak dengan cara apa, digoreng atau direbus. Beda halnya dengan nasi. 

Nasi tidak cocok dimasak dengan teknik aneh-aneh. Dia hanya bisa cocok dengan teknik sederhana, misalnya digoreng. Oleh karena itu tidak ada istilah nasi rebus. Minimal ada istilah nasi aking, nasi basi, nasi kemarin dan lain sebagainya yang memiliki makna negatif. Kalau mengutip Remy Sylado dalam puisinya berjudul Ciri-ciri Orang Indonesia , kata nasi, beras, dan turunannya itu menjadi unik ketika hadir di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan gastronomi. Padahal jika merujuk ke akar kata, hanya ada entri kata oryza sativa dalam bahasa Latin. Namun kita mengenal istilah gabah untuk calon padi, beras untuk padi yang sudah terkumpul, nasi atau sega (bahasa Jawa) untuk beras yang sudah dimasak. Sawah, ladang, padi, beras, nasi cuma jadi kata rice dalam bahasa Inggris (Remy Sylado dalam Puisi Mbeling: 2004)

Alih-alih.

Nasi goreng yang saya cinta di dunia ini ada beberapa, di antaranya nasi goreng buatan ibu saya dan nasi goreng buatan istri saya. Terdengar sekilas sangat amat receh. Nasi goreng buatan ibu dan nasi goreng buatan istri. Namun ada sejuta makna di baliknya. Bukan maksud saya untuk rasis dengan hanya menyebut perempuan setelah kata nasi goreng, namun memang begitulah fakta dan apa adanya. Tidak ada istilah nasi goreng ayah. Karena ayah tidak hobi memasak nasi goreng walau kenyataannya tukang nasi goreng biasanya laki-laki. Hobi ayah biasanya memakan nasi goreng. Ada pesan rahasia di balik nasi goreng buatan ibu dan nasi goreng buatan istri. Pesan cinta ibu untuk suami dan anaknya, serta pesan istri untuk suaminya. Mungkin kalau pesan yang kedua ini agak sederhana namun kompleks, multitafsir. Bisa jadi bermakna, mas, kamu jangan jajan sembarangan atau jangan kebanyakan jajan di luar.

Paragraf di atas sejatinya menunjukkan aroma feminisme dan maskulinisme dalam hal masakan. Coba bayangkan nasi goreng yang berasal dari masakan rumahan diolah oleh perempuan ketika dia keluar rumah dijual oleh penjaja makanan atau tukang nasi goreng berubah alih kode dan makna menjadi maskulin. Semua itu terjadi tanpa rekayasa. 

Beberapa pakar kesehatan jaman milenial buka suara soal gizi dalam sepiring nasi goreng, ada yang pro dan kontra. Mungkin versi ekstremnya bilang nasi goreng itu buruk bagi tubuh dengan membawakan segudang dalil dan dalih. Buat saya itu alih-alih karena ini urusan selera yang tidak perlu diperdebatkan seperti debat pilkada. Saya tidak terlalu peduli pada pendapat semacam itu, intinya sesuatu yang dikreasikan secara dalam takaran berimbang tidak kurang tidak lebih akan baik bagi tubuh. Apapun itu.

Nasi goreng buatan istri punya nilai spiritual tinggi, dibuat menggunakan bahan alami bersih berkah berdasarkan doa yang diniatkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diejawantahkan lewat perilaku memasak nasi goreng. Seluruh energi positif yang terlaksana dalam wujud sepiring nasi goreng buatan istri menjadi sebuah simbol sekaligus bukti cinta yang bukan cinta gombal apalagi gembel. Seakan nasi goreng buatan istri itu seperti mampu berbicara mewakili lisan istri sebagai sang juru masak sekaligus juru selamat membuat perut jadi selamat dari rasa lapar. Sebagai simbol, nasi goreng buatan istri itu unik karena menggunakan bahan ala kadarnya namun merepresentasikan citarasa kekuatan kuliner semaksimal mungkin, mirip prinsip ekonomi yang diajarkan di bangku sekolah. Sebagai bukti, nasi goreng buatan istri itu menarik karena hadir dengan tata letak (plating) berwarna-warni yang menggugah selera. 

