Nasib pertemukan mereka, perang di simpang jalanan /Cuma karena salah paham, Si Boy tewas Udin masuk penjara/Kita hidup di antara mereka/ Kita hidup bersama mereka/[Slank – Gemerlap Kota]
Mungkin begitulah kiranya prolog yang pas untuk menghantar
cerita singkat kali ini. Sebut saja Dul, nama seorang lelaki kampung, dan Putri,
nama seorang wanita kota. Mereka berdua kuliah di kampus yang sama. Namun kisah
dan nasib mereka berbeda.
Si Dul.
Alkisah hiduplah seorang bujang bernama Dul. Saya lebih suka
memanggilnya begini, karena beliau yang minta dipanggil seperti ini. Terlahir
dari kampung yang agak jauh di pinggiran kota Depok. Istilahnya Depok ogah,
Bogor emoh, atau sebut saja Depok coret bahasa kerennya. Citayam. Mungkin di
antara kamu ada yang pernah dengar nama ini. Ya, di sinilah Dul tinggal bersama
orang tuanya. Dul yang bertampang pas-pasan ini pernah mengecap bangku kuliah
di salah satu universitas ternama di Indonesia, sebut saja Universitas Indonesia
(UI). Suatu hari Dul pernah curhat ke saya soal hidupnya. Dia bilang kalau di
keluarganya, terutama untuk kaum Adam, ada semacam tradisi atau entah apa
namanya, mungkin siklus, yaitu cuma dikenal: lahir—bersekolah dasar—jadi kuli—menikah—punya
anak—mati, begitu seterusnya. Konon yang demikian seolah jadi kutukan buat
keluarganya. Nah, si Dul orang pertama yang berhasil mencabut kutukan sekaligus
mematahkan rantai siklus keluarganya tersebut. Dia berhasil masuk perguruan
tinggi negeri. Perjuangan dia masuk UI sungguh berat, betapa tidak, si Dul yang
cuma anak miskin pas-pasan harus membayar biaya operasional pendidikan (BOP)
yang nominalnya tidak kecil bagi anak kuliahan saat itu. Akhirnya dengan susah
payah memohon bantuan keringanan ke sana kemari, si Dul berhasil terbebas dari
jeratan uang BOP tersebut.
Si Dul punya kegemaran mendengar sandiwara lenong di radio.
Kalian pasti aneh dengarnya. Saya tanya kok bisa begitu? Dia jawab, kalau dia
tidak punya apa-apa di rumahnya. Televisi pun dia tidak punya, yang ada cuma
radio, itu pun sudah amat butut. Satu-satunya hiburan yang paling menghibur
buat si Dul ya itu, mendengar sandiwara radio, entah itu bahasa Indonesia atau
Sunda, karena si Dul memang fasih berbahasa Sunda. Tapi baginya itu tak
mematahkan semangat untuk hidup. Raut muka si Dul memang bersahaja. Saya tak
melihat air muka cengeng tampak dari dirinya. Si Dul bahagia walau tak punya
apa-apa yang kebanyakan manusia modern sudah punya.
Oh, iya, waktu itu semua mahasiswa nyaris sudah memiliki
barang yang jadi ciri modernitas, yaitu handphone
yang dibaca “henpon”. Bagaimana dengan si Dul? Yup, si Dul tidak punya barang
macam itu. Setahun berselang, si Dul dapat rezeki untuk beli henpon. Dia senang
bukan kepalang. Namun tunggu dulu, apa kamu tahu henpon macam apa yang dia
punya? Kalau kamu kira henpon canggih atau baru, saya pastikan kamu salah.
Jawaban yang benar itu henpon bekas. Ya, henpon seken bahasa kerennya.
