Wednesday, August 23, 2023

Belajar Menulis Baik dan Benar sesuai Kaidah KBBI

 

Belajar Menulis Baik dan Benar Sesuai Kaidah KBBI

oleh John Koplo

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuhu

Halo teman teman perkenalkan nama saya asal Abnor, kependekan dari Abnormal, domisili dari Jakarta. Saat ini alhamdulillah saya sudah menikah dan dikaruniai dua anak, satu laki dan satu perempuan; Kesibukan saya saat ini menjadi pengangguran swasta, pekerjaan saya sibuk ibadah, sampingan saya ngajar di salah satu kampus swasta di Jakarta. Hobi saya baca, naik motor dan naik gunung. Cita-cita saya ingin jadi storyteller, karena menurut saya jadi storyteller itu sangat sulit. Idola saya dalam dunia storytelling itu adalah Nabi Muhammad ﷺ. Kalau yang di dunia nyata sekarang ini ada 2 yang pertama itu Pandji Pragiwaksono dan kedua itu Ferry Irwandi. Bedanya Cuma 1, saya Cuma follow Ferry Irwandi.

Bicara tentang manusia dengan hubungannya, saya akan bercerita tentang kisah hubungan saya dengan istri dari awal ketemu sampai kami nikah. Setidaknya ada dua premis utama dalam cerita saya ini.

Pertama, saya adalah orang yang sangat tidak percaya pada istilah cinta pada pandangan pertama, karena saya yakin mata saya mudah sekali berkhianat sehingga lisan saya gampang bilang cinta seandainya emang ada cinta pada pandangan pertama.

Kedua, saya percaya pada akhirnya semesta ini kadang memang suka bercanda cuma kita aja yang terlalu serius. Banyak hal di hidup kita yang sebenarnya berjalan tanpa kita ketahui bagaimana caranya. Manusia hanya mampu berusaha dan berdoa, itu aja.

Lanjut

Untuk menjelaskan premis saya yang pertama, awal saya ketemu istri itu aja udah absurd. Saya orang yang yakin dengan istilah coba aja dulu siapa tau rejeki atau jodoh. Singkat cerita saya ketemu istri saya itu dikenalin sama temen saya. Ya intinya kenal via instagram, pada waktu itu akun ig istri saya itu digembok, sampai sekarang juga sih. Di saat itu tujuan saya sederhana, Cuma mau minta nomer kontaknya aja. Dan ringkas cerita dikasih. Kamipun bertemu di salah satu kedai pizza di bilangan Jakarta Timur sebut aja Rawamangun.

Waktu itu hari Selasa. Di tempat itu saya gak banyak basa-basi, artinya Cuma sedikit ngomong basa-basi kenalan di awal dan selebihnya saya jujur langsung to the poin intinya saya mau bahas apa di situ. Anehnya ternyata si istri saya pun menjawab hal serupa. Intinya kami ketika itu bukan nyari pacar, melainkan nyari pasangan hidup alias suami istri. FYI aja istri saya itu orang yang termasuk introvert soal percintaan, itu akhirnya bisa saya pahami karena masalalu doi yang pernah gagal dalam urusan cinta. Okelah.

Balik ke cerita.

Saya anterin istri saya pulang ke rumahnya abis dari kedai pizza itu. Di tengah jalan sebelum sampai ke rumahnya dia sempet nanya saya, lebih tepatnya nantang sih. Dia tanya mau gak saya serius ketemu orangtuanya pas besok wiken. Saya jawab siapa takut. Saya menerima tantangan itu. Jadinya Sabtu besok abis zuhur saya diundang ke rumahnya.

Walhasil berjalan waktu. Sampailah saya di hari Sabtu. Ada hal menarik saat itu, yaitu pada hari itu saya janjian sama cewek juga paginya, mau ngapain? Saya mau taaruf. Jadi sebelum saya ketemu istri saya itu sebenernya saya lagi ikut program taaruf yang diadakan oleh salah satu ustadz ternama di Jakarta. Singkat cerita paginya saya ketemu si cewek itu, ternyata emang gak cocok. Siangnya saya cabut ke rumah istri saya, tak lupa saya bawa buah tangan, yaitu Japanese cake yang ternyata ampuh buat mencuri hati mertua saya. Cerita ini saya dapet setelah nikah.

Waktu berjalan, dan berjalan. Pada akhirnya kami menikah. Prosesnya pun boleh dibilang sederhana dan berjalan lancar atas izin Allah. Tercatat dalam catatan pribadi saya, orang tua saya ketemu mertua itu Cuma sekali pas sebelum lamaran, sekali pas lamaran, dan sekali pas nikah. Cuma tiga kali. Total waktu kami, saya dan istri, dari awal kenalan sampai menikah itu kurang lebih tiga bulan. Dan hal yang paling berkesan buat saya dan istri saya yaitu kamu menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) di hari Jumat sebelum jumatan. Saya inget banget. Sebelum hal semacam ini viral di media sosial kalau ternyata nikah di KUA itu gratis. Tanpa mengurangi khidmat dan sakral sebuah pernikahan.