Lantas saya bertanya-tanya apa pesan moral hikmah dari si nasi goreng buatan istri ini sedari awal panjang lebar cerita ini dan itu. Saya menemukan pencerahan bahwa jangan sepelekan cinta meski hanya tersaji dalam sepiring nasi goreng buatan istri. Tabik.


Tuesday, October 6, 2020

Dr. Singkop Boas Boang Manalu: Sebuah Memoar Dosen Tercinta

Perawakannya yang keras, tanpa basa-basi, sehingga kadang dicap killer oleh mahasiswa Sastra Rusia Universitas Indonesia. Begitulah Pak Boas yang saya kenal, apa adanya. Awalnya stigma negatif itu membekas di benak saya, namun lama-kelamaan saya sadar kalau saya yang salah. Pak Boas yang berlatarbelakang etnis Batak memang sering sinis dengan etnis lain terutama Jawa. Namun pada akhirnya saya paham begitulah memang cara beliau membangun narasi dan analogi, sama halnya ketika beliau memberikan perspektif ala Rusia dan Indonesia melalui pendekatan politik, ideologi, hukum, dan ekonomi.

Entahlah mungkin sensivitas Pak Boas dengan etnis Jawa kabarnya berkaitan dengan kisah cintanya yang tidak kesampaian dengan sang profesor jurusan Sastra Rusia Universitas Indonesia, yang hingga kini masih menjadi misteri. Namun ada satu hal yang masih saya ingat soal beliau, ketika itu beliau sering minum obat karena sakit-sakitan. Bahkan beliau pernah pingsan di kelas dan digotong oleh mahasiswa. Sebuah dedikasi yang luar biasa bagi saya yang sangat berkesan dari Pak Boas. Bahkan dosen saya juga Pak Dr. Fadli Zon yang kini aktf di pemerintahan pernah berkisah soal Pak Boas baginya adalah dosen yang paling berkesan

Ada juga kenangan ketika saya diam-diam merekam Pak Boas ketika mengajar di kelas. Footage itu saya unggah di akun YouTube sebagai memoar terbaik yang pernah saya miliki. Ternyata unggahan itu direspon oleh salah seorang murid Pak Boas:

Dr. Singkop Boas Boang Manalu - In Memoriam

“Saya Drs. Muhammad Resky, MSi, mantan dosen FISIP Universitas Nasional adalah satu2nya asisten Pak Boas di UNAS. Beliaulah yang mengajari saya mengenai Sosialisme, Marxisme dan Komunisme secara mendalam sehingga saya dapat mengajar Sistem Politik Sosialis Komunis, Sistem Politik Indocina dan Birma, Pemikiran Politik Negara-Negara Baru di FISIP UNAS. dari tahun 1987 s/d 1996. Saya diberhentikan dari UNAS tahun 1998 karena saya masih aktif bekerja di PT AP II. Atas jasa-jasa beliau saya mengucapkan terima kasih yang sedalam2nya kepada beliau dan semoga beliau REST IN PEACE disana.

Alkisah suatu hari saya pernah tidak mengerjakan tugas yang diberikan Pak Boas, yaitu tugas terjemahan sejarah menggunakan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Walhasil Pak Boas ngamuk dan memaki saya. Saya masih ingat kalimatnya:

Saya paling benci dengan orang yang malas macam kau ini.

Lantas beliau sambung kalimatnya itu:

Kau tahu, dulu saya kuliah di Belanda waktu S2 sama sekali nggak paham soal Bahasa Inggris. Tapi saya tidak nyerah gitu aja. Setiap ketemu kata-kata yang tidak saya paham maka saya catat. Kemudian saya cari di dalam kamus. Saya paling benci dengan mahasiswa malas macam kau ini. Saya lebih suka dan menghargai mahasiswa yang bodoh namun dia mau berusaha.

Itulah kalimat-kalimat yang saya simpan hingga sekarang. Kalimat yang mencambuk diri saya bahwa musuh terbesar diri saya adalah diri sendiri. Kesombongan, ego, merasa cepat puas adalah deretan kata yang paling Pak Boas benci. Pesan moral yang pada akhirnya butuh sekian tahun untuk saya temukan. Belum pernah saya temukan dosen seperti Pak Boas dalam totalitasnya menjadi guru dengan karakter gaya meledak-ledak yang nyentrik dan tidak popular bagi mahasiswa malas dan hanya berorientasi pada nilai semata. Saya akhirnya paham bahwa nilai hanyalah konsekuensi logis dari sebuah pemahaman logika bukan tujuan akhir.

