| Syahdan, pendiri bangsa ini pernah bertutur tentang pemuda yang mampu mengguncang dunia lebih dari hanya mencabut Semeru dari akarnya. Iya, Sukarno pernah mengucapkannya sekian masa lalu. Rasanya yang demikian alih-alih. Andai Sukarno masih hidup, saya rasa mungkin beliau akan bertepuk jidat melihat kondisi generasi muda saat ini yang jauh dari harapan beliau sama sekali.
Saya ingin kembali beberapa
masa silam ketika awal saya menginjak usia abege, alias singkatan dari ABG
(Anak Baru Gede) waktu itu medio tahun 2000 ketika ramai orang membicarakan
istilah milenium. Saya ingat waktu pertama kali saya merokok. Iya merokok.
Menyalakan api ke batang tembakau. Waktu itu saya lakukan berempat dengan teman
satu SMP. Nikmat benar memang kalau sesuatu itu dikerjakan bersama. Saya masih
ingat merek rokoknya: Djarum Super, yang kami beli eceran dan secara diam-diam
disertai rasa takut ketahuan orangtua kami. Konyolnya ketika rokok sudah
dibeli, kami lupa sekalian beli korek api. Walhasil kami menyalakan rokok
dengan kompor gas. Entah mengapa waktu itu ada perasaan takut bercampur bangga
dan senang ala anak abege. Maklum kami baru merasakan euforia menjadi anak yang
berusaha lepas dari bayang-bayang masa kecil, sehingga stigma anak kecil dengan
sekuat tenaga kami lepaskan.
Saya masih ingat benar
bagaimana suara saat pertama kali api membakar batang tembakau hingga seketika
menyeruak ke atas atmosfir. Dan bagaimana rasa bau tembakau terbakar yang
menempel di mulut dan pakaian kami waktu itu. Semua terekam dalam ingatan saya
selalu. Adegan anak muda yang baru saja kenal dunia dengan rokok sebagai pintu
masuknya yang sejatinya konyol tidak ada gunanya sama sekali.
Tapi itu dahulu.
Sekarang jaman sudah berubah.
Dunia sudah terbalik, begitu kata judul sinetron. Kamu bisa lihat betapa marak
dan betapa mudahnya seorang anak bocah ingusan merokok di tempat umum. Tak ada
malunya pula seorang bocah baru kemarin yang beli rokok di warung kelontong.
Semua kegiatan dari mulai membeli hingga mengonsumsi si Tuhan sembilan senti yang
kata Taufik Ismail itu, dilakukan tanpa sedikitpun rasa was-was ataupun bahkan
takut sekalipun. Mungkin kiranya puisi tersebut perlu di-update dengan
menambahkan kalimat anak bocah ingusan baru kemarin yang belum sama sekali
melek dunia sudah menghisap rokok. Miris memang, anak baru kemarin yang masih
ngemis uang jajan ke orangtuanya sudah petantang-petenteng sok parlente beli
rokok dengan percaya dirinya untuk kemudian membakarnya sehingga pada akhirnya
lenyap menyatu dengan atmosfir. Syabas.
Undang-undang Nomor 81 Tahun 1999[1] tentang Pengamanan Rokok
bagi Kesehatan ditambah pula Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan menyatakan peraturan Kawasan Tanpa Rokok, Pengamanan Zat Adiktif
selalu saja ditentang pro perokok dengan dalih klasik hak asasi manusia. Entah argumentasi
macam apa yang digunakan perokok aktif untuk mengintimidasi perokok pasif.
Seolah dengan adanya rokok si perokok aktif menjustifikasi perbuatannya baik
dan benar dengan membawa bendera HAM yang sejatinya tai kucing. Padahal sudah
jelas aturan main hukum yang ditetapkan pemerintah terkait peraturan larangan
merokok di tempat umum seperti: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses
belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat
kerja, dan tempat umum serta tempat lain yang ditetapkan.
Alasan klasik berikutnya
faktor ekonomis bahwa rokok turut serta meningkatkan devisa negara sehingga
harus ditingkatkan bea cukainya untuk program ekspor ke mancanegara. Anehnya
produksi rokok dalam negeri pun tak kalah kencangnya. Padahal coba tengok
negara macam Singapura atau Jepang, peraturan yang ditetapkan untuk membeli
rokok sangat tegas, orang di bawah usia 20 tahun dilarang beli rokok,[2] berikut dengan larangan
merokok di sembarang tempat. Rokok yang dijual di vending machine atau toko kelontong
di Jepang termasuk relatif mahal karena terkait kebijakan pemerintahnya. Saya
tidak menyalahkan perokok aktif karena itu hak mereka, namun saya juga punya
hak untuk bebas menghisap udara segar tanpa rokok. Silakan saja merokok asal
asapnya itu jangan dibuang.
Hal yang lebih miris lagi di
kalangan anak muda abege masa kini adalah fenomena vape atau vaping. Kalau
disurvey atau ditanyakan langsung maka kebanyakan pengguna vape adalah orang
yang dulunya perokok aktif yang sejatinya mencari alasan untuk berhenti merokok
dengan mengalihkan ke vape. Alasan bodoh tanpa didasari fakta ilmiah disertai
nafsu menjadikan pengguna vape menjustifikasi perbuatan mereka sendiri dengan
istilah “lebih sehat”. Padahal faktanya tak ada satupun dokter atau ahli
kesehatan yang merekomendasikan rokok atau vape sekalipun sebagai terapi kesehatan.
Faktor ikut-ikutan teman biar dibilang ngetren yang menjadikan produsen vape
semakin laris manis tanjung kimpul, barang habis duit kumpul.
Generasi muda kini sibuk
berkutat dengan asap tembakau dan liquor vape. Anehnya uang mereka habis untuk
rokok dan vape tidak mengapa, padahal sejatinya itu uang yang mereka dapatkan
dari orangtuanya. Sungguh miris memang. Mungkin anak jaman sekarang terlalu
manja sehingga apa saja mesti instan. Bahkan soal makanan minuman pun yang
sudah banyak terkontaminasi monosodium glutamate yang lazim disingkat MSG atau
biasa dilafalkan dengan mecin. Hampir di semua makanan yang dikonsumsi abege
nyaris disertai mecin. Fakta ilmiahnya, mengonsumsi mecin secara berlebihan
akan mengakibatkan hipertensi.[3] Tak heran banyak anak
abege yang sering baper alias singkatan dari bawa perasaan yang berujung pada
emosi tak terarah. Sehingga tidak mampu membedakan mana manfaat mana mudarat. Pada
akhirnya uang anak muda masa kini yang kekinian hanya dihabiskan untuk membeli
daun kering tembakau, cairan wangi vape, dan garam kristal mecin yang berujung
pada pembodohan masal dan terstruktur. Akhirul kalam meminjam istilah Taufik
Ismail: Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
[]
[1]
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 81 tahun 1999 tentang Pengamanan Rokok
bagi Kesehatan
No comments:
Post a Comment