Thursday, July 31, 2014

SMS di Malam Hari

<Date> 30-07-2014
<Time> 20:23
Hai aku kangen deh.
<From> Kasihelia

Monday, July 28, 2014

Trilogi puisi Idulfitri

Trilogi puisi Idulfitri

Malam setelah isya

Lamat lamat takbir kian dekat
Satu dua ramai di tiap surau
Di tiap rumah
Ibu meniriskan ketupat dari panci
Anak menyulut kembang api
Bapaknya mengingatkan “besok pagi Idulfitri”
Di jalan bocah bersarung dengan beduk di atas gerobak
Ditarik temannya sambil berucap
“Allahuakbar walillailham”

Malam setelah isya

Di kamar ayat lamat lamat
Dari masjid takbir mengalun tiga empat
Di meja makan piring sisa ketupat
Di lemari baju koko warna biru
Di atap ungu bulan baru
Muncul linglung ragu ragu
Bocah bertanya, setelah ramadan besok lebaran

Malam setelah isya

Anak di atas gerobak menggebuk beduk berdebung
Kawannya yang berobor berucap
“Allahuakbar walillailham”
Lima enam anak dengan sumringah
Membayangkan esok janji lima puluh ribu rupiah
Di atap ungu bulan baru tetap keruh
Sedangkan malam larut di dalam takbir yang bersahut
Bocah bergumam, esok lebaran harus kusambut


Legowo.21Okto06. Idulfitri 1427 H


-Eko Prasetyo-


Friday, July 18, 2014

Ditilang

Suatu malam kira-kira pukul 00.00 WIB saya berkendara rodadua di kawasan Tebet Jakarta Selatan dari Palmerah Jakarta Barat. Sebelumnya saya belum tidur selama dua malam akibat reuni dengan kawan lama dari Manado di puncak pass Bogor. Ketika saya lewat U-turn [istilah gaul anak jaman sekarang untuk kata putaran balik] dengan tanda dicoret di Jl. Dr. Saharjo, walhasil saya diprit pak polisi. Mereka tidak banyak ya gak sampai setengah lusin juga kok. Dengan sigap dan cekatan saya dihadang en ditindak langsung oleh salahsatu dari mereka. Saya gak sempat lihat nama dan pangkat si pak polisi ini, namanya juga sudah gak karu-karuan. Yang jelas si polisi ini masih muda.

“Selamat malam, Pak” dengan logat Jawa.
“Iya pak malam”
“Tau apa kesalahan Bapak?”
“Tau Pak”
“Kenapa masih melanggar?”
“Maaf Pak saya benar-benar gak liat”
“Bisa menepi sebentar?” Seraya meminta SIM dan STNK
“OK Pak” Sambil mengeluarkan STNK di dalam dompet.

Pas saya mau kasih SIM eh ndilalah malah tertukar dengan KTP. Si Pak Polisi tanya:
“SIM kamu gak ada ya?
“Oh ada Pak. Maaf saya gak lihat. Ini” Seraya memberikan SIM yang bertuliskan POLTABES SUMBAR.


“Yaudah kamu saya tilang. Kan melanggar ini”
“Waduh pak. Saya kan udah bilang kalau saya memang salah. Beneran Pak saya baru dari puncak. Belum tidur dua malam. Beneran saya ngantuk pak.”
“Iya tapi kamu kan salah. Pokoknya kamu tebus di pengadilan tanggal 27 bisa kan?”
“Gak bisa pak, gak akan ada yang nebus.
“Loh kok gitu?”
“Saya gak tinggal di sini Pak. Saya tinggal di Jogja.”
“Oh sampeyan wong Jogja toh” Mendadak kalem ala keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
“Inggih Pak leres ipun”
“Yaudah saya tilang ya” Sambil senyum.
“Yah Pak kan saya udah minta maaf tadi. Bapak kan juga udah tau gak akan ada yang nebus suratnya.”
“Hmm yaudah lain kali hati-hati ya. Jangan melanggar lagi”
“Siap Pak terimakasih”.

