Sunday, February 28, 2016

Surat untuk Mantan



Dear mantan.
Apa kabar? Semoga kamu selalu sehat panjang umur serta mulia seperti lirik yang terkenal itu. Lagipula kan kita sudah sama-sama sepakat soal syairnya Sapardi Djoko Damono yang penyair hujan itu, yang katanya kalau aku mencintaimu itu sebabnya aku tak pernah selesai mendoakan keselamatanmu. Kalau gak salah juga itu jadi akhir percakapan kita di salah satu socmed yang gak mau disebut namanya Whats App, takut riya katanya, lagipula kan dia gak bayar jadi sponsor kita.

Aku mau sedikit bercerita, katakanlah monolog soal kamu. Soal mantan. Aku tidak menyebutmu dengan sebutan bekas. Soalnya kalau bekas nanti takut kamu dikiloin sama pengepul besi bekas dari pulau garam itu loh, yang kalau mau ke sana bisa lewat jembatan Suramadu yang terkenal romantis dan angker, perpaduan yin dan yang yang menarik.  Kira-kira begini monolognya:

Aku kenal kamu bukan sehari, sebulan, bahkan setahun. Aku kenal kamu lebih dari itu. Ya memang aku kenal kamu dan mengenalimu bukan bertahun-tahun. Tapi aku rasa cukup untuk menyempurnakan maksud kata cinta yang kita sama-sama sepakati bersama. Kita sepakat kalau cinta itu tidak perlu banyak diobral macam cuci gudang akhir tahun. Cinta menurut versi kita itu seperti iman. Diikrarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diwujudkan dengan perbuatan.

Hai mantan.
Aku tidak pernah menganggap kamu itu bekas. Kalau seandainya kamu itu bekas, artinya cinta kita itu juga bekas, yang bisa kita jual ke orang yang lebih membutuhkan. Aku masih ingat dialog kita sebelum sama-sama masuk dimensi cinta soal wanita. Aku yakin kamu pasti masih ingat. Waktu itu aku pernah bilang ke kamu kalau cewek itu kadang seperti langit, enak dipandang tapi gak enak untuk didekat karena teramat jauh.

Sekarang aku sudah paham dengan kalimatku itu sendiri. Jika cewek itu ibarat langit, maka kamu itu ibarat bintang di langit. Kamu sudah menghiasi hidupku selama ini. Dan kamu selalu abadi dan setia hadir setiap malam. Bintang itu indah karena dia ada di langit nun jauh di sana. Kalau didekati maka siapapun akan terbakar karena gesekan atmosfir. Begitu pula kamu. Tak ada yang bisa mengusikmu di sana. Kamu sudah jadi bintang di hidupku. Kalau ada yang coba sok mendekatimu pasti dia akan terbakar.

Aku selalu jawab ini ke siapa saja yang tanya siapa kamu.

Dan aku ingin haturkan apresiasi yang luarbinasa dan luarbiadab untuk dirimu. Tidak ada sepanjang hidupku wanita sepertimu yang penurut sabar luarbiasa penuh kasih. Kamu tidak pernah membantah aku bahkan untuk hal sepele. Aku ingat kamu pernah sampai pingsan di kantormu cuma gegara aku gak ijinkan kamu untuk ikut pergi bersama teman-temanmu. Padahal aku tahu kamu bersikeras sangat amat ingin datang bersenang-senang dengan teman-temanmu. Tapi karena ketundukanmu kepadaku, kamu lebih memilih aku ketimbang mereka. Kamu sudah buktikan dirimu layak jadi bintang di hidupku. Sehingga tak ada ruang lagi untuk aku membencimu atau dengan bahasa lain tak ada alasan untuk aku tidak sayang kamu.

Kalau pinjam istilah Twitter, kamu itu sudah jadi tab favorit di linimasaku. Bahkan kalau bisa kamu itu jadi pinned tweet. Lebaynya lagi, kamu itu selebtwit di hatiku. Halah.

Aku juga masih ingat kalimatmu, kalau cinta itu adalah hal yang paling klasik, hal yang paling sederhana ada di dunia ini, dan hal yang sederhana ini mampu menciptakan kejadian yang kompleks dan paling megah sedunia.

Sekian dulu monologku kali ini. Lain waktu aku sambung lagi. Semoga kamu selalu dan selalu dan selalu…..(isi sendiri biar banyak doanya). Salam hangat dari mantanmu yang selalu genit dan masih ganteng plus waras.


~ John Koplo

No comments:

Post a Comment