Lanjut ya

Ada sebuah hal unik setelah kami menikah yaitu satu hal. Ceritanya waktu itu kami, saya dan istri saya lagi berkunjung ke rumah orangtua saya di daerah Bekasi. Jadi sebelum kami menikah, istri saya itu nyaris nikah dengan mantannya. Nah si mantan pacarnya yang laki ini ternyata pacaran sama tetangga orangtua saya di Bekasi itu. Uniknya setelah kami menikah, istri saya sering cerita soal si istri mantannya ini. Ibaratnya saya itu nyusun puzzle cerita istri saya, jadi istri saya itu cerita ciri-ciri istri mantannya, dari mulai ciri fisik, tempat mereka nikah, kerjaannya dan kerjaan lakinya, anak-anaknya. Dan ajaibnya semua cocok dengan yang diceritain orangtua saya soal tetangga saya itu yang adalah istri dari mantan bini saya.

Jadi pas istri saya lagi di tempat orangtua saya itu, ndilalah ketemulah dengan istri mantannya itu. Dan sekalian juga ketemu papasan dengan mantannya. Hal yang terjadi udah saya tebak yaitu canggung alias awkward. Begitulah kesimpulannya dari premis saya yang kedua bahwa semesta itu kadang bercanda, Cuma kita aja sebagai manusia yang terlalu serius dan angkuh pada kesombongan yang kita bawa.

Ternyata kesimpulan dari kisah di atas itu salah satunya sangat sulit menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia sendiri merupakan sebuah kata yang merangkum keragaman dalam satu frase.istilahnya ya gado-gado. Bahasa dan bangsa Indonesia lahir dari ketidaksengajaan manusia berinteraksi, yang sifatnya fitrah. Untuk itu marilah bersama agar berhenti dari memberi label atau cap sebagai paling Indonesia karena sejatinya tidak akan pernah ada.

x

Thursday, January 26, 2023

Catatan Perjalanan: Gresik

Kota Gresik menjadi salah satu kota yang saya jelajahi selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas. Saya pun sendiri belum mengetahui sejarah ataupun cerita mengenai kota ini, cuma yang saya ketahui kalau kota ini dijuluki kota santri lantaran hampir di setiap sisinya banyak ditemui simbol religius Islam. Belakangan saya tahu  muasal nama kota ini dari Prof Daud Rasyid guru besar Universitas Islam Al Azhar Jakarta. Konon kata Gresik berasal dari Qarra As-Syai yang bermakna tempat berkumpulnya atau menancapnya sesuatu.

Alkisah saya memutuskan untuk berhenti kuliah di semester kedua. Bukan apa-apa namun entah ada perasaan berkecamuk dalam diri saya bahwa saya mesti mencari ilmu agama yang haq yang bersumber dari guru, bukan melalui katanya dan katanya. Setelah perdebatan panjang dengan orangtua saya, ibu dan ayah saya akhirnya setuju saya hijrah ke Gresik untuk  menempuh pendidikan agama, ya sebutlah mondok di pondok pesantren.

Hal semacam ini bukan sesuatu yang mudah di kala itu bagi anak muda seusia saya yang baru lulus SMA. Bayangkan saja di zaman itu teknologi tidak secanggih dan semudah sekarang. Masih saya ingat di zaman itu masih banyak bertebaran di mana-mana apa yang disebut dengan warung telepon alias disingkat wartel. Teknologi komunikasi tercanggih di saat itu. Adapun penggunaan henpon alias telepon seluler sangatlah jarang.

Masih ingat di memori saya bagaimana ayah saya kekeuh ingin mengantarkan saya ke pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik. Kami berdua naik bus dari terminal Rawamangun tujuan Surabaya via jalur Pantura. Turun di Terminal Bunder Gresik lanjut dengan bus ke arah Lamongan dan kami turun di Alun-alun Sedayu untuk kemudian lanjut naik becak ke pondok pesantren.

Saya dan ayah disambut oleh salah satu santri yang bernama Ahmadi dari Lombok yang kebetulan ketika itu sedang ditugaskan jadi penerima tamu. Kami disambut dengan makan bersama di wadah tampah besar dengan nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Lantas ketika hari menjelang sore setelah ashar, ayah saya pamit dan di situlah batin saya sedih karena harus berpisah dengan ayah saya dan memulai kehidupan baru sebagai seorang santri pondok pesantren yang jauh dari hingar bingar kota dan segala macam godaannya.

Ayah saya sempat menanyakan ulang tentang kesungguhan saya untuk mondok, mungkin dengan harapan saya membatalkan niat awal saya dan kembali ke Jakarta bersama beliau. Namun bagi saya sudah mantap ingin menimba ilmu agama di Gresik. Saya masih ingat skena bagaimana kami berpisah di sana, di depan kantor pondok pesantren Al Furqon Al Islami Sedayu Gresik. Saya pun masih ingat pesan ayah saya agar selalu bertaqwa dan bersabar, kata bersabar saya pahami mungkin karena sambutan makan yang ala kadarnya yang kami terima. Namun bagi saya hal tersebut bukan halangan berarti mengingat niat yang sudah lurus dan kesungguhan yang berapi-api dari seorang anak muda yang mencari jati dirinya sebagai hamba Allah.

