Showing posts with label chairil anwar. Show all posts
Showing posts with label chairil anwar. Show all posts

Friday, November 15, 2013

Chairil Anwar: Sebuah Catatan Pinggiran




aku mau hidup seribu tahun lagi…
Kira-kira itulah bait di ujung hayat sang legenda pujangga Nusantara dalam puisi berjudul “Aku”. Chairil Anwar (1922-1949) memang jadi simbol pergerakan pujangga modern, menggebrak dengan karya yang di jamannya dianggap tabu. Puisi berjudul "Aku" seakan menjadi bacaan wajib dalam festival pembacaan puisi di sekolah dan dimana-mana.

Beliau memang dikenal sebagai sang binatang jalang dari kumpulannya terbuang. Semangat muda dan konsisten di bidang sastra menjadikan Chairil Anwar sebagai contoh bahwa mati adalah sebuah kepastian-Nya. Mati muda itulah bahasa Chairil Anwar yang ia torehkan sendiri dalam puisi Yang Terampas dan Yang Putus, dimana ia bercerita soal pemakaman Karet Bivak. Kelak pun ia beristirahat di sana untuk cita-citanya hidup seribu tahun lagi. Bagi saya pribadi, sosok beliau menjadikan sebuah pencerahan, apa yang ditulis dicita-citakan olehnya kelak terjadi. Puisi Chairil Anwar itu hidup ! Tak pernah lekang oleh waktu sekian puluhan ribuan tahun lagi akan terus menyala bara gelora yang terhantar dari untaian bait kata per kata dari seorang legenda nyata kehidupan. Sekali berarti, sudah itu…mati