oleh John Koplo
Kalau Anda pernah salat di Masjid Al Iman Cipinang
Elok pastilah kenal sosok ini, walau mungkin beliau tidak kenal Anda. Marilah
saya ceritakan kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf untuk mengenal sosok
orang tua yang luar biasa.
Pak Hasyim. Begitu beliau dikenal orang-orang. Perawakan
beliau tinggi kurus dengan uban memenuhi rambut, biasanya beliau selalu
mengenakan baju koko berwarna putih, songkok hitam ala Melayu, dan sarung
bermotif gelap. Catatan saya tentang beliau ini sejak tahun 2003 semenjak saya
tinggal di kawasan Cipinang Jakarta Timur. Bagi saya beliau menjadi inspirasi
hidup sebagai manusia sederhana namun istiqomah menjalankan perintah agama. Bapak
saya sering menyebut nama beliau, menurut keterangan bapak saya, Pak Hasyim
kadang kala sering menjadi imam cadangan manakala imam rawatib berhalangan
hadir. Sebagai ilustrasi, jarak antara rumah Pak Hasyim ke Masjid Al Iman
Cipinang Elok kira-kira 50 meter dengan topografi sedikit menanjak dan menurun
yang bagi sebagian orang yang sudah tua mungkin termasuk suatu masalah sendiri.
Namun itulah keunikan Pak Hasyim. Menurut catatan pribadi
yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, beliau tidak pernah
sekalipun meninggalkan salat berjamaah di masjid karena 30 menit sebelum salat
berjamaah dimulai, beliau sudah beranjak dari rumah menuju masjid dan uniknya
selalu berjalan kaki. Hal ini yang menjadikan beliau spesial untuk saya. Mungkin
bagi sebagian orang ya biasa saja ada orang tua cukup sepuh berumur melakukan
ritual semacam ini. Tetapi yang perlu jadi catatan yaitu kedisiplinan dan
konsistensi menjalankan perintah agama.
Pernah suatu ketika saya memergoki beliau sedang
ditawari untuk bonceng sepeda motor dari arah rumah beliau ke masjid, walhasil
beliau menolaknya. Pun juga arah sebaliknya pada suatu hari juga lagi-lagi
beliau tolak orang yang menawari beliau untuk berboncengan sepeda motor ke arah
rumah beliau. Ini yang menjadi sebuah hal spesial bagi saya, sebuah komitmen
pribadi untuk berjuang sendiri tanpa ingin diganggu oleh orang lain. Pertanyaan
demi pertanyaan bersipongang dalam benak saya, mengapa orang setua itu yang
rumahnya dilewati jalur angkot namun tidak pernah ingin menempuh jalan pintas
ke masjid. Mungkin jawabannya adalah beliau menemukan kepuasan ritual dan
spiritual ketika menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Bahwa jihad
sesungguhnya menaklukan diri sendiri itu tercermin dari bagaimana cara kita
mengalahkan ego yang kita miliki demi mencapai tujuan akhir yang bahagia.
Tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk beliau
sekaligus saya selalu mendoakan agar beliau sehat wal afiat dan diberi
keberkahan selalu, diampuni kesalahannya, dan dijadikan sebagai ahli surga atas
apa yang telah beliau lakukan di dunia dan dengan keluasan rahmat Allah yang
meliputi semesta. Semoga kelak saya bertemu Pak Hasyim yang sedang berjalan
kaki di surga Firdaus. Amin.
[]
No comments:
Post a Comment