Monday, February 17, 2014

Hujan di Langit Jogja

 Byur.
Langit Jogja langsung menjatuhkan air hujan dengan serta merta. Saya langsung sujud syukur. Betapa tidak, pasca erupsi Gunung Kelud pada 14 Februari 2014 yang meluluhlantahkan langit Jawa, sebagai akibatnya kota pelajar ini tidak disinggahi hujan. Bahkan justru yang ada hujan abu vulkanik yang bermuatan material perut bumi yang notabene mengandung sulfur dan silika (SiO2) yang berbahaya tidak hanya bagi manusia namun juga dapat merontokkan besi pesawat terbang. Bayangkan!

Saya tahu Allah Maha Rahman Maha Rahim, dan Dia tidak akan biarkan makhluknya untuk sengsara sebagaimana janjinya:

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya" [Qaf: 9]

Saya langsung keluar rumah, membuka baju. Mandi hujan. Ya mandi hujan sebagaimana ritual anak kecil yang mengasyikkan. Tak dapat dipungkiri rasa di dalam diri ini campur aduk. Mungkin inilah wujud rasa syukur sebagai seorang hamba yang selama berhari-hari tidak dapat merasakan nikmat dari langit. Segenap perasaan ikut larut membuncah ruah bersama butiran air yang menitik dengan iramanya sendiri. Ngelangutkan jiwa.


Dia adalah Dzat yang tak pernah ingkar janji. Kepada Nya aku bersujud, memohon ampun, mengadu, dan kembali. Terimakasih ya Allah Kau telah mandikan bumi-Mu tempat hamba menengadah atas berkah dan rahmat-Mu yang tiada henti. Kasih-Mu sepanjang masa, hamba bersujud atas segala yang Kau berikan. Maha Suci Engkau.







No comments:

Post a Comment