Jaman ini
semakin edan rupanya, nalar manusia bisa seenaknya terbolak-balik melalui
berbagai macam cara dan acara. Kiranya konsep definisi kata sosial sudah
tercerabut dari akarnya. Betapa tidak, kita dapati dalam kehidupan sehari-hari,
manusia modern yang hidup di kota tidak ubahnya seperti robot bernyawa, atau
katakanlah manusia yang tidak manusiawi. Bayangan dalam benak saya secara kasar
yaitu manusia yang bangun tidur di pagi hari, kemudian memulai aktifitas menuju
kantor, sekolah, pabrik, dan tempat-tempat lain dengan berjalan kaki, naik
motor, mobil, bus, kereta api, sepeda dan semua moda transportasi yang menjadi
simbol peradaban maju. Manusia mengular untuk memenuhi jalan-jalan raya di
kota. Memaki-maki kemacetan yang ironisnya mereka buat sendiri. Aneh bin
ajaibnya, semua telah tersusun secara sistematis tanpa adanya dialog antar
manusia yang mencirikan peradaban dari jaman Adam nenek moyang manusia dahulu
kala. Lantas ketika malam telah tiba, begitu halnya manusia sibuk dengan masygul
rebutan untuk pulang ke peraduan masing-masing yang bernama rumah. Ada yang
tinggal di rumah orangtua, rumah orangtua, kos-kosan, hotel, atau bahkan ada
yang tidak punya rumah sama sekali hingga harus tinggal di kolong flyover, atau
bahasa kerennya kolong langit. Lantas entri kata-kata yang populer di kamus
seperti macet, bau, kotor, polusi, semrawut menjadi langganan kota-kota besar
di Indonesia.
Rekan saya,
sebut saja namanya Shubhi pernah mengeluhkan soal betapa angkuhnya manusia
Indonesia jaman sekarang ini. Sulitnya mencari tempat untuk diskusi yang
dinamis bertukar pikiran, mencari ruang-ruang untuk sekedar mencurahkan penat
atau bahasa gaulnya curhat. Imbasnya lebih jauh, kritik atas sesuatu di jaman
ini menjadi barang langka. Saya pun mengamini pendapat rekan saya ini.
Menyinggung
soal kritik, kalau kita menengok sejenak ke beberapa masa silam, di bidang
sastra ada nama HB Jassin yang konsisten mengkritik perkembangan sastra
Indonesia modern, hingga namanya diabadikan menjadi pusat dokumentasi sastra di
Cikini, Jakarta. Atau di jaman kini ada nama Remy Sylado yang nyentrik
menguasai beberapa bidang mencakup teologi, dramaturgi, musik, sastra, bahasa,
film dan seabrek bidang lain yang semua tak lepas dari kritiknya. Saya rasa dan
saya pikir bangsa ini sudah kehilangan sosok-sosok semacam ini. Karya-karya
layar kaca kini hanya dipenuhi artis artis bergincu modal tampang keren dan
cantik plus seksi yang jadi syarat utama untuk lolos audisi. Sinetron-sinetron
cengeng bertema ilusi dan utopia semakin menjamur. Komedi yang dulu benar-benar
jujur menyuarakan hiburan untuk rakyat didominasi oleh acara-acara yang cuma
menjual dagangan semata, yang entah kemana juntrungannya. Lawakan atau
sandiwara radio yang dulu sempat ngetop kini dianggap sesuatu yang langka,
padahal faktanya banyak artis layar kaca yang ngetop lewat jalur radio. Agaknya
paham neoliberal kini menjadi sesuatu yang mengasyikkan untuk dinikmati. Tak
ayal, kata-kata semacam sharing, rating, kini menjadi laris manis tanjung
kimpul.
Semua aktifitas
yang dilakukan manusia canggih abad ini nyaris dilakukan tanpa tegur sapa, atau
ya minimal basa basi lah. Hal itu yang amat saya rasakan. Entah setan macam apa
yang menjangkiti bangsa Indonesia ini di era yang katanya milenium ketiga. Gejala penyakit semacam ini dapat dirunut
pasca tumbangnya Orde Baru yang katanya melulu dikaitkan pada sesuatu yang
negatif. Sebut saja media sosial, yang lazim disebut social media disingkat
socmed. Tanpa disadari kehadirannya menggerus nilai-nilai kemanusiaan yang selama
ini melekat kepada bangsa Indonesia yang gemah ripah loh jinawi tentrem tata
raharja. Deretan nama semacam Facebook, YouTube, Twitter, telah menjadi racun
yang semakin lama menjadi candu yang nikmat bagi masyarakat. Kalau dulu kata
Nietsczhe yang jadi candu masyarakat itu adalah agama karena membikin lemah
masyarakat, agaknya kini definisi agama itu telah mengalami pergeseran menjadi
socmed. Dapat kita saksikan betapa mirisnya tayangan-tayangan yang tidak
mendidik akibat didikan socmed yang digunakan oleh remaja-remaja tanggung
berjiwa labil yang masih mencari jatidiri dan gagap teknologi melek media.
Beruntunglah
saya masih punya teman-teman yang hidup semasa dengan saya, yang menyaksikan
transisi sebuah sistem yang punya gradasi berbeda, Generasi yang hidup bukan
dari barang instan seperti sekarang ini. Saya merasa butuh ruang lebih banyak
untuk berdiskusi, berdiskursus, mengaktualisasi diri. Atau lebih jelasnya yaitu
untuk merawat akal sehat yang semakin lama semakin tidak waras akibat cepatnya
perubahan jaman. Saya butuh kritik, tapi bukan hujatan yang konon kini lagi
ngetop di masyarakat. Semoga saya masih bisa terus merawat akal sehat ini di
tengah keblingernya jaman ini. Amin