Dalam Nama Sang Maha Cinta,
Amma bakdu
Entah dari mana aku mulai. Baiklah, aku mulai dari kalimat
barusan. Jika kita ditakdirkan oleh semesta, mengutip istilah WS Rendra bahwa
pertemuan kita yang namanya telah tertulis di langit. Iya, kita memang lahir
dan ditakdirkan untuk saling baku temu dan itu sudah terjadi. Dalam tulisan ini
bukan bermaksud untuk cengeng, cuma hanya sekedar refleksi catatan perjalanan
hidup anak manusia yang sibuk berputar-putar dalam labirin bernama semesta.
Setidaknya, cerita kita bukan rekaan kita, namun rekaan semesta. Banyak orang bisa
bicara lewat ujaran namun jarang yang mampu mengekspresikan dengan aksara.
Biarkanlah huruf-hurufku menari dalam tulisan ini.
Kilas balik sekian masa kita melintas zaman menyintas
kenangan-kenangan yang pada akhirnya cuma jadi genangan yang bakalan kering
kena sinar matahari. Ternyata kota Tangerang, Jakarta, dan Bandung punya cerita
sendiri di memori kita. Kamu bilang masih abege, anak baru gede, alias baru
tumbuh bulu jagung. Entah jagung siapa. Namun yang jelas masih jelas teringat
pertemuan pertama di Situ Gintung Ciputat, daerah yang konon tak pernah bebas
dari makhluk yang bernama macet dan sumpek. Pertemuan berikutnya seingatku
di depan Masjid Fathullah Universitas Islam Syarif Hidayatullah atau dalam
bahasaku itu UI Negeri. Kamu dengan polosnya ikut bonceng rodadua bersamaku ke
rumahmu dimana di situ momen paling bersejarah buatku. Kenapa? Karena kamu
buatkan dan suguhkan kopi pertamamu buatku, walau menurutmu tidak enak.
Sejatinya kata ngopi itu adalah multitafsir bisa dimaknai banyak hal dari
positif bahkan negatif, dan aku mengambil makna positif bahwa kopi itu adalah
cinta sebagaimana sloganku laki-laki yang jatuh kopi pada cinta. Dan peristiwa
itu aku abadikan di paragraf setelah ini.
Ternyata oh ternyata aku pernah menulis bait recehan semacam ini.
Untuk Adik Manis: P.A.
Kalau kopi rasanya pahit
Aku tahu kamulah penawarnya
Kamu itu manis alamiah
tanpa buatan
Begitu kiranya lisan jika ia bisa mengecap rasa
Kita pernah muda pernah berkuasa
Atas segala nafsu dan cinta
Kita tahu bagaimana caranya mencari tahu
Lewati lembah mendaki menurun
Titipkan kenangan kita pada tiap jengkal aspal
Bersama rodadua yang menderu layaknya semangat kita
Kamu tahu bagaimana caranya menjadi adik
Aku tahu bagaimana caranya menjadi kakak
Kita tahu bagaimana caranya menjadi penguasa
Atas segenap sejarah kita
Bandung, Tangerang, Jakarta
Adalah deretan nama kota yang pernah singgah di linimasa kita
Kereta kita terus melaju bersama pikiran kita
Yang semakin menua semakin menggila
Bersama
cinta kita, selamanya
Kiranya bait recehan itu memberi peta navigasi bagaimana kisah
kita pernah terbangun tanpa sadar. Pun kalau tidak salah kamu pernah menuliskan
hal serupa berupa bait puisi yang tanpa sengaja aku temukan setelah sekian
tahun lamanya mengendap di buku harianku. Begini bunyinya:
Terimakasih udah mau buang-buang waktu,
tenaga, dan bensinmu untuk berkelana bareng aku. Kamu kakak yang super baik!
Baik banget sumpah! Makasih ya! Menyenangkan bisa menghabiskan waktu bareng
kamu. Semoga seluruh amal baikmu dibalas oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Aku menemukan banyak hikmah di balik dua bait yang saling
berjibaku tersebut. Kita sama-sama buta padahal kita sama-sama butuh. Klise
memang kata ‘kakak’ dalam baitmu. Kamu tahu sendiri, aku orang yang paling
malas dengan frase kakakzone. Pun sebaliknya dalam paragrafku, kata adik, yang
aku yakin kamu pun benci dengan frase adikzone. Atas nama ego dan kesombongan
darah muda ala Rhoma Irama, kita tanggalkan sebuah fakta bahwa kita ada karena
sebutlah darah, keringat, dan air mata.
