Friday, February 13, 2015

Si Dul dan Si Putri: Kisah Nyata Anak Manusia

Nasib pertemukan mereka, perang di simpang jalanan /
Cuma karena salah paham, Si Boy tewas Udin masuk penjara/
Kita hidup di antara mereka/ Kita hidup bersama mereka/

[Slank – Gemerlap Kota]

Mungkin begitulah kiranya prolog yang pas untuk menghantar cerita singkat kali ini. Sebut saja Dul, nama seorang lelaki kampung, dan Putri, nama seorang wanita kota. Mereka berdua kuliah di kampus yang sama. Namun kisah dan nasib mereka berbeda. 

Si Dul.
Alkisah hiduplah seorang bujang bernama Dul. Saya lebih suka memanggilnya begini, karena beliau yang minta dipanggil seperti ini. Terlahir dari kampung yang agak jauh di pinggiran kota Depok. Istilahnya Depok ogah, Bogor emoh, atau sebut saja Depok coret bahasa kerennya. Citayam. Mungkin di antara kamu ada yang pernah dengar nama ini. Ya, di sinilah Dul tinggal bersama orang tuanya. Dul yang bertampang pas-pasan ini pernah mengecap bangku kuliah di salah satu universitas ternama di Indonesia, sebut saja Universitas Indonesia (UI). Suatu hari Dul pernah curhat ke saya soal hidupnya. Dia bilang kalau di keluarganya, terutama untuk kaum Adam, ada semacam tradisi atau entah apa namanya, mungkin siklus, yaitu cuma dikenal: lahir—bersekolah dasar—jadi kuli—menikah—punya anak—mati, begitu seterusnya. Konon yang demikian seolah jadi kutukan buat keluarganya. Nah, si Dul orang pertama yang berhasil mencabut kutukan sekaligus mematahkan rantai siklus keluarganya tersebut. Dia berhasil masuk perguruan tinggi negeri. Perjuangan dia masuk UI sungguh berat, betapa tidak, si Dul yang cuma anak miskin pas-pasan harus membayar biaya operasional pendidikan (BOP) yang nominalnya tidak kecil bagi anak kuliahan saat itu. Akhirnya dengan susah payah memohon bantuan keringanan ke sana kemari, si Dul berhasil terbebas dari jeratan uang BOP tersebut.

Si Dul punya kegemaran mendengar sandiwara lenong di radio. Kalian pasti aneh dengarnya. Saya tanya kok bisa begitu? Dia jawab, kalau dia tidak punya apa-apa di rumahnya. Televisi pun dia tidak punya, yang ada cuma radio, itu pun sudah amat butut. Satu-satunya hiburan yang paling menghibur buat si Dul ya itu, mendengar sandiwara radio, entah itu bahasa Indonesia atau Sunda, karena si Dul memang fasih berbahasa Sunda. Tapi baginya itu tak mematahkan semangat untuk hidup. Raut muka si Dul memang bersahaja. Saya tak melihat air muka cengeng tampak dari dirinya. Si Dul bahagia walau tak punya apa-apa yang kebanyakan manusia modern sudah punya.

Oh, iya, waktu itu semua mahasiswa nyaris sudah memiliki barang yang jadi ciri modernitas, yaitu handphone yang dibaca “henpon”. Bagaimana dengan si Dul? Yup, si Dul tidak punya barang macam itu. Setahun berselang, si Dul dapat rezeki untuk beli henpon. Dia senang bukan kepalang. Namun tunggu dulu, apa kamu tahu henpon macam apa yang dia punya? Kalau kamu kira henpon canggih atau baru, saya pastikan kamu salah. Jawaban yang benar itu henpon bekas. Ya, henpon seken bahasa kerennya. Ciri-cirinya henpon si Dul yang waktu itu saya ingat kalau tidak salah Nokia 6110 yang masih pakai dual band GSM, yang di corong speaker telinganya ada karet gelangnya. Betul. Ada karet gelang yang biasa dipakai ibu-ibu belanja di pasar. Si Dul bilang henpon itu baterainya sudah longgar, makanya karuan dia pasang itu karet gelang biar erat, gitu katanya. Subhanallah.

Masih saya ingat waktu itu, si Dul karena masih baru punya henpon, dengan noraknya dia salah menyetel alarm. Alhasil si alarm berbunyi pas pelajaran kuliah sedang berlangsung. Hebohlah satu kelas. Kring. Grrrrr. Begitu tiruan bunyinya. Si Dul menjawab, maaf pak dosen, maaf teman-teman. Maafkan kesalahan saya yang manusiawi ini. Iya, si Dul jika dicemooh atau berbuat salah selalu mengucapkan kata “manusiawi” untuk mengukur perbuatannya di mata orang lain. Manusiawi, ‘kan? Begitu ucap si Dul yang saya ingat.

Suatu ketika si Dul kena musibah. Henpon miliknya hilang dicopet di kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Nahasnya lagi, sudah jatuh tertimpa tangga kejatuhan kaleng cat. Sialnya, si copet pakai modus menghubungi kontak yang ada di henpon si Dul untuk minta pulsa dengan cara halus, isiin pulsa dulu, nanti gue ganti uangnya, istilahnya. Apes memang. Si Dul curhat ke saya sekalian tanya apa saya dapat SMS cinta darinya yang tidak lain henponnya dibajak si copet biadab. Saya jawab iya, tapi saya memang sedang tidak punya uang buat belikan pulsa si Dul. Begitu cerita si Dul soal henponnya yang hilang seraya dia memegang struk bukti pembayaran transfer beberapa rekannya yang berhasil ditipu si copet biadab.

