Monday, November 8, 2021

Gejala Alay Menurut Teori Spiral Keheningan

 oleh John Koplo

Teori Spiral Keheningan [The Spiral of Silence] yang dikemukakan oleh Elizabeth Noelle Neumann berisi tentang individu yang memiliki berbagai isu sosial namun takut terisolasi dalam mengungkapkan isu tersebut kepada khalayak, sehingga individu mencari dukungan untuk menyalurkan opini terhadap isu tersebut melalui media diantara lain media massa. Kajian Noelle-Neumann ini menitikberatkan peran opini dalam interaksi sosial. Sebagaimana kita ketahui, opini publik sebagai sebuah isu kotroversial akan berkembang pesat manakala dikemukakan lewat media massa. Ini berarti opini publik orang-orang juga dibentuk, disusun, dikurangi oleh peran media massa. Jadi ada kaitan erat antara opini dengan media massa. Opini yang berkembang dalam kelompok mayoritas dan kecenderungan seseorang untuk diam (sebagai basis dasar teori spiral kesunyian) karena dia barasal dari kelompok minoritas juga bisa dipengaruhi oleh isu-isu dari media massa.

    Noelle-Newman (1984) menyatakan bahwa kekuatan media massa diperoleh dari: (1) kehadirannya di mana-mana (ubiquity); (2) pengulangan pesan yang sama dalam suatu waktu (kumulasi); dan (3) konsensus (konsonan) tentang nilai-nilai kiri di antara mereka yang bekerja dalam media massa, yang kemudian direfleksikan dalam isi media massa. Bukti-bukti yang diungkapkan oleh Noelle-Newmann (1980, 1981) diperoleh dari Jerman Barat, meskipun ia menyatakan bahwa “konsonan” itu iuga berlaku bagi demokrasi parlementer Barat dan sistem media yang dikontrol pemerintah. Tidaklah jelas apakah ia juga akan memperluas teorinya agar mencakup negara-negara yang sedang berkembang.

     Gejala Alay merupakan gejala yang timbul akibat penggunaan bahasa yang diputarbalikkan sedemikian rupa secara ungkapan dan tulisan. Gejala ini timbul notabene pada anak muda yang mencari identitas jatidirinya. Alay terjadi pada gaya berpakaian, musik dan cara berkomunikasi. Awal mula gejala alay timbul sejak penggunaan jaringan sosial pada internet seperti Friendster yang memungkinkan untuk mengunggah foto serta tulisan. Ajang ini dimanfaatkan oleh anak alay untuk mengekspresikan diri mereka, bahwa mereka pun dapat menjadi eksis di dunia maya pun di dunia nyata.

    Kamus besar bahasa Indonesia belum mencantumkan kata alay. Sumber secara pasti tidak ada namun gejala ini muncul secara empirik pada masyarakat kita. Mengutip dari wikipedia.com inilah definisi alay:

“Alay (or 4L4Y, Anak Layangan or Anak Lebay) is a pop culture phenomenon in Indonesia. It is a stereotype describing something “tacky” and “cheesy” (norak or kampungan, in Indonesian). The Alay culture phenomena spans over a wide array of styles in music, dress, and messaging. It has often been compared to that of the Jejemon phenomenon originating from the Philippines. Although, the former emerged much later and the latter was even admired in the west.[1]

 Ternyata gejala alay tidak hanya terjadi pada bangsa Indonesia. Budaya Inggris pun mencatat istilah yang serupa dengan alay yakni disebut dengan ‘leet. Adapun gejala leet terjadi kebanyakan pada dunia maya seperti internet. Hal ini diungkapkan oleh wikipedia.com:

Leet (or "1337"), also known as eleet or leetspeak, is an alternative alphabet for the English language that is used primarily on the Internet. It uses various combinations of ASCII characters to replace Latinate letters. For example, leet spellings of the word leet include 1337 and l33t; eleet may be spelled 31337 or 3l33t.[2] 

Gejala alay juga muncul di Filipina yang disebut dengan Jejemon yang dinilai oleh orang Filipina yang notabene berbahasa Tagalog telah menumbangkan makna semantik bahasa Inggris. Tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di masyarakat kita. Alay seakan seperti sebuah fenomena sosial yang memiliki implikasi yang signifikan di masyarakat. Betapa tidak, bahkan sampai ada kamus bahasa alay serta seminar-seminar yang membahas bahasa alay di beberapa kampus di Indonesia. Hal yang cukup menyita perhatian pengguna internet khususnya yaitu ketika muncul alay generator yakni kamus untuk mengartikan serta memproduksi bahasa alay. 

Gejala alay seakan menjadi momok tersendiri bagi perkembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan [EYD]. Para pakar bahasa sempat membahas tentang gejala alay yang merebak ke dalam dunia akademis. Hal ini dinilai membawa efek negatif bagi kemampuan penulisan akademik. Sedikit banyak ada implikasi dari gejala alay terutama yang menyangkut dunia akademis karena bahasa yang baku menjadi tidak karu-karuan secara makna.

 Opini masyarakat mengenai hal ini terpecah menjadi dua golongan yakni golongan mayoritas dan minoritas. Golongan mayoritas diwakili oleh kaum berusia di atas usia anak muda dalam usia produktif. Golongan minoritas diwakili oleh anak muda dan juga oleh pengguna bahasa alay. Banyak pihak seakan mendiamkan hal ini, walaupun sejatinya ingin berkomentar akan gejala yang mengubah sikap anak muda terhadap bahasa Indonesia secara ungkapan maupun tulisan. Setidaknya dalam momen sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, bahasa alay kerap kali mendapat perhatian dari pemerhati bahasa.

 Teori spiral keheningan Neumann berlaku pada gejala alay karena adanya pengulangan dalam hal penggunaan bahasa serta hal ini terjadi dimana-mana dalam lingkup negara Indonesia, juga gejala ini terakomodasi melalu media seperti media internet. Efek komunikasi yang dihasilkan dari gejala ini cukup signifikan dalam kaitannya dengan proses komunikasi. Terkadang terdapat alih kode yang tidak sempurna ketika pengguna bahasa alay berkomunikasi dengan yang bukan dan yang tidak paham dengan kode mereka. Hal ini menjadi poin dalam hambatan komunikasi. Gejala macam ini diakuisisi oleh berbagai media terutama media jaringan sosial dimana memungkinkan untuk terjadinya interaksi pertukaran teks secara bebas. Hal ini menjadi tanda proses komunikasi yang termaknai oleh gambar dan aksara yang disimbolkan lewat alayisme.



[1] http://en.wikipedia.org/wiki/Alay

[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Leet

No comments:

Post a Comment