Thursday, June 30, 2016

Membaca Frank Zappa: Persepsi vs Realitas

“To me – absurdity is the only reality” ~ Frank Zappa [1940-1993]


Frank Zappa portrait, courtesy of https://www.allaboutjazz.com


Membaca Frank Zappa memang menarik. Dia adalah sosok seniman nyentrik dengan segudang bakat dan talenta yang diberikan dan mampu mengejawantahkannya menjadi sesuatu yang epik, flamboyan, dan elegan. Terlahir dengan nama Frank Vincent Zappa, sosok yang satu ini menggugah nalar sehat dan pikiran saya dalam peta pemikiran dunia. Adalah sosok Steve Vai, sang gitaris legenda yang sekaligus murid Frank Zappa yang mengenalkan saya pada sosok ayah dari Dweezil, Ahmet, Moon Unit, dan Diva yang semuanya menggunakan Zappa di ujung namanya. Frank Zappa adalah sebutan untuk seniman, musikus, pencipta lagu, pembuat film, produser rekaman, aktor, politikus, dan sejumlah sebutan orang kepada sosok ikon kumis untuk lelaki yang satu ini.
Ada satu hal menarik ketika Frank Zappa mengajari Steve Vai bagaimana membuat komposisi musik. Ketika itu Frank Zappa menyuruh Steve Vai menghapal satu bait instrumental gitar, dan Steve Vai berhasil menghapalnya karena baginya itu adalah sebuah harta karun yang tak ternilai harganya. Uniknya ketika selang beberapa bulan kemudian Steve Vai menanyakan soal komposisi itu kembali, Frank Zappa bilang lupa. Namun lebih uniknya dia punya lanjutan komposisi itu. Begitu seterusnya hingga selang beberapa bulan kemudian, satu per satu bagian komposisi Frank Zappa diwariskan ke Steve Vai yang kelak menjadi nomor legendaris khas ala Frank Zappa bertajuk “What’s New in Baltimore”.  Hal yang jadi perhatian saya adalah judul komposisi itu menggunakan kata Baltimore, nama kota di Amerika Serikat, merujuk pada tempat kelahiran Frank Zappa sendiri.
Saya membayangkan jika diri saya menjadi Steve Vai. Betapa kagumnya akan sosok maestro yang mampu mengajarkan bagaimana membuat komposisi dahsyat dengan cara seperti main-main saja. Ya, Frank Zappa memang luarbiasa. Tak ayal salah satu kutipan darinya “to me, absurdity is only reality” itu seolah menjadi label yang mencirikan karakternya. Baginya sebuah absurditas itu sejatinya merupakan sebuah realitas nyata yang dipersepsikan orang bermacam-macam. Dan bagi saya pribadi, Frank Zappa telah berpikir keluar jalur mainstrim, bahkan boleh dikatakan “without the box” dalam pemikiran.
Frank Zappa juga pernah berujar soal pemikiran, “a mind is like a parachute, it doesn’t work if it is not open”, pemikiran itu seperti halnya parasut, dia tidak akan bekerja jika tidak dibuka. Artinya manusia diberi akal pikiran yang harus dimaksimalkan hingga titik kulminasi akhir. Dan pikiran yang kaku, tertutup, kolot, yang jadi sebab muasal kegamangan berpikir sehingga tujuan kita tidak tercapai dengan mulus. Frank Zappa mengisyaratkan analogi pikiran itu layaknya parasut yang bisa dibuka dan ditutup, menunjukkan bahwa pemikiran manusia ada pada 2 oposisi biner.
Saya juga ingat video Frank Zappa pertama kali muncul di acara The Steve Allen Show yang dirilis televisi ABC pada tahun 1963, dimana dia mendemonstrasikan musik menurut persepsinya sendiri. Ketika itu Zappa muda berusia 22 tahun. Dia menggunakan satu buah sepeda utuh yang mengeluarkan bunyi-bunyi yang kala itu tidak lazim didengar, kemudian dilanjutkan dengan tambahan satu buah sepeda, hingga total dua buah sepeda yang menjadi sumber bunyi. Entah genre musik macam apa yang dicetuskan Frank Zappa ketika itu, mungkin bisa dikatakan eksperimental. Uniknya audiens terhibur oleh tingkah Frank Zappa yang pada waktu itu memang jarang ada orang sepertinya.  
Bagi Frank Zappa dia dicap oleh sebagian orang sebagai sosok absurd. Sebagaimana kutipannya yang terkenal “I never set out to be weird. It was always other people who called me weird.” Aku tidak pernah mengklaim diri sendiri sebagai seorang yang aneh melainkan orang lain yang memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin itu adalah jawaban dari orang yang menganggap bahwa absurditas itu adalah sebuah mitos, sehingga tidak layak untuk tampil di hadapan khalayak sebagai sebuah realitas utuh berdiri sendiri tanpa dipengaruhi variabel apapun. Sebagaimana diketahui dalam teori konsep diri (Rogers: 1959) bahwa apa yang kita lihat maka itulah yang kita percaya sebagai suatu realitas yang telah menjadi persepsi kognisi alam sadar kita. Konsep diri yang ditawarkan Frank Zappa memang unik dan terkesan nyeleneh. Dia bisa bebas bicara apapun perihal hal yang dia sukai namun dengan caranya sendiri yang terkadang orang tidak mampu dengan mudah untuk menemukan pesan di dalamnya. Membaca Frank Zappa memang rumit, jelimet.


