Tuesday, February 18, 2014

Hidup di Dunia Teramat Singkat

 Ada pertanyaan: kalau manusia telah wafat, lantas menunggu di alam barzakh; berapa lama? Dugaan awalnya pastilah sangat lama hingga kiamat tiba. Kemudian muncul pertanyaan lainnya: apa saja yang mereka lakukan selama itu?

Memang sekilas jika dicermati dengan matematika di dunia, hal ini sangatlah terjadi dalam rentang waktu yang amat panjang. Bayangkan saja manusia harus menunggu selama itu, serta kejadian-kejadian yang tidak terbayangkan sebelumnya; entah itu nikmat atau siksa kubur.

Tidak demikian. Matematika akhirat sungguh berbeda dengan apa yang sebelumnya kita bayangkan di dunia. Satu hari dalam hitungan akhirat jika dikonversi ke hitungan dunia sangatlah singkat, namun amat panjang bagi manusia di dunia sebagaimana firman-Nya:

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." [Al Hajj: 47]

"Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu" [As Sajdah: 5]

Jika dipahami secara seksama, ayat di atas telah jelas menunjukkan bahwa:
1 hari di akhirat = 1.000 tahun di dunia
1 tahun di dunia = 365 hari
1 hari di akhirat = 365 x 1000 = 365.000 hari di dunia

Adapun umur nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam kurang lebih 63 tahun, apabila dibulatkan menjadi 60 tahun maka hitungannya:
1 jam di akhirat = 41,7 tahun di dunia
60 tahun/41,7 tahun = 1,4 jam di akhirat

Ternyata kita hanya hidup 1,4 jam menurut matematika akhirat. Subhanallah. Hidup di dunia ini teramat singkat. Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bagi kita semua agar tidak menyia-nyiakan waktu sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ashr:

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." [Al Ashr: 1-3]

 Masihkah kita berpikir untuk terus mengejar dunia yang tiada habisnya? Padahal tidak ada secuil hal dari akhirat melainkan sangat mulia meskipun ditukar dengan seluruh dunia yang tidak ada secuil pun mulianya. Manusia pasti mau melakukan untuk akhiratnya meskipun yang paling sepele karena sejatinya hakikat dunia adalah singkat dan hina. Allah Musta'an.



Monday, February 17, 2014

Hujan di Langit Jogja

 Byur.
Langit Jogja langsung menjatuhkan air hujan dengan serta merta. Saya langsung sujud syukur. Betapa tidak, pasca erupsi Gunung Kelud pada 14 Februari 2014 yang meluluhlantahkan langit Jawa, sebagai akibatnya kota pelajar ini tidak disinggahi hujan. Bahkan justru yang ada hujan abu vulkanik yang bermuatan material perut bumi yang notabene mengandung sulfur dan silika (SiO2) yang berbahaya tidak hanya bagi manusia namun juga dapat merontokkan besi pesawat terbang. Bayangkan!

Saya tahu Allah Maha Rahman Maha Rahim, dan Dia tidak akan biarkan makhluknya untuk sengsara sebagaimana janjinya:

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya" [Qaf: 9]

Saya langsung keluar rumah, membuka baju. Mandi hujan. Ya mandi hujan sebagaimana ritual anak kecil yang mengasyikkan. Tak dapat dipungkiri rasa di dalam diri ini campur aduk. Mungkin inilah wujud rasa syukur sebagai seorang hamba yang selama berhari-hari tidak dapat merasakan nikmat dari langit. Segenap perasaan ikut larut membuncah ruah bersama butiran air yang menitik dengan iramanya sendiri. Ngelangutkan jiwa.


Dia adalah Dzat yang tak pernah ingkar janji. Kepada Nya aku bersujud, memohon ampun, mengadu, dan kembali. Terimakasih ya Allah Kau telah mandikan bumi-Mu tempat hamba menengadah atas berkah dan rahmat-Mu yang tiada henti. Kasih-Mu sepanjang masa, hamba bersujud atas segala yang Kau berikan. Maha Suci Engkau.







Friday, February 14, 2014

Cintaku Terhalang Abu: 1731masl 7.93°S 112.308°E

Aku tahu cintaku tetap padamu
Meski abu datang dari situ
Apa kamu sudah tahu?
Sini mendekatlah sayang

Biar aku bisikkan padamu
Sehalus abu Gunung Kelud yang mampir di kamarku
Menutup jarak pandangku di kotaku kotamu
Aku sayang kamu

Begitu kiranya yang terdapat di dalam kamus bahasa
Namun lebih dari itu
Sayangku padamu lebih halus dari abu
Lebih ganas dari semburan lahar

Sayangku itu, tak pernah mati.

140214
<333


Sunday, February 9, 2014

Selamat Jalan Guruku, Guru Kami: Imam Wahyudi, Lc



إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain."  

(Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmi, bab Kaifa Yuqbadhul ‘Ilmi (I/194, al-Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan (XVI/223-224, Syarh an-Nawawi).

