Sunday, June 5, 2016

[Arsip] Evaluasi 2012

Seperti biasa di akhir tahun, kita sering kali membuat resolusi untuk tahun depannya. Kali ini saya ingin membuat evaluasi terlebih dahulu sebelum membuat resolusi yang baik dan memang saya perlukan untuk diri saya di 2013.
Di tahun 2012 awal, mengawali tahun baru seperti biasa, bersama keluarga. Banyak hal baru yang mulai berdatangan. Seperti masalah di keluarga Tante Vera (tempat saya tinggal di BSD) dan masalah di kuliah. Nilai yang tidak juga membaik membuat saya mengkhawatirkan keberadaan saya di rumah itu. Saya tidak mau Tante saya disalahkan untuk kesalahan saya yang malas belajar, jadi saya berusaha mengambil resolusi untuk lebih serius belajar.
Saya menjalani sepanjang tahun dengan berusaha menjaga agar tidak malas dan tidak bolos. Tidak lupa saya memperingati diri tentang tugas dan belajar untuk ujian. Meski akhirnya tak terlihat membaik, tapi saya puas dengan kinerja saya tahun ini.
Di tahun 2012 awal juga, tepatnya Februari, Tante Vera menawarkan bisnis baru untuk Kak Anin, anaknya yang paling sulung, dan Riyo, pacar Kak Anin. Bisnis itu adalah bisnis yang berjalan di dunia hiburan. Agency Studio yang biasanya fungsinya untuk menyalurkan talenta-talenta yang berbakat di dunia hiburan. Dan rencana yang dicanangkan dari Februari tersebut, berhasil direalisasikan pada 8 Maret 2012.
Saya juga dilibatkan dan awal sampai pertengahan tahun saya dihabiskan untuk kuliah dan kerja sambilan di tempat itu. Posisi saya? Bebas! Resminya sih, asisten tenaga IT utama di tempat itu. Tapi ujung-ujungnya juga jadi apa ajah! :-))
Mengejutkannya di Bulan Februari juga saya mendapat mandat dari ketua Himpunan Jurusan Sastra Jepang (HIMJA) untuk mengadakan HIMJA EXPO di sekitaran bulan April atau Mei.
Lucunya saat itu saya harus sibuk dengan urusan saya mengetuai pelaksanaan acara kampus sementara saya juga harus ke sana kemari mengurusi acara besar yang diadakan VW Entertainment, yaitu event shuffle terbesar se-JABODETABEK, Shuffle Dance Revolution.
Kesan saya di bulan-bulan pertengahan 2012 itu saya banyak mendapatkan hal baru. Dari cara manajemen acara yang baru, cara mencari sponsor yang, harus diakui, memang sangat sulit. Bagaimana sulitnya harus memikirkan semuanya dalam suatu acara sebagai seorang ketua panitia. Benar-benar pengalaman yang terjadi dengan sangat cepat.
Di bulan-bulan itu juga, saya mulai agak dekat dengan seseorang, yang sebenarnya sudah saya kenal hampir setengah tahun. Namanya Romika Djunaidi. Orang minang. Dia manggil saya ‘kakak’ padahal dia lebih tua sepulu…ehhh enam tahun dari saya.
Tepatnya Agustus tanggal 11, saya menyempatkan diri bertemu dia untuk ke-tiga kalinya (ya, kami sudah pernah bertemu dua kali sebelumnya) dan terjadilah hal fatal yang benar-benar membongkar perasaan yang saling kami pendam selama ini. Cinta.
Tanggal 12 Agustus, saya terbang ke Palembang untuk berlibur. Kami menghabiskan waktu di telepon membicarakan hal yang terjadi hari sebelumnya, dan untuk kesekian kali (ya, ini sudah kesekian kali dia membicarakan ini) dia bertanya lagi, apa saya mau serius dengan dia.
Awalnya saya ragu, dengan pertimbangan, dia ini orangnya terlalu friendly dan banyak guyon. Sedangkan saya, saya selalu serius memandang segala sesuatu dan gampang cemburu. Saya merasa, hubungan ini gak akan bisa berjalan. Tapi ada sesuatu yang mendorong saya, untuk menerimanya.
Akhirnya kami jadian malam itu, tanpa kami berdua sadari. Mengalir begitu saja, tahu-tahu panggilan sayang sudah nangkring anteng di ujung kalimat tiap kami memanggil satu sama lain.
Dari Agustus, sampai Desember, kami bukannya tak pernah bertengkar. Kami bertengkar, tapi entah karena keras kepala, atau memang saling mencintai, kami kembali berbaikan.
Ditutup dengan kejadian, saya bahkan bisa bikin dia marah di akhir tahun yang seharusnya syahdu. Lebih parah lagi, saya bisa bikin dia marah di jam 00.00 saat seharusnya kami berdua bermasyuk berdua saling mengucap tahun baru dan doa.
Kebodohan saya memang luar biasa, hanya tahu mencintai tapi tak bertanggung jawab. Tapi saya berjanji, dan terus berusaha keras (percayalah, sangat keras) untuk menepati janji saya itu.

No comments:

Post a Comment