“lf you’re going to deal with reality, you’re going to have to make one big discovery: Reality is something that belongs to you as an individual. If you wanna grow up, which most people don’t, the thing to do is take responsibility for your own reality and deal with it on your own terms. Don’t expect that because you pay some money to somebody else or take a pledge or join a club or run down the street or wear a special bunch of clothes or play a certain sport or even drink Perrier water, it’s going to take care of everything for you.” ~ Frank Zappa

Tapi entah mengapa bagi saya, sosok Frank Zappa telah menjelma jadi pionir dalam bidang pemikiran khususnya akademis. Sebagaimana kutipannya pula, “If you want to get laid, go to college. If you want an education, go to the library.” Kalau kamu ingin bercinta, pergilah ke kampus. Tapi kalau kamu ingin edukasi, pergilah ke perpustakaan. Frank Zappa paham bahwa perpustakaan merupakan sarang ilmu, bukan sebaliknya sebagai sarang bercinta lawan jenis. Perpustakaan adalah tempat manusia bercinta dalam ranah intelektual sehingga di situ muncul argumen dan perdebatan layaknya orang sepasang kekasih yang berujung pada satu tujuan akhir yakni kematangan intelektual, bukan sebaliknya sebagai ajang ngotot pada sebuah kebenaran yang dimaknai tunggal tanpa ada pembanding yang sepadan. Hingga pada akhirnya manusia mencapai apa yang disebut dengan orgasme intelektual. Menyerah pada satu kesimpulan berharga bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sakral yang tidak layak untuk dikotori oleh tangan-tangan jahil. 

Sudah selayaknya pula pendidikan mendapat tempat dan apresiasi setinggi-tingginya, yang pada kenyataannya di negara ini hanya sekedar dongeng belaka. Nasib guru Umar Bakrie dari tahun ke tahun cuma berkutat pada mengurusi dirinya sendiri yang sulit diurus. Logikanya sederhana, kalau memang dosen atau guru mampu mencetak mahasiswa berkualitas yang pernah menyandang gelar maha sebagai sebuah status akademis dan sebagai tanggungjawab sosial, sudah semestinya orang yang melahirkan generasi ‘maha’ itu diberikan balasan yang setimpal, balasan yang maha akibat perjuangan dan pengorbanan yang juga maha. Sehingga dosen bukan hanya sebagai status sosial yang dinobatkan oleh masyarakat akibat sebuah status akademis sebagai pengajar mahasiswa yang konon katanya menjadi agen perubahan suatu bangsa. 

Tuesday, June 21, 2016

Sebuah Refleksi: 3 Dekade

Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah Maha Hidup yang telah memberikan kehidupan kepada saya hingga masuk pada dekade ketiga. Salawat serta salam semoga tercurah kepada manusia terbaik yang diutus sebagai rahmat bagi semesta, Muhammad shallallahu alaihi wa sallam beserta sahabatnya dan orang-orang yang setia mengikuti jalannya hingga hari kiamat kelak.

