Sunday, March 22, 2015

Prolog Nikah




Bismillah
Segala puji bagi Allah Maha Esa Maha Pencipta yang Maha Rahman Maha Rahim
Amma Bakdu.

Aku mulai tulisan ini dengan menyebut nama-Nya, agar kamu serta sekalian yang hadir saat ini sedang membaca agar tahu bahwa cinta itu sesuatu yang sakral dari langit, diturunkan oleh-Nya yang merupakan sifat-Nya yang Maha Rahman dan Maha Rahim yang selalu kita sebut paling tidak lima waktu yang berjumlah tujuhbelas kali setiap hari di hidup kita. Dan kita diwariskan sifat kerahmanan dan kerahiman, yang bernama cinta.

Berapa banyak literatur yang menulis soal cinta, namun tak satupun ada yang mampu mendefinisikan secara harfiah maupun istilah. Cinta itu multitafsir tapi dia universal dapat dipahami semua orang, bahkan hewan, tumbuhan, dan segala makhluk hidup di alam semesta ini. Bukankah nabi kita yang mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus untuk menyampaikan cinta yang bernama rahmatan lil ‘alamin atau cinta bagi semesta? Beliau datang membawa cinta dari langit, diturunkan Allah Maha Pengasih Maha Penyayang melalui malaikat Jibril sang pembawa amanat cinta ke bumi yang dicintai-Nya untuk hamba pilihan-Nya tercinta bernama Muhammad yang terpuji dunia akhirat. Pertama kali cinta itu turun di Gua Hira dalam keheningan malam di bulan penuh cinta bernama Ramadhan, yang dipilih Allah agar cinta di dunia antara hamba dan Sang Pencipta menjadi hangat.

Sekian banyak ciptaan Allah yang buatku tak henti-henti melisankan dzikir pada Allah Maha Pencipta. Akhirnya ku pilih kamu untuk jadi pendamping hidupku hingga maut tiba. Ku persembahkan logam mulia penuh cinta kasih yang dikenal manusia bernama Latin: Aurum (Au), bernomor atom 79. Emas. Gold. Manusia menyebutnya sejak  dahulu kala sebagai simbol kemuliaan dan keabadian. Layaknya cinta yang mulia dan abadi, terimalah persembahanku sebagai bentuk mahar kasih penuh cinta. Jangan kamu tanya berapa harganya, jangan kamu tanya berapa beratnya, atau jangan kamu tanya berapa karatnya. Karena itu tugas penghulu serta tugasku menjawab ijab kabul untuk mengesahkan kamu jadi sepenuhnya milikku.
Terimakasih telah sudi menjadi bagian dari sejarah linimasa hidupku, serta turut mention aku sekali seumurhidup untuk selamanya. Kamu terletak di tombol favorit yang ada di hati dan pikiranku. Kelak kamu akan me-retweet semua yang baik tentangku, sang imam genit buatmu.

Terimakasih pula ku haturkan karena kamu agamaku jadi paripurna, lengkap sudah ibadahku yang setengah hilang. Kamu lah bagian yang setengah itu, wahai tulang rusuk yang hilang. Kini kamu telah kembali mengokohkan tulangku agar mampu bangkit berdiri berjalan berlari selangkah di depanmu menjadi nahkoda atas bahtera rumahtangga ini, menjadi pemimpin keluarga kecil yang insya Allah berkah sakinah mawaddah rahmah.

Aku tak pernah menyangka bisa mencintaimu. Namun jika cinta itu sesuatu yang wajib, ketahuilah bahwa cinta jadi sesuatu yang mengasyikkan karena cinta bagiku adalah ibadahku buatmu. Akhirul kalam, segala puji bagi Allah Maha Cinta

Jun Khaer

No comments:

Post a Comment