Air Matamu adalah Cuan Bagiku. Dimanakah Nurani?
oleh RM Kencrotnikmatjivva
Awal 2021 dibuka dengan tragedi kecelakaan pesawat
Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak dengan nomor penerbangan SJ-182. Kronologis
singkatnya pesawat Boeing 737-500 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta
Cengkareng pada Sabtu 9 Januari 2021 pukul 14.36 hilang kontak pada 14.40 di
Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Dilansir oleh FlightRadar24 tercatat ketinggian
jelajah pesawat Sriwijaya Air SJ182 turun 5.500 kaki (dari 10.900 ke 5.400)
dalam 15 detik. Beberapa
dugaan penyebab kecelakaan sibuk diungkap oleh berbagai pihak.
Alih-alih.
Media masa kini yang katanya sudah semakin canggih
malahan berpikir mundur dengan pemberitaan nyeleneh. Mulai dari simbol-simbol
yang dianggap mampu menguras air mata korban sampai kering tak bersisa. Bahkan
tololnya, media sampai mengunggah kembali berita dan narasi yang sama sekali
tidak ada hubungan dengan kaidah jurnalistik. Segala rupa dihalalkan untuk
mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, persis seperti kaidah ekonomi kapitalis
klasik yang mengajarkan manusia untuk pelit tanpa empati kepada sesama.
Ketololan demi ketololan ditampakkan media secara gamblang.
Mulai dari mengekspos narasi-narasi sebelum kecelakaan seperti pesan-pesan
terakhir korban, menanyakan perasaan korban, bahkan sampai profil korban yang tidak
ada kaitannya dengan investigasi kecelakaan. Puncaknya dengan menampilkan fitur
berita sampah berupa narasi dari paranormal yang sama sekali tidak ada hubungan
dengan kaidah ilmiah dan logika akal sehat.
Menurut Mosco (2009), komodifikasi adalah proses perubahan
nilai guna menjadi nilai tukar. Momentum kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ182 dijadikan
momentum komodifikasi gila-gilaan yang dilakukan oleh oknum media yang
seharusnya menjadi penyambung informasi dari pihak korban dan pihak
penerbangan. Logika ilmiah dan nurani dihajar habis-habisan tanpa ampun.
Celakanya, dalam komodifikasi tidak ada kepentingan audiens sebagai pihak yang
sejatinya punya kepentingan. Kepentingan mutlak absolut menjadi milik media
sebagai penguasa hak siar.
Pola komunikasi semacam ini dengan menguras habis
empati penonton sudah ada sejak lama di Indonesia. Sebagai catatan, program
semacam Jika Aku Menjadi yang ditayangkan TransTV menjadi semacam pionir
terdepan dalam hal menggerus habis ruang nalar dan hati nurani yang jernih.[1]
Segudang program dengan tema sentral menguras air mata pun muncul setelahnya.
Rasa iba dan kasihan manusia dijadikan senjata ampuh untuk memutarbalikkan
logika sehingga hati nurani jadi ngawur. Bahkan ada juga program televisi yang
sejatinya mengadopsi program televisi luar negeri seperti Mikrofon Pelunas
Hutang yang pernah ditayangkan oleh Indosiar. Sederet program televisi bertema
sentral dukacita menjadi contoh keseriusan media menggarap tayangan perusak
nurani.
Pada dasarnya program kemiskinan dan kemalangan akibat
bencana punya satu tujuan yaitu mengeruk rasa kasihan audiens sampai titik
terakhir dengan catatan premis awal bahwa tidak ada manusia yang ingin
menderita. Logika sederhana saja, apakah ada manusia yang ingin naik pesawat dengan
membayar tiket mahal untuk celaka. Sebuah pertanyaan retorika yang tidak perlu
dijawab dengan bantuan profesor atau pakar ahli sekalipun. Anak kecil yang
tidak sekolah pun yang masih punya hati nurani akan memahami bahwa tidak ada
satu manusia di muka bumi ini yang ingin hidupnya terkena musibah bencana.
Kebrutalan media menjadi cerminan bagaimana sebuah
perilaku pihak yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat menjadi sesuatu
yang kacau semrawut. Konsepsi objektif mengenai media sebagai anjing penjaga
yang setia pada majikannya yaitu audiens sudah dilumat habis pada jaman ini.
Anjing yang semestinya bersikap santun itu kini telah berubah menjadi serigala
lapar yang siap menerkam siapa saja atau apa saja yang ada di hadapannya.
Akhirnya kita sebagai manusia hanya bisa bertanya ke
diri kita masing-masing tanpa perlu menghakimi. Masihkah ada hati nurani dalam
diri kita sebagai manusia?
[]
[1] Lihat tulisan Lukas Deni Setiawan “Air
Mata di Layar Kaca” http://fikom.mercubuana-yogya.ac.id/2012/07/air-mata-di-layar-kaca/
No comments:
Post a Comment