Saya ingat bertemu dengan sosok yang saya kagumi hingga kini, namanya Ali Mustain. Beliau banyak mengajarkan saya tentang hidup di Gresik dan Surabaya khususnya karena beliau tinggal di Surabaya dan setiap hari pergi pulang dengan sepeda motor kesayangannya Honda GL Pro. Pak Ali, saya panggil beliau, karena terpaut usia yang lumayan jauh. Beliau tinggal di daerah terminal Osowilangun Surabaya namun lebih memilih menghabiskan waktunya sebagai marbot di Masjid Al Gharib Surabaya yang tak jauh dari terminal tersebut.

Hampir setiap pekan Pak Ali selalu mengajak saya sowan ke tempatnya untuk menginap. Saya pun tidak pernah menyia-nyiakan hal itu. Bagi saya itu merupakan suatu kehormatan dan rejeki bisa melihat dunia luar yang sebelumnya belum pernah saya rasakan dengan panca indra.  Beliau selalu mengajak saya, atau lebih tepatnya mentraktir saya nasi bebek di depan Stasiun Pasar Turi. Kenangan itu selalu teringat oleh saya sampai kini.

Saya ingat nyaris sebulan Ramadan saya menghabiskan waktu bolak balik Surabaya Gresik dan menginap di Masjid Al Gharib Surabaya tempat kediaman Pak Ali. Saya merasakan nikmatnya mendapat pertolongan dari seorang saudara muslim, sesuai dengan namanya Pak Ali Mustain yang bermakna Ali sang penolong. Masih ingat saya selalu terbangun jam 3 menjelang subuh dan saya saksikan sendiri Pak Ali sudah tidak di sebelah saya melainkan beliau sedang khusyuk salat malam di masjid. Saya jadi terheran-heran ketika itu, luar biasa benar sosok orang ini, siang malam wara-wiri menghabiskan waktu untuk dunia namun tak lupa malamnya habiskan waktu untuk akhirat.

Pak Ali tidak pernah cerita siapa dia sesungguhnya sampai saya sendiri mencari tau dari berbagai sumber. Kalau tidak salah beliau lulusan teknik dari kampus negeri di Surabaya. Saya mendapati beliau kerap kali membaca koran yang bagi anak santri ketika itu merupakan suatu yang tidak lazim. Pun saya pernah mendapati semacam sketsa gambar teknik desain masjid yang kemungkinan besar itu hasil karya Pak Ali. Beliau sangat rendah hati, menurutnya tidak penting segala macam titel duniawi toh pada sejatinya kita semua adalah hamba Allah, begitu tutur beliau.

Soal pekerjaan saja, Pak Ali memang unik. Beliau menjadi semacam petugas penyalur zakat infak dan sedekah di bawah naungan Dompet Duafa Jawa Timur. Saya masih ingat diajak beliau keliling komplek perumahan orang Arab di daerah dekat makam Sunan Giri Gresik. Gaya Pak Ali pun sangat sederhana, dengan ciri khas pakai sandal jepit dan jaket sepeda motor dealer Honda, beliau melaksanakan tugasnya. Pernah beliau cerita ke saya waktu mau jemput sedekah di salah satu kantor di Surabaya lantas beliau diusir satpam lantaran pakai sandal jepit. Semenjak itulah beliau siap sedia sepatu kalau ada tugas ke kantor.

Saya menyaksikan sendiri keluwesan dan kelemahlembutan akhlak Pak Ali. Saya ingat waktu itu teman saya di pondok mau pulang ke rumahnya di Buton. Singkat cerita jadwal kapal jurusan Surabaya - Bau Bau mengalami kendala sehingga terlambat. Si teman saya ini tidak sabar menunggu, padahal Pak Ali sudah kasih kontak kapten kapal yang akan mengangkut teman saya ini. Walhasil Pak Ali ambil alih untuk bicara langsung via telepon dengan kapten kapal. Saya menyaksikan kemahiran beliau dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda suku. Masya Allah.

Pernah juga saya merasakan pengalaman turing bersama Pak Ali. Rencananya saya dari Surabaya tempat kediaman beliau lanjut ke Solo tempat kediaman teman saya. Ndilalah Pak Ali juga punya hajat ke Solo, maka jadilah kami berdua pergi dengan sepeda motor Honda GL Pro kesayangan beliau. Saya ingat hari pertama kami sowan ke Pondok Pesantren Langitan Tuban yang terkenal itu, kami salat zuhur dan kemudian lanjut makan siang di sana. Di sepanjang jalan saya berpikir, hebat benar Pak Ali ini punya kenalan dimana-mana. Malamnya kami singgah di daerah Blora, di belakang bekas Stasiun Kereta Api Blora, nginap di rumah temannya Pak Ali. Lagi-lagi saya terheran, siapa pula ini teman beliau kok bisa ada di Blora. Esoknya kami meneruskan perjalanan ke daerah Grobogan yang ternyata adalah kampung halaman Pak Ali. Kami menginap di sana semalam. Saya ingat rumahnya besar ala rumah joglo adat Jawa.

