Suatu
malam kira-kira pukul 00.00 WIB saya berkendara rodadua di kawasan Tebet
Jakarta Selatan dari Palmerah Jakarta Barat. Sebelumnya saya belum tidur selama
dua malam akibat reuni dengan kawan lama dari Manado di puncak pass Bogor.
Ketika saya lewat U-turn [istilah gaul anak jaman sekarang untuk kata putaran
balik] dengan tanda dicoret di Jl. Dr. Saharjo, walhasil saya diprit pak
polisi. Mereka tidak banyak ya gak sampai setengah lusin juga kok. Dengan sigap
dan cekatan saya dihadang en ditindak langsung oleh salahsatu dari mereka. Saya
gak sempat lihat nama dan pangkat si pak polisi ini, namanya juga sudah gak
karu-karuan. Yang jelas si polisi ini masih muda.
“Selamat
malam, Pak” dengan logat Jawa.
“Iya
pak malam”
“Tau
apa kesalahan Bapak?”
“Tau
Pak”
“Kenapa
masih melanggar?”
“Maaf
Pak saya benar-benar gak liat”
“Bisa
menepi sebentar?” Seraya meminta SIM dan STNK
“OK
Pak” Sambil mengeluarkan STNK di dalam dompet.
Pas
saya mau kasih SIM eh ndilalah malah tertukar dengan KTP. Si Pak Polisi tanya:
“SIM
kamu gak ada ya?
“Oh
ada Pak. Maaf saya gak lihat. Ini” Seraya memberikan SIM yang bertuliskan
POLTABES SUMBAR.
“Yaudah
kamu saya tilang. Kan melanggar ini”
“Waduh
pak. Saya kan udah bilang kalau saya memang salah. Beneran Pak saya baru dari
puncak. Belum tidur dua malam. Beneran saya ngantuk pak.”
“Iya
tapi kamu kan salah. Pokoknya kamu tebus di pengadilan tanggal 27 bisa kan?”
“Gak
bisa pak, gak akan ada yang nebus.
“Loh
kok gitu?”
“Saya gak tinggal di
sini Pak. Saya tinggal di Jogja.”
“Oh sampeyan wong
Jogja toh” Mendadak kalem ala keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Inggih Pak leres ipun”
“Yaudah saya tilang
ya” Sambil senyum.
“Yah Pak kan saya
udah minta maaf tadi. Bapak kan juga udah tau gak akan ada yang nebus suratnya.”
“Hmm yaudah lain
kali hati-hati ya. Jangan melanggar lagi”
“Siap Pak
terimakasih”.
Saya langsung ngacir
memacu sepedamotor membelah kesunyian tengah malam Jakarta. Ada pesan moral
dari cerita ini yaitu Polisi juga manusia yang punya hati nurani. Janganlah
kita mengganggap orang lain selalu negatif. Kalau semua orang berkesimpulan
citra polisi selalu buruk, bagaimana kalau misalkan salah satu dari mereka
adalah anggota keluarga kita? Semoga bisa menjadi bahan renungan.
No comments:
Post a Comment