Amma bakdu:
Pada hari ini genap usia saya mencapai 3 dekade. Suatu pencapaian yang luarbiasa dari kehidupan manusia. Tak henti saya mengucap syukur atas segala yang telah diberikan kepada saya hingga menjadi manusia yang hanya menghambakan diri pada Sang Pemilik manusia. Lantas apa arti 3 dekade bagi saya?

Bagi saya, 3 dekade berarti merupakan sebuah lintas batas bagi saya yang tidak pernah menghendaki untuk sampai pada usia ini. Kedewasaan memang tidak bisa diukur melalui satuan usia yang diimplementasikan dalam angka. Namun 30 itu suatu bilangan yang banyak dalam ilmu matematika.

Telah banyak hal yang saya lalui dalam 1 dekade terakhir. Menjadi dewasa adalah pilihan ketimbang menjadi tua yang merupakan sebuah keniscayaan dari kehidupan manusia. Saya merasa di usia ini lah menjadi puncak usia saya sebagai manusia, sebelum Allah kembalikan saya menjadi kanak-kanak kembali [QS 30:54]. Ada pepatah mengatakan “life begins at 40”, hidup dimulai pada usia 40 tahun. Agaknya yang demikian tidak berlaku bagi saya. Hidup saya sudah dimulai dari setengah pepatah tersebut. Ya, hidup saya dimulai ketika usia 20. Usia dimana saya masih membawa kemana-mana bendera idealisme yang pada akhirnya mesti dicuci, dikucek, dijemur hingga akhirnya menjadi luntur karena proses alamiah.

Pada usia ini, idealisme tak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah bendera yang menancap. Dia sudah mau berkompromi dengan realistis, sebuah bendera baru yang mesti hadir mengiringi bendera idealisme. Memang nasib baik tak pernah dilahirkan kalau kata Soe Hok Gie, tapi dia bisa dimanipulasi. Manipulasi nasib. Entah berapa banyak jiwa-jiwa yang mati muda yang tak mampu merasakan nikmatnya nasib baik itu.

Idealisme yang sempat saya gadang-gadang di masa lalu mesti karam hancur lebur seiring dengan waktu. Saya sadar seraya tersenyum menertawakan betapa bodoh dan angkuhnya diri saya waktu itu. Masa lalu yang membentuk saya sekarang ini. Masa muda yang penuh gejolak api ambisi yang membara, yang kini api itu mesti sedikit demi sedikit surut seperti air sisa banjir.

Dan saya beruntung, bejo, telah sampai pada bilangan ini yang semestinya menjadikan suatu refleksi bagi saya sebagai hamba. Saya itiraf, mengakui segala dosa yang telah saya lakukan di masa lalu. Saya sadar kalau saya lah manusia tempatnya salah dan khilaf. Telah banyak tempat yang saya jelajahi di muka bumi ini yang menjadikan saya semakin sadar bahwa saya hanya makhluk kecil yang lemah, yang tiada daya upaya, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan semesta apalagi penciptanya.

Tak lupa di kesempatan ini saya ingin menghaturkan terimakasih kepada orang-orang yang cinta saya dan juga saya cinta. Terkhusus untuk kedua orangtua saya, mama dan papa, yang setia berkhidmat untuk hidup saya sejak kecil. Maafkan saya yang tugasnya hanya selalu bikin repot bikin ulah dan bikin dosa dan salah. Tak lupa kepada semua orang yang berjasa hingga menjadikan saya mampu menulis dan membaca. Semua guru-guru saya sejak bangku taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, juga tak lupa kepada semua guru mengaji saya, ustadz dan ustadzah yang ikhlas memberikan ilmunya kepada saya yang tak kunjung pandai ini. Semoga Allah membalas jasa kalian semua.

Tak lupa kepada semua teman dan sahabat saya yang tidak bisa saya sebut di sini satu per satu karena mubazir dan tidak penting. Terimakasih pernah mengisi bagian takdir linimasa saya. Kita pernah berkuasa atas waktu dan kesombongan sesaat akan hidup kawula muda.

Terakhir semoga tulisan saya ini menjadi bahan renungan bagi saya sendiri dan orang lain yang membacanya. Semoga Allah wafatkan saya di atas agama dan sunnahnya yang haq. Akhirul kalam segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Jakarta, 21 Juni 2016


Si Anak Hilang


Friday, June 10, 2016

Hai!