Si Putri.
Ada seorang wanita dari selatan Ibu Kota, sebut saja Bogor. Rumah tempat tinggalnya agak lebih jauh sedikit dari si Dul. Namanya Putri. Sedikit berkenalan, dia ini wanita cantik nan anggun memesona setiap mata lelaki. Istilahnya, nyaris seluruh spesifikasi kriteria wanita cantik, dia punya. Putih mulus semerbak wangi bunga nan cantik jelita ibarat gadis pingitan di surga, begitu gambaran dari si Putri. Konon begitu pengakuan beberapa temannya yang wanita ketika sempat saya wawancara. Barusan sudah saya bilang, kalau si Putri punya segalanya. Memang benar. Si Putri tinggal di sebuah perumahan elite di kota Bogor, yang rumahnya tak pakai pagar saking mewahnya. Begitu pengakuannya ke saya. Dia ini gadis perantauan, ayahnya orang Minang, ibunya Palembang. Tapi dia lahir di Pangkalan Brandan, kalau tidak salah. Maklumlah, dengan keadaan serbamampu, keluarganya bisa ke mana-mana, wajarlah kalau si Putri brojol lahir di negeri antah berantah, begitu tuturnya ke saya. Si Putri sering menyebut dirinya itu anak seribu pulau karena selalu berpindah-pindah domisili.

Saya tak begitu tahu perjuangan si Putri untuk masuk UI. Tapi mungkin bagi si Putri kuliah di UI bukan perkara sulit. Dalam hal finansial, orang tuanya termasuk berada. Untuk membayar biaya BOP tidaklah sulit baginya. Dia tidak harus terengah-engah untuk sekadar mencari pernyataan surat miskin dari lurah atau camat setempat. Atau untuk mengemis ke sana-sini demi keringanan biaya. Semua lulus, pastinya dengan fulus.

Sekadar mengingatkan kembali, si Putri ini satu kampus dengan si Dul, sama-sama kuliah di UI, kampus Depok. Nah, karena jarak rumahnya yang lumayan jauh dari kampus, dia ngekos di daerah Margonda. Nama indekosnya Puri Dewi Tri. Suatu ketika saya pernah diajak main ke tempat kosnya. Saya agak canggung. Kok bisa? Iya. Coba kamu bayangkan masuk ke kos mahasiswi yang di depan gerbangnya dijaga sekuriti. Yup, betul, indekos si Putri memang agak eksklusif, begitu pengakuannya pula. Ketika saya sudah masuk di beranda kosnya, saya cuma menunggu di situ saja. Kami banyak mengobrol soal ini soal itu. Saya terperangah, indekos si Putri ternyata lebih mirip kastil ketimbang indekos mahasiswi semester satu. Di situ ada ruang bawah tanahnya alias basement, yang baru diketahui si Putri setelah nyaris setahun kos di situ. Aneh memang.

Waktu berlalu. Si Putri sering curhat ke saya soal hidupnya, soal kesendiriannya selama ini. Dia pernah cerita soal kamar kosnya yang lebih mirip kamar di rumahnya yang disulap pindah tempat saja, begitu katanya. Sebut saja televisi, AC, DVD, laptop, dan segala perkakas canggih, dia punya dan semua ada di kamarnya. Abrakadabra. Semua kemudahan dalam hidup, semua akses mampu didapat si Putri dengan mudahnya. Maka tak heran dia banyak digandrungi mahasiswa di kampus, saya termasuk mahasiswa tersebut.

Si Putri juga pernah curhat soal sakitnya yang tak kunjung sembuh, yang mengharuskan dia mesti bolak-balik rumah sakit setiap bulannya untuk sekadar medical check-up (MCU). Iya, si Putri mengidap penyakit sinusitis alias radang pada selaput hidung. Kasihan memang. Gadis secantik dia harus dipaksa menyerah oleh penyakit yang dideritanya.

Kalau si Dul punya henpon butut, beda dengan si Putri yang punya henpon yang canggih. Suatu ketika henpon si Putri hilang, dia lapor ke saya. Dia curhat bernada sedih katanya data yang penting banyak hilang di henpon itu. Mamanya malah bergurau, kata si Mama, nanti dia mau dibelikan telepon koin yang bisa dibawa ke mana-mana, biar tidak hilang lagi henponnya. Sontak saja saya tertawa. Duh, Putri, malang benar nasibmu, Cantik. Masya Allah.



Dari kisah ini, ada pelajaran berharga yang saya petik. Si Dul, seorang lelaki kampung yang miskin tidak punya banyak harta namun dia masih sanggup bahagia tersenyum menikmati karunia Allah di setiap jengkal nikmat-Nya. Si Dul punya cara sendiri untuk bahagia, dia tidak perlu ikut cara orang lain untuk bisa bahagia sekaligus sebagai perwujudan syukurnya kepada Allah. Si Dul pantang mengeluh untuk hal yang dia tidak punya, namun dia berjuang untuk meraih apa yang dia cita-citakan di hidupnya. 

Lain halnya dengan si Putri, seorang wanita kota yang kaya nan punya segalanya berupa harta namun sama sekali dia tidak bisa menikmatinya karena dia diuji oleh Allah dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Pun si Putri selalu dirundung kesedihan karena selalu merasa kesepian dalam hidupnya yang selama ini selalu hidup manja dengan segala kemudahannya bersama orang tua dan keluarga yang dicintainya. 

Ada orang miskin, namun dengan miskin hartanya bukan berarti menunjukkan dia miskin jiwa dan dia tidak mampu bahagia menikmati kemiskinannya. Ada orang kaya, namun bukan berarti dengan kaya hartanya menunjukkan dia kaya jiwa dan mampu menikmati kekayaannya. Kita hidup bersama mereka, si Dul dan Si Putri.

No comments:

Post a Comment