Besoknya saya menelusuri hutan jati berkelok-kelok sebelum akhirnya tiba di Sragen, tempat kediaman teman Pak Ali. Saya jadi bertanya dalam hati kok bisa ya beliau ini punya banyak teman hampir di seluruh daerah di Pulau Jawa. Hingga akhirnya kami berpisah di pertigaan jalan menuju kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Masih ingat waktu itu Pak Ali sempat ditanya teman saya soal statusnya yang masih jomblo, beliau jawab sambil menggelengkan kepala, menurutnya beliau sudah tua untuk usia 33 tahun kala itu. Saya hanya diam. Pertanyaan yang saya temukan jawabannya setelahnya, yaitu beliau tak lepas dari hobinya yang suka menolong orang, selalu ringan tangan dalam kebaikan, mungkin inilah alasan beliau telat menikah. Semoga Allah balas beliau dengan surga Firdaus.

Pertemuan terakhir saya dengan Pak Ali terjadi tahun 2016. Singkat cerita saya dapat kesempatan dari kantor untuk berkunjung ke Surabaya. Entah mengapa saya bersikeras ingin berjumpa dengan beliau. Walhasil Alhamdulillah berkat izin Allah kami bertemu walau dalam kondisi yang serba mepet karena saya mesti langsung berangkat ke Bandara Juanda Surabaya mengingat pesawat take off pukul 19. Saya ingat Pak Ali waktu itu bawa kendaraan roda empat yang berisikan beliau, istri, dan tiga orang anaknya yang masih kecil semua. Mobilnya seken, merk Daihatsu Zebra. Saya ingat beliau bilang tidak masalah mobil jelek tapi intinya berfunsi dan tidak didapat dari harta haram. Pertemuan yang sangat singkat namun berkesan bagi saya karena saya sangat utang rasa dengan beliau. Saya ingat saya berpelukan dan kami saling mendoakan dalam kebaikan disertai kata maaf karena kami tidak bisa bercengkerama dalam waktu lama. Saya langsung pamit dan masuk bandara. Doa saya yang terbaik untuk beliau dan keluarga beliau semoga Allah selalu jaga dan semoga kami dipertemukan kembali di surga Firdaus dengan rahmat Allah. Amin.

 []

 

Wednesday, December 7, 2022

Istiqamah dalam Kebaikan dan Menjauhi Maksiat adalah Hal Paling Berat

 via Jun Khaer

Ada orang beribadah sepanjang hidupnya. Setiap hari orang ini rajin ke mesjid. Tak lupa selalu sedekah. Intinya semua kebaikan dalam hidupnya selalu terdepan. Dan yang paling penting lagi yaitu menjauhi segala bentuk maksiat dan pelanggaran. Ini poin berikutnya yang paling sulit.

Betapa banyak orang yang tidak kenal atau bahkan mungkin tidak mau kenal agama ini. Ada juga yang sudah kenal agama, namun sebatas kenal saja, tidak ingin menelusuri labirin yang teramat banyak dari sisi agama ini. Artinya agama ini tidak kecil selebar daun kelor, dia teramat luas seperti angkasa. Semakin dijelajahi semakin sadarlah manusia soal kebodohannya.

Itulah pentingnya doa meminta hidayah. Betapa banyak manusia yang sudah beragama Islam namun tidak mengenal agama itu sendiri. Bayangkan saja ada orang yang melakukan amalan kecil, anggaplah baca surat tertentu dalam Al Quran yang mungkin isinya hanya seperti surat juz 30 yang pendek bacaannya. Mungkin bagi sebagian orang itu adalah amalan mudah, namun permasalahannya bagaimana kalau amalan itu dikerjakan sepanjang hari secara konsisten alias istiqamah. Inilah letak yang menjadikan sebuah amalan kecil secara kuantitas namun menjadi besar secara kualitas. Amalnya biasa saja, namun kualitasnya yang luar biasa karena konsisten dan tidak terputus.

Sejatinya malas merupakan musuh terbesar manusia setelah setan Iblis laknatullah dan bala tentaranya. Malas merupakan sosok gaib yang melekat pada diri setiap manusia yang merupakan fitrah bawaan dalam penciptaan manusia. Bahkan Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan umatnya agar berlindung diri dari sifat malas dalam doa pagi dan petang. Artinya sifat malas ini menjadi salah satu godaan di antara sekian banyak godaan dalam hidup manusia di dunia.

Alih-alih.
Alkisah, di dekat rumah saya ada sebuah masjid bernama Masjid Al Istiqamah. Saya perhatikan jamaah di sana sungguh mencerminkan nama masjidnya yaitu selalu istiqamah di dalam iman dan islam di atas sunnah nabi yang mulia ﷺ. Saya jadi ambil kesimpulan betapa pentingnya memberikan nama kepada sesuatu benda. Istiqamah dapat dimaknai sebagai suatu hal yang dikerjakan secara konsisten dan terus menerus tanpa adanya jeda rehat panjang, artinya seseorang melakukan pekerjaan secara kontinyu tanpa adanya rasa bosan yang merupakan bawaan sifat fitrah manusia.

Bayangkan hal semacam di atas pastinya sulit, karena istiqamah itu pasti membosankan. Dalam hidup ini algoritma manusia selalu menghindari kejenuhan dan kebosanan yang itu-itu saja, adapun hal ini sejatinya benar. Namun belajar untuk konsisten dalam suatu hal terutama kebaikan ini akan menjadikan seorang manusia lebih memiliki makna dalam hidup. Manusia akan lebih mampu memaknai hakikat untuk apa dia hidup di alam semesta ini. Jawabannya hanya satu, yaitu ibadah. Artinya kesimpulan sederhana dari tulisan ini bahwa ibadah itu membutuhkan konsistensi dan perjuangan untuk dimulai dari garis awal hingga diakhiri di garis akhir.

