Wednesday, August 12, 2020

(Jika) Kita Ditakdirkan oleh Semesta

Dalam Nama Sang Maha Cinta,

 

Amma bakdu

Entah dari mana aku mulai. Baiklah, aku mulai dari kalimat barusan. Jika kita ditakdirkan oleh semesta, mengutip istilah WS Rendra bahwa pertemuan kita yang namanya telah tertulis di langit. Iya, kita memang lahir dan ditakdirkan untuk saling baku temu dan itu sudah terjadi. Dalam tulisan ini bukan bermaksud untuk cengeng, cuma hanya sekedar refleksi catatan perjalanan hidup anak manusia yang sibuk berputar-putar dalam labirin bernama semesta. Setidaknya, cerita kita bukan rekaan kita, namun rekaan semesta. Banyak orang bisa bicara lewat ujaran namun jarang yang mampu mengekspresikan dengan aksara. Biarkanlah huruf-hurufku menari dalam tulisan ini.

 

Kilas balik sekian masa kita melintas zaman menyintas kenangan-kenangan yang pada akhirnya cuma jadi genangan yang bakalan kering kena sinar matahari. Ternyata kota Tangerang, Jakarta, dan Bandung punya cerita sendiri di memori kita. Kamu bilang masih abege, anak baru gede, alias baru tumbuh bulu jagung. Entah jagung siapa. Namun yang jelas masih jelas teringat pertemuan pertama di Situ Gintung Ciputat, daerah yang konon tak pernah bebas dari makhluk yang bernama macet dan sumpek. Pertemuan berikutnya seingatku di depan Masjid Fathullah Universitas Islam Syarif Hidayatullah atau dalam bahasaku itu UI Negeri. Kamu dengan polosnya ikut bonceng rodadua bersamaku ke rumahmu dimana di situ momen paling bersejarah buatku. Kenapa? Karena kamu buatkan dan suguhkan kopi pertamamu buatku, walau menurutmu tidak enak. Sejatinya kata ngopi itu adalah multitafsir bisa dimaknai banyak hal dari positif bahkan negatif, dan aku mengambil makna positif bahwa kopi itu adalah cinta sebagaimana sloganku laki-laki yang jatuh kopi pada cinta. Dan peristiwa itu aku abadikan di paragraf setelah ini.

 

Ternyata oh ternyata aku pernah menulis bait recehan semacam ini.

 

Untuk Adik Manis: P.A.

 

Kalau kopi rasanya pahit

Aku tahu kamulah penawarnya

Kamu itu manis alamiah tanpa buatan
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa

Kita pernah muda pernah berkuasa

Atas segala nafsu dan cinta

Kita tahu bagaimana caranya mencari tahu

Lewati lembah mendaki menurun

Titipkan kenangan kita pada tiap jengkal aspal

Bersama rodadua yang menderu layaknya semangat kita

 

Kamu tahu bagaimana caranya menjadi adik

Aku tahu bagaimana caranya menjadi kakak

Kita tahu bagaimana caranya menjadi penguasa

Atas segenap sejarah kita

 

Bandung, Tangerang, Jakarta

Adalah deretan nama kota yang pernah singgah di linimasa kita

Kereta kita terus melaju bersama pikiran kita

Yang semakin menua semakin menggila

 

Bersama cinta kita, selamanya 

 

Kiranya bait recehan itu memberi peta navigasi bagaimana kisah kita pernah terbangun tanpa sadar. Pun kalau tidak salah kamu pernah menuliskan hal serupa berupa bait puisi yang tanpa sengaja aku temukan setelah sekian tahun lamanya mengendap di buku harianku. Begini bunyinya:

 

Terimakasih udah mau buang-buang waktu, tenaga, dan bensinmu untuk berkelana bareng aku. Kamu kakak yang super baik! Baik banget sumpah! Makasih ya! Menyenangkan bisa menghabiskan waktu bareng kamu. Semoga seluruh amal baikmu dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Aku menemukan banyak hikmah di balik dua bait yang saling berjibaku tersebut. Kita sama-sama buta padahal kita sama-sama butuh. Klise memang kata ‘kakak’ dalam baitmu. Kamu tahu sendiri, aku orang yang paling malas dengan frase kakakzone. Pun sebaliknya dalam paragrafku, kata adik, yang aku yakin kamu pun benci dengan frase adikzone. Atas nama ego dan kesombongan darah muda ala Rhoma Irama, kita tanggalkan sebuah fakta bahwa kita ada karena sebutlah darah, keringat, dan air mata.