Saya langsung ngacir memacu sepedamotor membelah kesunyian tengah malam Jakarta. Ada pesan moral dari cerita ini yaitu Polisi juga manusia yang punya hati nurani. Janganlah kita mengganggap orang lain selalu negatif. Kalau semua orang berkesimpulan citra polisi selalu buruk, bagaimana kalau misalkan salah satu dari mereka adalah anggota keluarga kita? Semoga bisa menjadi bahan renungan.

Tuesday, July 15, 2014

Btw, kangen jaman Pak Soeharto dan Pak Abdurrahman Wahid :')



Btw, kangen jaman Pak Soeharto dan Pak Abdurrahman Wahid :')


Begitu tulis salah satu anggota girlband yang populer di Indonesia. Sebuah kegelisahan yang lahir dari generasi muda yang sudah jemu dengan atmosfer reformasi. Namun adakah yang salah dengan premis di atas? Perasaan kangen atas suatu jaman yang pernah dilewati mungkin sesuatu yang wajar bagi siapapun yang memang pernah melintasi masa tersebut. Akantetapi jika hal ini diucapkan oleh orang yang belum pernah merasakan masa tersebut apakah masih dianggap wajar. Inilah yang digarisbawahi oleh orang yang berkomentar mengenai nyinyiran (bahasa nyelenehnya Twitter) ini. Menarik untuk disimak jika hal ini dicermati dari tatabahasa yang digunakan untuk menyingkap makna dibalik kata.

Beragam komentar negatif kontan langsung memenuhi linimasa si pencuit (saya memilih sebutan ini untuk si anggota gilrband), akibat premisnya yang agak janggal ini. Entah angin apa yang menjadikan si pencuit ini untuk menuliskan kalimat model ini. Mungkin benaknya sedang berkecamuk akibat kondisi politik tanah air yang tidak stabil seiring pemilu legislatif dan pemilu presiden. Komentar yang agak pedas begini bunyinya: “jaman Soeharto orang nari-nari kayak kau udah dikarungin dek! Mengganggu stabilitas!”.

Setidaknya ada empat kata yang mampu ditelaah dari penyataan singkat namun sarat makna ini. Kata kangen, jaman, Pak Soeharto, Pak Abdurrahman Wahid. Kata kangen merupakan kata yang unik yang hanya dimiliki bahasa Indonesia dan tidak memiliki padanan kata dalam bahasa lain, semisal Inggris yang memiliki lema “miss” katakanlah. Namun tetap saja rasa bahasa yang ditimbulkan akan berbeda jika penggunaan kata kangen yang dipilih untuk mewakili sebuah emosi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘kangen’ bermakna ingin sekali bertemu. Makna ini pun hanya makna tunggal dan tidak memiliki padanan makna. Artinya apa? Artinya yaitu ekspresi dari kata kangen ini berimplikasi makna pada tujuannya yaitu sebuah pertemuan yang dikehendaki. Berbeda dengan kata ‘rindu’ yang menurut KBBI bermakna 1. Sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu 2. Memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu. Kekuatan makna yang dimiliki kata kangen memiliki ciri khas tersendiri dari perasaan yang mewakili ujaran kata tersebut. Bahkan kata kangen ini sampai menjadi judul lagu band Dewa 19 yang mewakili simbol anak muda pada jaman tersebut. Wajar saja jika kemudian muncul komentar miring terkait premis di awal. Kata kangen merefleksikan perasaan gundah gulana tanpa disertai sesuatu yang bersifat melankolis sehingga kesan yang ditimbulkan menjadi lebih kuat dan bermakna ketimbang kata rindu yang mewakili perasaan anak muda di era 90-an. Era di mana musik populer atau lazim disebut musik pop melankolis sempat dilarang beredar oleh pemerintah orde baru yang disimbolkan oleh Soeharto. Salah satunya sebut saja nama Betharia Sonata yang menjadi ikon “musik pop cengeng” pada masa itu terkena imbasnya. Pencekalan demi pencekalan seolah menjadi ciri khas orde baru termasuk segala yang berhubungan dengan konten media.

