Tuesday, November 22, 2022

Manusia itu Mudah Melupakan dan Dilupakan

oleh John Copelow

Pernahkah Anda berpikir tentang perkara lupa? Sebuah perkara receh namun besar. Perkara yang meliputi sifat dasar manusia yang di dalamnya terkandung makna luas menyangkut hakikat kehidupan manusia yang berhubungan dengan keseimbangan dan keharmonisan semesta, yaitu bernama lupa. Lupa memang menjadi ciri khas perkara kemanusiaan dalam kaitannya dengan interaksi manusia dengan manusia serta interaksi manusia dengan semesta.

Konsep lupa merupakan konsep fitrah manusia artinya ini merupakan sifat asli bawaan manusia sejak manusia pertama Nabi Adam hingga manusia paling terakhir yang hidup di muka bumi. Bahasa Inggris menggunakan istilah forget /fərˈɡet/ yang bermakna gagal untuk mengingat sesuatu. Gulo (1982) dan Reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Keterbatasan akal manusia menjadi sebab akibat konsep dasar lupa. Namun jangan salah, lupa dalam konteks keseimbangan semesta bermakna besar yaitu dengan eksistensi lupa maka manusia selalu menjadi makhluk yang selalu berevolusi menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk.

Bayangkan saja kalau manusia tidak memiliki sifat lupa, alias manusia mengambil ceruk sifat ilahiah yang sempurna tanpa cela dan noda sama sekali. Akibatnya adalah terjadi ketidakseimbangan dan ketidakharmonisan di alam semesta ini. Manusia tidak ada yang mengoreksi dirinya sendiri dan orang lain. Semua akan bertabrakan satu dengan yang lain. Semesta akan hancur dengan sendirinya karena sejatinya lupa adalah oposisi biner dari kata ingat.

Saya teringat sebuah cerita, untungnya saya tidak lupa dalam hal ini, sebuah cerita dari ustadz yang menceritakan perkara apa saja yang akan dilewati manusia dalam fase setelah kehidupan di muka bumi ini. Bahkan baru saja manusia wafat dan dikebumikan, maka tidak selang beberapa lama dia langsung dilupakan oleh keluarga atau bahkan pasangan hidupnya semasa di dunia. Karena tidak ada manusia yang mati ditemani di alam kuburnya. Dari sini saja dapat dipahami bahwa konsep lupa yang disengaja adalah merupakan sebuah keniscayaan hidup atas orang yang mati. Lantas kemudian kehidupan terus belanjut detik demi detik, menit demi menit, hari demi hari bahkan tahun demi tahun yang hingga pada akhirnya seorang manusia hanya akan dikenang namanya entah karena sesuatu yang baik ataupun sebaliknya sesuatu yang buruk.

Begitulah kehidupan di semesta ini. Semesta yang teramat luas yang manusia tidak tahu ukuran matematisnya berapa luasnya semesta, sedangkan manusia hidup di bumi yang ukurannya amat sempit. Lantas masih banyak manusia yang terlalu menyibukkan diri dengan hal yang tidak bermanfaat untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Di bumi yang kecil ini kita sombong, berlagak jadi makhluk sempurna padahal kenyataannya amat jauh panggang dari asap. Manusia lahir dari lubang yang sempit, bernapas dari lubang yang sempit, makan dan minum dari lubang yang sempit, buang kotoran dari lubang yang sempit. Hingga pada akhirnya mati dan kembali ke tanah melalui lubang yang sempit. Lantas di sisi mana manusia mesti sombong.

Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Pepatah lama ini rasanya mesti dikaji kembali melalui gaya hidup manusia modern. Terlalu sibuknya kita dengan hidup ini menjadikan suatu hal yang bernama makna menjadi semakin terkikis. Kita hidup di jaman dimana laki-laki dan perempuan saling kenal di pagi hari dan sudah bilang cinta di siang hari, begitu cepatnya, walau belum kenal secara utuh. Bayangkan di jaman dulu manusia berkeluh kesah lewat buku catatan pribadi atau mungkin bisa juga lewat tulisan yang dijadikan surat menyurat lewat PT Pos Indonesia. Dimana saat hari raya Idul Fitri atau hari besar agama lainnya terdapat ucapan yang menjadi sangat spesial pakai telur karena diucapkan dan diterima langsung oleh orang yang bersangkutan secara ikhlas dan tepat sasaran. Atau mungkin saat dimana orang saling berkirim pesan singkat lewat telegram yang disisipkan pesan sayang berupa uang kepada yang tersayang. Pesan sayang yang diabadikan oleh penyair WS Rendra lewat sajaknya yang terkenal berjudul Ada Tilgram Tiba Senja.

Maka dari itu tulisan ini saya abadikan agar kelak dibaca oleh siapa saja asal dia masih manusia. Saya ucapkan terima kasih masih mau dan sempat-sempatnya membaca tulisan receh yang tidak terlalu penting ini. Niat saya cuma agar dikenang oleh anak cucu cicit canggah saya sebagai pendahulunya yang eksis dengan menulis dan bahwa saya merupakan manusia nyata dan pernah hidup dengan tulisan ini sebagai barang bukti otentiknya.

Alhasil, kenangan demi kenangan yang dialami oleh seorang manusia pada akhirnya akan berujung kepada kenangan. Ya tinggal pilih saja, mau berujung kenangan baik atau buruk serta bonusnya yaitu ada kenangannya. Ibarat pahlawan yang sejatinya tidak perlu penghargaan atau kenangan. Belajarlah untuk menjadi ikhlas. Ikhlas menjalani kehidupan sebagai manusia yang tak luput dari sifat lupa. Lupakan hal yang baik dari diri sendiri, maafkan orang lain yang pernah punya salah kepada kita, niscaya kita akan dikenang sebagai yang baik dan tidak dilupakan.