Mari lanjut kepada pembahasan istiqamah dalam hal kebaikan. Ini yang menjadi pokok pertama dalam tulisan ini. Saya ingin mengajak para pembaca yang budiman agar sekedar, atau bahkan mungkin mendalami, makna konsisten dalam kebaikan. Dengan kata lain kebaikan itu membutuhkan konsistensi. Karena kalau kebaikan tidak disertai dengan konsistensi maka dapat dimaknai sebagai aji mumpung, atau tumben atau dan lain sebagainya yang dapat mendistorsi makna kebaikan itu sendiri.

Sejatinya sadar atau tidak sadar, bahwa hidup di muka bumi ini hanya mengulang secara terus menerus apa yang kita lakukan sejak lahir hingga tua dan mati, lebih spesifik lagi yaitu mengulangi apa saja yang kita lakukan sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Hidup adalah pengulangan, oleh karena itu kita tinggal memilih secara sederhana apakah mau mengulang suatu hal yang baik atau hal yang buruk. Percayalah, untuk memulai suatu hal yang baik itu lebih sulit ketimbang memulai suatu hal yang buruk padahal sejatinya manusia pertama Nabi Adam waktu masih hidup di surga dikelilingi dengan hal-hal yang baik dengan jumlah yang banyak. Dan hal-hal yang buruk hanya sedikit. Namun lagi-lagi begitulah fitrah manusia, ada hal yang baik dalam jumlah banyak malahan memilih hal yang buruk dalam jumlah sedikit.

Kemudian hal kedua yang teramat sulit dilakukan dalam hidup ini adalah menjauhi maksiat. Saya tidak menggunakan kata bermaksiat, namun saya gunakan kata menjauhi maksiat. Sama halnya ketika larangan zina dalam Alquran yang tidak menggunakan kata berzina, melainkan menggunakan kata jangan dekati zina. Bayangkan saja, untuk perihal zina saja manusia dilarang untuk mendekati, apalagi untuk melakukan dan seterusnya hal yang lebih rusak dari paket perihal zina. Artinya dapat dipahami dengan pemahaman bahasa yang mudah bahwa zina itu merusak dan ada tingkatan-tingkatan kerusakannya masing-masing sampai titik paling puncaknya.

Menjauhi maksiat merupakan frase yang hanya terdiri dari dua kata, yaitu jauh dan maksiat. Kelihatannya sepele namun mari perhatikan lebih jauh mengenai kata jauh dan maksiat. Kata jauh memiliki lawan kata yaitu dekat, ini merupakan hal yang menarik ditinjau dari segi bahasa. Mari kita jauhi narkoba, misalnya. Artinya mengandung konsekuensi bahwa kita jangan berinteraksi dengan segala perangkat dan rupa yang berhubungan dengan narkoba. Cukup kita mengetahui narkoba sebagai ranah pengetahuan dan bukan sebagai ranah amalan atau bahkan lebih parah yaitu menjadi pelaku professional dalam bidang narkoba. Nauzubillah.

Tuesday, November 22, 2022

Manusia itu Mudah Melupakan dan Dilupakan

oleh John Copelow

Pernahkah Anda berpikir tentang perkara lupa? Sebuah perkara receh namun besar. Perkara yang meliputi sifat dasar manusia yang di dalamnya terkandung makna luas menyangkut hakikat kehidupan manusia yang berhubungan dengan keseimbangan dan keharmonisan semesta, yaitu bernama lupa. Lupa memang menjadi ciri khas perkara kemanusiaan dalam kaitannya dengan interaksi manusia dengan manusia serta interaksi manusia dengan semesta.

Konsep lupa merupakan konsep fitrah manusia artinya ini merupakan sifat asli bawaan manusia sejak manusia pertama Nabi Adam hingga manusia paling terakhir yang hidup di muka bumi. Bahasa Inggris menggunakan istilah forget /fərˈɡet/ yang bermakna gagal untuk mengingat sesuatu. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Keterbatasan akal manusia menjadi sebab akibat konsep dasar lupa. Namun jangan salah, lupa dalam konteks keseimbangan semesta bermakna besar yaitu dengan eksistensi lupa maka manusia selalu menjadi makhluk yang selalu berevolusi menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk.

Bayangkan saja kalau manusia tidak memiliki sifat lupa, alias manusia mengambil ceruk sifat ilahiah yang sempurna tanpa cela dan noda sama sekali. Akibatnya adalah terjadi ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan di alam semesta ini. Manusia tidak ada yang mengoreksi dirinya sendiri dan orang lain. Semua akan bertabrakan satu dengan yang lain. Semesta akan hancur dengan sendirinya karena sejatinya lupa adalah oposisi biner dari kata ingat.