Sesungguhnya Pak Boas hanya ingin agar mahasiswanya melampaui beliau. Dosen atau guru adalah masa lalu sedangkan mahasiswa adalah masa depan. Tidak ada kebahagiaan seorang dosen atau guru melainkan muridnya dapat jauh melampaui dirinya. Itulah kebahagiaan dosen atau guru yang paling utama, karena itulah bukti sukses dalam mendidik dan mengajar. Semua orang dapat dengan mudah mengajar, namun tidak semua orang dapat mendidik. Mendidik adalah membentuk sebuah karakter yang melibatkan kemampuan intelejensi emosi (emotional quotient) dan intelejensi akademik (intelligent quotient) secara bersamaan.Hal ini membutuhkan waktu panjang dan tidak dapat diraih dengan proses instan.

Saya selalu berdoa yang terbaik untuk Pak Boas, terimakasih atas jasamu yang luar biasa di diri saya. Engkau mengajarkan bagaimana cara menjadi dosen atau guru sebagai pendidik dan pengajar dengan caramu sendiri, walau banyak orang lain menganggap sebelah mata. Sekarang dirimu telah tutup usia, biarlah warisanmu berupa ilmu agar saya wariskan sebagai amanat ilmiah dari seorang guru besar di hati saya kepada muridnya yang tak kunjung pandai. Tak lupa segenap takzim dan salam hormat saya teruntuk dosen dan guru tercinta, yang saya tulis bersamaan dengan air mata: Dr. Singkop Boas Boang Manalu. Pak Boas, namamu abadi.

[]

Tuesday, September 29, 2020

#Naskah Balada dari Selatan Jakarta

 CAST

Ucup as Ucup

John de Koplo as Pak Tua

 

 

INTRO

Seorang tua paruh baya sedang duduk termenung di trotoar depan Stasiun Bogor. Dia asyik masyuk merokok dengan khusyuk. Tampak jelas air muka kebingungan di wajahnya yang berkerut tanpa sudah tidak muda lagi. Asap rokok mengepul dengan ganas di depan wajahnya sambal sesekali tampak dia menghisap rokok dengan kuat-kuat. Pak Tua sebut saja begitu namanya, tampak menggendong tas ransel dan mengenakan pakaian batik ala kadarnya serta celana panjang lusuh.

 

Kemudian muncul sosok anak muda dari arah pintu keluar Stasiun Bogor, sebut saja namanya Ucup. Dia merupakan pengangguran yang baru saja lulus dari salah satu kampus swasta yang terkenal di Jakarta.

KONFLIK

Ucup menghampiri Pak Tua yang tampak kebingungan. Dia mencoba untuk sekedar berbasa-basi sekaligus mempraktikkan kemampuan berbicara yang dia pelajari dari kampusnya. Basa-basi yang dalam bahasa Inggris disebut dengan ice breaking. Ucup mencoba basa-basi dengan menggunakan dialek Betawi. Ternyata Pak Tua membalas dengan dialek yang sama.

 

UCUP

Beh, numpang tanya. Kalau mau ke Terminal Baranangsiang dari sini naik apa ya?

PAK TUA

Iya dek. Gampang itu mah. Dari sini tinggal naik angkot 05 jurusan Ciheuleut – Pasar Baru via Baranang Siang, nanti tinggal turun di depannya. Alternatif lain bisa naik bis kuning yang dari Kampung Rambutan. Atau kalau mau gak ribet, adek tinggal naik ojek aja. Deket kok.

UCUP

Oh gitu ya Beh. Terimakasih ya Beh.

 

PAK TUA

Iya.

 

Ucup mulai memperluas  pembicaraan dengan bertanya seputar kota Bogor. Dia pikir si Pak Tua ini warga asli Bogor karena mampu menunjukkan kepadanya rute angkutan kota dengan tepat dan cermat.

 

UCUP

Beh, gimana nih dengan kebijakan walikota Bogor yang baru?

 

PAK TUA

Ya gitu ya, A. Namanya orang kecil mah ya gini-gini aja. Kebijakan kurang berpihak pada orang kecil. Hehehe.

 

UCUP

Iya sih, Beh. Ngomong-ngomong Babeh warga asli Bogor atau bagaimana nih?