Sungguh sebuah kabar yang berselimut duka kala saya yang tiba-tiba menggerakkan tangan ini untuk mencari kabar terbaru dari guru yang telah mengajarkan kebaikan Islam; guru, teman yang baik, kawan berdiskusi, tempat bertanya, sumber ilmu, seorang yang lemah lembut penuh senyum yakni ustadz Imam Wahyudi, Lc yang telah wafat pada 17 Januari 2014. Tak sengaja tangan ini digerakkan oleh Allah untuk sekedar mencari tahu lewat situs video jejaring sosial Youtube, namun alangkah terkejutnya saya tatkala melihat komentar di bawah video beliau: istirja' atau ucapan "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".

Terlebih kepada sejawat saya Fatkhun Mubin yang akrab disapa Paung yang selalu dipanggil beliau dengan sapaan "profesor" dan kerap dipukul bokongnya karena membaca dialog bahasa Arab dengan keliru. Sungguh kenangan manis yang terbungkus rapi bersama beliau rahimahullah. Saya pernah ada dan hidup bersama beliau, menjadi saksi dan bangga pernah menjadi murid beliau walau tidak menjadi murid yang baik. Padahal saya ingin sekali berjumpa kembali dengan beliau, sekedar "pamer" kepada beliau kalau saya sudah menjadi manusia yang lebih baik dari dulu, namun apa daya takdir telah berkata lain. Teriring salam dan doa untukmu wahai guru kami yang telah mengajarkan kami bagaimana menjadi muslim yang baik. Semoga kelak kita berjumpa di pelataran surga. Amin.

Ya Allah lapangkanlah kubur beliau ustadz kami tercinta, jadikanlah ilmu beliau bermanfaat bagi hamba dan bagi semesta. Selamat jalan ustad Imam, dirimu panutan kami, panutan saya.


<333










Thursday, February 6, 2014

3676masl: Perjalanan Menuju Puncak Abadi Para Dewa

Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Memiliki tinggi 3676 meter di atas permukaan laut menjadikan tempat ini sebagai atapnya Jawa. Saya diberi kesempatan mengunjungi tempat ini pada pertengahan 2013. Perjalanan mendaki gunung kali ini memang berbeda dari biasanya, mengapa? Karena kali ini saya menempuh sekian jenis moda transportasi dari mulai kereta api, mobil jeep 4WD, dan kapal laut. Benar-benar perjalanan menaklukkan hati dan keangkuhan dalam diri seorang manusia.

Hari 1
Perjalanan dimulai dari Jakarta. Kami berenam naik KA Matarmaja jurusan Pasar Senen - Malang pada pukul 1340 tiba di Malang sekitar jam 0700 pagi. Setelah berbenah logistik kami langsung menuju ke Ranu Pani dengan menggunakan angkutan umum dari Stasiun Malang, namun di perjalanan kami singgah di tempat rekan bung Ragil yang debt collector. Sejenak istirahat mengisi tenaga dan tak lupa mengisi perbekalan untuk melanjutkan perjalanan. Kemudian lepas ashar kami menuju Ranu Pani dengan menggunakan mobil jeep yang pas untuk kami berenam. Maka dari itu kami menamakan kelompok kami dengan 6 cm alias 6 cowok macho. Hahaha. Sampai Ranu Pani sebelum maghrib, kami langsung registrasi. Singkat cerita kami sampai di Ranu Kumbolo yang disebut-sebut surganya gunung Semeru sekitar tengah malam, dirikan tenda, istirahat.

Hari 2
Kami bangun pagi, ibadah, bersih-bersih, menyiapkan logistik karena perut sudah keroncongan. Sarapan pagi. Ada momen menarik kala kami buang hajat, banyak kami temukan fosil kotoran manusia yang masih lama maupun baru. Hahaha. Kemudian sebelum hari terlalu siang kami lanjutkan kembara menuju pos berikutnya di Kalimati. Tidak lupa melewati Tanjakan Cinta yang memang bentuknya mirip hati dan sangat terjal nan curam. Pun kami juga melewati vegetasi sabana yang luas. Kira-kira sebelum maghrib menjelang kami telah sampai di Kalimati untuk mendirikan tenda.

Hari 3
Pukul 0000 kami telah siap berangkat menuju puncak Semeru atau yang lebih dikenal dengan Mahameru. Semua barang kami tinggal di Kalimati. Singkatnya setelah melewati Arcapada, Kelik, serta Lautan Pasir, terasa fisik kami sangat terkuras habis-habisan. Sayangnya ketika kami telah mencapai lautan pasir, apa daya badai menerjang sehigga kami harus bergegas kembali ke bawah.


Begitulah alam telah berbicara dan manusia hanya sanggup mendengar dengan segenap jiwa raga. Kami sadar perjalanan mendaki gunung bukanlah untuk pamer kesombongan, namun semakin menyadarkan diri kami bahwa manusia itu amatlah kecil di hadapan-Nya.

6 cm