Thursday, September 1, 2016

Hai Kangen!

hai kangen!
sudah lama kita tak lagi bakutemu. aku sadar tak ada lagi cara untuk kita ber-anu ber-itu. lantas aku buka kembali surelmu, ku baca isinya dan ku pahami beberapa attachment darimu. akhirnya aku paham, kamulah satu-satunya wanita di dunia ini yang syahdan hadir di linimasaku, mengobrak-abrik dengan segala tingkah lakumu. kamu ibarat penari sirkus yang punya segudang jurus hebat mengundang aplaus penonton, dan akulah si penonton tunggal di setiap pertunjukanmu, yang selalu setia menunggu kejutan apa lagi yang mau kamu tunjukkan. kamu rela jungkir balik sampai titik darah terakhir untuk menunjukkan ke aku kalau kamu itu jagoan sirkus terbaikku yang selalu punya cara agar aku bertepuk tangan. hingga aku harus mengakui cuma kamu yang layak jadi bintang di hatiku..

kini, sekarang, kamu tak perlu lagi jungkir balik buatku. aku sudah mengerti dan paham tak ada yang bisa gantikan kamu di hati ini. kamu terlalu hebat, semua wanita yang pernah ada di hidupku satu per satu kamu sikat habis sampai mereka tersingkir dan terjungkal dari hatiku, hingga yang ada cuma kamu, iya, namamu. Kasih Elia yang aku panggil Neneng
(ditulis sambil nangis)

salam hangat



-Babang-

Thursday, August 18, 2016

Seeing is Believing




Potongan scene film Cinema Paradiso (1988)

Kalau ada yang pernah nonton film Now You See Me 2 rilis pada 2016 yang bercerita tentang pesulap yang disebut Four Horseman, yang selalu beratraksi tanpa diduga kapan dan dimana. Pastilah penonton itu pernah membaca kuotasi ini. Seeing is believing. Melihat adalah percaya. Sekilas memang kalimat kuna itu terkesan klasik, jadul, kuna, tidak kekinian, kurang gaul dan sebagainya. Tapi itu alih-alih.
Mari berpindah ke translasi Inggris ke Indonesia, agar mudah dipahami apa maksud kalimat di atas melalui pemahaman Indonesiawi. Entri kata melihat berasal dari kata lihat, yang menurut Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2008 bermakna menggunakan mata untuk memandang. Adapun entri kata percaya secara harfiah bermakna mengakui atau yakin bahwa sesuatu memang benar atau nyata. Ada dua hal menarik yang bisa dicermati dari dua entri kata tersebut, yaitu adanya kehadiran kasat indrawi yang diwakili indra penglihatan yakni mata untuk kemudian tunduk pada hal berikutnya yaitu yakin, yang sejatinya hanya mampu diwakili oleh hati.
Kalau mencermati secara historis, kuotasi seeing is believing tercatat ketika St. Thomas mengaklamasi tentang eksistensi Yesus Kristus yang tidak dapat dilihat oleh mata namun dapat dipercaya. Proverbia Latin ini dapat dijumpai di Paroemiologia Anglo-Latina, sebuah koleksi proverbial dalam bahasa Inggris dan Latin yang diterbitkan di London pada  tahun 1639 oleh John Clarke.
Adapun Google menafsirkan idiom seeing is believing dengan kategori proverbia; you need to see something before you can accept that it really exists or occurs. Anda harus melihat sesuatu hal sebelum menerima bahwa suatu hal itu adalah eksis atau terjadi. Sepertinya Google lebih rasional dalam hal ihwal indrawi. Mungkin karena Google tidak punya agama. Jadi sah-sah saja dia berceracau soal seeing is believing sama dengan seeing before believing. Bahwa seseorang itu mesti melihat hal yang kasat mata sebelum tindakan selanjutnya yaitu percaya. Entah darimana Google berargumentasi soal demikian. Aliran sekolah mana yang dia anut. Wallahu a’lam.
Namun tarik menarik antara kata melihat dan percaya ini merupakan suatu yang unik untuk dipahami. Timbul pertanyaan apakah sesuatu yang dipercaya itu harus kita lihat terlebih dahulu? Atau pertanyaan kosokbalinya, apakah sesuatu yang kita lihat itu harus kita percaya. Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, mari kita bahas satu persatu.
Pertanyaan yang sekaligus pernyataan pertama, apakah sesuatu yang dipercaya itu harus dilihat terlebih dahulu? Agaknya pertanyaan ini akan  terasa menyakitkan bagi orang buta, tuna netra. Orang buta tidak memiliki kemampuan layaknya manusia normal pada umumnya untuk sekedar menjawab pertanyaan sederhana ini. Namun orang buta punya mata hati untuk percaya pada hal yang belum pernah atau bahkan sama sekali tidak dilihatnya. Apakah konsep ketuhanan yang sejatinya merupakan konsep gaib harus diterjemahkan melalui mata? Hampir dipastikan jawabannya tidak. Orang percaya adanya cinta tanpa harus melihat apa itu cinta. Begitupun halnya dengan orang buta, yang juga berhak punya dan merasakan apa itu cinta, tanpa harus melihat eksistensi cinta secara realistis itu seperti apa bentuknya.
Adapun pertanyaan yang juga sekaligus pernyataan kedua, apakah sesuatu yang kita lihat itu harus kita percaya. Agaknya hal demikian kembali ke konsep diri yang dicetuskan oleh Everett Rogers pada 1959 bahwa apa yang kita lihat maka itulah yang kita percaya sebagai suatu realitas yang telah menjadi persepsi kognisi alam sadar. Sederhana memang, namun ruwet sejatinya. Orang takut kepada mati, namun belum ada bahkan tidak ada dalam fakta sejarah yang menyatakan bahwa ada orang yang pernah melihat kematian melalui indra mata. Namun manusia manapun harus dipaksa percaya kalau kematian itu adalah sesuatu yang mutlak terjadi pada siklus hidup manusia. Dia menjadi oposisi biner atas kehidupan.
Pernyataan awal memberikan penekanan bahwa proses melihat yang berarti proses aktif merupakan sebuah proses memercayai objek yang dilihat. Artinya bahwa suka atau tidak suka, kita dipaksa untuk percaya bahwa kita sudah menyaksikan suatu objek yang diyakini dan dibenarkan oleh hati sebagai penerjemah segala tindakan dan perasaan manusia. Ada satu kuotasi menarik yaitu ora che ho perso la vista, ci vedo di più /I can see much clearer now I’m blind/ Aku dapat melihat lebih jelas, sekarang aku buta, yang dapat ditemukan dalam scene film Cinema Paradiso tahun 1988 yang merupakan film besutan Giuseppe Tornatore. Dalam scene film itu ada seorang anak kecil yang ditutup matanya oleh seorang lelaki dewasa yang kemudian membacakan kalimat tersebut seperti sebuah jampi. Kemudian tak lama berselang si anak itu menjadi dewasa dan seperti mendapatkan pencerahan. Kalimat dalam film yang menyabet Oscar untuk kategori Best Foreign Language Film ini kemudian dikutip oleh band progresif metal Amerika Serikat yaitu Dream Theater pada lagu Under Glass Moon di album Images and Words tahun 1992.
Entah apa maksud dari kalimat aku dapat melihat lebih jelas karena sekarang aku buta. Tapi yang jelas percayalah pada apa yang barusan kita lihat dalam tulisan ini. Seeing is believing.