 

PAK TUA

Saya mah asli Jakarta, Tenabang.

 

UCUP

Lah saya kira si Babeh asli sini. Hehehe. Soalnya kan tadi nunjukin saya dengan fasih rute angkot dimari.

 

PAK TUA

Oh kalau itu soalnya saya abis kecopetan, A. Barusan. Di Terminal Baranangsiang. Makanya bisa paham rute angkot ke sana.

 

UCUP

Astaghfirullah. Ya ampun, Beh. Kenapa gak cerita ke saya dari awal? Kan saya bisa bantu Babeh.

 

PAK TUA

Gak enak lah, A. Saya orangnya malu ngemis-ngemis gitu. Mendingan saya mah duduk merenung aja dimari. Mikirin cara gimana saya bisa balik ke rumah.

 

UCUP

Emang rumah dimana, Beh?

 

PAK TUA

Rumah ane mah di Tenabang. Cuma ini tujuan ane mau ke Depok, ke tempat keponakan.

 

UCUP

Oh gitu Beh. Ongkos ke Depok berapa duit?

 

PAK TUA (mengulang dialog sebelumnya)

Duh, A. Ane malu minta-minta.

 

UCUP

Ga kapa-apa Beh. Anggap aja ane beramal.

 

PAK TUA

Ya 10 rebu cukup lah, A.

 

Ucup langsung membuka dompetnya seraya mengambil dua lembar uang pecahan IDR5000.

 

UCUP

Ini beh, anggap aja sedekah dari hamba Allah.

 

PAK TUA

Ya ampun, A. Terimakasih banyak. Ane gak tau mesti bilang apa ke Aa.

 

UCUP

Doain aja beh, saya mah orang miskin. Biar Allah yang ganti.

 

PAK TUA

Amin.

 

 

 

 

 

ENDING

 

Friday, August 14, 2020

Surat Cinta untuk Amuya

Bismillah.

Kepada Istriku Tercinta,

Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Terimakasih atas seluruh cinta yang kamu berikan untukku. Ternyata aku sadar bahwa aku tidak pernah memilihmu namun takdir semesta yang pilih kamu untuk jadi jodohku. Sejatinya cinta yang pertemukan kita hanyalah recehan cinta dari Sang Maha Cinta pemilik jagad semesta ini yang di dalamnya kita terlalu serius menjalani hidup sehingga lupa bercanda. Maaf jika selama ini hanya ini yang bisa aku berikan untukmu, menjadi al-imam atau lebih tepatnya al-qowam, pemimpin rumah tangga yang banyak khilaf, dosa, dan kekurangan. Doaku tak pernah selesai untukmu, semoga Allah Maha Cinta pertemukan kita kembali di surga Firdaus milik-Nya dengan keluasan rahmat cinta-Nya, berkumpul bersama para nabi, para shiddiq, para syahid, dan orang saleh sebagaimana doa yang selalu kita panjatkan dalam shalat kita, di dalam Surat Al-Fatihah.

Bersama surat ini pula aku ingin nyatakan bahwa aku cinta kamu karena Allah. Tidak ada alasan terbaik untuk manusia yang saling cinta kecuali atas Sang Maha Cinta. Semoga Allah beri naungan di hari tak ada naungan selain naungan-Nya karena kita pernah cinta dan benci karena Allah. Dan akhir surat ini aku ucapkan Alhamdulillah Rabb Al-Alamin, Segala puji bagi Allah Sang Maha Cinta.

Jakarta, Dzulhijjah 1441 H

Salam.

 

Suamimu tercinta,

Abuya


Wednesday, August 12, 2020

(Jika) Kita Ditakdirkan oleh Semesta

Dalam Nama Sang Maha Cinta,

 

Amma bakdu

Entah dari mana aku mulai. Baiklah, aku mulai dari kalimat barusan. Jika kita ditakdirkan oleh semesta, mengutip istilah WS Rendra bahwa pertemuan kita yang namanya telah tertulis di langit. Iya, kita memang lahir dan ditakdirkan untuk saling baku temu dan itu sudah terjadi. Dalam tulisan ini bukan bermaksud untuk cengeng, cuma hanya sekedar refleksi catatan perjalanan hidup anak manusia yang sibuk berputar-putar dalam labirin bernama semesta. Setidaknya, cerita kita bukan rekaan kita, namun rekaan semesta. Banyak orang bisa bicara lewat ujaran namun jarang yang mampu mengekspresikan dengan aksara. Biarkanlah huruf-hurufku menari dalam tulisan ini.