Dalam tulisan ini pula ijinkan aku sekedar menuliskan ingatanku
sebelum musnah. Pastinya dengan menggunakan kata aku ingat bla bla bla. Aku
ingat kamu pernah sengaja menemuiku padahal aku masih di jam kantor yang berada
di Pasar Festival Kuningan, pada saat itu kamu dengan mewahnya membuatkan aku
masakan spesial ikan tuna salmon beserta sayuran sehat. Aku ingat benar
bagaimana kamu harus opname di rumahsakit dan waktu itu aku baru pulang kerja
langsung jenguk kamu untuk satu tujuan yang tidak aku pahami. Pacar? Bukan.
Istri? Bukan. Selingkuhan? Bukan. Entah apa yang berkecamuk di dalam jiwaku pun
jiwamu ketika itu. Aku juga ingat waktu itu kita pernah #RayakanPerbedaan dalam
rangka ulang tahun harian Kompas yang ke-50 dengan menonton film Terminator The
Raid dan begini dan begitu, semuanya gratis hanya modal bensin dan parkiran di
Mal Pondok Indah. Hal yang sampai sekarang buatku kesal adalah kita sama-sama
cerita kisah cinta kita masing-masing dengan pasangan kita masing-masing, yang
pada akhirnya itu hanya kisah usang. Bandung pun pernah menyisakan kenangan
yang entah apa namanya. Kita pernah mencari tahu di pelosok Bandung sampai kita
sendiri tidak tahu hakikat tahu yang kita makan ujungnya tetap keluar tahi. Sekian
lamanya kamu menetap di Bandung, kamu baru tahu arti kata cengek yang adalah
cabe rawit dalam lisan Sunda. Aku juga ingat suatu malam pernah kamu dan kucingmu
Si Moya, kucing yang tidak sengaja kamu temukan di warung makan itu, puasa
karena kelaparan dan langsung saja tanpa ba bi bu aku belikan kamu dan kucingmu
buka puasa. Rasanya, patung Sepatu di perempatan Cibaduyut mungkin jadi saksi
betapa gilanya kamu keluyuran malam di Paris van Java. Pasti kamu tak akan lupa
waktu aku bilang slogan kampusmu yang Creating The Future itu kan artinya bercinta,
dan spontan kamu balas dengan tawa lepas terbahak-bahak. Benar kiranya kalimat
Pidi Baiq, dan Bandung bagiku bukan cuma urusan wilayah belaka, lebih jauh dari
itu melibatkan perasaan yang bersamaku ketika rindu. Aku juga ingat betapa kamu
cemburunya ketika aku sebut temanmu yang bernama Tamara dan Ajeng kalau tidak
salah. Sialnya aku baru paham kata cemburu itu ternyata bermakna serius, dan
kamu sangat serius cemburu. Celaka tiga belas.
Kita menafsir cinta dengan cara kita sendiri. Entah apa namanya.
Namun jelas dan kuat, itu kita rasa tanpa kita pikir. Kekonyolan demi
kekonyolan lambat laun membuat kekenyalan hati dan raga kita tanpa disadari.
Rasanya jarak bukan lagi halangan untuk berinteraksi. Sebagaimana kalimat
Sapardi Djoko Damono yang kita pelajari bersama bahwa yang fana adalah waktu,
kita abadi, dan karena aku mencintaimu itulah sebabnya aku tak pernah berhenti
mendoakan keselamatan untukmu. Pun kiranya begitulah aku. Kamu boleh marah atau
apapun itu tapi yang jelas kamu tidak akan pernah bisa benci aku karena cinta
itu telah menghujam jauh sebelum kata benci ada dalam jarak antara kita.
Pada akhirnya kita menyerah oleh semesta yang telah pilih jalan
kita masing-masing dengan segudang umpatan caci maki atas diri kita yang alpa.
Kita yang sombong pada diri sendiri hingga akhirnya lupa hakikat cinta.
Sebutlah cinta versi kita yang tidak perlu diucapkan, padahal sejatinya cinta
itu ibarat iman yang mesti diikrarkan dengan hati, dilisankan dengan ucapan dan
diejawantahkan oleh perilaku. Kita kembalikan cinta kepada sang pemiliknya, Sang
Maha Cinta, untuk itulah kalimat demi kalimatku meluncur dengan indah, karena
cinta. Akhirul kalam segala puji Sang Maha Cinta.
Jakarta
Agustus 2020
Hamba Sang Maha Cinta