Saya teringat sebuah cerita, untungnya saya tidak lupa dalam hal ini, sebuah cerita dari ustadz yang menceritakan perkara apa saja yang akan dilewati manusia dalam fase setelah kehidupan di muka bumi ini. Bahkan baru saja manusia wafat dan dikebumikan, maka tidak selang beberapa lama dia langsung dilupakan oleh keluarga atau bahkan pasangan hidupnya semasa di dunia. Karena tidak ada manusia yang mati ditemani di alam kuburnya. Dari sini saja dapat dipahami bahwa konsep lupa yang disengaja adalah merupakan sebuah keniscayaan hidup atas orang yang mati. Lantas kemudian kehidupan terus belanjut detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari bahkan tahun demi tahun yang hingga pada akhirnya seorang manusia hanya akan dikenang namanya entah karena sesuatu yang baik ataupun sebaliknya sesuatu yang buruk.

Begitulah kehidupan di semesta ini. Semesta yang teramat luas yang manusia tidak tahu ukuran matematisnya berapa luasnya semesta, sedangkan manusia hidup di bumi yang ukurannya amat sempit. Lantas masih banyak manusia yang terlalu menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Di bumi yang kecil ini kita sombong, berlagak jadi makhluk sempurna padahal kenyataannya amat jauh panggang dari asap. Manusia lahir dari lubang yang sempit, bernapas dari lubang yang sempit, makan dan minum dari lubang yang sempit, buang kotoran dari lubang yang sempit. Hingga pada akhirnya mati dan kembali ke tanah melalui lubang yang sempit. Lantas di sisi mana manusia mesti sombong.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah lama ini rasanya mesti dikaji kembali melalui gaya hidup manusia modern. Terlalu sibuknya kita dengan hidup ini menjadikan suatu hal yang bernama makna menjadi semakin terkikis. Kita hidup di jaman dimana laki-laki dan perempuan saling kenal di pagi hari dan sudah bilang cinta di siang hari, begitu cepatnya, walau belum kenal secara utuh. Bayangkan di jaman dulu manusia berkeluh kesah lewat buku catatan pribadi atau mungkin bisa juga lewat tulisan yang dijadikan surat menyurat lewat PT Pos Indonesia. Dimana saat hari raya Idul Fitri atau hari besar agama lainnya terdapat ucapan yang menjadi sangat spesial pakai telur karena diucapkan dan diterima langsung oleh orang yang bersangkutan secara ikhlas dan tepat sasaran. Atau mungkin saat dimana orang saling berkirim pesan singkat lewat telegram yang disisipkan pesan sayang berupa uang kepada yang tersayang. Pesan sayang yang diabadikan oleh penyair WS Rendra lewat sajaknya yang terkenal berjudul Ada Tilgram Tiba Senja.

Maka dari itu tulisan ini saya abadikan agar kelak dibaca oleh siapa saja asal dia masih manusia. Saya ucapkan terima kasih masih mau dan sempat-sempatnya membaca tulisan receh yang tidak terlalu penting ini. Niat saya cuma agar dikenang oleh anak cucu cicit canggah saya sebagai pendahulunya yang eksis dengan menulis dan bahwa saya merupakan manusia nyata dan pernah hidup dengan tulisan ini sebagai barang bukti otentiknya.

Alhasil, kenangan demi kenangan yang dialami oleh seorang manusia pada akhirnya akan berujung kepada kenangan. Ya tinggal pilih saja, mau berujung kenangan baik atau buruk serta bonusnya yaitu ada kenangannya. Ibarat pahlawan yang sejatinya tidak perlu penghargaan atau kenangan. Belajarlah untuk menjadi ikhlas. Ikhlas menjalani kehidupan sebagai manusia yang tak luput dari sifat lupa. Lupakan hal yang baik dari diri sendiri, maafkan orang lain yang pernah punya salah kepada kita, niscaya kita akan dikenang sebagai yang baik dan tidak dilupakan.


Thursday, October 6, 2022

Kisah-kisah dari Kereta Api: Bapak Tua di Stasiun Bogor

Suatu hari, saya pernah menjumpai seorang bapak di pelataran Stasiun Bogor. Si bapak ini tampak merenung sembari merokok. Tampak raut kebingungan dari wajahnya. Seakan beliau tidak menikmati rokok di tangannya melainkan pikirannya entah kemana. Saya coba iseng bertanya ke beliau dengan basa-basi ala Melayu.

“Pak, numpang tanya. Kalau dari sini ke Terminal Baranangsiang naik angkot apa ya?”. Begitu kira-kira kalimat basa-basi saya. Kemudian si bapak menjawab dengan detail. Malahan beliau tahu benar rute trayek angkot sekitaran Stasiun Bogor. Makanya saya tanya kembali kok si bapak bisa paham berbagai rute di situ. Ternyata jawabnya beliau baru saja kecopetan di angkot.

Saya pun diam sejenak.

Pikiran-pikiran muncul di otak saya. Pikiran yang didasari hati seraya membayangkan kalau saya dalam posisi si bapak ini. Atau mungkin saja bapak saya, ibu saya, atau anak saya atau siapapun itu yang berada dalam posisi si bapak ini, pastilah sesuatu yang tidak menyenangkan. Lagipula siapa sih orang yang ingin kecopetan?

Lantas saya bertanya dimana rumahnya? Beliau jawab dengan rinci alamatnya, yang saya ingat itu di daerah Tenabang. Kemudian beliau balas tanya dengan dugaan kalau saya itu orang asli Betawi, menurutnya dialek saya seperti orang Betawi tengah yang selalu menyisipkan frase Arab seperti ane dan ente. Memang banyak orang asing yang belum kenal saya biasanya menebak asal saya dari Betawi.