                                                                           []

Monday, August 1, 2016

Ah Cinta, Itu Kamu





Aku bebas mencintai siapapun wanita di dunia ini. Kemana angin berhembus, kemana laju mata air mencari si lautan sang muaranya. Sampai kiranya aku dipertemukan denganmu. Dan aku tak pernah menyangka dan menyangkal hal ini. Takdir berkata aku bertemu kamu di penghujung masa kesendirianku. Entah sial atau untung namanya. Seandainya aku punya kuasa atas takdirku, pastilah aku tulis namamu jadi pendampingku selamanya. Namun inilah kiranya dunia, kehidupan penuh misteri. Dan aku pun kamu harus siap dengan milyaran misteri yang akan datang. 

Aku tahu mencintaimu itu sesuatu yang sakral bagiku. Kamu pun tahu, sekali aku cinta kamu maka aku tak akan pernah temukan hal menarik selain itu (Pidi Baiq). Kamu yang jadikan aku selalu bangkit berdiri. Kamu bilang aku harus ini dan itu, tanpa boleh menyerah pada sesuatu yang perlu atau harus diperjuangkan. Namun bagiku untuk apalagi itu semua. Sesungguhnya kamu lah hal menarik yang harus diperjuangkan dalam hidupku di dunia ini. Aku sudah teramat lelah dengan pencarianku selama ini. Hingga aku dipertemukan denganmu. Walau aku dan kamu tahu, kita sama-sama tahu kalau ini bukan saat yang tepat. Sampai kamu tanya, apalagi mauku? Aku jawab mauku itu KAMU. Cuma KAMU. Itu saja.

Kamu tahu aku orang yang selalu ingin menginjak kakiku di belahan bumi lain. Aku orang yang tak pernah puas menginjak tanah baru. Sampai kiranya kamu lah manusia yang bisa mengunci kakiku untuk melangkah dalam pencarianku. Dan aku tak temukan wangi tanah lain yang menarik untuk disinggahi. Aku damai bersamamu, damai di sisimu. Entah wangi apa yang kamu bawa hingga sejurus merasuk ke jasadku. Dan sedikitpun aku tak ingin beranjak untuk pindah. Sesuai dengan namamu yang bunga. Maka jadilah selalu sebagai bunga yang wanginya hiasi dunia.

Kamu selalu buktikan kamu jawara di hatiku. Kamu buktikan cinta itu tak hanya diam, bukan cuma sekedar hitam di atas putih. Sekedar teks mati yang diumbar-umbar melalui lisan. Cinta itu hidup, bernapas, bergerak, berlari, sehingga bermakna. Dan kamu lah cinta itu. Kini airmataku sudah kering. Aku tak ingin menangis karenamu lagi. Namun satu hal yang mesti kamu tahu, andaikata aku harus definisikan cinta itu apa, maka jawabannya cinta itu kamu.