 

Kilas balik sekian masa kita melintas zaman menyintas kenangan-kenangan yang pada akhirnya cuma jadi genangan yang bakalan kering kena sinar matahari. Ternyata kota Tangerang, Jakarta, dan Bandung punya cerita sendiri di memori kita. Kamu bilang masih abege, anak baru gede, alias baru tumbuh bulu jagung. Entah jagung siapa. Namun yang jelas masih jelas teringat pertemuan pertama di Situ Gintung Ciputat, daerah yang konon tak pernah bebas dari makhluk yang bernama macet dan sumpek. Pertemuan berikutnya seingatku di depan Masjid Fathullah Universitas Islam Syarif Hidayatullah atau dalam bahasaku itu UI Negeri. Kamu dengan polosnya ikut bonceng rodadua bersamaku ke rumahmu dimana di situ momen paling bersejarah buatku. Kenapa? Karena kamu buatkan dan suguhkan kopi pertamamu buatku, walau menurutmu tidak enak. Sejatinya kata ngopi itu adalah multitafsir bisa dimaknai banyak hal dari positif bahkan negatif, dan aku mengambil makna positif bahwa kopi itu adalah cinta sebagaimana sloganku laki-laki yang jatuh kopi pada cinta. Dan peristiwa itu aku abadikan di paragraf setelah ini.

 

Ternyata oh ternyata aku pernah menulis bait recehan semacam ini.

 

Untuk Adik Manis: P.A.

 

Kalau kopi rasanya pahit

Aku tahu kamulah penawarnya

Kamu itu manis alamiah tanpa buatan
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa

Kita pernah muda pernah berkuasa

Atas segala nafsu dan cinta

Kita tahu bagaimana caranya mencari tahu

Lewati lembah mendaki menurun

Titipkan kenangan kita pada tiap jengkal aspal

Bersama rodadua yang menderu layaknya semangat kita

 

Kamu tahu bagaimana caranya menjadi adik

Aku tahu bagaimana caranya menjadi kakak

Kita tahu bagaimana caranya menjadi penguasa

Atas segenap sejarah kita

 

Bandung, Tangerang, Jakarta

Adalah deretan nama kota yang pernah singgah di linimasa kita

Kereta kita terus melaju bersama pikiran kita

Yang semakin menua semakin menggila

 

Bersama cinta kita, selamanya 

 

Kiranya bait recehan itu memberi peta navigasi bagaimana kisah kita pernah terbangun tanpa sadar. Pun kalau tidak salah kamu pernah menuliskan hal serupa berupa bait puisi yang tanpa sengaja aku temukan setelah sekian tahun lamanya mengendap di buku harianku. Begini bunyinya:

 

Terimakasih udah mau buang-buang waktu, tenaga, dan bensinmu untuk berkelana bareng aku. Kamu kakak yang super baik! Baik banget sumpah! Makasih ya! Menyenangkan bisa menghabiskan waktu bareng kamu. Semoga seluruh amal baikmu dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Aku menemukan banyak hikmah di balik dua bait yang saling berjibaku tersebut. Kita sama-sama buta padahal kita sama-sama butuh. Klise memang kata ‘kakak’ dalam baitmu. Kamu tahu sendiri, aku orang yang paling malas dengan frase kakakzone. Pun sebaliknya dalam paragrafku, kata adik, yang aku yakin kamu pun benci dengan frase adikzone. Atas nama ego dan kesombongan darah muda ala Rhoma Irama, kita tanggalkan sebuah fakta bahwa kita ada karena sebutlah darah, keringat, dan air mata.