Kemudian si bapak itu saya bantu dengan sedekah uang receh. Beliau mengucap syukur Alhamdulillah kemudian berterima kasih kepada saya. Namun saya malah bilang kenapa tidak cerita dari awal, beliau jawab kalau beliau malu untuk meminta-minta jadinya beliau diam saja sambil berpikir mencari cara bagaimana bisa pulang. Lantas beliau menyebut alamatnya dengan lengkap tadi itu seraya ditambahkan jika saya mau mampir ke rumahnya maka beliau akan sangat senang. Tidak penting sebenarnya, namun hal yang terpenting digarisbawahi bahwa si bapak itu sampai menyebut alamatnya lengkap menunjukkan rasa terima kasihnya dan rasa senangnya masih ada orang yang menolong beliau.

Akhirnya saya berpamitan dan beliau pun lanjut masuk ke Stasiun Bogor untuk pulang ke rumahnya.

Tuesday, June 21, 2022

Harta yang Paling Berharga adalah Tidur Siang


Setelah saya pikir-pikir, nikmat dalam hidup ini banyak sekali sampai-sampai saya sendiri tidak mampu menghitung bahkan merincinya. Kalau kata sinetron Keluarga Cemara, harta yang paling berharga adalah keluarga. Namun bagi saya harta yang paling berharga adalah tidur siang. Karena dengan tidur siang yang nyenyak dan berkualitas menjadikan interaksi dengan keluarga semakin baik.

Pengertian paling berharga mungkin dapat ditafsirkan sebagai paling mahal. Alhasil menurut saya tidur siang merupakan sesuatu yang paling mahal di jaman serba canggih ini. Betapa banyak manusia yang luput dari nikmat ini dikarenakan kesibukan mesti mengurus ini mengurus itu mengurus anu dari seluruh kegiatan duniawi sehingga tidur siang menjadi sesuatu yang sulit dilakukan kecuali hanya di akhir pekan dengan catatan tidak ada aktifitas.

Sibuk, sibuk, dan sibuk agaknya menjadi kata kunci manusia  perkotaan yang menghabiskan jatah umur di muka bumi dengan berbagai cara dan berbagai niat. Sampai pada akhirnya merasa kesal karena capek sendiri yang menurut saya itu adalah sebuah keanehan. Sejatinya manusia memang diciptakan untuk punya rasa capek dan lelah. Justru di situlah letak nikmatnya tidur, apalagi tidur siang yang sesuai dengan tema pembahasan kali ini.

Menurut penelitian Medical Xpress, tidur siang menjadikan kinerja otak lebih tajam dan bisa meningkatkan ketangkasan mental. Hal ini disebut bisa membuat seseorang lebih sadar tempat dia berada, lebih fasih secara verbal, serta memiliki memori kerja lebih baik. Hasil temuan ini diperolah dari setidaknya 2.214 orang dengan usia 60 tahun di China. Dari seluruh partisipan, sebanyak 1.534 orang tidur siang secara rutin sedangkan 680 orang lainnya tidak.

Menurut National Sleep Fondation, kegiatan tidur siang dapat dibagi menjadi 3 jenis.

1.      Tidur siang yang direncanakan

Jenis tidur siang ini adalah tidur siang yang dilakukan pada saat badan tidak mengalami kelelahan atau tidak mengantuk. Kegiatan tidur siang ini dilakukan untuk menjadi suatu persiapan kegiatan yang berlebih seperti lembur kerja, bergadang, ataupun melakukan kerja berat. Jenis tidur siang ini sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki manajemen waktu yang baik yang bisa memprediksi kelelahan dan aktivitas yang padat pasca tidur siang. Harapannya dengan melakukan kegiatan tidur siang, mereka mampu melaksanakan kegiatan yang akan dilakukan secara optimal.

2.      Tidur siang yang tidak direncanakan

Jenis tidur siang ini dilakukan jika kita mengalami kelelahan yang berlebihan sehingga tubuh secara sadar ataupun tidak sadar melakukan kegiatan tidur siang.

3.      Tidur siang yang menjadi kebiasaan

Jenis tidur siang ini terjadi bagi mereka yang biasa melakukan kegiatan tidur siang baik pada saat badan mengalami kelelahan maupun tidak mengalami kelelahan. Jenis tidur siang ini biasa terjadi pada balita ataupun orang lanjut usia.

Seperti dijelaskan di atas, bahwa kegiatan tidur siang tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan untuk menyegarkan tubuh, namun beberapa penelitian menunjukkan beberapa manfaat tidur siang. Beberapa manfaat tidur siang berdasarkan hasil penelitian University of Harvardyaitu peningkatan memori daya ingat, menyegarkan pikiran, dan memperbaiki suasana hati. Durasi tidur siang bergantung pada apa yang menjadi tujuan dari tidur siang tersebut. Untuk fungsi tidur siang sebagai menyalakan ulang otak, direkomendasikan untuk melakukan durasi tidur siang selama 20-30 menit. Tidak lama, namun cukup efektif.