Saturday, July 23, 2016

Lantas Maksud Baik Saudara untuk Siapa?: Refleksi WS Rendra



Ditulis dalam rangka memperingati 7 tahun kepergian mendiang Sang Maestro Puisi Indonesia



Orang yang hidup di jaman dulu pasti pernah paham soal film yang sempat menghebohkan jagad layar lebar ketika itu. Film bertajuk Yang Muda Yang Bercinta, sebuah film arahan Sumandjaja yang naskahnya ditulis oleh Umar Kayam ini melambungkan nama Nani Wijaya dalam belantika film layar lebar tanah air ketika itu. Film ini juga menyabet penghargaan sebagai The Best Supporting Actress pada Citra Award. Film ini pernah dicekal untuk beredar karena dinilai terlalu berani dalam menampilkan adegan dewasa, juga dinilai berisi propaganda politik yang dianggap mengancam rezim yang berkuasa ketika itu. Namun yang demikian kiranya alih-alih.

Adalah tersebut Sony, sebuah peran anak muda yang diperankan oleh Wilibrodus Surendra Broto Rendra yang lebih masyhur dikenal dengan WS Rendra, yang kemudian menjadi maestro puisi Indonesia. Masih teringat jelas scene dimana Sony berdiri tegap dengan lantang membacakan puisi berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa yang mengambil latar di kampus Salemba Universitas Indonesia pada 1 Desember 1971. Adegan tersebut juga menjadi salah satu adegan paling epik dalam film Yang Muda Yang Bercinta, di samping nilai historisnya.

Si Burung Merak julukan Rendra memang pantas disematkan kepada sang maestro puisi pemberontakan di tanah air. Imej burung surga yang memiliki ekor dengan warna beragam nan indah memang layak bagi sosok Rendra. Karyanya selalu menggugat nalar, monumental, menyadarkan akal bangsa yang tersadai lama. Sajak-sajak Rendra biasa saja, sederhana, namun padat makna dan mampu merepresentasikan keadaan karut marut suatu bangsa berkembang. Tilik saja ketika dia menyindir kehidupan malam yang biasa dikonotasikan dengan perempuan nakal. Sedikit plesetan dari slogan Partai Komunis Soviet, “Bersatulah Para Buruh Sedunia”, maka Rendra dengan lantang menyuarakan versinya dengan “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”. Dia langsung masuk pada substansi perempuan yang acapkali dikonotasikan negatif oleh masyarakat. Bahwa sejatinya ada prositusi di jantung pemerintahan ibukota, yang notabene diasumsikan sebagai daerah orang berkelas. 

Penyair kelahiran Surakarta 7 November 1935 ini memang dikenal dengan gayanya yang khas ketika membacakan puisi. Berapi-api tanpa kompromi. Mungkin di jaman pujangga baru, Chairil Anwar yang jadi binatang jalangnya. Tapi di jaman posmodern ini dengan segala hiruk pikuknya, Rendra-lah bintang jalangnya. Latar belakang teater yang digeluti Rendra yang menjadikan talentanya terbungkus apik dan epik. Rendra merupakan satu dari sekian banyak penyair yang mampu bercerita dengan kata-kata, pun dengan ujaran, dengan berkoar-koar di masa Orde Baru, masa dimana kebebasan berserikat dan berkumpul hanya jadi tulisan yang tercantum di Pasal 28 UUD 1945 dan wajib dihapal anak sekolah. 

Puisi Rendra berjudul Sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya juga menarik untuk ditelisik. Bagaimana tergambar dalam puisi itu, seorang pencopet yang masih punya hati nurani, sadar atas kelakuannya yang salah dan tidak pantas ditiru kekasihnya, Sitti. Sekaligus kritik atas penguasa yang seenaknya menggunakan kekuasaan untuk ketamakan pribadi. Rendra dengan nakalnya menggambarkan tingkah polah pencopet yang juga manusia, punya hak untuk insyaf kembali ke jalan yang lurus. 

Rendra merupakan sosok penyair yang jarang menggunakan metafora yang hiperbola dan mengawang-awang. Dia lebih jujur menyuarakan kata pada makna aslinya. Membaca karya-karyanya sungguh menjadikan diri ini kembali merenung. Apa inikah yang selama ini kita lakukan sebagai manusia Indonesia yang dicirikan hipokrit oleh Muchtar Lubis. Manusia yang punya sejuta wajah seperti slogan bhinneka tunggal muka. 

Di masa 7 tahun sejak kepergian Sang Burung Merak pada 6 Agustus 2009, saya ingin mengajak nalar bangsa ini agar kembali pada fitrahnya. Menjadi bangsa yang memiliki maksud baik yang benar sesuai pesan Rendra: Lantas maksud baik Saudara untuk siapa?