Hai!
Selamat malam.
Sudahkah hari ini aku bilang I love you?
Ah maafkan ketidaksopananku.

Hai, I love you.

Sudahkah kamu tahu aku rindu kamu?
Duh, sepertinya aku sudah mulai menua.

Hai, aku rindu kamu.

Sudahkah kamu mengerti kamulah satu-satunya.
Baik, akan kujelaskan.

Hai. Kamu adalah satu-satunya laki-laki yang skrg menemani aku, dan menambah-nambahkan hari-hariku yang telah manis.

Sudah kukatakan semua.
Meski dengan malu-malu jua.
Semoga manis diterima, tak seperti sepah.
Aku cinta kamu sayang.
Selamat berpuasa.


-Kasih Elia-

Sunday, June 5, 2016

[Arsip] Evaluasi 2012

Seperti biasa di akhir tahun, kita sering kali membuat resolusi untuk tahun depannya. Kali ini saya ingin membuat evaluasi terlebih dahulu sebelum membuat resolusi yang baik dan memang saya perlukan untuk diri saya di 2013.
Di tahun 2012 awal, mengawali tahun baru seperti biasa, bersama keluarga. Banyak hal baru yang mulai berdatangan. Seperti masalah di keluarga Tante Vera (tempat saya tinggal di BSD) dan masalah di kuliah. Nilai yang tidak juga membaik membuat saya mengkhawatirkan keberadaan saya di rumah itu. Saya tidak mau Tante saya disalahkan untuk kesalahan saya yang malas belajar, jadi saya berusaha mengambil resolusi untuk lebih serius belajar.
Saya menjalani sepanjang tahun dengan berusaha menjaga agar tidak malas dan tidak bolos. Tidak lupa saya memperingati diri tentang tugas dan belajar untuk ujian. Meski akhirnya tak terlihat membaik, tapi saya puas dengan kinerja saya tahun ini.
Di tahun 2012 awal juga, tepatnya Februari, Tante Vera menawarkan bisnis baru untuk Kak Anin, anaknya yang paling sulung, dan Riyo, pacar Kak Anin. Bisnis itu adalah bisnis yang berjalan di dunia hiburan. Agency Studio yang biasanya fungsinya untuk menyalurkan talenta-talenta yang berbakat di dunia hiburan. Dan rencana yang dicanangkan dari Februari tersebut, berhasil direalisasikan pada 8 Maret 2012.
Saya juga dilibatkan dan awal sampai pertengahan tahun saya dihabiskan untuk kuliah dan kerja sambilan di tempat itu. Posisi saya? Bebas! Resminya sih, asisten tenaga IT utama di tempat itu. Tapi ujung-ujungnya juga jadi apa ajah! :-))
Mengejutkannya di Bulan Februari juga saya mendapat mandat dari ketua Himpunan Jurusan Sastra Jepang (HIMJA) untuk mengadakan HIMJA EXPO di sekitaran bulan April atau Mei.
Lucunya saat itu saya harus sibuk dengan urusan saya mengetuai pelaksanaan acara kampus sementara saya juga harus ke sana kemari mengurusi acara besar yang diadakan VW Entertainment, yaitu event shuffle terbesar se-JABODETABEK, Shuffle Dance Revolution.
Kesan saya di bulan-bulan pertengahan 2012 itu saya banyak mendapatkan hal baru. Dari cara manajemen acara yang baru, cara mencari sponsor yang, harus diakui, memang sangat sulit. Bagaimana sulitnya harus memikirkan semuanya dalam suatu acara sebagai seorang ketua panitia. Benar-benar pengalaman yang terjadi dengan sangat cepat.
Di bulan-bulan itu juga, saya mulai agak dekat dengan seseorang, yang sebenarnya sudah saya kenal hampir setengah tahun. Namanya Romika Djunaidi. Orang minang. Dia manggil saya ‘kakak’ padahal dia lebih tua sepulu…ehhh enam tahun dari saya.
Tepatnya Agustus tanggal 11, saya menyempatkan diri bertemu dia untuk ke-tiga kalinya (ya, kami sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya) dan terjadilah hal fatal yang benar-benar membongkar perasaan yang saling kami pendam selama ini. Cinta.
Tanggal 12 Agustus, saya terbang ke Palembang untuk berlibur. Kami menghabiskan waktu di telepon membicarakan hal yang terjadi hari sebelumnya, dan untuk kesekian kali (ya, ini sudah kesekian kali dia membicarakan ini) dia bertanya lagi, apa saya mau serius dengan dia.
Awalnya saya ragu, dengan pertimbangan, dia ini orangnya terlalu friendly dan banyak guyon. Sedangkan saya, saya selalu serius memandang segala sesuatu dan gampang cemburu. Saya merasa, hubungan ini gak akan bisa berjalan. Tapi ada sesuatu yang mendorong saya, untuk menerimanya.
Akhirnya kami jadian malam itu, tanpa kami berdua sadari. Mengalir begitu saja, tahu-tahu panggilan sayang sudah nangkring anteng di ujung kalimat tiap kami memanggil satu sama lain.
Dari Agustus, sampai Desember, kami bukannya tak pernah bertengkar. Kami bertengkar, tapi entah karena keras kepala, atau memang saling mencintai, kami kembali berbaikan.
Ditutup dengan kejadian, saya bahkan bisa bikin dia marah di akhir tahun yang seharusnya syahdu. Lebih parah lagi, saya bisa bikin dia marah di jam 00.00 saat seharusnya kami berdua bermasyuk berdua saling mengucap tahun baru dan doa.
Kebodohan saya memang luar biasa, hanya tahu mencintai tapi tak bertanggung jawab. Tapi saya berjanji, dan terus berusaha keras (percayalah, sangat keras) untuk menepati janji saya itu.