Kualitas tidur siang yang lebih baik dapat dilakukan hingga 30-40 menit, namun tidur siang dengan durasi ini dapat menimbulkan pusing, dan keadaan linglung.  Hal tersebut disebabkan karena pada durasi 30-40 menit telah terjadi penyusunan ulang dan regenerasi beberapa sel otak, sehingga akan terjadi sedikit dampak pada otak dan kejiwaan seperti pusing dan linglung. Tapi permasalahan tersebut dapat diatasi dengan mengkonsumsi air putih secukupnya dilanjutkan dengan membasuh wajah dan kepala dengan air, maka efek tersebut akan hilang dan kita kembali ke aktivitas dengan segar bugar seperti pada waktu pagi hari.

Adapun khusus untuk pekerja berat ataupun pekerja yang mendapatkan jam kerja malam, maka direkomendasikan untuk tidur siang selama 20-30 menit. Selain itu hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan mengkombinasikan tidur siang dengan konsumsi kafein seperti teh dan atau kopi untuk meningkatkan performa kerja di malam hari. Namun diharapkan konsumsi kafein dilakukan paling lambat 4 jam sebelum tidur.

Dari penjelasan diatas dapat kita ketahui bahwa tidur siang memiliki banyak manfaat bagi tubuh baik secara fisik maupun mental dan kejiwaan. Namun yang patut kita garis bawahi adalah tidur siang yang dilakukan tidak boleh terlalu lama (maksimal 90 menit) dikarenakan tidur siang yang terlalu lama akan mempengaruhi jam tidur di malam hari. Jam tidur yang berubah akan berdampak pada perubahan pola tidur yang tidak baik bagi kesehatan tubuh.

Nabi Muhammad telah mencontohkan lebih dari seribu empat ratus tahun lalu mengenai manfaat tidur siang. Istilah tidur siang disebut dengan qailulah, sebagaimana termaktub dalam hadits:

“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jumat, kemudian istirahat siang. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240).

Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang. (HR. Abu Nuaim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1637).

 

Berdasarkan penjelasan ilmiah sains dan agama, maka telah jelas bahwa tidur siang merupakan salah satu kegiatan yang memiliki faidah yang besar. Bagi saya pribadi, tidur siang adalah harta yang mahal. Artinya kalau di jam tidur siang saya ada menerima tamu atau hal lain yang mesti dilakukan dari urusan duniawi, itu artinya urusan tersebut memiliki kepentingan besar. Perkara tidur siang telah dijelaskan dan dipraktikkan oleh manusia terbaik di alam semesta ini . Sudah seharusnya bagi manusia untuk mencontoh teladan terbaik yang diutus bagi semesta, niatkan ibadah, niscaya ada ganjaran pahala besar di balik setiap kebaikan yang dilakukan atas dasar ilmu dan niat mencontoh Nabi Muhammad .

 

  

Tuesday, June 7, 2022

Mesjid dan 300 Juta

 Hari Jumat.

Tiba-tiba saya dengar pengumuman dari pengeras suara mesjid dekat rumah. Pengumuman itu berisi maklumat uang kas mesjid yang berjumlah 300 juta. Reaksi pertama saya yaitu kaget. Kok bisa ya mesjid di kampung namun uang kas sampai tembus nominal fantastis segitu?. Selidik punya selidik, saya perlahan mencari tahu darimana sumber uang sebanyak itu. Ternyata salah satunya adalah anggaran yang digelontorkan oleh Dewan Mesjid Indonesia (DMI) per tahun bagi mesjid-mesjid yang terdaftar sebagai anggota. Sisanya ya mudah ditebak, yaitu zakat dan sedekah jamaah mesjid.

Fungsi religius dan fungsi sosial mesjid menjadi terpisahkan. Begitu penuturan rekan saya yang dulu aktif di salah satu mesjid kampus. Padahal jika melihat realitanya, kedua fungsi tersebut selalu menyatu dan tak dapat dipisahkan. Dari seluruh rukun Islam yang lima, setelah syahadat seluruhnya perlu menggunakan modal finansial. Apalagi rukun kelima yaitu haji, yang merupakan puncak ibadah tertinggi yang membutuhkan modal finansial dan spiritual yang paling besar.  

Bayangkan saja uang 300 juta itu jika disalurkan kepada yang membutuhkan maka akan sangat bermanfaat ketimbang diumumkan keras-keras pakai pengeras suara yang alih-alih malahan bikin sakit hati orang yang punya kuping waras. Masih banyak orang kelaparan, sakit, dan segala macam cobaan duniawi yang mestinya walau sedikit mampu diringankan oleh mesjid sebagai wadah pergerakan umat. Pandemi corona jelas meluluhlantahkan perekonomian, mestinya di sini lah mesjid tampil sebagai pahlawan bagi umat, bukan sebaliknya.

Alhasil, tidak heran kalau umat Islam malas ke mesjid. Stigma mesjid yang kolot dan sakral menjadikan orang hanya menafsirkan mesjid sebagai tempat ritual semata, tanpa disertai dengan aspek spiritual. Seharusnya mesjid merupakan tempat yang mengubah stigma jaman dulu tersebut. Benar kiranya, bahwa seharusnya orang yang mengurus mesjid adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Artinya sadar betul bahwa segala sesuatu soal mesjid kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Harta yang ada di mesjid adalah titipan mau berapapun jumlahnya. Mau satu perak, dua perak, seribu, apalagi 300 juta.