Wednesday, November 10, 2021

Pak Hasyim

 oleh John Koplo

 

Kalau Anda pernah salat di Masjid Al Iman Cipinang Elok pastilah kenal sosok ini, walau mungkin beliau tidak kenal Anda. Marilah saya ceritakan kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf untuk mengenal sosok orang tua yang luar biasa.

Pak Hasyim. Begitu beliau dikenal orang-orang. Perawakan beliau tinggi kurus dengan uban memenuhi rambut, biasanya beliau selalu mengenakan baju koko berwarna putih, songkok hitam ala Melayu, dan sarung bermotif gelap. Catatan saya tentang beliau ini sejak tahun 2003 semenjak saya tinggal di kawasan Cipinang Jakarta Timur. Bagi saya beliau menjadi inspirasi hidup sebagai manusia sederhana namun istiqomah menjalankan perintah agama. Bapak saya sering menyebut nama beliau, menurut keterangan bapak saya, Pak Hasyim kadang kala sering menjadi imam cadangan manakala imam rawatib berhalangan hadir. Sebagai ilustrasi, jarak antara rumah Pak Hasyim ke Masjid Al Iman Cipinang Elok kira-kira 50 meter dengan topografi sedikit menanjak dan menurun yang bagi sebagian orang yang sudah tua mungkin termasuk suatu masalah sendiri.

Namun itulah keunikan Pak Hasyim. Menurut catatan pribadi yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, beliau tidak pernah sekalipun meninggalkan salat berjamaah di masjid karena 30 menit sebelum salat berjamaah dimulai, beliau sudah beranjak dari rumah menuju masjid dan uniknya selalu berjalan kaki. Hal ini yang menjadikan beliau spesial untuk saya. Mungkin bagi sebagian orang ya biasa saja ada orang tua cukup sepuh berumur melakukan ritual semacam ini. Tetapi yang perlu jadi catatan yaitu kedisiplinan dan konsistensi menjalankan perintah agama.

Pernah suatu ketika saya memergoki beliau sedang ditawari untuk bonceng sepeda motor dari arah rumah beliau ke masjid, walhasil beliau menolaknya. Pun juga arah sebaliknya pada suatu hari juga lagi-lagi beliau tolak orang yang menawari beliau untuk berboncengan sepeda motor ke arah rumah beliau. Ini yang menjadi sebuah hal spesial bagi saya, sebuah komitmen pribadi untuk berjuang sendiri tanpa ingin diganggu oleh orang lain. Pertanyaan demi pertanyaan bersipongang dalam benak saya, mengapa orang setua itu yang rumahnya dilewati jalur angkot namun tidak pernah ingin menempuh jalan pintas ke masjid. Mungkin jawabannya adalah beliau menemukan kepuasan ritual dan spiritual ketika menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Bahwa jihad sesungguhnya menaklukan diri sendiri itu tercermin dari bagaimana cara kita mengalahkan ego yang kita miliki demi mencapai tujuan akhir yang bahagia.

Tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk beliau sekaligus saya selalu mendoakan agar beliau sehat wal afiat dan diberi keberkahan selalu, diampuni kesalahannya, dan dijadikan sebagai ahli surga atas apa yang telah beliau lakukan di dunia dan dengan keluasan rahmat Allah yang meliputi semesta. Semoga kelak saya bertemu Pak Hasyim yang sedang berjalan kaki di surga Firdaus. Amin.

                                                                                []

 

No comments:

Post a Comment