Tuesday, January 12, 2021

Air Matamu adalah Cuan Bagiku. Dimanakah Nurani?

 Air Matamu adalah Cuan Bagiku. Dimanakah Nurani?

oleh RM Kencrotnikmatjivva

 

Awal 2021 dibuka dengan tragedi kecelakaan pesawat Sriwijaya rute Jakarta-Pontianak dengan nomor penerbangan SJ-182. Kronologis singkatnya pesawat Boeing 737-500 lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng pada Sabtu 9 Januari 2021  pukul 14.36 hilang kontak pada 14.40 di Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Dilansir oleh FlightRadar24 tercatat ketinggian jelajah pesawat Sriwijaya Air SJ182 turun 5.500 kaki (dari 10.900 ke 5.400) dalam 15 detik. Beberapa dugaan penyebab kecelakaan sibuk diungkap oleh berbagai pihak.

Alih-alih.

Media masa kini yang katanya sudah semakin canggih malahan berpikir mundur dengan pemberitaan nyeleneh. Mulai dari simbol-simbol yang dianggap mampu menguras air mata korban sampai kering tak bersisa. Bahkan tololnya, media sampai mengunggah kembali berita dan narasi yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kaidah jurnalistik. Segala rupa dihalalkan untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya, persis seperti kaidah ekonomi kapitalis klasik yang mengajarkan manusia untuk pelit tanpa empati kepada sesama.

Ketololan demi ketololan ditampakkan media secara gamblang. Mulai dari mengekspos narasi-narasi sebelum kecelakaan seperti pesan-pesan terakhir korban, menanyakan perasaan korban, bahkan sampai profil korban yang tidak ada kaitannya dengan investigasi kecelakaan. Puncaknya dengan menampilkan fitur berita sampah berupa narasi dari paranormal yang sama sekali tidak ada hubungan dengan kaidah ilmiah dan logika akal sehat.

Menurut Mosco (2009), komodifikasi adalah proses perubahan nilai guna menjadi nilai tukar. Momentum kecelakaan pesawat Sriwijaya SJ182 dijadikan momentum komodifikasi gila-gilaan yang dilakukan oleh oknum media yang seharusnya menjadi penyambung informasi dari pihak korban dan pihak penerbangan. Logika ilmiah dan nurani dihajar habis-habisan tanpa ampun. Celakanya, dalam komodifikasi tidak ada kepentingan audiens sebagai pihak yang sejatinya punya kepentingan. Kepentingan mutlak absolut menjadi milik media sebagai penguasa hak siar.

Pola komunikasi semacam ini dengan menguras habis empati penonton sudah ada sejak lama di Indonesia. Sebagai catatan, program semacam Jika Aku Menjadi yang ditayangkan TransTV menjadi semacam pionir terdepan dalam hal menggerus habis ruang nalar dan hati nurani yang jernih.[1] Segudang program dengan tema sentral menguras air mata pun muncul setelahnya. Rasa iba dan kasihan manusia dijadikan senjata ampuh untuk memutarbalikkan logika sehingga hati nurani jadi ngawur. Bahkan ada juga program televisi yang sejatinya mengadopsi program televisi luar negeri seperti Mikrofon Pelunas Hutang yang pernah ditayangkan oleh Indosiar. Sederet program televisi bertema sentral dukacita menjadi contoh keseriusan media menggarap tayangan perusak nurani.

Pada dasarnya program kemiskinan dan kemalangan akibat bencana punya satu tujuan yaitu mengeruk rasa kasihan audiens sampai titik terakhir dengan catatan premis awal bahwa tidak ada manusia yang ingin menderita. Logika sederhana saja, apakah ada manusia yang ingin naik pesawat dengan membayar tiket mahal untuk celaka. Sebuah pertanyaan retorika yang tidak perlu dijawab dengan bantuan profesor atau pakar ahli sekalipun. Anak kecil yang tidak sekolah pun yang masih punya hati nurani akan memahami bahwa tidak ada satu manusia di muka bumi ini yang ingin hidupnya terkena musibah bencana.

Kebrutalan media menjadi cerminan bagaimana sebuah perilaku pihak yang seharusnya menjadi penyambung lidah rakyat menjadi sesuatu yang kacau semrawut. Konsepsi objektif mengenai media sebagai anjing penjaga yang setia pada majikannya yaitu audiens sudah dilumat habis pada jaman ini. Anjing yang semestinya bersikap santun itu kini telah berubah menjadi serigala lapar yang siap menerkam siapa saja atau apa saja yang ada di hadapannya.

Akhirnya kita sebagai manusia hanya bisa bertanya ke diri kita masing-masing tanpa perlu menghakimi. Masihkah ada hati nurani dalam diri kita sebagai manusia?

[]

 



[1] Lihat tulisan Lukas Deni Setiawan “Air Mata di Layar Kaca” http://fikom.mercubuana-yogya.ac.id/2012/07/air-mata-di-layar-kaca/

No comments:

Post a Comment