Friday, January 22, 2016

Surat untuk Fika


Kepada: Fika Hasan
Selamat Pagi Siang Sore dan Malam.
Aku gak tahu mesti mulai dari mana. Kalau gitu aku mulai dari sini aja, dari paragraf pertama yang kamu baca. Anggaplah ini basa-basi yang menjadi intro pembuka surat ini.
Langsung saja, aku ingin bilang sesuatu yang mungkin sudah kamu tahu. Soalnya barusan aku udah mulai surat ini dengan sekapur sirih yang tidak penting. Baiklah. Mari menghela napas panjang sejenak sebelum kamu melanjutkan paragraf demi paragraf.
Fika..,
Aku tidak bisa melawan perasaan yang antah berantah datang dari mana asalnya ini. Semenjak perjumpaan yang gak pakai rekayasa walau ujungnya pakai rekayasa karena janjian, ada sesuatu aneh yang mengganjal di pikiran dan hati ini. Ya kalau kamu gak percaya aku punya pikiran sih gak apa-apa, kan lagipula gak perlu kamu pikirin juga. Hahaha.
Tapi paling gak aku punya kata yang kedua setelah pikiran tadi itu. Apa itu?
Iya benar. Kamu pintar. Dapat 100. Aku dapat 1000.
Aku masih punya hati. Walau gak punya pikiran. Hahaha.
Sebelum lanjut, ada baiknya kamu minum air dulu ya. Biar gak keselek meneruskan kata per kata selanjutnya.
Fika Hasan, aku tak bisa menyembunyikan perasaan ini. Dan aku bukan semacam lelaki yang pandai menyembunyikan perasaan. Artinya apa?

Bersambung….

Begini.
Adapun tujuanku menulis surat ini agar maksud dan tujuanku sampai dengan selamat sehat wal afiat. Aku banyak saksikan di saat ini, dimana teknologi semakin canggih, namun orang semakin luput dari apa yang disebut dengan makna. Semakin banyak teknologi social media semakin membuat orang satu sama lain menjadi jauh. Sangat berbeda sekali dengan apa yang mungkin kamu atau aku alami jaman dulu. Dimana cinta itu ditulis ketika sudah matang.
Eh barusan aku tulis soal apa? Ups.. Maaf ya aku lancang menuliskan cinta.
Aku tidak pernah paham soal cinta karena bagiku cinta bukan untuk dipahami tapi diyakini oleh hati untuk diucapkan dengan lisan dan diwujudkan dengan perbuatan. Dan konon, cinta itu gak butuh alasan tapi lebih butuh kepada balasan. Namun satu kalimat yang ingin aku ucapkan khusus buatmu:
Fika Hasan, aku sayang kamu.
Itu sudah.

Salam
Hamba Allah

NB: Maaf ya kalau tulisanku jelek dan gak kebaca

No comments:

Post a Comment