Ciri-cirinya henpon si Dul yang waktu itu saya ingat kalau tidak salah Nokia
6110 yang masih pakai dual band GSM,
yang di corong speaker telinganya ada karet gelangnya. Betul. Ada karet gelang
yang biasa dipakai ibu-ibu belanja di pasar. Si Dul bilang henpon itu
baterainya sudah longgar, makanya karuan dia pasang itu karet gelang biar erat,
gitu katanya. Subhanallah.
Masih saya ingat waktu itu, si Dul karena masih baru punya
henpon, dengan noraknya dia salah menyetel alarm. Alhasil si alarm berbunyi pas
pelajaran kuliah sedang berlangsung. Hebohlah satu kelas. Kring. Grrrrr. Begitu
tiruan bunyinya. Si Dul menjawab, maaf pak dosen, maaf teman-teman. Maafkan
kesalahan saya yang manusiawi ini. Iya, si Dul jika dicemooh atau berbuat salah
selalu mengucapkan kata “manusiawi” untuk mengukur perbuatannya di mata orang
lain. Manusiawi, ‘kan? Begitu ucap si Dul yang saya ingat.
Suatu ketika si Dul kena musibah. Henpon miliknya hilang
dicopet di kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek. Nahasnya lagi, sudah jatuh
tertimpa tangga kejatuhan kaleng cat. Sialnya, si copet pakai modus menghubungi
kontak yang ada di henpon si Dul untuk minta pulsa dengan cara halus, isiin
pulsa dulu, nanti gue ganti uangnya, istilahnya. Apes memang. Si Dul curhat ke
saya sekalian tanya apa saya dapat SMS cinta darinya yang tidak lain henponnya
dibajak si copet biadab. Saya jawab iya, tapi saya memang sedang tidak punya
uang buat belikan pulsa si Dul. Begitu cerita si Dul soal henponnya yang hilang
seraya dia memegang struk bukti pembayaran transfer beberapa rekannya yang
berhasil ditipu si copet biadab.
Si Putri.
Ada seorang wanita dari selatan Ibu Kota, sebut saja Bogor. Rumah
tempat tinggalnya agak lebih jauh sedikit dari si Dul. Namanya Putri. Sedikit
berkenalan, dia ini wanita cantik nan anggun memesona setiap mata lelaki.
Istilahnya, nyaris seluruh spesifikasi kriteria wanita cantik, dia punya. Putih
mulus semerbak wangi bunga nan cantik jelita ibarat gadis pingitan di surga,
begitu gambaran dari si Putri. Konon begitu pengakuan beberapa temannya yang
wanita ketika sempat saya wawancara. Barusan sudah saya bilang, kalau si Putri
punya segalanya. Memang benar. Si Putri tinggal di sebuah perumahan elite di
kota Bogor, yang rumahnya tak pakai pagar saking mewahnya. Begitu pengakuannya
ke saya. Dia ini gadis perantauan, ayahnya orang Minang, ibunya Palembang. Tapi
dia lahir di Pangkalan Brandan, kalau tidak salah. Maklumlah, dengan keadaan
serbamampu, keluarganya bisa ke mana-mana, wajarlah kalau si Putri brojol lahir di negeri antah berantah,
begitu tuturnya ke saya. Si Putri sering menyebut dirinya itu anak seribu pulau
karena selalu berpindah-pindah domisili.
Saya tak begitu tahu perjuangan si Putri untuk masuk UI. Tapi
mungkin bagi si Putri kuliah di UI bukan perkara sulit. Dalam hal finansial,
orang tuanya termasuk berada. Untuk membayar biaya BOP tidaklah sulit baginya.
Dia tidak harus terengah-engah untuk sekadar mencari pernyataan surat miskin
dari lurah atau camat setempat. Atau untuk mengemis ke sana-sini demi
keringanan biaya. Semua lulus, pastinya dengan fulus.
