oleh John Koplo
Teori Spiral Keheningan [The Spiral of Silence] yang dikemukakan oleh
Elizabeth Noelle Neumann berisi tentang individu yang memiliki berbagai isu
sosial namun takut terisolasi dalam mengungkapkan isu tersebut kepada khalayak,
sehingga individu mencari dukungan untuk menyalurkan opini terhadap isu
tersebut melalui media diantara lain media massa. Kajian
Noelle-Neumann ini menitikberatkan peran opini dalam interaksi sosial.
Sebagaimana kita ketahui, opini publik sebagai sebuah isu kotroversial akan
berkembang pesat manakala dikemukakan lewat media massa. Ini berarti opini publik orang-orang
juga dibentuk, disusun, dikurangi oleh peran media massa. Jadi ada kaitan erat antara opini
dengan media massa.
Opini yang berkembang dalam kelompok mayoritas dan kecenderungan seseorang
untuk diam (sebagai basis dasar teori spiral kesunyian) karena dia barasal dari
kelompok minoritas juga bisa dipengaruhi oleh isu-isu dari media massa.
Noelle-Newman (1984) menyatakan bahwa kekuatan media massa
diperoleh dari: (1) kehadirannya di mana-mana (ubiquity); (2) pengulangan pesan
yang sama dalam suatu waktu (kumulasi); dan (3) konsensus (konsonan) tentang
nilai-nilai kiri di antara mereka yang bekerja dalam media massa,
yang kemudian direfleksikan dalam isi media massa. Bukti-bukti yang diungkapkan oleh
Noelle-Newmann (1980, 1981) diperoleh dari Jerman Barat, meskipun ia menyatakan
bahwa “konsonan” itu iuga berlaku bagi demokrasi parlementer Barat dan sistem
media yang dikontrol pemerintah. Tidaklah jelas apakah ia juga akan memperluas
teorinya agar mencakup negara-negara yang sedang berkembang.
Gejala Alay merupakan gejala yang timbul akibat penggunaan bahasa yang
diputarbalikkan sedemikian rupa secara ungkapan dan tulisan. Gejala ini timbul
notabene pada anak muda yang mencari identitas jatidirinya. Alay terjadi pada gaya berpakaian, musik dan
cara berkomunikasi. Awal mula gejala alay timbul sejak penggunaan jaringan
sosial pada internet seperti Friendster yang memungkinkan untuk mengunggah foto
serta tulisan. Ajang ini dimanfaatkan oleh anak alay untuk mengekspresikan diri
mereka, bahwa mereka pun dapat menjadi eksis di dunia maya pun di dunia nyata.
Kamus besar bahasa Indonesia
belum mencantumkan kata alay. Sumber secara pasti tidak ada namun gejala ini
muncul secara empirik pada masyarakat kita. Mengutip dari wikipedia.com inilah
definisi alay:
“Alay (or 4L4Y, Anak Layangan or Anak Lebay) is a pop culture
phenomenon in Indonesia.
It is a stereotype
describing something “tacky” and “cheesy” (norak or kampungan, in Indonesian). The Alay
culture phenomena spans over a wide array of styles in music, dress, and messaging.
It has often been compared to that of the Jejemon
phenomenon originating from the Philippines.
Although, the former emerged much later and the latter was even admired in the
west.”
Ternyata gejala alay tidak hanya terjadi pada bangsa Indonesia. Budaya Inggris pun
mencatat istilah yang serupa dengan alay yakni disebut dengan ‘leet. Adapun
gejala leet terjadi kebanyakan pada dunia maya seperti internet. Hal ini
diungkapkan oleh wikipedia.com:
Leet (or "1337"), also known as eleet or leetspeak, is an
alternative alphabet
for the English language that is used primarily on
the Internet.
It uses various combinations of ASCII characters to replace Latinate
letters. For example, leet spellings of the word leet include 1337 and l33t;
eleet may be spelled 31337 or 3l33t.
Gejala alay juga muncul di Filipina yang disebut dengan Jejemon yang
dinilai oleh orang Filipina yang notabene berbahasa Tagalog telah menumbangkan
makna semantik bahasa Inggris. Tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di
masyarakat kita. Alay seakan seperti sebuah
fenomena sosial yang memiliki implikasi yang signifikan di masyarakat. Betapa
tidak, bahkan sampai ada kamus bahasa alay serta seminar-seminar yang membahas
bahasa alay di beberapa kampus di Indonesia. Hal yang cukup menyita
perhatian pengguna internet khususnya yaitu ketika muncul alay generator yakni
kamus untuk mengartikan serta memproduksi bahasa alay.
Gejala alay seakan menjadi momok tersendiri bagi perkembangan bahasa
Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan [EYD]. Para pakar bahasa sempat membahas tentang gejala alay
yang merebak ke dalam dunia akademis. Hal ini dinilai membawa efek negatif bagi
kemampuan penulisan akademik. Sedikit banyak ada implikasi dari gejala alay
terutama yang menyangkut dunia akademis karena bahasa yang baku menjadi tidak karu-karuan secara makna.
Opini masyarakat mengenai hal ini terpecah menjadi dua golongan yakni
golongan mayoritas dan minoritas. Golongan mayoritas diwakili oleh kaum berusia
di atas usia anak muda dalam usia produktif. Golongan minoritas diwakili oleh
anak muda dan juga oleh pengguna bahasa alay. Banyak pihak seakan mendiamkan
hal ini, walaupun sejatinya ingin berkomentar akan gejala yang mengubah sikap
anak muda terhadap bahasa Indonesia secara ungkapan maupun tulisan. Setidaknya
dalam momen sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, bahasa
alay kerap kali mendapat perhatian dari pemerhati bahasa.
Teori spiral keheningan Neumann berlaku pada gejala alay karena adanya
pengulangan dalam hal penggunaan bahasa serta hal ini terjadi dimana-mana dalam
lingkup negara Indonesia,
juga gejala ini terakomodasi melalu media seperti media internet. Efek
komunikasi yang dihasilkan dari gejala ini cukup signifikan dalam kaitannya
dengan proses komunikasi. Terkadang terdapat alih kode yang tidak sempurna
ketika pengguna bahasa alay berkomunikasi dengan yang bukan dan yang tidak
paham dengan kode mereka. Hal ini menjadi poin dalam hambatan komunikasi. Gejala macam ini diakuisisi oleh berbagai media terutama media jaringan
sosial dimana memungkinkan untuk terjadinya interaksi pertukaran teks secara
bebas. Hal ini menjadi tanda proses komunikasi yang termaknai oleh gambar dan
aksara yang disimbolkan lewat alayisme.
No comments:
Post a Comment