Thursday, December 24, 2020

Nasi Goreng Buatan Istri

Nasi Goreng Buatan Istri

oleh RM Kencrotnikmatjivva

Nasi goreng itu masakan yang antah berantah dari mana asalnya. Saya tidak terlalu percaya kalau kuliner yang satu ini berasal dari Indonesia. Konon katanya nasi goreng berasal dari Cina. Siapa juga penemunya? Saya pesimis ada yang bisa bantu jawab. Namun fakta di jaman milenial ini orang Cina jarang yang makan nasi goreng yang tingkat kepopulerannya kalah dengan mie. Terserah mau dimasak dengan cara apa, digoreng atau direbus. Beda halnya dengan nasi. 

Nasi tidak cocok dimasak dengan teknik aneh-aneh. Dia hanya bisa cocok dengan teknik sederhana, misalnya digoreng. Oleh karena itu tidak ada istilah nasi rebus. Minimal ada istilah nasi aking, nasi basi, nasi kemarin dan lain sebagainya yang memiliki makna negatif. Kalau mengutip Remy Sylado dalam puisinya berjudul Ciri-ciri Orang Indonesia , kata nasi, beras, dan turunannya itu menjadi unik ketika hadir di Indonesia yang terkenal dengan kekayaan gastronomi. Padahal jika merujuk ke akar kata, hanya ada entri kata oryza sativa dalam bahasa Latin. Namun kita mengenal istilah gabah untuk calon padi, beras untuk padi yang sudah terkumpul, nasi atau sega (bahasa Jawa) untuk beras yang sudah dimasak. Sawah, ladang, padi, beras, nasi cuma jadi kata rice dalam bahasa Inggris (Remy Sylado dalam Puisi Mbeling: 2004)

Alih-alih.

Nasi goreng yang saya cinta di dunia ini ada beberapa, di antaranya nasi goreng buatan ibu saya dan nasi goreng buatan istri saya. Terdengar sekilas sangat amat receh. Nasi goreng buatan ibu dan nasi goreng buatan istri. Namun ada sejuta makna di baliknya. Bukan maksud saya untuk rasis dengan hanya menyebut perempuan setelah kata nasi goreng, namun memang begitulah fakta dan apa adanya. Tidak ada istilah nasi goreng ayah. Karena ayah tidak hobi memasak nasi goreng walau kenyataannya tukang nasi goreng biasanya laki-laki. Hobi ayah biasanya memakan nasi goreng. Ada pesan rahasia di balik nasi goreng buatan ibu dan nasi goreng buatan istri. Pesan cinta ibu untuk suami dan anaknya, serta pesan istri untuk suaminya. Mungkin kalau pesan yang kedua ini agak sederhana namun kompleks, multitafsir. Bisa jadi bermakna, mas, kamu jangan jajan sembarangan atau jangan kebanyakan jajan di luar.

Paragraf di atas sejatinya menunjukkan aroma feminisme dan maskulinisme dalam hal masakan. Coba bayangkan nasi goreng yang berasal dari masakan rumahan diolah oleh perempuan ketika dia keluar rumah dijual oleh penjaja makanan atau tukang nasi goreng berubah alih kode dan makna menjadi maskulin. Semua itu terjadi tanpa rekayasa. 

Beberapa pakar kesehatan jaman milenial buka suara soal gizi dalam sepiring nasi goreng, ada yang pro dan kontra. Mungkin versi ekstremnya bilang nasi goreng itu buruk bagi tubuh dengan membawakan segudang dalil dan dalih. Buat saya itu alih-alih karena ini urusan selera yang tidak perlu diperdebatkan seperti debat pilkada. Saya tidak terlalu peduli pada pendapat semacam itu, intinya sesuatu yang dikreasikan secara dalam takaran berimbang tidak kurang tidak lebih akan baik bagi tubuh. Apapun itu.

Nasi goreng buatan istri punya nilai spiritual tinggi, dibuat menggunakan bahan alami bersih berkah berdasarkan doa yang diniatkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diejawantahkan lewat perilaku memasak nasi goreng. Seluruh energi positif yang terlaksana dalam wujud sepiring nasi goreng buatan istri menjadi sebuah simbol sekaligus bukti cinta yang bukan cinta gombal apalagi gembel. Seakan nasi goreng buatan istri itu seperti mampu berbicara mewakili lisan istri sebagai sang juru masak sekaligus juru selamat membuat perut jadi selamat dari rasa lapar. Sebagai simbol, nasi goreng buatan istri itu unik karena menggunakan bahan ala kadarnya namun merepresentasikan citarasa kekuatan kuliner semaksimal mungkin, mirip prinsip ekonomi yang diajarkan di bangku sekolah. Sebagai bukti, nasi goreng buatan istri itu menarik karena hadir dengan tata letak (plating) berwarna-warni yang menggugah selera. 

Lantas saya bertanya-tanya apa pesan moral hikmah dari si nasi goreng buatan istri ini sedari awal panjang lebar cerita ini dan itu. Saya menemukan pencerahan bahwa jangan sepelekan cinta meski hanya tersaji dalam sepiring nasi goreng buatan istri. Tabik.


No comments:

Post a Comment