Monday, August 26, 2024

Si Adun dan Keseimbangan Semesta.

 

[]

Assalamualaikum. Begitu kalimat pertama yang meluncur dari Adun, anak sekolah menengah yang memiliki keterbatasan mental. Saya sering bertemu anak itu di mesjid. Menurut bapak saya, Adun anak yang baik dan sering berinteraksi dengan orang normal di sekelilingnya. Bapak saya pernah bertutur juga kalau Si Adun sering mengambilkan air minum bagi jamaah mesjid ketika acara pengajian. Artinya dapat saya pahami bahwa anak itu tidak sepenuhnya memiliki kekurangan sebagaimana anggapan orang pada umumnya.

Pernah suatu hari semesta berkehendak atas izin Allah saya berinteraksi dengan Adun. Bertanya kabar, tinggal dimana, dan tidak lupa menyelipkan pesan semangat dan selalu siap waspada. Adun menanggapinya dengan ceria, selalu dengan tawa renyah di wajahnya. Saya percaya andai si Adun itu dikasih hidup normal pastilah dia akan menjadi sebagaimana anak seusianya, tanpa embel-embel berkebutuhan khusus. Inilah konsep takdir yang manusia jarang ketahui, malahan yang manusia hanya ketahui itu perkataan sia-sia andaikan dulu ini itu anu saya begini dan begitu dan seterusnya. Bukan itu konsep takdir sejatinya yang telah ditulis jauh 50 ribu tahun sebelum penciptaan alam semesta ini.

Hal yang buat saya berkesan kepada Adun yaitu anak seperti itu masih memiliki kemauan untuk salat berjamaah di mesjid meski dia tau keterbatasan akal yang dimilikinya. Salat di mesjid mungkin bagi sebagian orang merupakan hal biasa saja, namun bagi saya itu membuktikan konsistensi dan konsekuensi iman seseorang yang mengaku bertauhid.

Banyak orang yang tinggal bersebelahan dengan masjid. Saban hari mendengar suara azan yang nyaring, namun sedikit orang yang hatinya tergerak untuk ke masjid. Artinya bahwa hidayah itu sesuatu yang teramat mahal di semesta ini. Suatu hal yang murni menjadi hak prerogratif Allah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Wajar kalau manusia dilabel oleh Allah sebagai manusia sesat bahkan lebih sesat dari hewan karena diberi pendengaran tidak digunakan sebagaimana mestinya yaitu untuk ibadah.

Maka dari itu saya pikir fitrah manusia waras akan berkata bahwa surga itu merupakan suatu produk Allah yang mahal harganya melebihi apapun di dunia ini. Karena fakta dan nyatanya, dunia ini akan punah, tak ada yang abadi di dunia ini. Logika sederhana dari akal yang waras yakni bahwa surga tidak mungkin didapat dengan santai dan leyeh-leyeh tanpa ada pengorbanan diri. Sejarah telah mencatat bagaimana perjuangan Nabi dan para sahabatnya memperjuangkan agama ini dengan harta dan jiwa sebagai taruhannya. Lantas bagaimana dengan manusia yang hidup jaman ini, yang tidak mungkin ibadahnya melebihi ibadah mereka yang telah dijamin surga.

Saya pun yakin Allah menciptakan manusia seperti Adun untuk memberikan warna pada semesta ini. Bayangkan saja jika di alam semesta ini hanya dihuni oleh makhluk dengan satu karakter yang sama, makan akan membosankan sekali hidup di alam semesta ini. Pun seterusnya ada istilah orang kaya dan orang miskin yang saling berlawanan maknanya. Orang kaya membutuhkan eksistensi orang miskin agar dia bisa dibilang kaya, begitu pun sebaliknya.

Kaya dan miskin, sejatinya berujung kepada perhitungan amal baik dan buruk dengan variasi biner halal dan haram. Artinya harta halal bakalan dihisab, dan sebaliknya harta haram bakalan diazab sesuai kadarnya. Ibnul Qayyim pernah berpesan mengenai harta dan cinta dunia bahwa pecinta dunia tidak akan lepas dari tiga perkara: kegelisahan terus menerus, keletihan berkelanjutan, dan penyesalan tak henti.

Adun adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang terabaikan dalam hidup kita manusia urban yang sibuk mencari dunia tanpa ada ujungnya. Dari Adun saya belajar untuk ikhlas dan senyum, tak peduli seberat apa masalah yang saya hadapi. Sabar adalah level standar dalam ranah musibah, namun syukur adalah level tertinggi dari itu semua. Syukur atas segala nikmat dan musibah sejatinya itulah hal yang dikehendaki oleh Allah kepada manusia dalam segala hal dan setiap detik waktu.

Begitulah kehidupan, mengutip Rocky Gerung, bagi orang kaya kehidupan seperti komedi dan sebaliknya bagi orang miskin kehidupan seperti tragedi. Artinya tergantung bagaimana seorang manusia memaknai kehidupan di muka bumi ini yang sejatinya hanya senda gurau dan permainan belaka. Istilah kaya dan miskin lahir akibat konsekuensi penciptaan semesta. Sejatinya kaya atau miskin itu ujian apakah manusia mampu bersyukur atau bersabar, jika tidak maka artinya manusia itu tidak lulus ujian.

x