Tuesday, July 28, 2020

Bajaj Bajuri dan Kekonyolan Kita


Bajaj Bajuri merupakan satu dari segelintir sinetron komedi yang pernah tayang di negara ini dan mendapat tempat di hati pemirsanya. Kekuatan narasi, konflik cerita dan dialog yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari menjadikan sinetron komedi ini menjadi primadona di awal kemunculan stasiun Trans TV di awal medio tahun 2000-an. Tema sentral kehidupan sederhana ala Betawi sehari-hari yang mengambil fokus tukang bajaj berpenghasilan pas-pasan di Jakarta direpresentasikan dengan apik dan unik oleh Bajaj Bajuri. Konflik demi konflik yang ditampilkan serta alur cerita yang menarik dan dialog ringan jenaka sehingga sukses mengambil hati dan emosi pemirsa televisi kala itu. Saya ingat ketika itu makan malam saya selalu nikmat dan kurang lengkap jika tidak sambil menonton Bajaj Bajuri.

Ahmad Bajuri sang tokoh utama merupakan karakter penuh kekuatan yang merepresentasikan seorang laki-laki berperawakan perut buncit yang hidupnya penuh kemujuran, kerja keras, dan tanggungjawab. Awalnya seorang Bajuri bekerja di pabrik sepatu, kemudian seiring waktu berjalan di kemudian hari sang mertua perempuan Emak, jatuh hati karena penampilan Bajuri yang sangat necis jauh dari kesan kumuh dan miskin. Alhasil Bajuri berhasil menikah dengan Oneng, karakter yang sangat polos dan unik melalui perantara Mak Comblang yaitu karakter Yusuf bin Sanusi alias Ucup Anak Pak Uci, tokoh yang selalu mendapat peran sial dan terintimidasi.

Penokohan karakter sinetron komedi Bajaj Bajuri memang menggunakan curah pendapat (brainstorming) yang tinggi. Penokohan ego gaya rantai makanan dalam cerita film komedi selalu menjadikan konflik receh yang dikemas menarik dan memiliki ciri khas tersendiri. Oneng sang istri selalu patuh pada Bajuri sebagai suami. Bajuri selalu diintimidasi oleh sosok Emak, sang mertua yang tidak pernah kenal kata kalah dalam hal apapun yang memiliki egoisme tingkat dewa. Emak hanya bisa dikalahkan oleh sosok Mpok Hindun, wanita pesolek yang hobi gosip dan menanam pohon di dalam pot depan rumahnya, yang punya suami Mas Yanto seorang supir truk antar kota antar propinsi yang doyan dangdutan dan kencan dengan perempuan lain. 

Kekuatan peran pendukung sinetron komedi ini juga menarik untuk dibahas. Ucup sebagai laki-laki pengangguran yang selalu punya sejuta kaos klub bola selalu mendapat peran sial. Usahanya untuk pendekatan cinta kepada perempuan nyaris selalu gagal, hingga akhirnya Ucup menikahi Parti perempuan asal desa yang sederhana menerima cinta Ucup. Mirip dengan nasib sejawatnya Said, laki-laki pengangguran keturunan Arab yang punya sejuta paman yang berprofesi beragam. Penokohan Said untuk menjadi rival utama Ucup namun agak sedikit antitesis dalam soal nasib yang lebih mujur dan oportunis. Ucup dan Said menjadi representasi anak muda jaman kini yang sibuk berpetualang mencari cinta yang tak kunjung tiba. Jangan lupakan juga tokoh pembantu seperti Mpok Minah janda penakut yang selalu mengobral kata ‘maaf’ sebelum kalimatnya, Pak RT yang selalu oportunis, dan Pak Haji Nasir pemilik kontrakan yang kaya raya sebagai representasi putra Betawi sukses.

Bajaj Bajuri dengan segenap karakter lakon yang dimilikinya sejatinya merepresentasikan kekonyolan kita akan kehidupan sehari-hari. Mungkin di antara kita masih ada Bajuri yang kerap berkonflik dengan mertua, atau Oneng yang selalu bikin jengkel akibat sifatnya yang teramat polos. Banyak di antara kita yang mungkin menjadi Emak yang tidak mau kalah sehingga sampai muncul jargon “the power of emak-emak”, atau mungkin menjadi Mpok Hindun yang hobi bersolek meski usia sudah tidak muda lagi dengan tingkat percaya diri yang tinggi atau mungkin menjadi Mpok Minah yang penakut dan was-was. Mungkin di antara kita ada Mas Yanto yang hobi tebar pesona sini dan sana. Mungkin pula di antara kita ada Ucup dan Said, rivalitas anak muda cerminan sulitnya mencari pekerjaan di masa kini. Satir-satir yang dikemas melalui komedi dalam Bajaj Bajuri menjadikan kritik sosial melalui pesan yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Bajaj Bajuri telah berhasil melintas pikiran saya dan meninggalkan memori berkesan akan sebuah kualitas sinetron komedi yang mengakar budaya Indonesia.

No comments:

Post a Comment