[Arsip] Sampah: Dibuang Gak Sayang



VM mobile udah ga bisa lebih dari 255 juga :p

Hei, hei, elia :)

btw boleh tanya?
belakangan ini kayaknya lu agak beda di gurita...

lu ga lagi dalam galau-in-mode
kan? :confused:

ato lg badmood aja? :bingungs

ato cuma filing gw yang berlebihan aja mungkin ya..hm..

bukan maksud sok pengen tau, tp kerasa ada yang "lain" aja :o

waktu ntu lu udah bantu gw, makanya gw berasa ga enak aja kalo diem doang,

well, ada yang bisa gw bantu? :)

gw jg pendengar baik yang ga kalah dari lu kok, mungkin :D

eia, ni bukan maksud pengen privat ya..
sesuai judul, vm udah ga bisa manjang :mewek
jd gw pm dah

maap gw bkn sok caper, tp sebagai temen lu udah ajarin kausalitas tabur tuai ke gw.

kemaren lu tabur kebaikan buat gw dan skrg gw ga keberatan kalo lu mau tuai kebaikan gw buat lu :D (bener ga analoginya? :p)

yah, kalo lu butuh..
gw pengen ada buat orang orang yg udah baik ama gw.

Ok?
Jangan sungkan
:)
17-10-2011, 02:17 AM


:D
ok, lady :)

yah ga tau bisa dibilang cukup lega ato ngga, dengan baca pernyataan lu
tapi kalo emang lu udah terbiasa dan ngerti banget cara nyikapinnya,
ya gw ga bisa ngomong ato nawarin apa apa lagi :D

sebenernya melankolis pure kyk gw ini juga amat sangat nikmatin ketenangan dan kesendirian,
tapi waktu ama lu itu, ternyata curhat bukan ide yang buruk juga buat nyikapin galau.

walo kyknya kemaren itu gw lebih ke cerita ngalor ngidul daripada bahas "penyebab galau" itu kan? :ngakaks

ok, elia :)
gw bakal belajar buat ngertiin lu.

dan tolong maklumin juga ya, gw ini bertemper melankolis-melankolis-plegmatis,
jadi bukan maksud sok gimana gimana...
kelemahan kelemahan melankolis yang udah gw posting di page 39, itu semua milik gw.
jadi maklumin aja yap :)

that's me too, elia
well done,
titip salam buat "mood" dan "hati" lu,

get well soon ya, hey Elia's soul :D
cepet balik lagi ceria :D









btw gw juga lagi di manggarai ini teh...
haduh, di blog ada postingan denny...
double full post yang musti dibaca :nohope:

semangat berbagi dah!!! :D
17-10-2011, 04:32 PM


pada dasarnya koleris - melankolis emang rata rata bertolak belakang sih :D
tapi lebih signifikan antara sanguinis - melankolis :D

dan lu di dominasi keduanya :)

hm, entahlah...
rata rata cewek sih biasanya bakalan bete kalo nemenin duduk tapi ga ada obrolan :D

tapi ngerti kok analoginya :D



yah mau gimana lagi :)
entah bakal membantu ato ngga, kalo lain waktu ada yang bisa gw bantu ato sekedar butuh second opinion pas lu lagi mentok.
jgn sungkan ya :D

ini salah satu cara gw buat ngebahagiain diri gw sendiri soalnya :)

