Friday, July 18, 2014

Ditilang

Suatu malam kira-kira pukul 00.00 WIB saya berkendara rodadua di kawasan Tebet Jakarta Selatan dari Palmerah Jakarta Barat. Sebelumnya saya belum tidur selama dua malam akibat reuni dengan kawan lama dari Manado di puncak pass Bogor. Ketika saya lewat U-turn [istilah gaul anak jaman sekarang untuk kata putaran balik] dengan tanda dicoret di Jl. Dr. Saharjo, walhasil saya diprit pak polisi. Mereka tidak banyak ya gak sampai setengah lusin juga kok. Dengan sigap dan cekatan saya dihadang en ditindak langsung oleh salahsatu dari mereka. Saya gak sempat lihat nama dan pangkat si pak polisi ini, namanya juga sudah gak karu-karuan. Yang jelas si polisi ini masih muda.

“Selamat malam, Pak” dengan logat Jawa.
“Iya pak malam”
“Tau apa kesalahan Bapak?”
“Tau Pak”
“Kenapa masih melanggar?”
“Maaf Pak saya benar-benar gak liat”
“Bisa menepi sebentar?” Seraya meminta SIM dan STNK
“OK Pak” Sambil mengeluarkan STNK di dalam dompet.

Pas saya mau kasih SIM eh ndilalah malah tertukar dengan KTP. Si Pak Polisi tanya:
“SIM kamu gak ada ya?
“Oh ada Pak. Maaf saya gak lihat. Ini” Seraya memberikan SIM yang bertuliskan POLTABES SUMBAR.


“Yaudah kamu saya tilang. Kan melanggar ini”
“Waduh pak. Saya kan udah bilang kalau saya memang salah. Beneran Pak saya baru dari puncak. Belum tidur dua malam. Beneran saya ngantuk pak.”
“Iya tapi kamu kan salah. Pokoknya kamu tebus di pengadilan tanggal 27 bisa kan?”
“Gak bisa pak, gak akan ada yang nebus.
“Loh kok gitu?”
“Saya gak tinggal di sini Pak. Saya tinggal di Jogja.”
“Oh sampeyan wong Jogja toh” Mendadak kalem ala keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Inggih Pak leres ipun”
“Yaudah saya tilang ya” Sambil senyum.
“Yah Pak kan saya udah minta maaf tadi. Bapak kan juga udah tau gak akan ada yang nebus suratnya.”
“Hmm yaudah lain kali hati-hati ya. Jangan melanggar lagi”
“Siap Pak terimakasih”.

Saya langsung ngacir memacu sepedamotor membelah kesunyian tengah malam Jakarta. Ada pesan moral dari cerita ini yaitu Polisi juga manusia yang punya hati nurani. Janganlah kita mengganggap orang lain selalu negatif. Kalau semua orang berkesimpulan citra polisi selalu buruk, bagaimana kalau misalkan salah satu dari mereka adalah anggota keluarga kita? Semoga bisa menjadi bahan renungan.

No comments:

Post a Comment