Pada akhirnya, perpisahan
itu adalah sebuah keniscayaan yang hadir karena adanya pertemuan. Dia menjadi
oposisi biner paling erat dan mengikat. Mengutip kalimat Antonio Bandeiras di
film Automata [2014], mengisahkan robot yang memiliki perasaan layaknya manusia
“to die, you’ve got to be alive first”. Merunut takdir memang suatu yang
mustahil dilakukan manusia. Namun manusia punya kehendak untuk menentukan ujung
takdirnya.
Suatu ketika saya menghadiri
khutbah Jumat, ketika itu sang khatib berbicara soal takdir. Permasalahan
takdir memang sesuatu yang pelik. Jangankan orang awam, sekelas ulama pun
acapkali tergelincir dalam memahaminya. Dalam khutbah kali itu beliau berujar
begini: wahai jamaah, ketahuilah bahwa pada saat ini nama saya Fulan bin Fulan
sudah tercatat sebagai ahli surga. Nama saya sudah masuk daftar catatan di Lauh
Mahfuz sebagai penghuni surga. Namun tidak hanya itu, pada saat bersamaan pula,
saya yang bernama Fulan bin Fulan pun sudah tercatat sebagai ahli neraka. Nama
saya sudah masuk daftar catatan di Lauh Mahfuz sebagai penghuni neraka.
Lantas apakah Allah zalim
terhadap saya kalau saya nantinya masuk surga atau sebaliknya? Tidak. Jawabannya
tidak wahai jamaah. Karena Allah telah berikan dua jalan [90: 10]. Hak manusia
untuk memilih jalan mana yang akan ditempuhnya. Artinya apa? Artinya kalau saya
menghendaki untuk masuk surga, saya akan menempuh jalan untuk ke sana. Saya cari
petanya, rutenya, GPS, dan segala yang menuntun saya ke sana, ke surga. Rasulullah
telah bersabda, barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan maka Allah pahamkan
dia terhadap agama ini. [Bukhari 2948, Muslim 1037] Saya akan tahan semua
godaan di dunia ini demi sesuatu yang mahal bernama surga. Allah tidak pernah
zalim atas hamba-Nya.
Lalu muncul pertanyaan
lawannya apakah Allah zalim terhadap saya kalau saya nantinya masuk surga atau
sebaliknya? Tidak. Kalau saya ingin masuk neraka, maka saya menempuh jalan yang
penuh kenikmatan dunia sesaat. Bergelimang dan larut di dalamnya hingga ajal
menjemput saya. Dan saya telah memilih jalan ini, jalan ke neraka. Allah tidak
pernah zalim atas hamba-Nya. Dia Maha Adil tak pernah ingkar janji.
Begitulah intisari khutbah
Jumat yang menggugah diri saya. Kemudian saya merenung tentang surga dan
neraka. Saya mendapat pencerahan, bahwa sesuatu yang mahal pastilah bernilai
untuk mendapatkannya. Begitu pula surga. Masuk akal jika untuk meraih surga
dibutuhkan perjuangan amat berat yang di dalamnya banyak godaan nafsu yang
nikmat namun sesaat dan sesat. Banyak orang yang rumahnya bersebelahan dengan
masjid, artinya dia punya banyak kesempatan besar untuk melangkahkan kakinya ke
rumah Allah. Namun berapa banyak orang yang sanggup? Tidak jaminan orang yang
tinggal bersebelahan dengan masjid dia mampu menggerakan hati untuk
melangkahkan kakinya demi meraih surga. Lantas bagaimana dengan orang yang
ngidam surga sepanjang hidupnya namun berat baginya untuk melangkahkan kaki ke
masjid. Saya percaya surga tidak didapat dengan mimpi belaka, namun dengan
jihad harta benda jiwa raga. Surga itu mahal, dunia itu murah. Akhirul kalam, apakah
kamu rela menukar yang mahal dengan yang murah? [2: 61]
No comments:
Post a Comment