17-10-2011, 05:44 PM

[QUOTE=kasihelia]ohhh ya?
ya aci berusaha ga gitu..maksudnya ga gitu tuh ga kayak cewek2 pada umumnya...
sampe akang ngomong..atau meski ga ngomong sekalipun aci bakal nunggu...

hobi aci : Nunggu, Nunggu, Nunggu..........................
:o[/QUOTE]

:)
kalo dibawa ke dunia nyata mah, mana tega L..

sekalipun gw lg super galau dan ga bisa ngomong apa apa...palingan jg gw pinjem bahu ato paha cewek yg dsebelah gw ntu buat nyandarin kepala..
gw emang blak blakan soalnya, ga peduli dia mau nilai gw rapuh lemah dsb, krn emang knyataannya ya gitu..

ga ngerti kenapa, nyaman aja...malah gw bisa ampe ketiduran krn saking "tenang" dan "damai" nya :ngakak

yah, jd oot..

btw gw percaya ama apa yg lu bilang, gw udah bener bener ngakuin lu sbg wanita :D

tp biarpun dalemnya wanita, luarnya tetep masih kyk pada umumnya sesuai umur lu skrg :D

no offense ya, IMHO..
itu yg gw rasa dr pola pikir lu :Peace:
17-10-2011, 07:42 PM



Friday, June 3, 2016

Perjalanan Terakhir Sang Legowo: Prolog


katanya pd mw jmpt tmn yg trtimpa granat, dia bner2 ga brdaya di Sari Asih @ariefjuga @tsa1985 @h3ndaru @ossopi

