[]
Assalamualaikum.
Begitu kalimat pertama yang meluncur dari Adun, anak sekolah menengah yang
memiliki keterbatasan mental. Saya sering bertemu anak itu di mesjid. Menurut
bapak saya, Adun anak yang baik dan sering berinteraksi dengan orang normal di
sekelilingnya. Bapak saya pernah bertutur juga kalau Si Adun sering
mengambilkan air minum bagi jamaah mesjid ketika acara pengajian. Artinya dapat
saya pahami bahwa anak itu tidak sepenuhnya memiliki kekurangan sebagaimana
anggapan orang pada umumnya.
Pernah
suatu hari semesta berkehendak atas izin Allah saya berinteraksi dengan Adun.
Bertanya kabar, tinggal dimana, dan tidak lupa menyelipkan pesan semangat dan
selalu siap waspada. Adun menanggapinya dengan ceria, selalu dengan tawa renyah
di wajahnya. Saya percaya andai si Adun itu dikasih hidup normal pastilah dia
akan menjadi sebagaimana anak seusianya, tanpa embel-embel berkebutuhan khusus.
Inilah konsep takdir yang manusia jarang ketahui, malahan yang manusia hanya ketahui
itu perkataan sia-sia andaikan dulu ini itu anu saya begini dan begitu dan
seterusnya. Bukan itu konsep takdir sejatinya yang telah ditulis jauh 50 ribu
tahun sebelum penciptaan alam semesta ini.
Hal
yang buat saya berkesan kepada Adun yaitu anak seperti itu masih memiliki
kemauan untuk salat berjamaah di mesjid meski dia tau keterbatasan akal yang
dimilikinya. Salat di mesjid mungkin bagi sebagian orang merupakan hal biasa
saja, namun bagi saya itu membuktikan konsistensi dan konsekuensi iman seseorang
yang mengaku bertauhid.
Banyak
orang yang tinggal bersebelahan dengan masjid. Saban hari mendengar suara azan
yang nyaring, namun sedikit orang yang hatinya tergerak untuk ke masjid.
Artinya bahwa hidayah itu sesuatu yang teramat mahal di semesta ini. Suatu hal
yang murni menjadi hak prerogratif Allah yang diberikan kepada hamba yang
dikehendaki-Nya. Wajar kalau manusia dilabel oleh Allah sebagai manusia sesat
bahkan lebih sesat dari hewan karena diberi pendengaran tidak digunakan
sebagaimana mestinya yaitu untuk ibadah.
Maka
dari itu saya pikir fitrah manusia waras akan berkata bahwa surga itu merupakan
suatu produk Allah yang mahal harganya melebihi apapun di dunia ini. Karena
fakta dan nyatanya, dunia ini akan punah, tak ada yang abadi di dunia ini. Logika
sederhana dari akal yang waras yakni bahwa surga tidak mungkin didapat dengan
santai dan leyeh-leyeh tanpa ada pengorbanan diri. Sejarah telah mencatat
bagaimana perjuangan Nabi dan para sahabatnya memperjuangkan agama ini dengan
harta dan jiwa sebagai taruhannya. Lantas bagaimana dengan manusia yang hidup
jaman ini, yang tidak mungkin ibadahnya melebihi ibadah mereka yang telah
dijamin surga.
Saya
pun yakin Allah menciptakan manusia seperti Adun untuk memberikan warna pada
semesta ini. Bayangkan saja jika di alam semesta ini hanya dihuni oleh makhluk
dengan satu karakter yang sama, makan akan membosankan sekali hidup di alam
semesta ini. Pun seterusnya ada istilah orang kaya dan orang miskin yang saling
berlawanan maknanya. Orang kaya membutuhkan eksistensi orang miskin agar dia
bisa dibilang kaya, begitu pun sebaliknya.
Kaya
dan miskin, sejatinya berujung kepada perhitungan amal baik dan buruk dengan
variasi biner halal dan haram. Artinya harta halal bakalan dihisab, dan
sebaliknya harta haram bakalan diazab sesuai kadarnya. Ibnul Qayyim pernah berpesan
mengenai harta dan cinta dunia bahwa pecinta dunia tidak akan lepas dari tiga
perkara: kegelisahan terus menerus, keletihan berkelanjutan, dan penyesalan tak
henti.
Adun
adalah salah satu contoh dari sekian banyak contoh yang terabaikan dalam hidup
kita manusia urban yang sibuk mencari dunia tanpa ada ujungnya. Dari Adun saya
belajar untuk ikhlas dan senyum, tak peduli seberat apa masalah yang saya
hadapi. Sabar adalah level standar dalam ranah musibah, namun syukur adalah
level tertinggi dari itu semua. Syukur atas segala nikmat dan musibah sejatinya
itulah hal yang dikehendaki oleh Allah kepada manusia dalam segala hal dan
setiap detik waktu.
Begitulah
kehidupan, mengutip Rocky Gerung, bagi orang kaya kehidupan seperti komedi dan
sebaliknya bagi orang miskin kehidupan seperti tragedi. Artinya tergantung
bagaimana seorang manusia memaknai kehidupan di muka bumi ini yang sejatinya
hanya senda gurau dan permainan belaka. Istilah kaya dan miskin lahir akibat
konsekuensi penciptaan semesta. Sejatinya kaya atau miskin itu ujian apakah
manusia mampu bersyukur atau bersabar, jika tidak maka artinya manusia itu
tidak lulus ujian.
x