Bismillah
Segala puji bagi Allah Maha
Esa Maha Pencipta yang Maha Rahman Maha Rahim
Amma Bakdu.
Aku mulai tulisan ini dengan
menyebut nama-Nya, agar kamu serta sekalian yang hadir saat ini sedang membaca
agar tahu bahwa cinta itu sesuatu yang sakral dari langit, diturunkan oleh-Nya
yang merupakan sifat-Nya yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang selalu kita sebut
paling tidak lima waktu yang berjumlah tujuhbelas kali setiap hari di hidup
kita. Dan kita diwariskan sifat kerahmanan dan kerahiman, yang bernama cinta.
Berapa banyak literatur yang
menulis soal cinta, namun tak satupun ada yang mampu mendefinisikan secara harfiah
maupun istilah. Cinta itu multitafsir tapi dia universal dapat dipahami semua
orang, bahkan hewan, tumbuhan, dan segala makhluk hidup di alam semesta ini.
Bukankah nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus
untuk menyampaikan cinta yang bernama rahmatan lil ‘alamin atau cinta bagi
semesta? Beliau datang membawa cinta dari langit, diturunkan Allah Maha Pengasih
Maha Penyayang melalui malaikat Jibril sang pembawa amanat cinta ke bumi yang
dicintai-Nya untuk hamba pilihan-Nya tercinta bernama Muhammad yang terpuji
dunia akhirat. Pertama kali cinta itu turun di Gua Hira dalam keheningan malam
di bulan penuh cinta bernama Ramadhan, yang dipilih Allah agar cinta di dunia antara
hamba dan Sang Pencipta menjadi hangat.
Sekian banyak ciptaan Allah
yang buatku tak henti-henti melisankan dzikir pada Allah Maha Pencipta.
Akhirnya ku pilih kamu untuk jadi pendamping hidupku hingga maut tiba. Ku
persembahkan logam mulia penuh cinta kasih yang dikenal manusia bernama Latin:
Aurum (Au), bernomor atom 79. Emas. Gold. Manusia menyebutnya sejak dahulu kala sebagai simbol kemuliaan dan
keabadian. Layaknya cinta yang mulia dan abadi, terimalah persembahanku sebagai
bentuk mahar kasih penuh cinta. Jangan kamu tanya berapa harganya, jangan kamu
tanya berapa beratnya, atau jangan kamu tanya berapa karatnya. Karena itu tugas
penghulu serta tugasku menjawab ijab kabul untuk mengesahkan kamu jadi
sepenuhnya milikku.
Terimakasih telah sudi menjadi
bagian dari sejarah linimasa hidupku, serta turut mention aku sekali
seumurhidup untuk selamanya. Kamu terletak di tombol favorit yang ada di hati
dan pikiranku. Kelak kamu akan me-retweet semua yang baik tentangku, sang imam genit
buatmu.
Terimakasih pula ku haturkan
karena kamu agamaku jadi paripurna, lengkap sudah ibadahku yang setengah
hilang. Kamu lah bagian yang setengah itu, wahai tulang rusuk yang hilang. Kini
kamu telah kembali mengokohkan tulangku agar mampu bangkit berdiri berjalan
berlari selangkah di depanmu menjadi nahkoda atas bahtera rumahtangga ini,
menjadi pemimpin keluarga kecil yang insya Allah berkah sakinah mawaddah rahmah.
Aku tak pernah menyangka bisa
mencintaimu. Namun jika cinta itu sesuatu yang wajib, ketahuilah bahwa cinta
jadi sesuatu yang mengasyikkan karena cinta bagiku adalah ibadahku buatmu.
Akhirul kalam, segala puji bagi Allah Maha Cinta
Jun Khaer
No comments:
Post a Comment