 ---------------

Siang itu terik. Eko dengan sebatang rokoknya tampak gusar menghisap jengkal demi jengkalnya. Ditarik dan dihembuskannya batang tembakau dengan tidak biasa. Pikirannya cewang entah menuju ke mana. Ada sebuah keinginan yang belum tersampaikan hingga kini dalam benaknya. Diulangnya menghisap rokok agar hilang gusar di pikirannya. Namun tetap saja ia tidak mampu.
Eko memang manusia yang unik. Usianya lebih dari selangkung, 26 tahun tepatnya. Dalam usia ini konon katanya seorang manusia telah menentukan nasibnya sendiri, baik atau buruk. Ada yang bilang kalau usia 27 tahun itu menjadi ukuran keberhasilan seorang manusia dalam hidupnya. Sampai-sampai ada sebutan  27 Club yang berisi orang-orang yang mati muda di usia 27 salah satunya Kurt Cobain, sang pentolan grup band Nirvana. Mengutip dari perkataan Soe Hok Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran:
“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua”
Kiranya ada benarnya dari ungkapan tersebut. Beruntung bagi yang mati muda, karena tidak usah bersusah payah mengalami apa yang disebut dengan tua, kosokbali dari muda sebagai konsekuensi atas fitrah seorang anak manusia yang dilahirkan ke dunia fana ini. Berapa banyak pahlawan yang gugur dalam hitungan usia yang boleh dibilang relatif muda. Jarang kita temui potret pahlawan yang tampil dalam sosok tua renta. Ada memang, namun jarang sekali.
17 Mei 2012
Hari ini merupakan awal perjalanan. KA Kutojaya jurusan Pasar Senen – Kutoarjo telah menunggu di peron nomer satu di Stasiun Pasar Senen. Eko, Shubhi, dan Arief, tiga anak manusia ini hendak bertolak dari peraduan ibukota menuju satu tempat: Jogjakarta. Sederhana saja tujuannya yakni menghabiskan waktu bertema liburan. Sekedar melepaskan penatnya kesibukan hingar binger ala ibukota yang tak kenal lelahnya. Pukul 07.15. Kereta siap berangkat menunggu aba-aba dari petugas sinyal perlintasan kereta api. Sinyal dibunyikan. Kereta melaju menuju Kutoarjo. KA Kutoarjo ini menempuh trayek Tanah Abang – Kutoarjo, berangkat pukul 06.45.
Ada alasan mengapa Eko sang pencetus perjalanan memilih jurusan Kutoarjo. Karena seluruh tiket kereta api jurusan Jogjakarta nyaris ludes pun ditambah harganya yang selangit, arkian alternatif lain yang terdekat ya Kutoarjo mengingat agak riskan jika harus menyambung estafet dari Semarang, yang kurang lebih sekitar tiga jam perjalanan melalui bus. Akhirnya mereka bertiga berangkat melalui jalur kereta api via selatan Jawa. Selepas Cirebon, kereta api berpindah jalur menuju Stasiun Kroya untuk terus menuju Stasiun Kebumen dan berakhir di Stasiun Kutoarjo.
 Priiiiiit.
Suara peluit masinis menandakan kereta segera beranjak meninggalkan peraduannya menuju timur. Eko, Arief, dan Shubhi tampak ceria. Tiada tampak kegundahan di wajah mereka. Ya dipikir-pikir paling tidak sebagai alternatif melepas penat ibukota yang selalu jadi hantu setiap saat. Mungkin hal yang demikian jadi kulina bagi penduduk Jakarta, pagi siang sore malam selalu diliputi dengan tekanan di sana sini. Macet, banjir, polusi, kriminal, dan lain sebagainya yang konon kerap dituduhkan kepada sang gubernur.
Jakarta memang unik. Kota ini merupakan tiruan kota fasis kata seorang ahli tata kota dari luar negeri sana. Betapa tidak, fasilitas-fasilitas umum cenderung dibiarkan bobrok berikut dengan seisi kota yang dipenuhi dengan kemacetan tanpa henti, suasana riuh, polusi udara  berikut suara. Kali Ciliwung yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda saja contohnya. Kali ini secara sepintas fisik saja sudah dapat dikatakan tidak layak untuk dilihat apalagi untuk digunakan bagi kehidupan sehari-hari. Hitam pekat, begitulah warnanya. Ironis memang yang demikian didukung sendiri oleh mental warga ibukota sendiri yang doyan membuang apa saja barang yang tidak terpakai ke sungai ini. Alhasil warna sungai makin tambah tidak karu-karuan, apalagi baunya yang merusak hidung hingga mengakibatkan merusak kesehatan kata para dokter.