 

Dalam tulisan ini pula ijinkan aku sekedar menuliskan ingatanku sebelum musnah. Pastinya dengan menggunakan kata aku ingat bla bla bla. Aku ingat kamu pernah sengaja menemuiku padahal aku masih di jam kantor yang berada di Pasar Festival Kuningan, pada saat itu kamu dengan mewahnya membuatkan aku masakan spesial ikan tuna salmon beserta sayuran sehat. Aku ingat benar bagaimana kamu harus opname di rumahsakit dan waktu itu aku baru pulang kerja langsung jenguk kamu untuk satu tujuan yang tidak aku pahami. Pacar? Bukan. Istri? Bukan. Selingkuhan? Bukan. Entah apa yang berkecamuk di dalam jiwaku pun jiwamu ketika itu. Aku juga ingat waktu itu kita pernah #RayakanPerbedaan dalam rangka ulang tahun harian Kompas yang ke-50 dengan menonton film Terminator The Raid dan begini dan begitu, semuanya gratis hanya modal bensin dan parkiran di Mal Pondok Indah. Hal yang sampai sekarang buatku kesal adalah kita sama-sama cerita kisah cinta kita masing-masing dengan pasangan kita masing-masing, yang pada akhirnya itu hanya kisah usang. Bandung pun pernah menyisakan kenangan yang entah apa namanya. Kita pernah mencari tahu di pelosok Bandung sampai kita sendiri tidak tahu hakikat tahu yang kita makan ujungnya tetap keluar tahi. Sekian lamanya kamu menetap di Bandung, kamu baru tahu arti kata cengek yang adalah cabe rawit dalam lisan Sunda. Aku juga ingat suatu malam pernah kamu dan kucingmu Si Moya, kucing yang tidak sengaja kamu temukan di warung makan itu, puasa karena kelaparan dan langsung saja tanpa ba bi bu aku belikan kamu dan kucingmu buka puasa. Rasanya, patung Sepatu di perempatan Cibaduyut mungkin jadi saksi betapa gilanya kamu keluyuran malam di Paris van Java. Pasti kamu tak akan lupa waktu aku bilang slogan kampusmu yang Creating The Future itu kan artinya bercinta, dan spontan kamu balas dengan tawa lepas terbahak-bahak. Benar kiranya kalimat Pidi Baiq, dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika rindu. Aku juga ingat betapa kamu cemburunya ketika aku sebut temanmu yang bernama Tamara dan Ajeng kalau tidak salah. Sialnya aku baru paham kata cemburu itu ternyata bermakna serius, dan kamu sangat serius cemburu. Celaka tiga belas.

 

Kita menafsir cinta dengan cara kita sendiri. Entah apa namanya. Namun jelas dan kuat, itu kita rasa tanpa kita pikir. Kekonyolan demi kekonyolan lambat laun membuat kekenyalan hati dan raga kita tanpa disadari. Rasanya jarak bukan lagi halangan untuk berinteraksi. Sebagaimana kalimat Sapardi Djoko Damono yang kita pelajari bersama bahwa yang fana adalah waktu, kita abadi, dan karena aku mencintaimu itulah sebabnya aku tak pernah berhenti mendoakan keselamatan untukmu. Pun kiranya begitulah aku. Kamu boleh marah atau apapun itu tapi yang jelas kamu tidak akan pernah bisa benci aku karena cinta itu telah menghujam jauh sebelum kata benci ada dalam jarak antara kita.

 

Pada akhirnya kita menyerah oleh semesta yang telah pilih jalan kita masing-masing dengan segudang umpatan caci maki atas diri kita yang alpa. Kita yang sombong pada diri sendiri hingga akhirnya lupa hakikat cinta. Sebutlah cinta versi kita yang tidak perlu diucapkan, padahal sejatinya cinta itu ibarat iman yang mesti diikrarkan dengan hati, dilisankan dengan ucapan dan diejawantahkan oleh perilaku. Kita kembalikan cinta kepada sang pemiliknya, Sang Maha Cinta, untuk itulah kalimat demi kalimatku meluncur dengan indah, karena cinta. Akhirul kalam segala puji Sang Maha Cinta.

 

Jakarta

 

Agustus 2020 

Hamba Sang Maha Cinta 

No comments:

Post a Comment