Btw,
kangen jaman Pak Soeharto dan Pak Abdurrahman Wahid :')
Begitu
tulis salah satu anggota girlband yang populer di Indonesia. Sebuah kegelisahan
yang lahir dari generasi muda yang sudah jemu dengan atmosfer reformasi. Namun
adakah yang salah dengan premis di atas? Perasaan kangen atas suatu jaman yang
pernah dilewati mungkin sesuatu yang wajar bagi siapapun yang memang pernah
melintasi masa tersebut. Akantetapi jika hal ini diucapkan oleh orang yang
belum pernah merasakan masa tersebut apakah masih dianggap wajar. Inilah yang
digarisbawahi oleh orang yang berkomentar mengenai nyinyiran (bahasa
nyelenehnya Twitter) ini. Menarik untuk disimak jika hal ini dicermati dari
tatabahasa yang digunakan untuk menyingkap makna dibalik kata.
Beragam
komentar negatif kontan langsung memenuhi linimasa si pencuit (saya memilih
sebutan ini untuk si anggota gilrband), akibat premisnya yang agak janggal ini.
Entah angin apa yang menjadikan si pencuit ini untuk menuliskan kalimat model
ini. Mungkin benaknya sedang berkecamuk akibat kondisi politik tanah air yang
tidak stabil seiring pemilu legislatif dan pemilu presiden. Komentar yang agak
pedas begini bunyinya: “jaman Soeharto orang nari-nari kayak kau udah
dikarungin dek! Mengganggu stabilitas!”.
Setidaknya
ada empat kata yang mampu ditelaah dari penyataan singkat namun sarat makna
ini. Kata kangen, jaman, Pak Soeharto, Pak Abdurrahman Wahid. Kata kangen
merupakan kata yang unik yang hanya dimiliki bahasa Indonesia dan tidak
memiliki padanan kata dalam bahasa lain, semisal Inggris yang memiliki lema
“miss” katakanlah. Namun tetap saja rasa bahasa yang ditimbulkan akan berbeda
jika penggunaan kata kangen yang dipilih untuk mewakili sebuah emosi. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘kangen’ bermakna ingin sekali bertemu.
Makna ini pun hanya makna tunggal dan tidak memiliki padanan makna. Artinya
apa? Artinya yaitu ekspresi dari kata kangen ini berimplikasi makna pada
tujuannya yaitu sebuah pertemuan yang dikehendaki. Berbeda dengan kata ‘rindu’
yang menurut KBBI bermakna 1. Sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu
2. Memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Kekuatan makna yang dimiliki
kata kangen memiliki ciri khas tersendiri dari perasaan yang mewakili ujaran
kata tersebut. Bahkan kata kangen ini sampai menjadi judul lagu band Dewa 19
yang mewakili simbol anak muda pada jaman tersebut. Wajar saja jika kemudian
muncul komentar miring terkait premis di awal. Kata kangen merefleksikan
perasaan gundah gulana tanpa disertai sesuatu yang bersifat melankolis sehingga
kesan yang ditimbulkan menjadi lebih kuat dan bermakna ketimbang kata rindu
yang mewakili perasaan anak muda di era 90-an. Era di mana musik populer atau
lazim disebut musik pop melankolis sempat dilarang beredar oleh pemerintah orde
baru yang disimbolkan oleh Soeharto. Salah satunya sebut saja nama Betharia
Sonata yang menjadi ikon “musik pop cengeng” pada masa itu terkena imbasnya.
Pencekalan demi pencekalan seolah menjadi ciri khas orde baru termasuk segala
yang berhubungan dengan konten media.
Lantas
kemudian kata kangen disandingkan dengan kata jaman. Menurut KBBI kata jaman,
yang baku yakni zaman; bermakna 1. Jangka waktu yang panjang atau yang pendek
menandai sesuatu; masa 2. Kala; waktu.
Dapat dicermati bahwa kata zaman terkait pada ruang dan waktu tertentu
yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap zaman memiliki dinamika gaya
dan ciri masing-masing. Penggunaan contoh tersebut ada di penjelasan
berikutnya.
Pak
Soeharto. Siapa yang tidak kenal Soeharto? Beliau adalah presiden kedua Republik
Indonesia yang memimpin dalam masa yang dikenal dengan orde baru selama 32
tahun yang dengan kebijakan represifnya. Julukan Bapak Pembangunan Indonesia
diberikan kepadanya karena di zaman orde baru banyak pembangunan berjalan di
tanah air tercinta ini. Terlepas dari pro-kontra soal beliau, harus diakui
bahwa rakyat begitu mencintai beliau hingga akhir hayatnya. Sampai-sampai sosok
Pak Harto dengan senyumannya yang khas yang sempat diabadikan dalam bentuk uang
kertas pecahan 50 ribu rupiah selalu menghiasi persona beliau hingga kini.
Alih-alih bahkan presiden yang dijuluki “the smiling general” alias sang
jenderal tersenyum ini sering dijadikan candaan bagi orang yang jenuh dengan
alam reformasi. Banyak kita temui stiker-stiker di angkot, di kaos-kaos, poster,
baliho dan lain sebagainya tulisan yang berbunyi: Piye Kabare? Isih Penak
Jamanku Toh?? (Gimana kabarnya? Masih lebih enak di zamanku kan). Mungkin
inilah yang menjadi dasar sugesti atas kicauan si pencuit ini.
Pak
Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Presiden
keempat RI serta presiden pertama di era reformasi yang dipilih oleh DPR kala
itu. Gus Dur dengan celoteh dan canda tawanya yang khas memang nyentrik. Slogan
“gitu aja kok repot” seakan menjadi ciri khas beliau. Beliau merupakan sosok
yang humanis yang terlihat dari
keinginan beliau menjadikan istana negara dan istana merdeka sebagai
tempat bagi rakyat untuk tinggal layaknya rumah sendiri. Tidak dapat dipungkiri
sosok beliau yang terkadang dinilai beberapa kalangan sebagai sosok yang
nyeleneh namun cerdas. Salah satu kebijakan beliau yang dianggap baik yaitu
meliburkan anak sekolah selama bulan Ramadhan. Mungkin hal inilah yang
mendasari si pencuit untuk melontarkan premis di awal, yang mungkin hal ini masih
rasional ketimbang pernyataannya atas orde baru.
Terlepas
dari itu semua, apa yang disampaikan si pencuit merupakan kegamangan berpikir
dalam masa peralihan anak muda yang cenderung masih labil dan rentan. Tapi di
balik itu ada makna tersembunyi bagi pemimpin kita pemimpin bangsa agar
menjadikan kesan yang baik bagi rakyatnya. Sehingga semakin banyak orang yang
menyatakan kangen akan sosok si pemimpin yang tahu bagaimana caranya memimpin
dan membela kepentingan rakyatnya.
No comments:
Post a Comment