Angkutan kota alias angkot di Jakarta pun sungguh unik bin ajaib. Mungkin usianya sudah seumuran dengan penumpangnya. Peremajaan itu langka bagi angkot. Berkali-kali sudah ganti gubernur tapi angkot setia dengan wajah lamanya. Paling-paling tambal sulam ala kanibal, ganti ordeldil sana sini dengan yang pas. Itupun tidak mesti yang orisinil, alias istilahnya pakai yang KW. Entah pakai KW yang kualitas super atau kualitas ecek-ecek. Nah, si angkot-angkot inilah yang memenuhi segenap ruang jalan raya di Jakarta. Berisik, bau, macet, tidak nyaman, tarif seenaknya; menjadi deretan kata-kata yang terlintas jika seseorang yang hidup di ibukota ditanya soal apa yang itu angkot. Bicara soal macet, Jakarta itu rajanya. Entah berapa banyak orang yang bilang begitu. Sampai-sampai pernah waktu konser Dream Theater ke Jakarta yang dihelat pada 21 April 2012, sang vokalis grup band lawas Amerika tersebut, James Labrie pernah berujar bahwa sungguh gila kota Jakarta ini, 30 menit mereka menaiki bus dari bandara belum juga beranjak dari tempatnya karena parahnya kemacetan di ibukota Indonesia ini. Padahal mereka sudah dikawal dengan banyaknya voor rider. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Macet di Jakarta itu sebuah hal yang di atas luar biasa. Entah apa itu namanya. Sudah gitu ditambah lagi dengan kondisi jalanan yang tak karu-karuan, lubang di sana sini, bergelombang. Mungkin sudah berapa banyak orang yang jadi korban keganasan aspal di Jakarta. Ya lagi lagi tetap saja tidak pernah menyurutkan gairah orang untuk memacu kendaraannya melintasi jalanan kota dengan tenahaknya. Konyolnya macet dituding jadi kambinghitam, padahal mereka sendiri yang bikin kota ini jadi macet. Aneh memang.
Memikirkan kota ini untuk sebuah solusi merupakan suatu yang hampir mustahil. Mungkin solusinya seperti waktu jaman penjajahan Jepang dahulu, kota ini dipasangi bom nuklir. Meledak. Wassalam. Tinggal sejarah ini kota. Barulah bisa diganti dengan Jakarta yang baru. Entah jadi apa namanya kelak.
Alih-alih.
Kereta semakin melaju kencang di relnya. Maklumlah namanya juga kereta ekonomi, semuanya serba ekonomis. Begitu aturan mainnnya. Bebas ngapain saja asal tertib dan sopan serta pastinya tidak melanggar Pancasila dan UUD 1945. Jadi kalau mau merokok ya boleh-boleh saja. Ffuihh. Begitu suara tiruan Eko menghembuskan napas berikut asap dari batang tembakau yang dihisapnya. Agaknya hembusan asap ini mengandung makna: penatnya hidup di ibukota dengan segala tetek-bengeknya yang banyak aturan di sana-sini, sehingga manusia tidak disebut manusia lagi melainkan robot yang bisa kentut. Bayangkan saja mau buang air kecil alias kencing ataupun buang air besar alias berak yang notabene membuang sesuatu yang tidak digunakan alias sampah kotoran saja harus membayar. Untung saja kentut belum disuruh bayar dan belum ada peraturan daerah yang mengaturnya. Kalau ada, ya celaka. Celaka sangat. Nahh, di kereta ekonomi ini semuanya setipe model begitu: dari mulai tempat duduk yang sempit berhadap-hadapan dengan seat 3x3, jalanan di antara tempat duduk yang sempitnya sehingga bisa jadi ajang goyang senggol-senggolan antar penumpang yang lewat, kondisi gerbong yang memprihatinkan, kumuh, banyak pengamen hilir mudik, pedagang asongan yang cuek bebek berjualan dengan tidak mengindahkan sopan santun ala pelajaran PPKn. Ditambah atau diperparah lagi dengan kondektur yang berpakaian agak kurang rapi berikut dengan satuan pengamanan yang ala kadarnya. Komplit.
“Bedebah” Eko memulai percakapan.
Langsung disambut gelak tawa oleh kedua rekan sejawatnya tersebut. Arief dan Shubhi memang termasuk teman yang boleh dibilang dekat dengan Eko. Boleh dibilang begitu. Kenapa? Ya karena paling tidak mereka berdua pernah satu jurusan kuliah di Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Oh iya, ada satu lagi rekan yang tidak ikut di perjalanan kali ini, sebut saja namanya Hendaru dan Ospi. Dia juga rekan diskusi Eko Arief dan Shubhi, namun sayang seribu sayang mereka berdua tidak dapat hadir dalam perjalanan yang entah apa tujuannya ini.
Jes gejes gejes.
Kira-kira demikian tiruan bunyi mesin kereta api yang entah dimana letak apinya, begitu cetus Eko. Seperti dimaklumi, Eko adalah orang yang kritis namun agak zaklijk, dia bisa meledak-ledak tanpa bisa kita tebak kemana arah ledakannya itu. Konon itulah pengakuan dari salah seorang rekannya yang ingin disebut inisialnya Arief. Loh kok dia lagi? Ah sudahlah, tidak penting juga. Sebenarnya maksud Eko itu dapat diterima nalar, yang dia maksud itu kereta Commuter Line atau kereta rel listrik yang mondar-mandir di Jabodetabek. Kereta itu tidak menggunakan bahan bakar untuk pemantik api layaknya kereta uap yang menggunakan mesin diesel. Okelah, sip.
Cerita berjalan seiring putaran intro roda kereta api yang bergesekan dengan rel untuk meluncur ke timur Jawa. Mereka bertiga kemudian melakukan ritual khas manusia beradab: tidur. Tampak dari raut wajah mereka yang amat kelelahan karena harus berjibaku sepagi buta dari Stasiun Universitas Indonesia untuk menuju Stasiun Pasar Senen karena KA Kutojaya yang sekarang ini mereka tumpangi berangkat dari situ. Dapat dikatakan pula mereka sudah pasang niat untuk menjadi musafir.