Thursday, February 6, 2014

3676masl: Perjalanan Menuju Puncak Abadi Para Dewa

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Memiliki tinggi 3676 meter di atas permukaan laut menjadikan tempat ini sebagai atapnya Jawa. Saya diberi kesempatan mengunjungi tempat ini pada pertengahan 2013. Perjalanan mendaki gunung kali ini memang berbeda dari biasanya, mengapa? Karena kali ini saya menempuh sekian jenis moda transportasi dari mulai kereta api, mobil jeep 4WD, dan kapal laut. Benar-benar perjalanan menaklukkan hati dan keangkuhan dalam diri seorang manusia.

Hari 1
Perjalanan dimulai dari Jakarta. Kami berenam naik KA Matarmaja jurusan Pasar Senen - Malang pada pukul 1340 tiba di Malang sekitar jam 0700 pagi. Setelah berbenah logistik kami langsung menuju ke Ranu Pani dengan menggunakan angkutan umum dari Stasiun Malang, namun di perjalanan kami singgah di tempat rekan bung Ragil yang debt collector. Sejenak istirahat mengisi tenaga dan tak lupa mengisi perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian lepas ashar kami menuju Ranu Pani dengan menggunakan mobil jeep yang pas untuk kami berenam. Maka dari itu kami menamakan kelompok kami dengan 6 cm alias 6 cowok macho. Hahaha. Sampai Ranu Pani sebelum maghrib, kami langsung registrasi. Singkat cerita kami sampai di Ranu Kumbolo yang disebut-sebut surganya gunung Semeru sekitar tengah malam, dirikan tenda, istirahat.

Hari 2
Kami bangun pagi, ibadah, bersih-bersih, menyiapkan logistik karena perut sudah keroncongan. Sarapan pagi. Ada momen menarik kala kami buang hajat, banyak kami temukan fosil kotoran manusia yang masih lama maupun baru. Hahaha. Kemudian sebelum hari terlalu siang kami lanjutkan kembara menuju pos berikutnya di Kalimati. Tidak lupa melewati Tanjakan Cinta yang memang bentuknya mirip hati dan sangat terjal nan curam. Pun kami juga melewati vegetasi sabana yang luas. Kira-kira sebelum maghrib menjelang kami telah sampai di Kalimati untuk mendirikan tenda.

Hari 3
Pukul 0000 kami telah siap berangkat menuju puncak Semeru atau yang lebih dikenal dengan Mahameru. Semua barang kami tinggal di Kalimati. Singkatnya setelah melewati Arcapada, Kelik, serta Lautan Pasir, terasa fisik kami sangat terkuras habis-habisan. Sayangnya ketika kami telah mencapai lautan pasir, apa daya badai menerjang sehigga kami harus bergegas kembali ke bawah.


Begitulah alam telah berbicara dan manusia hanya sanggup mendengar dengan segenap jiwa raga. Kami sadar perjalanan mendaki gunung bukanlah untuk pamer kesombongan, namun semakin menyadarkan diri kami bahwa manusia itu amatlah kecil di hadapan-Nya.

6 cm



No comments:

Post a Comment