Lantas kemudian kata kangen disandingkan dengan kata jaman. Menurut KBBI kata jaman, yang baku yakni zaman; bermakna 1. Jangka waktu yang panjang atau yang pendek menandai sesuatu; masa 2. Kala; waktu.  Dapat dicermati bahwa kata zaman terkait pada ruang dan waktu tertentu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap zaman memiliki dinamika gaya dan ciri masing-masing. Penggunaan contoh tersebut ada di penjelasan berikutnya.

Pak Soeharto. Siapa yang tidak kenal Soeharto? Beliau adalah presiden kedua Republik Indonesia yang memimpin dalam masa yang dikenal dengan orde baru selama 32 tahun yang dengan kebijakan represifnya. Julukan Bapak Pembangunan Indonesia diberikan kepadanya karena di zaman orde baru banyak pembangunan berjalan di tanah air tercinta ini. Terlepas dari pro-kontra soal beliau, harus diakui bahwa rakyat begitu mencintai beliau hingga akhir hayatnya. Sampai-sampai sosok Pak Harto dengan senyumannya yang khas yang sempat diabadikan dalam bentuk uang kertas pecahan 50 ribu rupiah selalu menghiasi persona beliau hingga kini. Alih-alih bahkan presiden yang dijuluki “the smiling general” alias sang jenderal tersenyum ini sering dijadikan candaan bagi orang yang jenuh dengan alam reformasi. Banyak kita temui stiker-stiker di angkot, di kaos-kaos, poster, baliho dan lain sebagainya tulisan yang berbunyi: Piye Kabare? Isih Penak Jamanku Toh?? (Gimana kabarnya? Masih lebih enak di zamanku kan). Mungkin inilah yang menjadi dasar sugesti atas kicauan si pencuit ini.

Pak Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Presiden keempat RI serta presiden pertama di era reformasi yang dipilih oleh DPR kala itu. Gus Dur dengan celoteh dan canda tawanya yang khas memang nyentrik. Slogan “gitu aja kok repot” seakan menjadi ciri khas beliau. Beliau merupakan sosok yang humanis yang terlihat dari  keinginan beliau menjadikan istana negara dan istana merdeka sebagai tempat bagi rakyat untuk tinggal layaknya rumah sendiri. Tidak dapat dipungkiri sosok beliau yang terkadang dinilai beberapa kalangan sebagai sosok yang nyeleneh namun cerdas. Salah satu kebijakan beliau yang dianggap baik yaitu meliburkan anak sekolah selama bulan Ramadhan. Mungkin hal inilah yang mendasari si pencuit untuk melontarkan premis di awal, yang mungkin hal ini masih rasional ketimbang pernyataannya atas orde baru.

Terlepas dari itu semua, apa yang disampaikan si pencuit merupakan kegamangan berpikir dalam masa peralihan anak muda yang cenderung masih labil dan rentan. Tapi di balik itu ada makna tersembunyi bagi pemimpin kita pemimpin bangsa agar menjadikan kesan yang baik bagi rakyatnya. Sehingga semakin banyak orang yang menyatakan kangen akan sosok si pemimpin yang tahu bagaimana caranya memimpin dan membela kepentingan rakyatnya.

Monday, July 14, 2014

Cerpen Piala Dunia 2014: Brazil vs Jerman, Brazil Kurang Berhazil



Alkisah di negeri Indonesia, ada seorang wanita belia yang membeli jersey tim nasional sepakbola Brazil ketika pertandingan semifinal Brazil vs Jerman. Tatkala si wanita ini baru saja mendapatkan jersey Brazil kebanggaannya, tak dinyana dalam pertandingan itu pula Brazil dilibas Jerman dengan skor 1-7. Paling tidak Brazil memang tidak pulang kampung karena Piala Dunia 2014 dihelat di Brazil. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur. Si wanita ini mengabarkan berita duka ini kepada saya. Dia gundah gulana.