 

Dalam tulisan ini pula ijinkan aku sekedar menuliskan ingatanku sebelum musnah. Pastinya dengan menggunakan kata aku ingat bla bla bla. Aku ingat kamu pernah sengaja menemuiku padahal aku masih di jam kantor yang berada di Pasar Festival Kuningan, pada saat itu kamu dengan mewahnya membuatkan aku masakan spesial ikan tuna salmon beserta sayuran sehat. Aku ingat benar bagaimana kamu harus opname di rumahsakit dan waktu itu aku baru pulang kerja langsung jenguk kamu untuk satu tujuan yang tidak aku pahami. Pacar? Bukan. Istri? Bukan. Selingkuhan? Bukan. Entah apa yang berkecamuk di dalam jiwaku pun jiwamu ketika itu. Aku juga ingat waktu itu kita pernah #RayakanPerbedaan dalam rangka ulang tahun harian Kompas yang ke-50 dengan menonton film Terminator The Raid dan begini dan begitu, semuanya gratis hanya modal bensin dan parkiran di Mal Pondok Indah. Hal yang sampai sekarang buatku kesal adalah kita sama-sama cerita kisah cinta kita masing-masing dengan pasangan kita masing-masing, yang pada akhirnya itu hanya kisah usang. Bandung pun pernah menyisakan kenangan yang entah apa namanya. Kita pernah mencari tahu di pelosok Bandung sampai kita sendiri tidak tahu hakikat tahu yang kita makan ujungnya tetap keluar tahi. Sekian lamanya kamu menetap di Bandung, kamu baru tahu arti kata cengek yang adalah cabe rawit dalam lisan Sunda. Aku juga ingat suatu malam pernah kamu dan kucingmu Si Moya, kucing yang tidak sengaja kamu temukan di warung makan itu, puasa karena kelaparan dan langsung saja tanpa ba bi bu aku belikan kamu dan kucingmu buka puasa. Rasanya, patung Sepatu di perempatan Cibaduyut mungkin jadi saksi betapa gilanya kamu keluyuran malam di Paris van Java. Pasti kamu tak akan lupa waktu aku bilang slogan kampusmu yang Creating The Future itu kan artinya bercinta, dan spontan kamu balas dengan tawa lepas terbahak-bahak. Benar kiranya kalimat Pidi Baiq, dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika rindu. Aku juga ingat betapa kamu cemburunya ketika aku sebut temanmu yang bernama Tamara dan Ajeng kalau tidak salah. Sialnya aku baru paham kata cemburu itu ternyata bermakna serius, dan kamu sangat serius cemburu. Celaka tiga belas.

 

Kita menafsir cinta dengan cara kita sendiri. Entah apa namanya. Namun jelas dan kuat, itu kita rasa tanpa kita pikir. Kekonyolan demi kekonyolan lambat laun membuat kekenyalan hati dan raga kita tanpa disadari. Rasanya jarak bukan lagi halangan untuk berinteraksi. Sebagaimana kalimat Sapardi Djoko Damono yang kita pelajari bersama bahwa yang fana adalah waktu, kita abadi, dan karena aku mencintaimu itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakan keselamatan untukmu. Pun kiranya begitulah aku. Kamu boleh marah atau apapun itu tapi yang jelas kamu tidak akan pernah bisa benci aku karena cinta itu telah menghujam jauh sebelum kata benci ada dalam jarak antara kita.

 

Pada akhirnya kita menyerah oleh semesta yang telah pilih jalan kita masing-masing dengan segudang umpatan caci maki atas diri kita yang alpa. Kita yang sombong pada diri sendiri hingga akhirnya lupa hakikat cinta. Sebutlah cinta versi kita yang tidak perlu diucapkan, padahal sejatinya cinta itu ibarat iman yang mesti diikrarkan dengan hati, dilisankan dengan ucapan dan diejawantahkan oleh perilaku. Kita kembalikan cinta kepada sang pemiliknya, Sang Maha Cinta, untuk itulah kalimat demi kalimatku meluncur dengan indah, karena cinta. Akhirul kalam segala puji Sang Maha Cinta.

 

Jakarta

 

Agustus 2020 

Hamba Sang Maha Cinta 

Tuesday, July 28, 2020

Bajaj Bajuri dan Kekonyolan Kita


Bajaj Bajuri merupakan satu dari segelintir sinetron komedi yang pernah tayang di negara ini dan mendapat tempat di hati pemirsanya. Kekuatan narasi, konflik cerita dan dialog yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari menjadikan sinetron komedi ini menjadi primadona di awal kemunculan stasiun Trans TV di awal medio tahun 2000-an. Tema sentral kehidupan sederhana ala Betawi sehari-hari yang mengambil fokus tukang bajaj berpenghasilan pas-pasan di Jakarta direpresentasikan dengan apik dan unik oleh Bajaj Bajuri. Konflik demi konflik yang ditampilkan serta alur cerita yang menarik dan dialog ringan jenaka sehingga sukses mengambil hati dan emosi pemirsa televisi kala itu. Saya ingat ketika itu makan malam saya selalu nikmat dan kurang lengkap jika tidak sambil menonton Bajaj Bajuri.