Sekadar mengingatkan kembali, si Putri ini satu kampus dengan
si Dul, sama-sama kuliah di UI, kampus Depok. Nah, karena jarak rumahnya yang
lumayan jauh dari kampus, dia ngekos
di daerah Margonda. Nama indekosnya Puri Dewi Tri. Suatu ketika saya pernah
diajak main ke tempat kosnya. Saya agak canggung. Kok bisa? Iya. Coba kamu
bayangkan masuk ke kos mahasiswi yang di depan gerbangnya dijaga sekuriti. Yup,
betul, indekos si Putri memang agak eksklusif, begitu pengakuannya pula. Ketika
saya sudah masuk di beranda kosnya, saya cuma menunggu di situ saja. Kami
banyak mengobrol soal ini soal itu. Saya terperangah, indekos si Putri ternyata
lebih mirip kastil ketimbang indekos mahasiswi semester satu. Di situ ada ruang
bawah tanahnya alias basement, yang
baru diketahui si Putri setelah nyaris setahun kos di situ. Aneh memang.
Waktu berlalu. Si Putri sering curhat ke saya soal hidupnya,
soal kesendiriannya selama ini. Dia pernah cerita soal kamar kosnya yang lebih
mirip kamar di rumahnya yang disulap pindah tempat saja, begitu katanya. Sebut
saja televisi, AC, DVD, laptop, dan segala perkakas canggih, dia punya dan
semua ada di kamarnya. Abrakadabra. Semua kemudahan dalam hidup, semua akses
mampu didapat si Putri dengan mudahnya. Maka tak heran dia banyak digandrungi
mahasiswa di kampus, saya termasuk mahasiswa tersebut.
Si Putri juga pernah curhat soal sakitnya yang tak kunjung
sembuh, yang mengharuskan dia mesti bolak-balik rumah sakit setiap bulannya
untuk sekadar medical check-up (MCU).
Iya, si Putri mengidap penyakit sinusitis alias radang pada selaput hidung.
Kasihan memang. Gadis secantik dia harus dipaksa menyerah oleh penyakit yang
dideritanya.
Kalau si Dul punya henpon butut, beda dengan si Putri yang
punya henpon yang canggih. Suatu ketika henpon si Putri hilang, dia lapor ke
saya. Dia curhat bernada sedih katanya data yang penting banyak hilang di
henpon itu. Mamanya malah bergurau, kata si Mama, nanti dia mau dibelikan
telepon koin yang bisa dibawa ke mana-mana, biar tidak hilang lagi henponnya.
Sontak saja saya tertawa. Duh, Putri, malang benar nasibmu, Cantik. Masya
Allah.
Dari kisah ini, ada pelajaran berharga yang saya petik. Si
Dul, seorang lelaki kampung yang miskin tidak punya banyak harta namun dia
masih sanggup bahagia tersenyum menikmati karunia Allah di setiap jengkal
nikmat-Nya. Si Dul punya cara sendiri untuk bahagia, dia tidak perlu ikut cara
orang lain untuk bisa bahagia sekaligus sebagai perwujudan syukurnya kepada
Allah. Si Dul pantang mengeluh untuk hal yang dia tidak punya, namun dia
berjuang untuk meraih apa yang dia cita-citakan di hidupnya.
Lain halnya dengan si Putri, seorang wanita kota yang kaya
nan punya segalanya berupa harta namun sama sekali dia tidak bisa menikmatinya
karena dia diuji oleh Allah dengan penyakit yang tak kunjung sembuh. Pun si
Putri selalu dirundung kesedihan karena selalu merasa kesepian dalam hidupnya
yang selama ini selalu hidup manja dengan segala kemudahannya bersama orang tua
dan keluarga yang dicintainya.
Ada orang miskin, namun dengan miskin hartanya bukan berarti
menunjukkan dia miskin jiwa dan dia tidak mampu bahagia menikmati
kemiskinannya. Ada orang kaya, namun bukan berarti dengan kaya hartanya
menunjukkan dia kaya jiwa dan mampu menikmati kekayaannya. Kita hidup bersama
mereka, si Dul dan Si Putri.
No comments:
Post a Comment