Saturday, March 21, 2015

Pada Akhirnya



Pada akhirnya, perpisahan itu adalah sebuah keniscayaan yang hadir karena adanya pertemuan. Dia menjadi oposisi biner paling erat dan mengikat. Mengutip kalimat Antonio Bandeiras di film Automata [2014], mengisahkan robot yang memiliki perasaan layaknya manusia “to die, you’ve got to be alive first”. Merunut takdir memang suatu yang mustahil dilakukan manusia. Namun manusia punya kehendak untuk menentukan ujung takdirnya.

Suatu ketika saya menghadiri khutbah Jumat, ketika itu sang khatib berbicara soal takdir. Permasalahan takdir memang sesuatu yang pelik. Jangankan orang awam, sekelas ulama pun acapkali tergelincir dalam memahaminya. Dalam khutbah kali itu beliau berujar begini: wahai jamaah, ketahuilah bahwa pada saat ini nama saya Fulan bin Fulan sudah tercatat sebagai ahli surga. Nama saya sudah masuk daftar catatan di Lauh Mahfuz sebagai penghuni surga. Namun tidak hanya itu, pada saat bersamaan pula, saya yang bernama Fulan bin Fulan pun sudah tercatat sebagai ahli neraka. Nama saya sudah masuk daftar catatan di Lauh Mahfuz sebagai penghuni neraka.
Lantas apakah Allah zalim terhadap saya kalau saya nantinya masuk surga atau sebaliknya? Tidak. Jawabannya tidak wahai jamaah. Karena Allah telah berikan dua jalan [90: 10]. Hak manusia untuk memilih jalan mana yang akan ditempuhnya. Artinya apa? Artinya kalau saya menghendaki untuk masuk surga, saya akan menempuh jalan untuk ke sana. Saya cari petanya, rutenya, GPS, dan segala yang menuntun saya ke sana, ke surga. Rasulullah telah bersabda, barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah pahamkan dia terhadap agama ini. [Bukhari 2948, Muslim 1037] Saya akan tahan semua godaan di dunia ini demi sesuatu yang mahal bernama surga. Allah tidak pernah zalim atas hamba-Nya.

Lalu muncul pertanyaan lawannya apakah Allah zalim terhadap saya kalau saya nantinya masuk surga atau sebaliknya? Tidak. Kalau saya ingin masuk neraka, maka saya menempuh jalan yang penuh kenikmatan dunia sesaat. Bergelimang dan larut di dalamnya hingga ajal menjemput saya. Dan saya telah memilih jalan ini, jalan ke neraka. Allah tidak pernah zalim atas hamba-Nya. Dia Maha Adil tak pernah ingkar janji.

Begitulah intisari khutbah Jumat yang menggugah diri saya. Kemudian saya merenung tentang surga dan neraka. Saya mendapat pencerahan, bahwa sesuatu yang mahal pastilah bernilai untuk mendapatkannya. Begitu pula surga. Masuk akal jika untuk meraih surga dibutuhkan perjuangan amat berat yang di dalamnya banyak godaan nafsu yang nikmat namun sesaat dan sesat. Banyak orang yang rumahnya bersebelahan dengan masjid, artinya dia punya banyak kesempatan besar untuk melangkahkan kakinya ke rumah Allah. Namun berapa banyak orang yang sanggup? Tidak jaminan orang yang tinggal bersebelahan dengan masjid dia mampu menggerakan hati untuk melangkahkan kakinya demi meraih surga. Lantas bagaimana dengan orang yang ngidam surga sepanjang hidupnya namun berat baginya untuk melangkahkan kaki ke masjid. Saya percaya surga tidak didapat dengan mimpi belaka, namun dengan jihad harta benda jiwa raga. Surga itu mahal, dunia itu murah. Akhirul kalam, apakah kamu rela menukar yang mahal dengan yang murah? [2: 61]

No comments:

Post a Comment