Ahmad Bajuri sang tokoh utama merupakan karakter penuh kekuatan yang merepresentasikan seorang laki-laki berperawakan perut buncit yang hidupnya penuh kemujuran, kerja keras, dan tanggungjawab. Awalnya seorang Bajuri bekerja di pabrik sepatu, kemudian seiring waktu berjalan di kemudian hari sang mertua perempuan Emak, jatuh hati karena penampilan Bajuri yang sangat necis jauh dari kesan kumuh dan miskin. Alhasil Bajuri berhasil menikah dengan Oneng, karakter yang sangat polos dan unik melalui perantara Mak Comblang yaitu karakter Yusuf bin Sanusi alias Ucup Anak Pak Uci, tokoh yang selalu mendapat peran sial dan terintimidasi.

Penokohan karakter sinetron komedi Bajaj Bajuri memang menggunakan curah pendapat (brainstorming) yang tinggi. Penokohan ego gaya rantai makanan dalam cerita film komedi selalu menjadikan konflik receh yang dikemas menarik dan memiliki ciri khas tersendiri. Oneng sang istri selalu patuh pada Bajuri sebagai suami. Bajuri selalu diintimidasi oleh sosok Emak, sang mertua yang tidak pernah kenal kata kalah dalam hal apapun yang memiliki egoisme tingkat dewa. Emak hanya bisa dikalahkan oleh sosok Mpok Hindun, wanita pesolek yang hobi gosip dan menanam pohon di dalam pot depan rumahnya, yang punya suami Mas Yanto seorang supir truk antar kota antar propinsi yang doyan dangdutan dan kencan dengan perempuan lain. 

Kekuatan peran pendukung sinetron komedi ini juga menarik untuk dibahas. Ucup sebagai laki-laki pengangguran yang selalu punya sejuta kaos klub bola selalu mendapat peran sial. Usahanya untuk pendekatan cinta kepada perempuan nyaris selalu gagal, hingga akhirnya Ucup menikahi Parti perempuan asal desa yang sederhana menerima cinta Ucup. Mirip dengan nasib sejawatnya Said, laki-laki pengangguran keturunan Arab yang punya sejuta paman yang berprofesi beragam. Penokohan Said untuk menjadi rival utama Ucup namun agak sedikit antitesis dalam soal nasib yang lebih mujur dan oportunis. Ucup dan Said menjadi representasi anak muda jaman kini yang sibuk berpetualang mencari cinta yang tak kunjung tiba. Jangan lupakan juga tokoh pembantu seperti Mpok Minah janda penakut yang selalu mengobral kata ‘maaf’ sebelum kalimatnya, Pak RT yang selalu oportunis, dan Pak Haji Nasir pemilik kontrakan yang kaya raya sebagai representasi putra Betawi sukses.

Bajaj Bajuri dengan segenap karakter lakon yang dimilikinya sejatinya merepresentasikan kekonyolan kita akan kehidupan sehari-hari. Mungkin di antara kita masih ada Bajuri yang kerap berkonflik dengan mertua, atau Oneng yang selalu bikin jengkel akibat sifatnya yang teramat polos. Banyak di antara kita yang mungkin menjadi Emak yang tidak mau kalah sehingga sampai muncul jargon “the power of emak-emak”, atau mungkin menjadi Mpok Hindun yang hobi bersolek meski usia sudah tidak muda lagi dengan tingkat percaya diri yang tinggi atau mungkin menjadi Mpok Minah yang penakut dan was-was. Mungkin di antara kita ada Mas Yanto yang hobi tebar pesona sini dan sana. Mungkin pula di antara kita ada Ucup dan Said, rivalitas anak muda cerminan sulitnya mencari pekerjaan di masa kini. Satir-satir yang dikemas melalui komedi dalam Bajaj Bajuri menjadikan kritik sosial melalui pesan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bajaj Bajuri telah berhasil melintas pikiran saya dan meninggalkan memori berkesan akan sebuah kualitas sinetron komedi yang mengakar budaya Indonesia.